
Rere masih menatap kedatangan abangnya sampai dia tidak tahu kalau Nayla pergi diam- diam meninggalkannya.
"Kenapa Nayla pergi Re?" Pertanyaan dari abangnya tersebut berhasil membuat Rere tersadar dari keterkejutan nya.
Rere langsung menolehkan kepalanya ke arah tempat Nayla duduk tadi. Keningnya berkerut saat tidak mendapati sosok sahabatnya yang tiba-tiba pergi. "Eh... kapan dia perginya?" Rere kembali menoleh ke arah sang abang, saat lelaki itu duduk di sebelah dirinya.
"Dia pergi karena takut sama abang kali?" Rey memberi dugaan.
Rere menatap wajah abangnya yang terlihat menyedihkan. Wajah itu tampak muram, seperti habis di tolak saat mengungkapkan perasaan. Rere jadi Nayla, gadis itu yang membuat abangnya seperti ini, lihat saja! Rere akan pastikan jika Nayla juga akan mengakui perasaannya sendiri. "Sialan tuh anak, main pergi aja." Gumam Rere dalam hatinya.
"Abang ngapain kesini?" Tanya Rere yang masih penasaran dengan kedatangan kakaknya tersebut.
Rey menoleh ke arah Rere, lalu menyimpan sebuah kantong kain yang ada isinya di pangkuan adiknya tersebut. "Ini buat kamu!" Serunya sudah tak bersemangat.
Rere membuka kantong tersebut, alisnya terangkat sebelah saat ia menemukan kotak makan bergambar robot kucing favorit abangnya waktu kecil dulu. "Kotak makan? Inikan punya abang?" Rere sangat mengenal kotak makan tersebut, karena waktu dulu Rey selalu menyukai segala pernak-pernik yang berhubungan dengan robot kucing yang katanya bisa menjelajah waktu. Bisa di bayangkan imut sekali Rey di masa kecilnya. Ia berpikir bisa menembus waktu untuk masuk ke masa yang dia inginkan.
Rey menggeleng. "Itu dari mama, memangnya abang anak kecil. Masih di bekali dengan kotak makan. Buat kamu aja." Rey berucap sambil melipat tangannya di di atas dada, pandangannya tampak kosong, helaan nafasnya yang terdengar lemah menandakan dia tengah kecewa. Tapi kecewa untuk apa? Tidak mungkin kan hanya karena diperlakukan seperti anak kecil oleh mamanya.
Rere mengernyit dahi, lalu membuka kotak makan dan melihat isinya. "Ini bubur organik. Rere gak mau!" Rere mencebikkan bibirnya, dan menyodorkan kembali kotak makan tersebut ke arah abangnya.
"Buang saja kalau tidak suka!" Seru dengan nada yang sedikit tinggi. Sebenarnya ia tidak berniat memberikan itu pada Rere, ia membawanya ke kampus karena ingin di suapin oleh Nayla seperti waktu di rumah sakit dulu. Rey yang sama sekali tidak menyukai bubur sampai menghabiskannya ketika Nayla yang menyuapi nya waktu itu. Dan sekarang Rey ingin Nayla melakukannya lagi. Menyuapi dirinya dengan makanan yang sama.
Tapi ternyata harapannya sirna, gadis itu bahkan kabur saat melihat dirinya datang. Apalagi memintanya untuk menuruti keinginannya, gadis itu sudah pasti akan menolaknya.
"Kenapa gak abang langsung buang aja tadi, gak perlu repot-repot di bawa kesini! Abang kan tahu Rere gak suka bubur organik. Rasanya aneh." Rere menjulurkan lidahnya keluar, ia merasa mual jika membayangkan dirinya harus memakan makanan itu.
"Abang juga maunya gitu, tapi kan lambung abang masih bermasalah, jadi gak bisa makan sembarangan. Abang juga gak suka bubur, tapi waktu itu abang pernah menghabiskan makanan itu saat seseorang.... " Rey kembali mendesah pelan. "Ah.... Sudah lah. Lupakan saja!" Rey sudah hilang selera, toh orangnya sudah kabur juga.
Rere terkekeh, " Aku baru tahu, kalau abangku ini ternyata sebucin ini jika sedang mengejar wanita." Rere nampak menahan tawa nya.
Rere menatap abangnya dengan tatapan bingung, sejurus kemudian ia teringat dengan kejadian di rumah sakit saat Nayla menyuapi abangnya dengan makanan yang sama. Matanya langsung terbuka lebar, mungkin ini yang di maksud oleh abangnya tersebut.
