Destiny Of Love

Destiny Of Love
BERKUNJUNG


__ADS_3

Hari berganti seperti air yang mengalir tanpa jeda, walau pun banyak liku - liku di perjalanannya tetap saja akan sampai pada hilirnya juga. Seperti perjalanan hidup Nayla dan kisah cintanya, walaupun terlalu banyak batu terjal yang menghadang jalannya tapi akhirnya berakhir indah di pelaminan bersama orang yang di cintainya.


Sudah seminggu Gisella mendekam di penjara, dan Nayla belum berani jujur mengatakan pada suaminya, Rey hanya mendengar Gisella pergi ke luar negeri dari asisten kepercayaan Gisella di pabrik textil miliknya, seakan tak mau tahu urusan orang. Rey tak banyak bertanya untuk apa Gisella pergi, dia cukup percaya saja.


Nayla juga baru sekali membesuk Gisella di penjara, itupun pada jam istrihat bekerjanya di rumah sakit, karena saat itu Rey sedang rapat dan tak bisa menemani istrinya untuk makan siang. Selebihnya Rey selalu mengekori kegiatan istrinya jika dalam waktu luang. Gisella mengerti dengan kondisi Nayla saat ini. Hal ini tidak membuat Gisella kembali membenci dokter jagoan cantik itu.


Hari itu, Nayla mengajak Rey untuk berkunjung ke rumah keluarga kecil yang sudah menyelamatkannya dulu, tadinya dia ingin mengajak ayah, ibu dan juga Dio kesana. Tapi Rey tidak mengizinkannya asalannya karena Rey akan membawa keluarga di desa itu untuk ke rumahnya, sekalian untuk menghadiri pesta resepsi nya nanti. Nayla pun setuju.


Mereka membawa beberapa perlengkapan dan juga persiapan yang matang agar bisa mencapai desa di tengah hutan itu dengan cepat. Rey meminta tiga anak buah nya mengikuti mobilnya memakai sepeda motor, supaya mereka bisa berganti kendaraan saat masuk ke dalam hutan karena memang belum ada jalur mobil untuk akses menuju ke desa itu.


Setelah sampai di jalan utama di pinggir hutan, Rey menghentikan mobilnya dan di ikuti oleh tiga anak buahnya. Rey turun dari mobil sambil menyapukan pandangannya pada sekeliling tempat itu.


" Kamu yakin tempatnya di sini sayang ? " Tanya Rey pada istrinya.


Nayla yang sudah turun duluan, dan menghirup udara yang masih segar dalam - dalam, sambil mencoba mengenang saat aki Asep mengantarnya ke tempat itu untuk pulang. Mendengar pertanyaan suaminya dia pun menoleh dan mendapati suami sudah berdiri di sampingnya.


" Tentu saja aku yakin, mas lihat jalan setapak dekat tugu perbatasan itu ? " Tangan Nayla mengarah pada satu jalan setapak yang menuju ke dalam hutan, dan Rey menoleh mengikuti arah telunjuk Nayla.


" Itu jalur masuk menuju desa nya Ayu. " imbuh Nayla, Rey mengangguk .


Rey kemudian memanggil ke tiga anak buahnya, menyuruh dua orang untuk membawa mobilnya pulang, karena mereka berniat untuk menginap di sana, dan satu orang lagi ikut masuk ke dalam hutan, siapa lagi kalau bukan Jordy, si asisten kesayangan Rey, walau sebenarnya dia selalu di repotkan. Mereka meninggalkan sepeda motornya untuk di kendarai Rey dan Nayla menyusuri hutan menuju desa tersebut. Tak lupa Rey mengingatkan anak buahnya untuk menjemput mereka kembali besok pagi.


Kini Rey dan Nayla sudah siap di atas motornya masing - masing. Nayla berada di depan karena dia yang tahu jalan, sungguh ironis memang, seorang perempuan memimpin perjalanan memasuki hutan.

__ADS_1


Rey sedikit meremang, saat melewati pepohonan yang besarnya beberapa kali lipat dari besar tubuhnya, sudah terbayang betapa tinggi dan rindang pohon itu karena terlihat jalanan tampak redup, terik sinar mentari di siang itu hanya mampu menembus celah - celah dedaunan yang menaungi perjalanan mereka. Suara kicauan burung yang silih bersahutan membuat perasaan Rey sedikit lebih tenang. Dia tetap fokus mengendarai motornya mengikuti motor sang istri yang sudah agak jauh meninggalkannya.


Karena menggunakan sepeda motor, mereka dengan cepat sampai di rumah ki Asep dan istrinya. Ayu yang sedang bermain di pekarangan rumah nya begitu terkesiap saat melihat Nayla turun dari motornya sambil tersenyum lebar ke arah gadis kecil yang di rindukannya itu.


