
Waktu pun berlalu, pesta sederhana itu selesai hingga malam tiba, acara pernikahannya hanya sebatas akad dan silaturahmi antar keluarga saja, tidak ada acara resepsi lanjutan seperti yang telah di rancang Rey dan Nayla tempo lalu, karena Rey tidak pernah menyangka jika Nayla akan tiba - tiba datang menjadi pengantin wanitanya. Rey tidak mau melakukan resepsi pernikahan yang meriah jika harus menikahi Gisella.
Semua tamu undangan sudah mulai meninggalkan rumah Rey, keluarga Nayla juga harus pulang, karena mereka tidak membawa persiapan jika harus menginap di rumah Rania yang kini menjadi besan mereka itu. Mereka juga tak menyangka jika anak gadisnya akhirnya menikah dengan Rey juga.
Setelah selesai acara Rey yang sejak tadi di tahan oleh sang mama dengan tamu - tamu penting yang datang menjelang akhir acara, sangat tidak sabar ingin segera menemui istri tercintanya yang sudah lebih dulu pergi ke kamar untuk beristirahat, mau tidak mau Nayla harus masuk ke kamar Rey karena kini dia adalah istri sah dari laki - laki yang hampir saja gagal menjadi suaminya itu.
Dengan langkah gontai Rey menaiki anak tangga menuju ke kamarnya di lantai atas, jantungnya tak bisa di ajak tenang, dan hatinya seakan melayang - layang, dirinya begitu senang, ingin segera memeluk istri tersayang.
Rey menghela nafas panjang saat dirinya akan membuka pintu kamarnya sendiri, dia takut bahwa ini hanyalah mimpi, dengan hati - hati dia membuka gagang pintu dan mendorongnya hingga sedikit terbuka, Rey mendorong tubuhnya untuk masuk ke dalam, dia melihat sosok wanita yang masih mengenakan kebaya pengantin sedang berdiri di depan cermin, wanita itu terlihat kesusahan saat ingin menggapai resleting bajunya yang berada di belakang.
Rey berjalan mendekat, matanya terus tertuju pada wanita itu, memastikan bahwa ini bukan hanya ilusi semu.
" Susah banget, sih!" Nayla yang sedang sibuk mengapai resleting bajunya yang berada di belakang bajunya tak menyadari kedatangan Rey, dia terlihat fokus ingin segera membuka baju pengantin yang membuatnya sedikit sesak itu. Nayla mendengus kesal, sepertinya dia putus asa, kemudian menunduk lesu.
Hingga tiba - tiba dirinya tersentak saat merasakan sentuhan tangan seseorang yang mengapai baju bagian belakangnya dan menurunkan resleting baju yang sedang dia pakai, Nayla sangat terkejut saat melihat dari pantulan cermin bahwa Rey sudah berada tepat di belakangnya, sedang berusaha membuka baju Nayla.
" Mas, mau ngapain ?" Nayla berbalik badan saat Rey berhasil membuka setengah resleting baju Nayla.
" Mau bantuin kamu buka baju ."
" Gak usah, aku bisa sendiri "
" Benarkah ? tadi aku lihat kamu seperti kesulitan membukanya ." Ucap Rey sambil mengernyitkan keningnya. Nayla menyimpan tangannya kebelakang mencoba menggapai resleting baju yang kini sudah setengah terbuka, dia merasa sedikit lega sepertinya tangannya bisa menjangkau resleting itu.
" Sekarang sudah bisa sendiri, mas boleh keluar !"
Rey masih mematung, alih - alih mendapatkan pelukan hangat, malah dapat perlakuan yang tak bersahabat. Rey tak percaya, istri yang baru dia nikahi itu mengusirnya dari kamarnya sendiri, Rey jadi berpikir apakah Nayla lupa ingatan hingga dia bersikap dingin seperti itu padanya.
" Tunggu apa lagi ? ayo keluar !" ucap Nayla lagi, kali ini dengan nada sedikit tinggi.
