
Siang itu begitu terik, panas matahari begitu menyengat di kulit setiap orang yang berani menantangnya di luar ruangan. Begitupun dengan dokter cantik yang bernama Nayla, walaupun dia berada dalam ruangan yang ber AC tapi suhu tubuhnya seakan tak bersahabat. Sejak matahari bergulir menuju siang tubuhnya seakan di panggang.
" Panas banget sih hari ini ? AC nya rusak sepertinya . " Gerutu Nayla di ruang kerjanya.
Nayla sengaja membuka jas putih yang melekat di tubuhnya dan menggantungkannya di belakang sandaran kursi duduknya. Lalu menyandarkan kepalanya di sandaran itu sambil memijit pelipisnya yang terasa pusing.
Tring... suara ponsel Nayla menandakan satu pesan masuk disana, dia pun meraih ponsel itu dengan segera, terlihat kontak my hubbie yang mengirim pesan di aplikasi WA di layar ponsel miliknya itu. Nayla mengetuk layar dan membaca isi pesannya.
My Hubbie : Sayang, maaf hari ini aku tidak bisa menemanimu makan siang, ada pertemuan penting dengan partner bisnis di sebuah kafe siang ini. Makan yang banyak ya ! miss you. mmmuach !
Nayla : Oke !
Nayla menyimpan kembali ponselnya setelah mengetik balasan tersebut, tapi beberapa detik kemudian, sebuah pesan masuk lagi masih dari suaminya.
My Hubbie : Oke doang ?
Nayla mengernyit dahi. Lalu mengetikkan sesuatu untuk membalasnya.
Nayla : Memangnya harus apa ?
My Hubbie : Balasnya harus buanyak dan panjang !
Nayla mengangguk sendiri, sepertinya dia paham, dengan cepat dia membalas.
Nayla : buanyak dan panjang ! Udah ya.. aku nya mau kerja lagi.
My Hubbie : 😠😠😠 Awas kamu ya !
" Apa sih mau nya ? " Seru Nayla sambil menatap balasan dari suaminya tersebut, lalu dengan cuek dia menyimpan kembali ponselnya tanpa mau membalasnya kembali. Nayla memang tak pandai berkata - kata romantis. Rey sangat gemas dengan sikap istrinya itu.
" Ah..iya, mumpung mas Rey gak kesini aku mau besuk mba Gie aja ah. " Nayla begitu bersemangat membereskan meja kerjanya, lalu menyaut tas selempang kecil yang selalu setia mengikuti kemanapun dia pergi. Sebelumnya dia minta izin kepada dokter Ryan untuk keluar rumah sakit sebelum jam istirahat berakhir.
Saat Nayla berada di lorong rumah sakit, dirinya bertemu dengan Rere yang hendak makan di kantin rumah sakit tersebut.
" Eh...mau kemana ? " Tanya Rere dengan heran. Dia menatap Nayla yang membawa tas kecilnya seperti hendak pergi keluar ke suatu tempat.
Nayla sedikit gugup, Rere tidak boleh mengetahui masalah Gisella di penjara.
" Ehm...mau makan di luar bareng mas Rey ." Jawab Nayla bohong.
" Wih...gak ngajak - ngajak nih ! " Sahut Rere sambil mengalungkan tangannya sebelah pada leher Nayla.
__ADS_1
Nayla tersenyum pelik, tidak mungkin jika mengajak Rere. " Kamu mau jadi nyamuk hah ? cari Ardi aja, buat temenin kamu. " Seru Nayla dengan jutek.
Rere berdecih, melepaskan tangannya dari leher Nayla. " Mentang - mentang dah nikah kamu ya, ngeselin tahu gak ! "
Nayla mencebikkan bibirnya. " Biarin, makanya suruh Ardi kerumah, buru - buru tuh minta di lamarin, terus nikah deh. " Seloroh Nayla sambil melenglang pergi meninggalkan sahabatnya yang masih mematung di sana. Tak lupa dia melambai - lambaikan tangannya dengan gaya meledek.
