
"Drrrrt....drrrrt....drrrt...."
Terdengar sebuah ponsel bergetar beriringan dengan nada dering nya di atas nakas disamping ranjang, dengan susah payah seseorang meraba-raba tangan nya ke atas meja dan menggapai ponsel tersebut lalu mendekatkan nya ke telinga.
"Rere ... Lo dimana? Gue udah di depan gerbang rumah lo ini." teriak seseorang di sebrang telepon.
Renata mencoba membuka matanya dengan berat dan mencoba mengumpulkan sedikit demi nyawa nya yang berkeliaran di alam mimpi dan ketika dia mendapatkan nyawa nya kembali seketika renata langsung terperanjat kemudian menatap ponsel yang tadi melekat di telinga nya, dan melihat ke arah jam weker yang berada di meja samping ranjangnya.
"Astaga... sudah jam 7, kenapa alarm weker gue tidak berbunyi? Apa gue lupa mengaturnya semalam?" pikir Renata sambil berusaha mengkerjapkan matanya dan menguceknya sedikit karena bingung kenapa bisa kesiangan.
"Aduh Nay, gue baru bangun. Gimana dong?" ucap nya kemudian dengan suara serak khas orang baru bangun tidur setelah mendekatkan ponselnya ke telinga.
"Apa? Lo tuh ya, gue udah bela-belain gak sarapan karena gue takut gue yang kesiangan dan sekarang lo baru bangun, apa kabar kuliah lo?" cerocos Nayla di sebrang telepon.
"Iya...iya...gue minta maaf perasaan gue dah setting alarm jam 6 deh, kok bisa ga kedenger ya?" Renata mencoba membela diri lalu dia beranjak dari ranjangnya dan hendak pergi ke kamar mandi.
"Lo masuk dulu aja deh gue siap- siap bentar, gak apa - apa lah nanti gue telepon pak dosen gak bisa masuk pelajaran dia hari ini." tambah Renata lagi.
Nayla yang kesal dengan kelakuan Renata hanya berdecak saat mengakhiri telpon nya dengan Renata kemudian memutar motor nya masuk ke arah gerbang pintu rumah Renata setelah bertemu dengan satpam rumah Rere Nayla minta ijin untuk masuk karena di suruh Rere untuk menunggu di dalam,lalu satpam membuka gerbangnya dan menyuruhnya masuk. Nayla melajukan motornya dan berhenti di depan pintu masuk. Lalu dia bergegas turun dari motor membuka helm dan menggantungnya di spion lalu merapikan baju nya yang sedikit berantakan. Dia mengetuk pintu rumah Renata.
Pintu rumah Renata di bukakan oleh bi Ijah pembantu rumah tangganya Renata.
"Eh ... Non Nayla ... masuk, Non! Non Renata nya lagi mandi tadi bibi dikasih tahu Non Renata katanya Non Nayla disuruh sarapan dulu. Yuk, udah di tunggu nyonya Rania juga di meja makan!" ajak bi Ijah sambil menarik tangan Nayla.
Nayla sedikit canggung dengan sikap Bi Ijah karena memang Nayla tidak terbiasa dengan perlakuan seperti itu di hormati layaknya nona besar keluarga kaya. Dia hanya bisa mengikuti ajakan Bi Ijah yang membawanya ke tempat meja makan, disana terlihat bu Rania sedang sarapan dan Rey yang sibuk memainkan jari nya di layar ponsel yang ia pegang lalu menyimpannya di atas meja ketika melihat Nayla datang.
"Eh ... Nayla sayang, sini duduk, Nak! Sarapan dulu!" ajak bu Rania sambil menepuk-nepuk kursi kosong di sebelahnya.
Nayla mengangguk dan menghampiri bu rania dan duduk di sampingnya, setelah itu bu Rania mengambilkan nasi goreng dan menyimpannya di atas piring yang ada di depan Nayla.
"Makan yang banyak Nay, kamu kok agak kurusan sekarang." seru bu Rania.
Sedangkan Rey dari tadi hanya menatap Nayla dengan tatapan yang tajam, Nayla merasa risih dengan tatapan Rey sesekali dia melirik ke arah Rey dan membuatnya menjadi gugup, padahal Nayla tidak pernah se gugup ini berhadapan dengan siapa pun termasuk jika bertemu dengan orang jahat yang akan menyerangnya sekalipun.
"Kenapa gue jadi deg-degan gini sih saat tuh orang ngelihatin gue mulu." pikir Nayla dalam hati.
