
Rere masih menunggu jawaban Nayla, dia melihat guratan kebingungan di wajah sahabatnya itu. "Gimana Nay? Kenapa lo jadi bingung gitu?" Tanya Rere semakin mendesak Nayla. "Gue harap lo bisa jujur sama perasaan lo sendiri. Jangan berpikir kalau abang gue gak serius sama lo ya! Gue kenal abang gue kayak gimana kalau udah jatuh cinta." Imbuhnya kemudian.
Nayla kembali memejamkan matanya, dia bingung mesti berkata apa. "Gak tau lah Re, gue bingung." Seru Nayla terdengar frustasi. "Yang pasti sekarang ini gue masih pengen sendiri." Nayla memilih menutup diri.
"Jangan gitu dong Nay! Kasihan abang gue lah, masa iya ganteng-ganteng patah hati terus?" Rere memelaskan wajahnya berharap Nayla akan terpengaruh dengan bujuk rayunya. Tapi ternyata yang di ajak bicara malah menulikan telinganya dan pura-pura tertidur saja. Menyebalkan sekali memang gadis yang terkenal pandai bela diri itu.
Rere mendengus sebal, melihat sahabatnya tak memberikan tanggapan sedikitpun atas permintaannya. Tangannya mentowel-towel pipi Nayla yang begitu kenyal. Tapi tak ada respon dari pemiliknya.
"Yeh malah tidur nih anak. Dasar tengil!" Umpat Rere begitu kesal. Dia pun ikut merebahkan dirinya di samping Nayla, lalu memejamkan matanya karena merasa lelah.
****
Waktu menunjukkan pukul enam lewat tiga puluh sore. Nayla yang tadinya pura-pura tertidur malah hanyut dalam dunia mimpinya, begitupun dengan Rere sahabatnya.
Nayla mengerjapkan matanya saat sesuatu yang terasa berat menimpa bagian perutnya, dan ternyata tangan nakal Rere yang memeluk tubuh Nayla dengan begitu ketatnya. Di kiranya bantal guling sepertinya.
Nayla membuka matanya dengan perlahan, saat pancaran cahaya lampu kamar langsung menusuk kedua bola matanya, tangannya reflek menghalangi matanya dari pancaran cahaya itu. Kemudian menyipitkan mata untuk menyesuaikan cahaya lampu tersebut. Matanya tertuju pada tangan yang melingkar di perutnya. Kepalanya sedikit terangkat untuk memastikan jika yang memeluknya bukan seseorang yang tidak ia inginkan.
"Re.... Rere.... Bangun!" Nayla mengguncangkan bahu Rere beberapa kali, tapi gadis itu seakan tidak peduli. Ia hanya bergumam lalu membalikkan posisi tidurnya membelakangi Nayla.
__ADS_1
Nayla mendesis. "Ish.... Dasar kebo!" Umpatnya kesal. Kedua netra pekatnya mengedar ke setiap sisi ruangan. Dan terkunci pada jam dinding yang terpampang di sisi tengah dinding kamar yang di dominasi warna merah muda itu.
Kedua mata itupun langsung terbelalak, tatkala melihat jam itu menunjukkan waktu setempat. "Astaga .... Gue ketiduran!" Serunya sambil menepuk dahinya pelan.
Tanpa membangunkan sahabatnya lagi, Nayla bergegas ke kamar mandi untuk mencuci muka, setelah itu ia keluar dari kamar Rere dengan begitu terburu-buru.
Nayla sebenarnya ingin langsung pulang, karena memang hari sudah petang. Tapi ia ingat dengan tugasnya untuk mengganti perban Rey. Ia pun memutuskan untuk mampir terlebih dahulu di kamar masih tertutup rapat itu. Nayla mengetuk pintu beberapa kali tapi tidak ada jawaban apa-apa dari dalam kamar lelaki itu. "Mungkin dia juga tidur." Pikir Nayla. Lalu ia memutuskan untuk pulang saja ke rumahnya. Toh jam kerjanya sudah lewat juga bukan?
Langkah kakinya bergegas menuruni anak tangga dirumah itu. Dari kejauhan mata Nayla menangkap sosok yang ia ingin temui tadi. Ternyata orang tersebut sedang duduk bersantai sambil menonton acara televisi dengan mamanya yang menemani.
