
Nayla akhirnya di perbolehkan pulang oleh dokter kandungan. Dengan kehamilan Nayla kini Rey semakin posesif kepadanya. Setiap gerak Nayla selalu di batasi oleh Rey, dan jika Nayla pergi keluar tanpa Rey harus di ikuti oleh body guard yang di sewanya.
Itu lah peraturan baru yang Rey buat untuk istrinya, sedikit memaksa dan Nayla mau tidak mau harus menurutinya.
Dua hari menjelang acara resepsi pernikahan, Nayla mengajukan izin cuti pada pihak rumah sakit, walaupun dia adalah istri yang punya rumah sakit, yang bisa saja tidak masuk seenaknya.Tetap saja dia harus taat pada prosedur yang ada, dan dirinya punya tanggung jawab sendiri pada tugasnya sebagai seorang co-assistant dokter.
***
Malam itu, sebelum tidur Nayla sedang memoles cream malamnya di depan cermin dan Rey sedang duduk berselonjor kaki di ranjang sambil memangku laptopnya. Setelah selesai dengan ritual make up malamnya, Nayla menghampiri Rey dan duduk di tepi ranjang. Seakan ada maksud tertentu dia memainkan jemarinya di kaki Rey membuat sebuah pijatan disana.
" Mas ?" Panggilnya dengan mesra.
" Hemm ." Gumam Rey menanggapinya, tapi matanya masih terfokus pada layar kotak di hadapannya itu.
Nayla sejenak berpikir, mengatur kata - kata yang kira - kira bisa di terima oleh suaminya.
" Aku boleh minta sesuatu ? " Tanya Nayla dengan manjanya.
Rey mendongakkan pandangannya dari laptop yang dia pegang, dan kini matanya tertuju pada istrinya yang tengah hamil muda itu.
__ADS_1
" Minta apa ? katakan saja ! " Ucap Rey sambil menutup laptopnya dan menyimpannya di atas meja samping tempat tidur. Laksana mendapat angin segar, senyum Nayla mengembang di bibir mungilnya itu.
" Ehm...besok lusa kan adalah acara pesta pernikahan kita, dan besok mba Gie sudah bebas, aku boleh ---."
" Jangan macam - macam deh, mas gak suka ya kamu bahas dia terus, udah untung mas gak jadi melanjutkan tuntutannya. " Tukas Rey memotong perkataan Nayla, karena dirinya sudah bisa menyimpulkan permintaan Nayla yang tidak mungkin dia kabulkan yaitu memperbolehkan Gisella datang di hari spesial mereka.
" Tapi mas ? "
" Gak ada tapi - tapi, mas bilang gak boleh ya gak boleh. Memangnya gak ada permintaan lain ? Mas gak mau kamu berurusan lagi dengan dia ! " Seru Rey dengan penuh penekanan. Nayla merengut, naluri sensitif dari kehamilannya pun muncul seketika, matanya pun mulai berkaca - kaca. Semenjak mengetahui kehamilannya Nayla menjadi sosok yang cengeng, dia sering sekali menangis apalagi jika keinginannya tidak terpenuhi. Seperti keinginannya pada Rey umtuk membatalkan tuntutannya pada Gisella, sehingga wanita itu bisa bebas sesuai jaminan Nayla yang pertama.
Rey mendesah frustasi, jika keinginan istrinya itu hanya sekedar membelikan makanan, dia akan turuti kapanpun dia minta. Tapi permintaannya kini berkaitan dengan wanita jahat itu, yang sama sekali Rey tak ingin melihatnya.
Nayla tak bergeming, sejenak berpikir bagaimana agar suaminya itu setuju dengan permintaannya. Dia ingin Gisella kembali di terima di keluarga Rey. Nayla yakin Gisella sudah berubah dan menyesali semua perbuatannya. Jangan sampai dia berbuat jahat kembali karena merasa terabaikan dan sendirian. Kadang kejahatan terjadi karena pelakunya merasa dalam tekanan.
" Kamu tidak mau mengabulkan permintaan anakmu mas ? " Ide itu muncul begitu saja, kata orang jika wanita hamil menginginkan sesuatu pada suaminya dengan alasan anaknya yang minta pasti akan di kabulkan. Dan sekarang Nayla akan membuktikannya.
" Benarkah ? tapi permintaannya aneh sekali, bahkan anakku belum pernah bertemu dengan Gisella. Kamu jangan mengada - ngada ! "
Nayla berdecak . " Dia kenal dari aku, kalau mas tidak mengizinkan juga tak apa. Jangan salahkan aku jika nanti anakmu ileran karena keinginannya tidak terpenuhi. " Nayla pura - pura merajuk sambil mengelus perutnya dan berkata dalam hatinya Amit-amit jabang bayi, jangan sampe ya, nak ! mama cuma becanda sama papa.
__ADS_1
Rey terdiam, mencoba mencerna ucapan sang istri, tidak mungkin dia membiarkan anaknya ngiler karena hal sepele seperti itu. Menjijikkan sekali.
" Oke.. kamu menang. Tapi ada syaratnya ! "
Nayla tersenyum lebar, binar kebahagiaan terpancar di matanya. " Apa syaratnya ? " Tanya nya dengan semangat.
" Pertama Gisella tidak di perbolehkan menyentuh perutmu, aku tidak mau anakku terkena pengaruh buruknya. Dan kedua, jangan pernah menunjukkan wajahnya di hadapanku, jadi sebisa mungkin dia harus menghindari bertemu denganku. "
Nayla mengernyit dahi . " Memangnya cuma mengelus perut bisa menularkan sifat buruk, lebih baik aku iya kan saja, lebay sekali suamiku ini. " Gumam Nayla dalam hati.
" Iya.. ada yang lain lagi gak ? "
" Ada, sebuah syarat tambahan, dan itu harus di lakukan sekarang . " Jawab Rey sambil tersenyum penuh arti. Nayla mencebikkan bibir, dia sangat paham dengan senyuman mesum itu. Nayla hanya bisa pasrah, saat suaminya kembali meminta haknya.
***
Maaf jika banyak typo, mohon kritik dan sarannya ya teman...🙏🙏
Tolong dong like , komentar dan Vote nya ya.... author butuh dukungan readers sekalian. Semangat. 💪💪
__ADS_1