"Ayo makan, Nay, kok diem aja? Tadi Renata bilang kamu belum sarapan?" perintah bu Rania yang melihat Nayla tidak juga memakan sarapannya.
Nayla menoleh pada tante Rania dan tersenyum kecil padanya. "Iya tante, aku makan, kok." Lalu memasukkan makanannya ke dalam mulut.
Tak lama Renata turun dari tangga karena kamarnya berada di lantai atas, dan menghampiri keluarganya yang sedang sarapan. "Maaf Nay, gue kesiangan." seru Renata sambil terkekeh menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal.
Nayla memutarkan bola matanya jengah "Kemaren aja kamu minta gue yang jangan telat jemput eh ... situ nya sendiri yang kesiangan, ngeselin tau!" seru Nayla dengan geram.
__ADS_1
"Iya, maaf!" seru Renata sambil menarik kursi lalu duduk dan mengambil sarapannya. "Oia, Ma. Tadi pagi ada yang masuk ke kamar aku gak, sih? Matiin alarm aku, kok aku gak denger ya? Perasaan semalam aku dah setting, deh, Ma." tanya Renata pada mama nya dan bu Rania hanya mengangkat kedua bahu nya tanda tidak tau.
"Kamu tidurnya kayak kebo kali, sampai gak denger alarm bunyi," sahut Rey menimpali.
Renata menoleh ke arah abangnya. "Enak aja Abang kalau ngomong, tiap hari juga Rere bangun kalau jam weker itu bunyi." sahut Rere membela diri lalu memasukkan makanannya ke dalam mulut.
Rey hanya mencibirkan bibirnya tanda tak percaya dengan omongan adiknya, lalu dia mengecek ponselnya yang bergetar saat mendapatkan sebuah pesan masuk lalu Rey terlihat tersenyum menaikkan kedua sudut bibirnya dengan sempurna lalu menyimpan kembali ponselnya di tempat yang sama.
Nayla dan Renata sudah selesai dengan sarapannya kemudian mereka pamit kepada bu Rania untuk berangkat kuliah sedangkan Rey kembali ke kamarnya untuk mengambil tas kerjanya yang ketinggalan. "Kami berangkat dulu ya, Mah." pamit Renata sambil mencium punggung tangan bu rania lalu diikuti oleh Nayla.
Bu Rania mengantarkan mereka ke depan pintu rumah. "Hati-hati, ya, Sayang!" lalu beralih pada Nayla.
"Nay jagain Renata, ya!" pinta bu Rania.
"Iya tante." jawab Nayla sambil tersenyum lalu dia menghampiri motornya dan hendak memarkirkannya ke arah pintu gerbang, tapi tiba- tiba raut wajahnya berubah suram ketika melihat kedua ban motornya tidak mempunyai kekuatan untuk menopang berat tubuhnya alias kempes.
"Kok bisa kempes, ya? Perasaan tadi gak apa-apa deh?" gumam Nayla sambil berjongkok dan menatap ban motornya.
Renata menghampiri Nayla dan juga menatap ban motornya "Kok kempes, Nay? Tadi pas lo kesini udah bocor kali." tanyanya kemudian.
Nayla mendongak karena Rere berdiri di belakang Nayla yang sedang jongkok. "Gue udah cek sebelum berangkat baik-baik aja ini ban,kenapa sekarang jadi kehabisan nafas gini?" seru Nayla.
Kemudian Bu Rania menghampiri Nayla dan Renata lalu di susul oleh Rey yang baru keluar dari rumahnya.
Nayla dan Renata menoleh ke arah bu Rania. "Gak tahu nih mah, ban nya tiba-tiba kempes dua-dua nya lagi." jawab Renata kebingungan.
"Kalian bareng abang aja! Sekalian lewat abang mau ke kantor." seru Rey menawarkan bantuan.
Nayla dan Renata beradu pandangan saling tatap Renata memainkan matanya tanda meminta persetujuan dari Nayla. Nayla mengangkat kedua bahu nya dan menggeleng. "Kamu bareng abang kamu aja Re, aku mau bawa si Mocan ke tambal ban dulu takutnya emang ada yang bocor, helm nya biar aku yang bawa." perintah Nayla lalu mengambil helm di tangan Renata.
Renata menggeleng. "Gak mau, lo udah capek- capek kesini, gue nya malah pergi duluan, gue masih punya hati kali." omel Renata dengan kasar lupa kalau mamanya masih berdiri disana.
"Udah lah biar kalian berdua sama bang Rey aja, biar motornya ditinggal disini, nanti mama suruh mang Jono yang ngurus motornya." bu Rania ikut bersuara.