" Sialan, awas kamu ya ! " Geram Rere, sambil menatap punggung sahabatnya yang pergi menjauhinya. Tapi tak lama diapun tersenyum lucu, dia jadi ingat masa - masa kuliahnya dulu. " Nayla...Nayla, udah jadi istri juga masih tetep aja nyebelin, dasar sableng ." Gumam Rere pelan sambil menggelengkan kepalanya pelan.
***
Nayla sengaja memesan taxi online untuk pergi menemui Gisella di penjara. Sesampainya di kantor polisi, Nayla turun tepat di depan kantor polisi dan segera masuk ke dalam kantor lalu meminta izin kepada petugas disana untuk bertemu dengan Gisella. Polisi pun mengizinkan dan menyuruh Nayla menunggu di ruang besuk.
Setelah menunggu beberapa menit akhirnya Nayla bisa bertemu dengan kakak angkatnya itu.
" Mba Gie sehat ? kok agak kurusan ya ? maaf ya aku baru bisa kesini. " Lontaran beberapa pertanyaan keluar dari mulut Nayla, setelah mereka berdua saling berpelukan. Kemudian duduk di kursi yang saling berhadapan cuma terhalang oleh meja.
" Aku sehat Nay, gak apa - apa aku ngerti kok pasti Rey gak ngizinin kamu pergi - pergi sendiri, dan sekarang bagaimana kamu bisa lolos ? Kamu lagi gak punya masalah sama Rey kan ? " Jawab Gisella, dan kini gilirannya mencecar Nayla dengan pertanyaannya.
Nayla menggeleng " Gak ada masalah kok antara aku sama mas Rey, dia lagi ada rapat sama rekan bisnis nya, jadi gak bisa nemenin aku makan siang, jadi aku kesini deh ! " Jawab Nayla sambil senyum cengengesan.
" Jadi kamu belom makan, dong ?" Gisella merasa tidak enak dengan Nayla.
" Eh..iya, Nayla bawa makanan ke sini, tadi beli di perjalanan. Biar bisa makan bareng mba Gie. " Nayla menunjukkan sebuah kantung yang berisi makanan yang dia bawa lalu menyimpannya di atas meja, membuka isinya dan menyajikannya disana.
Gisella berkaca - kaca, mendapat perhatian dari orang yang pernah dia sakiti sangat membuatnya terharu. Tak terasa butiran bening itu mengalir di pipi Gisella.
" Mba Gie kenapa? kok nangis?" Nayla menyeka cairan bening yang menempel di pipi mulus Gisella dengan lembut.
" Makasih ya Nay, kamu udah gak benci aku padahal aku sudah banyak menyakiti kamu." Ujar Gisella sambil menarik kedua sudut bibirnya dan mengulas senyuman tulus disana.
" Aku gak benci Mbak, kok, aku tahu mba ngelakuin itu karena mba lagi ngerasa kesepian aza, mba ngerasa sendiri hidup di dunia ini, jadi mba berpikir jika bisa merebut mas Rey dari aku, mba gak akan kesepian lagi. Tapi mba salah, cinta itu gak bisa di rebut secara paksa, walaupun begitu aku akan tetap nemenin mba kok. " Tutur Nayla sambil memegang kedua tangan Gisella.
Perkataan Nayla benar - benar membuat Gisella terenyuh, hati nya begitu damai mendengar itu.
" Terima kasih, Nayla . " Ucapnya dia ulangi sekali lagi. Nayla mengangguk dan mengulas senyum manisnya.
" Udah ah, ayo makan ! " Ajak Nayla melepaskan genggaman tangannya dan menyodorkan makanan ke hadapan Gisella.
Hampir satu jam Nayla menemani Gisella, akhirnya waktu jualah yang memisahkan mereka, Nayla harus kembali ke rumah sakit. Setelah berpamitan dan berpelukan satu sama lain. Nayla pergi meninggalkan Gisella yang harus menjalani hukumannya beberapa hari lagi itu.
Setengah jam berlalu, Gisella sudah kembali masuk ke dalam ruang jeruji besi. Tapi tiba - tiba namanya kembali di panggil oleh salah seorang petugas yang berjaga.
__ADS_1
" Ada apa lagi pak ? " Tanya Gisella dengan penasaran.
