
Waktu berlalu dengan cepat, tak terasa dua minggu sudah berlalu dari acara pertunangan yang sempat di kacau kan oleh Rere,karena insiden cincin ketinggalan yang akhirnya dapat terselesaikan. Mama Rania harus merelakan cincin kesayangannya sebagai pengganti cincin tunangan yang tertinggal, tapi dengan syarat Rey harus berjanji harus menggantinya dengan cincin yang sama. Perhitungan juga Nayla punya mama mertua.
Dari lamaran itu di putuskan acara pernikahan mereka akan di laksanakan sebulan setelah acara pertunangan, Rey sangat tidak sabar ingin menikahi Nayla, awalnya dia minta hanya seminggu dari hari tunangan, tapi keluarga Nayla merasa keberatan, karena dalam waktu seminggu, mereka tidak bisa mempersiapkan acara pernikahan, ya.. walaupun resepsi nya akan di adakan di salah satu resort milik Rey di kota itu, tapi tetap saja akad nikah nya akan di laksanakan di rumah Nayla.
Walaupun waktunya hanya sebulan, tapi Nayla tidak mau hanya tinggal diam di rumah menjadi gadis pingitan, setelah dia lulus kuliah, Nayla ingin melanjutkan tahap pendidikan profesinya, Nayla melamar menjadi co-assistant di rumah sakit milik Rey.
"Dokter Ryan, ini hasil diagnosa pasien di kamar 201, keadaannya sudah cukup membaik, suhu tubuhnya sudah normal, dan tekanan darahnya juga normal," ujar Nayla kepada dokter senior yang membimbingnya di rumah sakit tersebut.
Dokter Ryan dengan seksama memperhatikan laporan yang di berikan Nayla, sambil menggangguk-angguk kecil merasa puas dengan hasil laporan tersebut. "Hasilnya baik semua, terimakasih, dokter Nayla."
"Sama-sama, Dok," balas gadis cantik itu. Kemudian keduanya terlibat perbincangan lainnya.
Tiba-tiba suara ketukan pintu dari luar ruangan kerja mereka. Membuat kedua orang ini menoleh. "Masuk!" teriak dokter Ryan.
Pintu ruangan itupun terbuka, Nayla sangat kaget saat dia melihat yang masuk ke dalam ruangan adalah tunangannya, Rey.
"Mas Rey? Ngapain kesini?" tanya Nayla dengan heran.
Rey menajamkan kedua alisnya, menatap Nayla dengan geram, seakan tak menyukai reaksi gadis itu saat pertama bertemu dengannya. "Jadi kamu tidak suka mas datang kesini?" Wajah Rey terlihat ditekuk.
Dokter Ryan hanya tersenyum-senyum kecil melihat tingkah teman sekaligus bosnya itu, Dokter Ryan sudah menikah dan dia juga tahu kalau Rey dan Nayla sebentar lagi juga akan menikah, makanya dia paham kenapa Rey selalu saja bolak-balik rumah sakit untuk hanya sekedar bertemu dokter cantik itu.
"Iya Rey, ini bukan jam istirahat, kamu tidak boleh seenaknya mengganggu kerja para dokter disini!" ujar dokter Ryan, dia sengaja menggoda pemuda yang sedang dimabuk cinta itu.
Rey merasa tidak senang, dia menarik sebuah kursi yang masih kosong di sebelah Nayla kemudian mendudukinya. "Aku yang punya rumah sakit ini, apa salahnya jika aku melakukan sidak saat kalian sedang bekerja, mungkin saja kan, pada saat jam kerja kalian hanya santai-santai," ucap Rey dengan angkuh sambil bersidekap dada.
Nayla mengernyit dahi. "Mas melakukan sidak setiap hari, apa tidak bosan?" Pertanyaan Nayla membuat Rey menurunkan tangannya dari atas dada, dan menghadapkan tubuhnya pada Nayla.
"Kamu lupa, hari ini kita akan melakukan foto pre-wedding, jangan- jangan kamu juga lupa kalau dua minggu lagi kita akan menikah?" Rey tampak geram, semenjak bekerja di rumah sakitnya, tunangannya itu semakin lupa diri dengan masalah pribadinya.
__ADS_1
"Aku ingat," ucap Nayla dengan santai.
"Kalau kamu ingat, kenapa masih bertanya kenapa Mas kesini?"
"Itu kan, bisa dilakukan sore hari, saat jam kerja aku sudah selesai, Mas."
Rey mendelik, sepertinya mengijinkan Nayla untuk bekerja menjelang hari pernikahannya adalah sebuah kesalahan. "Aku bosmu sekarang, tidak ada bantahan!" Rey tetap tak mau kalah. "Nanti sore Mas ada meeting penting, tidak bisa di cancel," imbuhnya sambil bersender ke sandaran kursi.
"Dih ... egois! Sendirinya gak mau diganggu," umpat Nayla dengan pelan, tapi Rey masih bisa mendengarnya dengan samar.
"Apa kamu bilang?" Rey mengubah posisi duduknya, sedikit mencondongkan tubuhnya pada Nayla.
Nayla menarik mundur tubuhnya dengan cepat "Gak apa- apa, iya terserah Mas saja," ucapnya sambil tersenyum di paksakan.