Nayla hanya terdiam mencoba mencerna perkataan bu Rania. "Nanti aku pulangnya gimana Tante kalau si Mocan disini?" tanya Nayla.
Rey berjalan menuju mobilnya yang berada tak jauh meninggalkan mereka mengelilingi motor Nayla. "Nanti abang jemput lagi pulangnya, kalian hubungi abang saja kalau mau pulang." ucap sambil membuka pintu mobil dan menyimpan tas kerjanya di dalam.
Renata mendekati Nayla dan mendekatkan bibirnya ke arah telinga Nayla. "Mau aja lah, Nay! dari pada lo dorong-dorong si Mocan ke depan kan jauh," bisik Renata.
Nayla sejenak berpikir lalu menggaruk keningnya. "Oke lah, terserah lo aja." bisiknya juga.
Kemudian mereka berpamitan lagi pada ibu Rania, dan mereka sama-sama membuka pintu mobil yang penumpang yang di belakang dari kedua sisi yang berbeda. Rey yang melihat itu menautkan kedua alisnya dan melipatkan kedua tangannya di dada tanda tidak suka.
__ADS_1
"Kalian mengganggap aku sopir pribadi, ya? Kenapa semua nya duduk di belakang?!" seru Rey dengan geram.
Nayla dan Renata saling bertatapan kemudian Renata mendengus dan mengalah untuk duduk di depan bersama abangnya.Tapi sebelum abangnya masuk mobil dia memanggil mang Jono tukang kebunnya dan menyuruhnya untuk membawa motor Nayla ke tukang tambal ban dan memberikan dua lembar uang seratus ribuan padanya.
"Ini buat ongkos untuk yang kerjaan yang tadi dan juga buat tambah angin motor itu ya, Mang." ucap Rey sambil tersenyum pada Mang Jono
"Makasih, Den." Mang Jono menerima uang tersebut dengan senang hati.
Nayla yang mendengar Rey menyuruh mang Jono membawa motor nya seketika menurunkan kaca mobil dan menyembulkan kepalanya keluar.
"Hati-hati ya mang sama si Mocan jangan sampai lecet apalagi ilang, nanti kalau terjadi sesuatu aku laporin komnas perlindungan anak, loh." pesannya pada mang Jono.
Mang Jono mengerutkan dahinya. "Apa hubungannya motor sama komnas perlindungan anak non?" tanya mang Jono dengan heran.
Nayla menunjukkan wajah serius. "Dia masih kecil Mang, umurnya belom setahun dan dia juga gak punya asuransi." jelas Nayla dan kemudian tersenyum lebar.
Mang Jono pun tertawa mendengar penjelasan sahabat majikannya itu, sedangkan Renata yang sudah duduk di depan menempelkan tangan di keningnya merasa malu dengan ulah sahabatnya itu dan Rey tersenyum tipis menarik satu sudut bibirnya dan menggelengkan kepalanya pelan.
"Ada-ada aja non Nayla ini." ucap mang Jono dan Nayla pun tertawa.
Kemudian Rey pun masuk ke dalam mobil dan mulai melajukan mobilnya keluar dari gerbang rumahnya. Selama perjalanan mereka tidak melakukan percakapan apapun Renata dan Nayla mereka sibuk memainkan ponsel nya masing-masing, Rey sesekali melirik Nayla melalui kaca spion tengah mobilnya.
"Rencana ku berjalan sempurna." gumamnya dalam hati sambil tersenyum kecil.
***
flashback on
Tepat pukul lima pagi Rey masuk ke dalam kamar Renata dengan mengendap-endap, dia mengambil jam weker yang berada di atas meja samping ranjang Renata dan mematikan tombol alarm pada jam tersebut lalu menyimpannya kembali di atas meja, dia pun keluar dengan perlahan agar Renata tidak terbangun karena keberadaannya.
Setelah keluar dari kamar Renata, Rey memanggil mang Jono tukang kebun nya dan menyuruhnya melakukan sesuatu. "Jangan sampai ketahuan ya mang dan pastikan dua-dua nya benar-benar kosong." ucap Rey sambil memegang pundak mang Jono.
"Baik, Den." jawab mang Jono lalu dia pamit untuk ke belakang melanjutkan pekerjaannya. Rey tersenyum licik, sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celana.
"Aku akan membuat dia mengenalku lebih dekat." gumamnya pelan, kemudian pergi menuju kamarnya.
***flashback off
***
Bersambung ya......
Follow juga IG author ya : @amih_amy
__ADS_1