" Ada yang mau nemuin kamu lagi. " Jawab petugas polisi.
Gisella mengernyit " Perempuan tadi lagi ?" Tanya nya yang menyangka Nayla kembali.
" Bukan, seorang lelaki. "
Gisella hanya ber 'oh' tanpa suara, mungkin pengacaraku . Pikir Gisella. Dia pun berjalan dengan santai menemui lelaki yang di maksud.
Saat sampai di ruang besuk, Gisella merasa ada yang aneh, seseorang yang menemuinya sedang duduk membelakanginya, dan dia sangat mengenal betul punggung itu bukan milik pengacaranya, tapi milik seseorang yang tak ingin dia temui saat ini.
" Rey..." Gumam Gisella dengan suara yang tertahan oleh kedua tangan yang menutup mulutnya sendiri, saat Rey menoleh dan menunjukkan wajah tak ramah pada wanita yang berdiri di hadapannya kini.
" Jadi kamu yang membuat istriku celaka dan hampir kehilangan nyawanya. " Seru Rey dengan nada yang sangat tidak enak di dengar.
Gisella menelan ludahnya dengan berat, dia tak menyangka Rey bisa datang ke penjara, apa Nayla yang menyuruhnya ke sini, apa Nayla sengaja membuat Rey membencinya, pikiran Gisella jadi kemana - mana.
" Apa Nayla yang ---."
" Jangan bawa - bawa nama istriku lagi, kamu sudah berhasil membuat dia berbohong kepadaku, dan menyembunyikan semua ini. Dia terlalu baik hingga mau memaafkan wanita licik seperti kamu. " Tukas Rey memotong perkataan Gisella dengan penuh emosi.
Gisella tersentak, selama ini Rey tidak pernah berkata kasar padanya. " Rey dengarkan aku dulu. " Gisella mencoba meraih tangan Rey, tapi Rey menepisnya dengan kasar.
" Jangan berani menyentuhku, kamu pasti heran kenapa aku bisa tahu kebohonganmu hah ? Nayla bukan orang yang pandai berbohong, aku sudah curiga dia menyembunyikan sesuatu dariku, dan setiap aku tidak datang ke rumah sakit, dia selalu pergi dari sana dengan terburu - buru. Semua orang di rumah sakit adalah orang - orangku, Jadi aku menyuruh orang untuk mengikutinya, dan ternyata ini yang dia sembunyikan. " Ujar Rey sambil melipatkan kedua tangannya di depan dada dan menatap Gisella dengan tatapan benci.
" Maafkan aku Rey. "Gisella hanya bisa menunduk pasrah, Rey memang bukan orang yang bodoh, serapat - rapatnya Nayla menyembunyikan rahasia ini, pasti akan ketahuan juga.
" Aku tak butuh permohonan maafmu, kau harus di hukum sesuai perbuatanmu, dan aku sudah dengar dari polisi jika Nayla sudah menjaminmu dan beberapa hari lagi kamu bisa bebas. Tapi ku pastikan itu tidak akan pernah terjadi. " Ucap Rey dengan sinis.
Gisella hanya terdiam, dia tak bisa berkata - kata lagi, ucapan Rey memang benar dirinya pantas menerima hukuman. Tapi saat Rey ingin berucap lagi. Suara dering ponsel miliknya terdengar di saku celananya. Dia pun langsung merogohnya dan melihat siapa yang memanggil disana.
" Rere ? " Gumam Rey saat melihat tampilan layar ponselnya. Dia pun menekan tombol hijau dan mendekatkan Ponselnya ke telinga.
" Iya Re..ada apa ?"
" Bang,, cepat ke rumah sakit ! Nayla tiba - tiba pingsan ."
" Apa ? " Tanpa basa - basi Rey langsung meninggalkan Gisella yang masih mematung di hadapannya, dan mengakhiri panggilan teleponnya. Rey segera menemui polisi dan berpamitan untuk pergi. Dan berkata akan kembali lagi untuk mengurus kasus istrinya tersebut.
***
__ADS_1
Happy reading..
Dukungan para readers selalu author tunggu ya...like, komentar, fav, rate sama Vote nya ya..makasih.