"Gitu dong!" ucap Rey dengan senang
Nayla menghela napas, setiap keinginan calon suaminya itu sangat sulit untuk dibantah, Nayla mengalihkan pandangannya ke arah dokter Ryan "Dokter apa boleh aku minta izin pulang cepat hari ini?" tanya Nayla dengan wajah kecewa.
Rey tersenyum penuh kemenangan, "Ayo!" ajaknya pada Nayla, yang belum memberi tanggapan pada dokter seniornya tersebut. Rey beranjak berdiri sambil mengulurkan sebelah tangannya.
"Terimakasih Dokter, aku akan segera kembali jika aku sudah selesai sebelum jam kerjaku berakhir," ucap Nayla tanpa memperdulikan ajakan Rey. Kemudian Nayla beranjak berdiri dan meraih tangan Rey yang masih setia menunggu sambutan darinya.
"Ayo, Sayang!" seru Nayla dengan lembut, dan berjalan mendahului Rey menarik tangannya. Rey bergeming, dia masih berdiri di tempatnya, merasa asing dengan panggilan Nayla barusan. Untuk pertama kalinya, gadis yang sekarang menjadi tunangannya mengucapkan kata 'sayang'. Terdengar sangat menggoda di telinga Rey.
"Malah bengong, ayo!" Tarikkan tangan Nayla, membuyarkan pikiran Rey.
"Coba ulangi yang tadi!" Rey mendekatkan tubuh Nayla padanya, dan memegang pinggang Nayla, membuat Nayla salah tingkah pasalnya dokter Ryan masih ada disana.
"Mas, lepasin! Dokter Ryan sedang melihat kita." Nayla berusaha melepas tangan Rey di pinggangnya.
__ADS_1
Rey menoleh pada dokter Ryan, yang sedang duduk bersandar sambil melipatkan tangannya di atas dada. "Aku seperti sedang menonton live streaming di sini, lanjutkan saja! Tapi ingat di sini rumah sakit, jangan terlalu vulgar, ya!" seru dokter Ryan yang seketika mendapat pelototan mata dari Nayla, dua minggu bekerja dengan dokter ganteng dan terlihat dingin itu, tak di sangka dia juga mempunyai sifat yang sama dengan orang yang sedang memeluknya sekarang.
"You are the best, Sob." ucap Rey dengan senyum mengembang, lalu kembali mengalihkan pandangannya pada Nayla.
Nayla semakin kalang kabut, perasaannya jadi tak karuan, antara malu dan segan menjadi satu, tidak mungkin dia harus bermesraan di hadapan seniornya itu, mau di simpan dimana wajahnya nanti, jika bertemu dengan dokter Ryan saat bekerja lagi.
"Tidak ... tidak ... aku harus melakukan sesuatu!" gumam Nayla dalam hati.
Rey semakin mendekatkan wajahnya pada Nayla, merengkuh pinggang Nayla dan merapatkannya dengan tubuhnya. Nayla tak ambil pusing, dia segera menyatukan keningnya dengan Rey dengan keras, hingga membuat Rey memekik kesakitan. Berikut tambahan pijakan kaki Nayla yang mulus mendarat di kaki Rey, membuat Rey semakin mengaduh saja.
"Aww ... sakit!" pekik Rey sambil memegang keningnya dan beralih pada kaki yang masih di balut oleh sepatunya itu.
Nayla beringsut mundur saat Rey melepaskan pelukannya. "Rasain!" seru Nayla sambil tertawa kecil. Membuat dokter Ryan juga tertawa di belakang mereka.
Baru kali ini dia melihat temannya diperlakukan seperti itu oleh seorang gadis, apalagi gadis itu adalah tunangannya sendiri. Rey menoleh menatap tajam pada sang dokter, membuatnya membungkam dan menahan tawanya, sambil mengacungkan dua jari tanda berdamai. "Sorry..." katanya.
Rey beralih pada Nayla yang masih menahan tawanya, tapi tidak tega juga melihat tunangannya merasa kesakitan. "Jahat banget, sih!" Rey pura-pura merajuk.
"Maaf deh ... mau jadi pergi, gak?" Nayla mengusap kening Rey, hanya sebentar kemudian melepasnya lagi, dia takut Rey akan berulah kembali.
Rey menyadari kesigapan Nayla, dia pun berdecak pelan. "Awasnya, kalau kamu sudah menjadi istriku, aku akan menyerangmu setiap waktu!" gumam Rey dalam hatinya.
Rey menegakkan tubuhnya dan merapikan jasnya yang sedikit bergeser. "Ayo!" ajaknya datar sambil mengandeng tangan Nayla meninggalkan ruangan dokter Ryan.
Ryan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah pasangan yang akan menikah itu, dia jadi ingat dengan istrinya di rumah. "Hah ... membuatku ingin pulang saja," desah dokter Ryan sambil memejamkan matanya sebentar.
***
Mohon tetap dukung authornya reader tersayang, like dan komen kalian adalah pemberi semangat buat author yang akhir-akhir sedang kesulitan buat mikir lanjutan cerita. Tapi jalurnya sudah ada, cuma kata-katanya yang membuat author dilema.
__ADS_1
Makasih yang udah tetep dukung author yang masih pemula ini, mohon maaf jika masih banyak kekurangan ya...
Jangan lupa vote nya tambahin ya teman-teman....klik favorit author amy...