
Nayla terlihat salah tingkah saat Rey memintanya agar membantunya untuk mandi. "Jangan bercanda Bang Rey! Tugasku hanya mengobati lukamu dan mengganti perban saja bukan?" tanya Nayla dengan gugup.
Rey berusaha menahan tawa nya. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan bibir terlipat dalam. Lalu melipatkan tangannya di atas dada, dengan posisi masih duduk di atas kasur menyender di kepala ranjang.
"Bukannya tadi kau sendiri yang menawarkan bantuan?" Rey pura- pura sinis. Matanya kembali tertuju pada Nayla.
Nayla meremas kedua tangannya, dia begitu gugup menghadapi lelaki ini. Ingin sekali Nayla menghadiahkan bogem mentah di wajah Rey saat ini. "Ya .... Bukan berarti harus membantumu mandi juga kan? Lagian aku belum menjadi istrimu, mana boleh." Omel Nayla secara tidak sadar ia berkata seolah kekasih Reydian.
"Eh ...." Rey mengerutkan kening, mendengar apa yang di katakan oleh Nayla, kedua sudut bibirnya tertarik ke atas. Entah perkataan ini hanya sekedar bercanda atau isi hatinya yang sengaja ia tutupi.
Melihat senyuman Rey, Nayla tersadar ada yang salah dari ucapannya barusan, ia menggigit bibir bawahnya dan merutuki kebodohannya dengan mengetuk bibirnya dengan jemari tangannya. "Ma .... maksudku, aku buka istrimu atau keluargamu, itu satu hal yang tabu, dan aku tidak mau?" ucap Nayla sambil memalingkan wajahnya ke arah lain. Sumpah demi apapun dirinya begitu malu.
Rey terkekeh, kemudian beranjak turun dari ranjang nya dengan perlahan sambil memegangi perutnya, lalu berjalan menghampiri Nayla. Rey mencondongkan sedikit kepalanya mendekati wajah Nayla. Sontak membuat gadis itu menarik mundur kepalanya. "Kau pikir aku akan telanjang bulat di depanmu? Aku hanya ingin membersihkan diri dari keringat yang terasa lengket di tubuhku. Kau hanya membantuku mengelap bagian punggungku saja. Bagaimana? Kau mau kan?" Rey berucap dengan jarak yang begitu dekat, hingga hembusan nafasnya begitu terasa menerpa wajah Nayla.
Nayla menempelkan jemarinya di dada bidang Rey lalu mendorongnya sedikit menjauh. "Maaf bang, bukan muhrim." Seloroh nya sambil tersenyum getir. "Bagaimana kalau aku panggil Rere saja, dia kan adikmu, dia pasti mau." Imbuh Nayla memberi saran.
Rey berdecak, lalu menepis tangan Nayla yang masih menempel di dadanya. "Tidak usah, aku akan mengelap bagian tubuhku yang bisa ku jangkau saja." Rey kembali menunjukkan wajah dinginnya. Perkataan Nayla yang mengingatkan dia akan statusnya terhadap gadis itu seakan menampar wajahnya yang di rasa tidak tahu malu.
__ADS_1
Tapi saat tubuh Rey hendak masuk kedalam kamar mandi. Rey memutar kepalanya untuk menoleh ke arah Nayla. "Kamu tetap disini! Untuk mengganti perban ku ini. Jangan sampai aku berteriak lagi seperti tadi!" Perintah Rey terdengar seperti mengancam. Lalu melanjutkan niatnya untuk masuk ke kamar mandi dan menutup pintu kamar mandi dengan sangat keras.
Braaak ! Suara pintu itu.
Nayla sedikit terlonjak, kepalanya menggeleng pelan melihat tingkah Rey yang kekanak-kanakan. "Ah... Ya ampun, kenapa aku harus berurusan dengan monster itu? Begitukah caranya meminta tolong pada orang lain?" gumam Nayla sambil menggaruk sebelah alisnya.
Nayla mengedikkan bahu, mengabaikan pikirannya yang begitu kacau. Ia memilih untuk mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang Rey, lalu kedua matanya memperhatikan setiap isi dari ruangan tersebut. "Hah, kamar ini terlihat membosankan, kenapa banyak sekali buku yang jadi pajangan. Seperti perpustakaan saja." Cebik Nayla pelan.