__ADS_1
"Abang kesini mau nemuin Nayla, mau minta di suapin sama dia kan?" Rere akhirnya mengerti maksud abangnya.
Rey sedikit malu, ia menggaruk keningnya dengan kikuk. "Ya.... Itu juga kalau dia mau. Sepertinya dia menolak. Abang pergi saja." Rey hendak beranjak berdiri. Tapi tangan Rere menghentikan gerakan abangnya tersebut untuk kembali duduk.
"Rere senang banget lihat abang kayak gini lagi. Di pikiran cuma bukan soal kerjaan doang. Mengejar perempuan juga penting dalam hidup abang. Jangan terus-menerus terbayang masa lalu. Wanita jahat itu sudah pergi. Rere yakin Nayla adalah yang terbaik." Rere berkata begitu bersemangat, rasanya ia telah menemukan sosok abangnya yang telah lama hilang, bukan penggila kerja yang tidak peduli dengan suatu hubungan.
"Abang memang salah. Mungkin dia juga sudah bahagia dengan orang lain, semua yang telah abang lakukan selama ini, dengan kesuksesan, kekayaan dan semua yang abang miliki sekarang juga tidak membuatnya kembali. Temanmu memberikan perasaan yang berbeda dihati abang. Perasaan abang pada Gisella mungkin cuma rasa penasaran dan kekesalan karena di tinggalkan begitu saja. Temanmu membuat perasaan itu hilang seketika, dan sekarang abang benar-benar ingin mengejarnya." Rey menumpahkan perasaannya tanpa ragu pada adiknya.
Rere tertegun dengan ucapan Rey, abangnya yang selama ini dingin dan tertutup tiba-tiba sekarang menumpahkan segala isi hatinya yang selama ini ia pendam sendiri. Setelah mantannya pergi meninggal kan Rey , Rey memang menjadi orang yang lebih ambisius, yang dia pikirkan hanyalah cepat menyelesaikan pendidikannya waktu itu, lalu dia bekerja dengan sangat keras. Bahkan dia sudah mulai usaha Resort nya dari nol saat dia masih kuliah, dia benar-benar tidak peduli dengan orang - orang di sekitarnya. Bahkan dia jarang sekali berkumpul dengan keluarga nya, di otak nya hanya ada kerja, kerja dan kerja.
"Ternyata ini alasannya bang Rey menjadi seorang yang gila kerja, karena hanya ingin mantannya itu kembali berpaling padanya." Gumam Rere dalam hati.
"Bang Rey itu bodoh sekali, untuk apa mengharapkan wanita yang sudah mencampakkan mu itu?" Ucap Rere sambil menyentil pelan hidung Rey. "Abang tenang aja, Rere pasti bantu abang buat deketin Nayla." Imbuh Rere lagi begitu antusias, mungkin dirinya lupa jika dari dia begitu marah saat Nayla berusaha menjodohkannya dengan Ardi. Lalu sekarang apa yang dia katakan? Apa ini bisa di katakan sebagai balas dendam?
Rere mengambil ponselnya dari dalam tas, lalu mencari salah satu nomor kontak di ponselnya tersebut. Senyum usilnya terbesit di bibir tipisnya saat nama kontak 'Pendekar sableng' terpampang di layar ponsel miliknya. Rere segera menekan tombol panggilan di nomor tersebut. Dan ternyata itulah nama kontak yang di berikan Rere pada sahabatnya.
Rere memaksa Nayla untuk menemuinya sekarang juga di tempat yang sama di panggilan suara tersebut. Terdengar penolakan di seberang telepon tapi Rere tidak mau tahu, bahkan gadis itu mengancam jika Nayla tidak datang makan hubungan persahabatan mereka hanya tinggal kenangan. Mau tidak mau akhirnya Nayla kembali ke tempat itu.
"Ada apa?" Nayla bertanya dengan wajah di tekuk kesal, saat dia sudah tiba di tempat Rere dan abangnya.
"Gue kebelet." jawab Nayla setelah dirinya berhasil duduk dengan sempurna. Rey masih terdiam menatap Nayla, menatap wajah gadis itu membuatnya ingin cepat membawanya pulang. Ehh.... Mau ngapain?
"Lo kan bisa bilang dulu sama gue, bukan main pergi-pergi aja kayak tadi." Omel Rere masih kesal.
Nayla menghela nafas, ia menundukkan kepalanya karena tahu jika Rey sedang menatapnya. "Iya..." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Nayla saat sahabatnya terus saja menghela tidak jelas.
