
" Ka Jo, dapat banyak gak kerang nya? " Tanya Ana sambil mata nya menghadap ke bawah, memperhatikan jika ada kerang laut atau binatang laut kecil lainnya sedang berlarian mengejar ombak yang meninggalkan mereka di bibir pantai.
" Ini...." Jordy menunjukkan tangannya yang menggenggam beberapa buah kerang laut yang masih hidup.
Ana menoleh dan menatap sejenak tangan Jordy, " Jangan di genggam kayak gitu kak, nanti mereka mati " Ana langsung mengambil kerang-kerang itu dan memasukkan nya ke dalam wadah yang sudah di isi air laut sebelumnya.
Jordy hanya diam saja, membiarkan Ana mengambil kerang dari tangannya. " Kamu pikir, mereka tidak akan mati jika berlama-lama tinggal dalam wadah kecil itu? kamu sudah memisahkan mereka dari habitat nya, mereka gak akan kuat. " Sahut Jordy setelah Ana selesai memindahkan kerang dari tangannya.
Ana mendongakan pandangan dari wadah yang dia pegang " Kuat kok kak, aku juga terpisah lama dari habitatku, dari kakakku, apalagi orang tuaku yang sudah lama pergi, tapi aku kuat, buktinya aku masih baik-baik saja sampai sekarang. " Celoteh Ana dengan wajah polos.
Jordy mengernyit, kemudian tertawa
" Kamu mau di samakan dengan binatang laut ini ? cara hidup mereka berbeda denganmu, mereka butuh air laut, dan biota laut lainnya, jika mereka terpisah lama dengan lingkungannya mereka tidak akan bertahan hidup lebih lama ." Tutur Jordy
Ana terdiam, " Begitu yah ?" gumamnya pelan, Dia terus memandangi kerang-kerang kecil dan bintang laut yang dia tangkap dalam wadah, mereka sedang bergerak -gerak kecil dengan susah payah, karena wadah itu terlalu kecil, sehingga mereka jadi bertumpuk-tumpukkan disana.
Beberapa menit Ana diam, kemudian berjalan ke arah laut dan berhenti saat air laut sudah mencapai batas lututnya, lalu dia menumpahkan semua isi dalam wadah tersebut. Dan menoleh ke arah Jordy yang dari tadi memperhatikan langkah Ana, dan Jordy membalasnya dengan mengacungkan ibu jari nya tanda setuju.
Ana pun berbalik, dan kembali menemui Jordy. "Sudah ku buang ke tempatnya, aku tidak akan membiarkan mereka mati, cuma karena jauh dari lingkungannya sendiri. " Ucap Ana dengan penuh semangat.
" Itu baru bener " Seru Jordy sambil menyolek sedikit hidung Ana yang mancung.
"Eh... " Ana terkesiap karena hal itu, dan itu membuat Jordy merasa bersalah.
" Sory...sory, aku cuma reflek " Ucap Jordy kelabakan .
Ana hanya tersenyum getir, merasakan hawa canggung yang selama ini sering terjadi jika sedang berduaan dengan laki-laki yang usianya terpaut 5 tahun dengannya itu.
" Gak apa - apa kak, aku cuma kaget aja " Ucap Ara menahan malu, wajahnya pun tersipu.
Jordy apalagi, selama dia menjadi asistennya Rey, dia tidak pernah mendekati wanita manapun, rasanya sangat nyaman jika sedang berdua bersama Ana. Tapi dia juga tak bisa mengendalikan jantungnya yang berdetak kencang.
Jordy meraih tangan Ana, dan menariknya pergi menjauh teman-teman dan bos nya Rey
" Mau kemana ?" tanya Ana
" Kesana,, sepertinya menyenangkan " Tunjuk Jordy, sambil tangannya tetap menggenggam erat tangan Ana dan menariknya agar mengikuti langkah Jordy.
Jordy mengajak Ana ke sebuah ayunan kecil yang terbuat dari anyaman tali yang sengaja di sediakan oleh pihak pengelola pantai, untuk menikmati suasana indah di pantai tersebut.
__ADS_1
Jordy pun mempersilahkan Ana untuk duduk di ayunan tersebut, Ana pun mendudukkan tubuh nya di atas ayunan. Dia tersenyum pada Jordy dan menggeser sedikit tubuhnya, memberikan sedikit ruang agar dia bisa berbagi ayunan dengan Jordy.
" Kak Jo, ayo duduk di sini juga, rasanya menyenangkan loh, lihat pemandangan pantai sambil duduk di ayunan seperti ini. " Ana menepuk tali ayunan tersebut, lalu mengarahkan pandangannya ke arah laut. Sungguh pemandangan yang luar biasa, ciftaan Allah SWT. memang tiada duanya.
Jordy tanpa segan langsung mendudukkan tubuhnya di ayunan, duduk berdampingan dengan Ana, begitu dekat dan terasa hangat. Ana menatap ke arah laut dengan tatapan penuh syukur, dia sangat jarang pergi berlibur selama ini.
Setelah orang tua Ana meninggal, kakaknya lah yang bekerja banting tulang untuk membiayai kehidupan mereka, serta kuliah Ana saat ini, bagi Ana kakaknya adalah segalanya. Kakak nya rela untuk tidak menikah dulu, sebelum Ana bisa lulus kuliah nya.