"Tante Rania.... Maaf tadi aku ketiduran di kamar Rere." Suara Nayla membuat dua orang yang terlihat fokus menonton seketika menoleh ke arahnya. Nayla berdiri di samping sofa yang di duduki oleh mama Rania.
Nayla menggeleng, ekor matanya melirik Rey yang terlihat acuh pada dirinya. Ada apa dengan lelaki itu? Bukannya tadi sikapnya begitu ramah bahkan tak malu untuk merayu. Nayla menangkap rasa kekesalan dalam delikan mata Rey yang terlihat tajam saat menatap kedatangannya tadi. Apa lelaki itu marah karena Nayla lupa untuk mengganti perban nya? "Maaf tante sepertinya Nayla pulang saja, ini sudah sore. Ibu pasti khawatir sama aku." Tolak Nayla dengan tegas.
"O iya bang Rey , sebelum aku pulang apa perban nya mau di ganti dulu?" Tanya Nayla menyapa lelaki itu.
"Gak usah. Pulang aja sana!" Jawab Rey dengan ketus.
Nayla mengerutkan kening, dia sangat bingung dengan sikap Rey kali ini, kemana rayuan mautnya tadi? Jadi benar semua itu hanyalah lelucon saja?
__ADS_1
"Hah, belum apa-apa sudah menunjukkan sikap aslinya. Untung saja aku benar-benar menolak laki-laki ini." Gumam Nayla dalam hati.
Rania menatap Rey dan Nayla bergantian dengan tatapan aneh, "Lagi berantem ya?" Mama Rania bertanya. Dan pertanyaan itu sontak membuat kepala Rey yang menoleh ke arah mamanya.
"Apa sih ma? Memangnya dia siapanya Rey sampai berantem segala. Dia itu cuma perawat Rey doang ngapain Rey berantem sama dia?"
Entah kenapa hati Nayla seketika mencelos sakit saat mendengarnya, Nayla cukup sadar diri tapi gak usah segamblang itu juga kan ngomongnya? Jahat banget sih mulutnya si Rey ternyata.
Mama Rania pun merasa tidak enak hati dengan ucapan anaknya tersebut. Dia beranjak berdiri dan melangkah mendekati Nayla. "Besok kamu kesini lagi kan Nay?" Ucapnya sambil menepuk bahu Nayla, lalu sedikit mencondongkan kepalanya mendekati telinga gadis itu. "Maafin ucapan Rey tadi ya! Dia itu kalau lagi kumat omongannya suka pake urat." Bisik Mama Rania. Lalu menarik mundur kembali kepalanya. Nayla tersenyum menanggapinya.
"Iya tante." Sahutnya. Lalu pergi meninggalkan rumah itu dengan hati yang begitu pilu. Pintar sekali Rey melambungkan perasaan Nayla, lalu menghempaskan nya begitu saja. Jahat!
Rey masih bergeming di tempatnya, wajahnya tampak di tekuk karena kesal. Sebenarnya Rey sedang marah pada Nayla, saat Nayla keluar dari kamar Rey, tak lama lelaki itu mulai bosan jika sendirian. Dia berniat untuk menyusul gadis itu ke kamar adiknya.
Saat dirinya sudah sampai di depan pintu kamar sang adik. Telinganya tak sengaja mendengar percakapan antara Nayla dan adiknya. Rey berdiam di depan pintu kamar Rere, mendengarkan apa yang di bicarakan mereka tentang dirinya. Rey begitu kecewa saat tahu jika Nayla begitu meragukan cintanya. Dan satu hal yang membuatnya kesal adalah ternyata Nayla mempermasalahkan status sosial. Rey tidak pernah peduli dengan status sosial seperti itu, yang ia tahu dirinya hanya mencintai seorang gadis yang luar biasa. Untuk sementara Rey akan mendiamkan Nayla. Agar gadis itu sadar jika dirinya juga mempunyai perasaan yang sama terhadap Rey.
***
bersambung...
__ADS_1
jangan lupa like, komentar dan votenya, ya! follow-follow IG @amih_amy