"Gue udah disini lo mau apa lagi?" Nayla sudah mulai jengah dengan celotehan Rere yang sama sekali tidak ia pedulikan.
Rere mencebikkan bibirnya, lalu memberikan kotak makan lengkap dengan sendoknya ke tangan Nayla. "Nih... suapin abang gue!" Perintah Rere dengan nada memaksa.
Seketika itu Nayla membulatkan matanya dengan sempurna. Apa-apaan? Bang Rey bukan anak kecil ngapain di suapin? Memangnya dia cacat? Kalimat-kalimat itu yang ingin Nayla lontarkan saat itu juga, tapi ia masih menghargai lelaki itu sebagai abang dari sahabatnya. "Lo jangan gila Re, ini tempat umum?" Nayla tersenyum canggung, sambil bola matanya melirik ke kanan dan ke kiri, berharap tidak ada yang mendengarkan permintaan gila sahabatnya itu.
__ADS_1
"Lo mau di tempat sepi?"
"Bukan gitu!" Nayla gemas sekali dengan sikap sahabatnya ini.
"Apa?" Rere mengangkat kedua alisnya, "Abang gue gak suka bubur, tapi lambungnya masih bermasalah jadi dia harus makan itu. Lo bisa kan suapin dia kayak dulu di rumah sakit. Abang gue bisa makan kalau lo yang suapin."
Nayla mengerutkan kening mendengar ucapan Rere yang barusan. Yang benar saja, memangnya Nayla babysitter nya? Ini benar-benar gila.
"Gak usah di paksa Re, gak apa-apa kalau Nayla gak mau." Rey pura-pura bijak, padahal hatinya ingin sekali memaksa gadis itu melakukannya.
Rere berdecak, sejenak memejamkan matanya memikirkan cara lain agar sahabatnya berubah pikiran. Lalu membuka matanya kembali saat ia mendapatkan ide yang briliant.
Rere mencondongkan sedikit kepalanya mendekati telinga Nayla, lalu berbisik. "Lo inget kan, kalau lambungnya abang di operasi karena nolongin siapa?"
Bisikan Rere membuat Nayla mengepalkan kedua tangannya. Egois sekali sahabatnya ini, selalu menggunakan rasa bersalahnya itu. Rere sangat hapal jika Nayla tidak akan tega pada orang yang sudah pernah menolongnya.
"Ya udah sini!" Nayla menyaut kotak makan yang masih berada di tangan Rere, "Minggir lo!" Seru Nayla karena posisi Rere menghalangi tubuh Rey saat ini.
Rere tersenyum penuh kemenangan, dengan senang hati dirinya bangkit lalu duduk di sebelah sisi Rey yang lainnya. Sehingga kini Nayla dan Rey saling berhadapan satu sama lain.
"Buka mulutnya!" Nayla berkata dengan nada ketus, benar-benar tidak ada manis-manisnya sama sekali. Bukannya membuka mulut Rey malah mengerucutkan bibirnya dan menutupnya dengan rapat. Seperti anak kecil yang ngambek saat ibunya memaksa untuk makan.
"Yang lembut dong Nay! Lo gak ikhlas ya?" Rere kembali berdalih, sungguh menyebalkan gadis ini. Nayla pasti memberikan pelajaran padanya nanti.
Nayla menghela nafas kasar untuk kesekian kali. Kenapa ia harus terlibat dengan sosok Rey seperti ini. Nayla kira setelah berhasil menolaknya dulu, ia akan terbebas dari lelaki itu. Tapi ternyata Rey masih saja berkeras hati dan terus mendekati.
Nayla mencoba mengulas senyum termanis nya, lalu menyodorkan kembali sendok yang berisi bubur organik di depan mulut Rey. "Bilang a.....!"
Senyum Rey mengembang seketika, ia merasa di perlakukan dengan sayang. Dengan senang hati ia membuka mulutnya lebar-lebar. Melahap bubur organik yang rasanya terasa jadi nikmat sambil menatap wajah gadis pujaannya dari dekat.
Tanpa mereka sadari, dari jarak jauh Ardi tengah memperhatikan adegan suap-suapan yang Nayla lakukan untuk Rey, Ardi sedikit kecewa, ada perasaan cemburu yang menghantam jiwanya. Tapi sesaat kemudian ia sadar jika memang Nayla tidak mencintainya dan dia berhak untuk memilih siapa saja yang akan menjadi pendampingnya kelak.
__ADS_1
***
lanjut