" Ana, apa kau senang di ajak berlibur kesini ?" Tanya Jordy sambil matanya mengarah ke laut.
Ana menoleh, menatap sayu wajah Jordy dari samping " Sangat senang kak Jo " Ucap nya Ana. " Terima kasih " Imbuh nya dengan lembut.
Jordy tertegun, mendengar ucapan terimakasih yang begitu lembut dari Ana, hati nya seakan berdesir, darah nya seperti tiba-tiba naik ke ubun-ubun. Dia menatap Ana dengan tatapan penuh arti.
" Ana, apa kau sudah punya kekasih ?" Tanya Jordy tiba -tiba.
Ana terkesiap, dia sangat terkejut dengan pertanyaan Jordy yang tanpa basa -basi.
" Memangnya kenapa ?" Ana mulai salah tingkah, jantung nya berdetak begitu cepat.
Jordy beranjak berdiri, lalu dia mengambil sesuatu dari dalam saku celana nya, dan berjongkok dengan sebelah kakinya yang di tekuk. " Ana, aku tahu ini begitu cepat, tapi rasanya aku tidak mau menunggu lama lagi, aku yakin kamu lah orang yang tepat " Jordy diam sejenak, lalu menjulurkan tangannya ke arah Ana dan membuka genggaman tangannya, terlihat sebuah kotak merah kecil yang kemudian di buka oleh Jordy, di dalamnya di sematkan sebuah cincin bermata intan kecil yang sangat cantik. Ana tertegun melihat itu. Mulutnya sedikit terbuka dan dengan segera dia menutupnya dengan kedua telapak tangannya.
" Apa kau mau menikah denganku, menjadi ibu dari anak-anak ku, dan hidup menua bersama ku " Kata- kata lamaran yang sudah Jordy rangkai sebelum dia berangkat berlibur bersama bos nya itu, akhirnya bisa terucap dengan lancar.
Jordy tersenyum " Ulurkan tanganmu " Perintah Jordy dengan lembut.
Ana menurut dia mengulurkan tangannya, kemudian menarik nya kembali " Tapi aku belum menerima mu " Ucap Ana polos.
Jordy berdecak, " Aku hanya ingin membuktikan kalau kau tidak bermimpi "
Ana terkekeh " Tidak perlu, aku tahu ini nyata. " ucap nya dengan tersipu, tak ayal pipinya pun merona.
" Jadi bagaimana ? terima aku ! " Tanya Jordy tapi dengan sedikit memaksa.
Ana mengernyit " Kau memaksa ?"
" Sedikit " Ucap Jordy sambil terkekeh.
" Cepatlah, aku sudah pegal ini " imbuh Jordy dengan sedikit gemetar, dia berusaha membuat sedikit gurauan agar suasana nya tidak terlalu menegangkan.
__ADS_1
" Payah, baru sebentar saja kau sudah pegal, gak ada perjuangannya sama sekali " Ana menggoda Jordy sambil melipatkan kedua tangannya di depan dada.
Jordy menautkan kedua alisnya " Apa kau mau menyuruh ku seperti ini seharian ?" Jordy mulai gelisah.
Ana kembali terkekeh, " Boleh juga " ucapnya sambil menahan tawanya yang ingin meledak keluar.
Jordy mendengus " Kau tega sekali Ana, ayolah..." Rengek Jordy seperti anak kecil.
Ana terdiam, dia berpura-pura berpikir dengan satu jari nya menempel di kening. Satu menit, lima menit, lima belas menit, Ana masih seperti itu.
" Apa kau sengaja menyiksa ku Ana ?" Seru Jordy yang mulai merasakan kaki nya kesemutan.
Ana akhirnya tertawa " Hahaha,, baiklah...baiklah.. " Ana menurunkan tangannya dari kening dan langsung mengambil kotak cincin dari tangan Jordy dan langsung memakaikan cincin itu di jari manis nya.
Jordy terkesiap, dia langsung beranjak berdiri, walau kakinya terasa sangat kebas.
" Kenapa kau memakainya ?" Jordy sedikit kesal.
Ana mengernyit " Aku menerimamu, kenapa kak Jo seperti tidak senang " Ucap Ana dengan heran.
Jordy menepuk kening nya pelan, lalu menghela nafasnya perlahan. Dan langsung memeluk Ana dengan erat. " Kau sangat tidak bisa di ajak romantis, tapi aku tetap suka " Ucap Jordy dengan lembut, Ana tersenyum, dia teramat bahagia, diapun membalas pelukan Jordy.
" Aku menerimamu, tapi... apa kak Jo bisa bersabar, aku ingin menikah setelah kakakku juga menikah " Ucap Ana dengan penuh harap.
Jordy melepas pelukannya dan menatap dalam bola mata Ana, kemudian tersenyum tipis
" Tentu saja.." Ucapnya yakin, lalu kembali memeluk Ana.
***
semangat mengumpulkan poin readers ku...
jangan lupa
LIKE
KOMENT
DAN VOTE SEBANYAK -BANYAK NYA YA....
__ADS_1
baca juga novel ku yang lain ya
MY LOVELY IDIOT HUSBAND