Nayla kembali mengedarkan pandangannya ke setiap benda di ruangan itu. Dan kini sorot mata nya tertuju pada sebuah bingkai foto kecil yang ada di atas meja di samping tempat tidur Rey. Di dalam foto itu terlihat Rey yang sedang merangkul seorang gadis, mereka berdua sama -sama memakai baju seragam SMA. Nayla menggusur tubuhnya untuk mendekati foto tersebut lalu mengangkatnya dan memperhatikannya dengan seksama. "Siapa gadis ini? sepertinya mereka akrab sekali." Gumam Nayla sambil mengerutkan dahi. Tapi ia segera menyimpannya kembali di tempat asalnya karena takut ketahuan oleh Rey.
"Eh, kalau bang Rey udah punya pacar. Kenapa dia bilang suka sama gue?" Gumam Nayla lagi, raut wajahnya jadi berubah muram penuh dengan kekecewaan. "Dasar buaya!" Umpat nya kesal.
Nayla menoleh saat mendengar suara pintu kamar mandi terbuka, terlihat Rey yang keluar dengan hanya berbalut handuk dan bertelanjang dada, memperlihatkan balutan perban di perutnya. Dia berjalan ke arah Nayla sambil tangannya sibuk mengelap wajah nya dengan handuk kecil.
Nayla membulatkan matanya. "Astaga .... Pemandangan macam apa ini? Kenapa dia hanya pakai handuk?" Gumam nya dalam hati.
"Stop di situ!" Teriakan Nayla membuat Rey terlonjak kaget. Langkah kakinya jadi tak seimbang hingga ia terpeleset sesuatu dan hampir terjengkang, untung saja dengan cepat Nayla melompat dari ranjang dengan sedikit salto dan menopang bagian belakang tubuh Rey dengan tangannya.
__ADS_1
"Awwwww." Rey memekik kesakitan. Saat dia merasakan lukanya berdenyut nyeri karena gerakannya yang terlalu ekstrim itu.
"Bang Rey gak apa-apa?" Tanya Nayla, saat dirinya berhasil menangkap tubuh Rey, lalu mencoba membantunya berdiri.
Rey hanya terpaku, sambil tetap memegangi perutnya. Kedua manik matanya terus saja menatap Nayla dengan sedikit dengan tatapan takjub. "Apa dia terbang kesini?" Pikir Rey dalam hati.
Nayla jadi salah tingkah, wajah nya seketika merona di tatap oleh Rey seperti itu. "Bang Rey .... Kenapa menatapku seperti itu?" Bentakan Nayla membuat pandangan Rey buyar seketika.
Rey tersadar, segera menegakkan tubuhnya dan bersikap seolah biasa saja. Walaupun detak jantungnya yang berdegup kencang masih tak bisa di kendalikan. "Ehm.... Apa kamu terbang dari sana?" Tanya Rey sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah tempat tidurnya. Ia tidak percaya Nayla bisa melakukan hal itu. Terlebih jarak dari tempat Nayla duduk tadi dengan tempat dirinya berdiri cukup jauh jika di tempuh hanya dengan waktu satu detik saja. "Kau jelmaan katak ya?" Kelakarnya sambil melipat kedua tangannya di atas dada. Sejenak ia melupakan rasa sakit di perutnya.
Nayla memicingkan matanya. Mulut memang tidak ada saringan nya. Senang sekali dia mengumpat orang yang sudah menolongnya berkali-kali. "Ish.... Manusia ini, bukannya terimakasih malah menyebutku siluman katak pula." Gerutunya Nayla dalam hati.
Nayla mengalihkan wajah nya ke arah lain, jarak mereka yang terlalu dekat membuat Nayla merasa malu dan canggung. Kakinya beringsut mundur untuk memberi jarak satu sama lain. "Dari kecil aku sering latihan, melompat dan memanjat itu bukan hal yang aneh dalam silat." Ucap nya tanpa melihat ke arah Rey .
***
bersambung dulu ya guys.. kasih vote nya dong biar semangat up terus..😁😁
__ADS_1