
Nayla tak menghiraukan perkataan Gisella, dia hanya fokus pada laki - laki yang berlari saat melihat nya itu, Nayla berlari dengan cepat melewati Gisella yang masih terpaku di tempatnya.
" Apa yang harus aku lakukan ? " Gumam Gisella dengan lemas, kakinya seakan tak punya tenaga untuk berdiri, dan dia menggapai pegangan kursi panjang usang di depannya, lalu duduk termenung disana.
Sementara itu, Nayla secepat kilat berlari mengejar laki - laki tersebut, walaupun sudah lama tak berlatih, sama sekali tak membuat gerak Nayla menjadi kaku, tubuhnya sangat lincah melompati setiap benda yang menghalangi agar lebih cepat menjangkau orang yang dia kejar.
" Mau lari kemana kamu hah ? " Seru Nayla saat dia dirinya berhasil membuat tubuh laki - laki itu tersungkur karena lemparan sebuah tutup tempat sampah yang berbentuk piringan kecil yang berada di dekatnya yang secara reflek dia lemparkan tepat mengenai punggung orang itu.
Tak sempat laki - laki tersebut untuk berdiri dan lari kembali, tangan Nayla sudah meraih tangan laki - laki yang membuatnya kesal itu dan langsung menghadiahi bogem mentah di wajah laki - laki tersebut.
Laki - laki tersebut tersungkur kembali di tanah yang beralaskan rumput hijau. Saat Nayla hendak melayangkan pukulannya kembali, suara teriakan seseorang untuk memintanya berhenti untuk memukul dari arah belakang nya membuatnya menghentikan gerakan tangannya tepat di depan wajah laki - laki yang sudah memejamkan matanya karena takut.
" Nayla hentikan ! " teriak seseorang di belakangnya lagi, kini suara nya terdengar lebih dekat.
Nayla menoleh ke arah asal suara, dia mengerutkan dahi saat melihat yang menghentikan serangannya adalah kakak angkatnya, Gisella, dengan tetap memegang kerah baju laki - laki itu Nayla menurunkan tangannya sambil menatap lekat Gisella yang kini berdiri di dekat mereka.
" Lepaskan dia Nay !" Perintah Gisella lagi. Laki - laki itu pun menoleh pada Gisella.
" Nona Gisella tolong aku ! " Rengek si laki - laki, tapi saat dia mengingat sesuatu matanya beralih lagi pada Nayla. " Dengar nona, dia yang telah menyuruhku untuk mencelakaimu, dia...dia orangnya. " Ucap laki - laki yang sedang di cengkeram oleh tangan Nayla sambil menunjukkan jarinya ke arah Gisella, pernyataan itu membuat mata Nayla terbuka sempurna, dan menatap laki - laki itu dan Gisella secara bergantian. Gisella hanya diam saja, wajahnya tampak pasrah, sambil menunduk malu tak berani menatap mata Nayla.
" Apa maksudmu ? jangan mencoba membodohiku untuk menyelamatkan dirimu sendiri ! kamu tidak bisa lari dari hukuman. " Gertak Nayla dengan geram.
" Tanyakan saja sendiri padanya, jika kau tak percaya padaku ! " seru si pria dengan wajah semakin ketakutan.
Nayla memutar tubuh si pria dengan kuat dan menarik jaket yang dia kenakan lalu dengan cepat melilitkan jaket tersebut di tangan pria itu dengan kuat, lalu menendang kakinya hingga pria itu jatuh ke tanah, dan membuat pria itu memekik kesakitan karena dia merasakan sepertinya kakinya patah oleh tendangan itu.
" Maaf, aku terpaksa melukai kakimu, karena aku tidak bisa mengambil resiko jika kau mengambil kesempatan untuk lari. " Ujar Nayla dengan menunjukkan wajah dingin. Laki - laki itu hanya pasrah terkapar di atas tanah.
Kemudian Nayla beralih kepada Gisella yang terlihat gemetar di tempatnya.
" Katakan mbak, apa kamu mau menjelaskan sesuatu ? " Tanya Nayla dengan dingin.
Gisella tampak ragu, dia bingung mau berkata apa, " Nay... maaf ! " Hanya kata itu yang mampu dia ucapkan.
" Maaf untuk apa ? " Nayla bertanya seakan dia belum tahu apa - apa, dia ingin mendengar penjelasan Gisella dengan pernyataan yang di lontarkan penjahat yang sudah memukulinya dan melemparkan Nayla ke dasar jurang.
" Aku...aku...." Gisella mulai gugup, tapi tak di sangka tiba - tiba dia berjongkok dan berlutut memegang kaki Nayla sambil menumpahkan air matanya.