Tanpa pikir panjang Ayu langsung berlari hendak memeluk wanita yang pernah singgah di rumahnya dulu. " Teh Nay , Ayu kangen banget. Ayu gak sedang mimpi kan ? " ucap Ayu dalam pelukan Nayla. Ayu menangis terharu.


Nayla mengusap puncak kepala Ayu dengan lembut. " Ayu gak lagi mimpi, teteh beneran datang, kan teteh udah janji bakal datang ke sini lagi. " Ujarnya kemudian. Ayu melepas pelukannya lalu menyeka air mata nya sendiri.


" Kok nangis ? " tanya Nayla heran, menatap mata Ayu yang mengeluarkan cairan bening.


" Ayu seneng banget teteh kesini lagi. Ayu jadi nangis deh. " Ucap polos Ayu, membuat Nayla mengembangkan senyumnya kembali.


" Ah...iya teteh lupa. " Nayla menoleh ke arah suaminya dan juga Jordy.


" Kau tidak perlu memanggil Jo dengan sebutan tampan juga. " Rey mendengus kesal saat sudah mendekat dengan istrinya.


Nayla mengernyit " Memangnya kenapa ? kak Jo memang tampan ? iya kan Ayu ? " Nayla berkata jujur, dia lupa suaminya seorang pencemburu akut.


Ayu sejenak diam, memperhatikan dua laki - laki yang di sebut tampan oleh Nayla, sambil mengerjap polos dia berkata " Lebih ganteng kakak yang itu ! " Ayu menunjuk ke arah Jordy. " Kakak yang ini wajahnya sangar, gantengnya ketutupan. " Imbuh Ayu yang sontak membuat Jordy tak bisa menahan tawanya, Rey jadi geram dan memukul bahu asistennya itu dengan sedikit keras, membuat Jordy membungkam dan mengelus bahu nya yang sedikit perih.


Sadis ! kata itu yang ingin di katakan Jordy pada bosnya, tapi hanya bisa di katakan dalam hati.


Nayla tak berani tertawa, sikap Rey memang kekanakan jika sudah berurusan dengan cemburu yang kelewatan. Sambil mengulum senyumnya dia meminta Ayu untuk membawa mereka bertemu dengan Aki Asep dan mak Lastri.

__ADS_1


Ayu dengan semangat menarik tangan Nayla menuju rumahnya, sambil berteriak dengan heboh memanggil aki dan nini nya yang berada di dalam rumah.


" Aki... nini.... teh Nay datang . " Teriak Ayu.


Mendengar teriakan cucu mereka, kedua orang tua itupun segera keluar dari rumahnya, dan seketika itu Nayla langsung memeluk mak Lastri dan aki Asep bergantian.


" Kalian baik - baik saja kan ? " Sapa Nayla setelah melepaskan pelukannya.


" Kami baik neng, neng gimana kabar nya ? itu bawa siapa ? " Mak Lastri menanyakan dua laki - laki yang sepertinya di lupakan Nayla.


" Oh iya. " Rey dan Jordy menghampiri kedua orang tua itu dan mencium punggung tangan keduanya.


" Ini suami Nay, namanya mas Rey . " Nayla menunjuk ke arah Rey, kemudian beralih pada Jordy . " Dan ini kak Jordy, temannya mas Rey. " Keduanya pun tersenyum sambil menganggukkan sedikit kepala mereka. Dan di balas senyuman oleh aki Asep dan nini Lastri.


" Neng Nay, sudah menikah ? bukannya dulu waktu di sini neng bilangnya belum menikah ? " Tanya aki Asep dengan heran.


" Iya ki, pas pulang dari sini Nayla langsung di paksa nikah, ceritanya panjang ki nanti Nay ceritain deh. " Sahut Nayla dan mendengar itu wajah Rey kembali merengut. Mengapa istrinya berkata seolah pernikahan mereka terjadi karena paksaan meskipun memang kenyataannya demikian karena terjadinya salah paham. Rey kali ini hanya diam, dari tadi istrinya selalu saja membuatnya kesal. Tinggal tunggu waktu saja saat mereka kembali ke rumahnya. Rey akan membuat perhitungan pada istrinya tersebut. Tentu saja perhitungan yang menyenangkan ala Reydian.


***


Happy reading 😉😉


Kisah ini akan mendekati tamat ya readers tersayang, mungkin karena sedikit peminatnya jadi authornya bingung mau lanjut gimana lagi. Atau memang authornya yang gak bisa bikin cerita seru. Maafin author ya...Tetap minta dukungan walau kagak di bayar, Klik Like , komentar , Vote, dsb.... ya.

__ADS_1


Maaf ya authornya curhat mulu..😆😆😆


__ADS_2