Rey menatap tajam Nayla, dia tidak senang mendapat perlakuan seperti itu dari istrinya. " Ini kamarku, dan aku suami mu sekarang, kenapa aku harus keluar. " Ketus Rey tak mau kalah. Rey berjalan ke arah tempat tidur dan membaringkan tubuhnya di sana sambil menopangkan kedua tangannya di bawah kepala.
Nayla merasa kesal, dia langsung menyaut baju ganti yang dia simpan di atas meja, setelah meminjamnya dari Rere karena dirinya tak membawa apa - apa saat pergi ke rumah Rey. Nayla melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi, dan menutup pintu kamar mandinya dengan begitu keras.
Braaaaak...
__ADS_1
Rey sedikit melonjak kaget, lalu duduk bersila sambil menatap lekat pintu kamar mandi, dia sangat bingung dengan sikap istrinya tersebut, sejak kapan Nayla menjadi kasar seperti itu.
" Apa kecelakaan itu mempengaruhi otaknya? " gumam Rey dalam hati.
Rey tersentak saat teringat dengan kecelakaan itu, dia belum bertanya pada Nayla kenapa Nayla menghilang saat itu, dan bagaimana bisa motornya berada di tepi jurang, dan sekarang tiba - tiba Nayla kembali setelah semua orang menyatakan dirinya telah meninggal. " Kenapa aku bisa lupa. " Seru Rey sambil menepuk pelan keningnya.
Tak berselang lama, Nayla pun keluar dari kamar mandi dan sudah menggunakan piyama tidur milik Rere. Rey menatap Nayla dengan tatapan penuh selidik, saat Nayla berjalan dengan tertatih dari kamar mandi.
" Kenapa menatapku seperti itu ? " Ucap Nayla sambil menaikkan sebelah alis nya.
" Kenapa kakimu ?" Bukannya menjawab Rey malah balik bertanya.
Nayla mengernyit heran, dia menundukkan kepala dan menatap kakinya yang masih terasa ngilu. " Kenapa baru bertanya sekarang, padahal aku seharian ini bersama nya, apa dia tidak lihat kakiku pincang dari tadi. " Gumam Nayla dalam hati. Entah kenapa Rey memang baru menyadarinya, mungkin karena Rey terlalu bahagia atau karena seharian Nayla tidak terlalu banyak berjalan saat di dekat Rey .
" Kaki ku terbentur pepohonan saat jatuh ke jurang waktu itu, jadi sedikit patah. " Jawab Nayla dengan wajah datar.
Rey membelalakan mata, jadi Nayla benar - benar jatuh ke dalam jurang itu, tapi kenapa tim penyelamat tidak menemukan tubuh Nayla di sana. Rey turun dari ranjangnya lalu menghampiri Nayla yang masih berdiri di tempatnya. Lalu memeluk tubuh Nayla dengan erat, lalu melepasnya kembali.
" Kamu benar - benar jatuh ke jurang itu, coba ku lihat ! " Rey berjongkok, dia hendak memegang kaki Nayla, tapi dengan cepat Nayla menghindarinya.
" Dari jauh saja lihatnya !"
" Baiklah " ucap Rey mencoba mengalah.
Nayla pun menarik celana panjang nya sampai ke atas lutut, hingga terlihat jelas balutan perban yang membungkus kaki Nayla.
" Apa itu sakit ?" Rey menautkan kedua alisnya menatap kaki nya Nayla dengan rasa iba.
" Tidak, ini sudah sembuh, cuma agak ngilu sedikit jika di gerakkan. " Nayla kembali menurunkan celana nya.
" Lalu kenapa tim penyelamat tidak menemukanmu di dasar jurang itu, apa kamu bersembunyi ? " Rey beranjak berdiri, lalu menggiring tubuh Nayla ke tepi tempat tidur. " Duduklah , dan ceritakan padaku ! " Imbuh Rey sambil mendudukkan tubuhnya juga di samping istri nya tersebut.