__ADS_1
" Maafkan aku Nay, maaf....! selama ini aku iri padamu, kau bukan siapa - siapa tapi kau bisa mendapatkan kasih sayang dan perhatian setiap orang termasuk keluarga Rey, dulu Rey sangat mencintaiku bahkan dia seperti orang gila yang mengejar cintaku, tapi saat bersamamu, dia melupakan aku bahkan dia memperlakukanmu lebih baik dari perlakuannya padaku dulu saat masih menjadi kekasihnya, rasanya tidak adil Tuhan telah mengambil semua orang yang aku cintai dan aku juga ingin mendapatkan cintaku kembali. Martin sudah meninggalkan aku, dan sekarang Rey lah harapanku satu - satunya, aku berpikir terlalu bodoh, ingin merebut Rey darimu, padahal Rey sangat mencintaimu. Maaf kan aku !" Isak tangis Gisella pecah di taman yang terasa hening tersebut, suasana sore hari yang sedikit redup membuat suasana hati Gisella semakin hanyut.
Nayla terhenyak mendengar penuturan wanita yang selama ini dia anggap baik, dia tak pernah menyangka wanita yang sudah di anggapnya kakak malah tega ingin membuatnya hampir kehilangan nyawa.
Nayla menyingkirkan tangan yang memeluk kakinya dengan erat itu, membuat Gisella tertolak ke belakang.
" Jika mba menginginkan mas Rey, kenapa mba menyuruhku untuk mengantikanmu menikahi mas Rey waktu itu ? aktingmu benar - benar sempurna mbak Gie, ternyata tangisanmu waktu itu hanyalah topeng untuk menutupi kejahatanmu ." Nayla berucap dengan sangat kecewa sambil menatap tajam wajah Gisella yang masih menangis sesegukan.
" Aku minta maaf Nayla, aku sangat menyesali perbuatanku. Aku hanya menyuruh mereka untuk menggertakmu saja, tapi mereka malah melukaimu bahkan hampir membunuhmu, saat mendapat kabar dirimu menghilang dan di nyatakan meninggal aku merutuki diriku sendiri. Aku akui, akulah meminta tante Rania untuk menikahkan Rey dengan aku, tapi hal itu semata mata aku lakukan karena aku ingin menebus dosaku padamu Nay, Rey sangat terpukul saat kehilanganmu, bahkan hidupnya menjadi berantakan tak punya aturan, dia sangat kasar pada semua orang, bahkan dia belum pernah sekalipun mau melihatku saat dia terpaksa menyetujui permintaan mamanya. Jujur aku merasa sedih Nay, diriku seperti di tolak walau terdengar kata setuju dari mulutnya, tapi aku harus menerima sikapnya itu, tak peduli sikapnya yang cuek dan acuh padaku, aku akan menjaga Rey untukmu. "
" Heh...rencana yang sempurna mbak Gie, aku acungkan jempol untukmu, kau berkata seolah - olah dirimu ini pahlawan, setelah aku tersingkirkan ? " Nayla berdecih sambil tertawa kecil dengan nada mengejek.
" Terserah kamu mau percaya atau tidak Nayla, aku benar - benar menyesal, sebenarnya aku ingin sekali menjebloskan mereka ke dalam penjara, tapi mereka juga mengancamku, kalau aku juga akan ikut masuk penjara dengan mereka, aku takut Nayla aku tidak mau masuk penjara, mereka terus saja meminta uang padaku bahkan sampai sekarang mereka masih saja memerasku. "
" Tapi sekarang aku pasrah, jika kamu ingin aku masuk penjara aku siap menerima hukuman atas semua kesalahan yang ku lakukan. " Gisella berkata sambil menundukkan kepalanya, suara tangisnya juga sudah tak terdengar, hanya sesekali sesegukan dan air mata yang keluar tak bisa di tahan. Nayla termenung sejenak, kemudian berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Gisella.
" Kamu harus bertanggung jawab dengan perbuatanmu mbak ! " Ucap Nayla pelan di telinga Gisella. " Bangunlah ! " Imbuhnya lagi sambil memegang bahu Gisella dan membantunya untuk berdiri.
" Aku siap mendapat hukuman apapun Nay ." Ujar Gisella dengan wajah sendu.
Nayla tersenyum, lalu merentangkan kedua tangannya di hadapan wanita yang sudah mencelakainya itu. " Peluk aku ! " Pintanya kemudian.
" Kenapa diam saja ? ayo peluk ! " Perintah Nayla lagi semakin melebarkan tangannya.
Gisella masih tak mengerti tapi dengan perasaan tulus dia memeluk tubuh Nayla dengan erat. " Maafkan aku Nayla. " Ucapnya lirih.
Nayla membalas pelukan itu dengan hangat, sambil mengelus punggung Gisella dengan lembut. " Hukuman mu sudah selesai. " Ucap Nayla yang kemudian melepas pelukan mereka.
Gisella mengernyitkan dahi, " Kau bilang apa ?" Tanya nya meyakinkan apa yang dia dengar barusan.
" Hukumanmu sudah selesai ." Nayla mengulangi ucapannya sambil tersenyum kecil.
" Pelukan tadi, sebuah hukuman ? " Gisella masih tak percaya dengan apa yang di katakan Nayla, dengan begitu mudahnya dokter cantik itu mengampuninya hanya dengan sebuah pelukan.
Nayla mengangguk dengan yakin.
Gisella kembali memeluk Nayla dan tangisnya pecah seketika, dia sangat terharu ternyata wanita yang membuatnya iri benar - benar berjiwa kesatria. " Terima kasih Nayla, jika memelukmu adalah hukumanku, aku akan memelukmu sebanyak - banyaknya. "
__ADS_1
Nayla mencoba melepas pelukan Gisella yang terasa menyesakkan dadanya. " Mbak Gie, aku tidak bisa nafas. " Gisella seketika melepas pelukan itu. " Maaf ." Ucapnya sambil terkekeh.
" Lagi pula kau tidak boleh memelukku terus menerus, mas Rey akan curiga kau menyukaiku. " Ujar Nayla sambil terkekeh juga.
" Nona...bagaimana dengan nasib ku ? " ucap seseorang yang duduk di tanah, yang sepertinya mereka lupakan.
Keduanya pun menoleh ke arah laki - laki tadi, Nayla juga bingung harus di apakan laki - laki itu, jika membawanya ke kantor polisi otomatis Gisella juga akan terjerat. Tapi jika melepaskannya Nayla takut mereka akan terus memeras Gisella.
Gisella mengerti dengan kebingungan Nayla saat ini, dia memegang pundak Nayla yang sedang menatap bingung si laki - laki jahat itu. " Nay, aku pikir kita laporkan saja dia ke kantor polisi. Aku siap menerima konsekuensi nya nanti di sana. Teman - temannya juga belum tertangkap, jika mereka bebas mereka bisa saja akan terus mengancamku, cepat atau lambat masalah ini akan terbongkar juga Nayla. "
" Tapi mbak ? " Nayla masih memikirkan nasib Gisella dan karirnya jika dia di penjara nanti.
" Aku tahu kamu sangat berbesar hati ingin membebaskan aku hanya dengan maafmu, tapi ini kasus kriminal dan aku pelaku utamanya. Jadi aku harus bertanggung jawab. " Ucap Gisella dengan yakin.
" Kau yakin ? " Tanya Nayla.
Gisella mengangguk.
Nayla menghela nafasnya dengan kasar, memegang kedua bahu Gisella dengan perasaan bangga, kemudian dengan di bantu oleh Gisella dia membawa penjahat bayaran Gisella tersebut menuju mobil pak Eko yang dari tadi setia menunggunya. Lalu menyuruh paksa laki - laki itu masuk di kursi belakang kemudi.
Pak Eko sangat terkejut saat melihat istri dari bosnya membawa masuk seorang laki - laki asing ke dalam mobil tersebut, dia terus saja menatap ke arah Nayla dan laki -laki tersebut.
" Ayo pak jalan, kita ke kantor polisi ya ! " Perintah Nayla pada pak Eko. Tapi pak Eko masih tak bergeming dari pandangannya, dia masih mematung memperhatikan penumpang di belakang kemudinya itu. Sampai satu tepukan dari tangan Nayla membuyarkan pandangannya.
" Tapi bu, dia siapa ?" Tanya nya denga wajah bingung.
" Dia penjahat, nanti saya jelaskan di jalan." Ujar Nayla sambil melototkan matanya pada penjahat itu. Kemudian beralih lagi pada supir pribadi suaminya tersebut " Nanti jangan bilang - bilang sama mas Rey ya pak ! "
" Tapi bu ? "
" Kalau mas Rey sampai tahu, jangan harap bapak masih bisa bekerja di perusahaan suami saya. " Tukas Nayla sedikit mengancam, padahal dirinya tak mungkin melakukan itu.
" Ba...baik bu.. " Ucap Pak Eko dengan gugup, dia juga takut jika harus kehilangan pekerjaannya.
Pak Eko langsung melajukan mobilnya menuju kantor polisi terdekat, dan di ikuti oleh mobil Gisella. Di perjalanan Nayla menjelaskan semuanya pada pak Eko agar dia tidak salah paham tentang istri bosnya yang tiba - tiba membawa laki - laki asing, apalagi Nayla ingin menutupinya dari suaminya juga. Pak Eko mengerti dan dia berjanji untuk tidak mengatakan apapun pada bosnya.
***
__ADS_1
Happy reading 😉😉
Lanjut besok ya, tetap dukung author dengan like dan komentar readers semua ya.. terutama VOTE nya, buat editor nya tertarik bikin karya ini juga termasuk dalam kualifikasi novel yang sebenarnya ..hhihi...