" Aku tidak sadar waktu, mana mungkin aku bisa bersembunyi, yang aku tahu saat aku bangun, aku sudah berada di rumah sepasang suami istri yang mempunyai seorang cucu perempuan, mereka tinggal di pedesaan di tengah hutan, katanya hampir sebulan aku tak sadarkan diri. " Nayla menunduk, hati nya begitu sakit saat mengingat masa - masa itu, tiba - tiba dia pun rindu dengan aki Asep dan istrinya, terutama pada Ayu cucu mereka. Nayla pun membayangkan sedang apa mereka sekarang.
Nayla begitu terkesiap saat Rey tiba - tiba kembali memeluknya , membuyarkan lamunan Nayla. " Kamu pasti menderita sekali waktu itu " Ucap Rey lirih. Nayla dengan kuat mendorong tubuh Rey, hingga tubuhnya terjatuh ke lantai.
__ADS_1
" Jangan memelukku !" Seru Nayla dengan ketus. " Aku masih marah padamu " Imbuhnya lagi.
Rey berdiri sambil meringis kesakitan, mungkin Nayla mendorongnya dengan tenaga dalam, badan Rey seperti di hantam benda keras.
" Marah kenapa ?" Tanya Rey heran.
" Kenapa mas bersedia menikahi mbak Gie, aku bahkan cuma menghilang dua bulan, tapi mas sudah berpaling pada wanita lain, cinta mu patut di ragukan mas. " ucap Nayla dengan ketus.
" Sayang, mas benar - benar terpaksa, mama yang mengatur semuanya , mas juga sebenarnya tidak mau. " Seru Rey membela diri.
" Sekarang mas tanya, jika kamu masih marah, kenapa kamu bersedia menggantikan Gisella menjadi pengantinku ? kamu tidak rela kan mas mu ini menjadi milik wanita lain?" Imbuh Rey menggoda Nayla sambil memainkan kedua alisnya.
Nayla mengernyit " Narsis banget sih, kalau bukan karena di paksa sama mama Rania dan Mba Gie, aku juga gak mau." Ucap Nayla sambil mengerucutkan bibirnya.
" Kalau gitu kita impas dong . " Celetuk Rey
" Impas apa nya ? " Nayla mengerjap bingung.
" Ya... pokoknya impas." Rey juga bingung mau alasan apa. " Sudahlah sayang, kita lupakan yang sudah berlalu, kita mulai dari awal ya ! apa kamu tidak kangen sama mas ?" Rey mulai melancarkan rayuannya.
Nayla mendengus, dia mengerti arah perkataan Rey tersebut, tiba - tiba wajahnya bersemu merah, apakah Rey akan meminta jatah malam pertama nya sekarang ? tapi Nayla juga belum siap melakukan kewajibannya itu, tubuhnya benar - benar lelah, bahkan dia belum beristirahat setelah kembali dari hutan.
" Ma...Mas mau ngapain lagi ? " Ucap Nayla dengan gugup, sambil mengeser tubuhnya saat Rey kembali mendekati nya dan duduk di tepi tempat tidur.
Rey tersenyum menyeringai " Kamu tenang saja, mas juga gak bakalan ngapa - ngapain kamu kok, mas tahu kamu sangat lelah ."
Mendengar itu Nayla bernafas lega, Rey membaringkan tubuh Nayla di tempat tidur dan menutupinya dengan selimut sampai bagian dadanya. Serta tak lupa memberikan kecupan manis di kening istrinya itu.
" Selamat tidur, mimpi indah ya..." Ucap Rey dengan lembut.
****
happy reading 😉😉
author juga mau bobo dulu, jangan lupa pesan - pesan yang sebelum nya , like , comment, favorite, dan rate 5 nya...eh...VOTE nya jangan ketinggalan, itu yang terpenting 😁😁😁
__ADS_1