Destiny Of Love

Destiny Of Love
Laki - Laki Misterius


__ADS_3

Dua hari kemudian, Nayla bangun lebih pagi, kemudian bersiap untuk pergi ke rumah sakit, setelah itu dia membantu bi ijah di dapur membuatkan sarapan untuk suaminya, kemudian kembali lagi ke kamar untuk membangunkan suaminya.


Nayla hanya menggeleng kepala saat melihat suaminya masih bergelung di bawah selimutnya, dengan hati - hati dia membangunkan suaminya itu, karena dirinya tahu kebiasaan sang suami jika di bangunkan pasti akan menarik tubuh Nayla ke dalam pelukannya, dan tak bisa di pungkiri sesuatu yang lain telah bangun terlebih dulu, membuat Nayla harus mandi dua kali memenuhi hasrat suaminya yang memburu.


Rey mengerjapkan mata saat Nayla membuka selimut yang menutupi tubuhnya, dengan cepat Nayla memundurkan tubuhnya sedikit menjauh dari sang suami.


" Mas, bangun..! " Ucap Nayla dengan sedikit berteriak, karena jaraknya tidak lagi dekat.


Rey menyipitkan kedua matanya, menangkap bias cahaya yang berada di kamar itu, dan memperjelas wajah istrinya yang terlihat samar dari kejauhan.


" Ngapain di situ ? " tanya Rey dengan suara khas bangun tidur.


" Bangunin kamu. "


" Sini dong ! jauh banget ."


" Enggak , nanti kamu macam - macam lagi, aku gak mau mandi dua kali. " Ucap Nayla sambil melipat kedua tangannya di atas dada.


Rey mengerutkan dahi. " Sampai segitunya kamu nolak aku, dosa loh. " Seru Rey sambil tersenyum licik.


Nayla mendengus, kalau sudah bicara soal dosa dia tak bisa membantahnya, " Lalu aku harus bagaimana ? Apa mas gak kasian sama aku, udah rapi gini loh. " Ucap nya sambil memelas.


" Memangnya mas mau ngapain ?" Rey jadi tertawa kecil. " Sini dulu ! " Imbuhnya sambil melambaikan tangannya menyuruh Nayla untuk mendekat.


Dengan terpaksa Nayla mendekati suami nya dan duduk di tepi ranjang. " Apa ? " tanyanya sambil mengangkat dagunya dan penuh waspada.


" Morning kiss ." Ucap Rey sambil menyimpan jari tangannya di depan bibirnya.


Nayla menautkan kedua alisnya, " Harus ? " tanya nya.


" Mau lebih dari itu juga gak apa -apa ."


" Cium aja. " Nayla dengan cepat mencium bibir suaminya sekilas, tak ayal dia pun tersipu, walau hanya sekilas dia lakukan, tapi ini pertama kalinya dia berinisiatif mencium laki- laki walau itu suaminya sendiri.


Rey tersenyum senang sambil memegang bibirnya. " Cepet banget." Keluhnya.


" Cepat mandi !"


" Iya. "

__ADS_1


Rey pun beranjak bangun lalu mengambil handuk kemudian berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Dan Nayla menyiapkan pakaian kerja untuk suaminya dan menyimpannya di atas kasur. Tak membutuhkan waktu lama Rey keluar dari kamar mandi dan memakai baju yang sudah di siapkan istrinya tercinta.


" Mas, pulang kerja aku mau mampir ke rumah ibu yah." Ujar Nayla sambil memasangkan dasi di leher suaminya.


Rey yang tadinya sedikit mendongakkan kepala, akhirnya menunduk menatap wajah istrinya yang berdiri di hadapannya. " Mau ngapain ?" tanyanya.


" Gak boleh aku ke rumah ibu ?" Nayla malah balik bertanya sambil mengerucutkan bibirnya.


" Boleh sayang, tapi pasti ada alasannya dong ." Bujuk Rey sambil mengangkat dagu istrinya yang runcing itu.


" Aku kangen sama orang rumah, sekalian mau ngajak mereka main ke rumah aki Asep sama mak Lastri, yang waktu itu pernah kita bahas. " Ujar Nayla, dan Rey tampak menganggukkan kepala.


" Boleh, nanti mas suruh sopir antar kamu, maaf ya hari ini mas sepertinya sibuk jadi gak bisa jemput kamu. " Ucap rey dengan nada menyesal.


" Gak apa - apa, aku naik taksi online saja, gak usah pakai supir nanti mau mampir ke butiknya mba Gie juga yah ?" Rengek Nayla sambil melebarkan senyumnya hingga menunjukkan deretan gigi putih Nayla.


" Kamu ini, udah kayak bocah yang baru di lepas bermain saja, di izinin pergi sendiri malah mau keluyuran kemana - mana ." Rey dengan kesal mengetuk kening istrinya dengan gemas.


" Biar sekalian ." Rengek Nayla lagi sambil mengusap pelan keningnya yang terasa gatal.


" Huuftt.." Rey menghela nafas kasar, " Kalau gak pakai sopir, gak boleh pergi ! aku gak mau ngambil resiko kayak dulu lagi. Kamu ninggalin aku gara - gara kamu pulang sendiri. " Rey berbicara dengan tegas, dia tak ingin kejadian Nayla hilang terjadi kembali, karena sampai saat ini, kasus Nayla juga masih belum menemukan titik terang.


Rey belum bisa menemukan siapa dalang dari percobaan pembunuhan pada Nayla waktu itu, akhirnya polisi juga memutuskan untuk menutup kasus tersebut karena tidak ada bukti satupun bahwa kecelakaan Nayla adalah sebuah kesengajaan.


Rey memeluk tubuh istrinya dengan gemas, dan mengecup puncak kepala Nayla.


" Yuk sarapan dulu ! " Ajak Nayla sambil mendongakkan wajahnya menatap sang suami dan Rey pun mengangguk sebagai balasan. Keduanya pun melangkah bersamaan keluar dari kamar mereka.


***


Setelah seharian berkutat dengan pekerjaannya, Nayla akhirnya bisa pulang ke rumah. Sebelum pulang ia berniat untuk mampir dulu di butik milik Gisella.


" Pak, nanti ke butiknya mba Gisella dulu ya ! " Pinta Nayla pada supir kantor Rey yang bernama pak Eko, kini Nayla sudah berada di dalam mobil.


" Baik bu. " sahut Pak Eko sambil menganggukkan kepalanya.


Setelah sampai di depan parkiran butik Gisella, Nayla yang hendak turun dari mobil mengurungkan niatnya tersebut saat melihat Gisella keluar dari butik sambil berlari kecil menuju mobilnya dan melajukan mobilnya meninggalkan butik tersebut.


" Mau kemana dia, kenapa terburu - buru sekali. " Gumam Nayla pelan.

__ADS_1


" Pak, tolong ikuti mobil itu ya ! " pinta Nayla pada pak Eko sambil menunjuk ke arah mobil Gisella.


" Baik bu ." Tanpa bertanya apa - apa pak Eko dengan cepat melakukan apa yang di perintahkan oleh istri bos nya tersebut.


Di sepanjang perjalanan, pandangan Nayla tidak lepas dari mobil yang di kendarai oleh Gisella, dia sangat khawatir dengan wanita yang sudah dia anggap sebagai kakaknya tersebut, karena terlihat raut wajah yang tegang dari wajah Gisella saat dia keluar dari dalam butiknya. Nayla takut kakak angkatnya sedang ada dalam masalah.


Mobil Gisella berhenti di sebuah taman bermain yang sudah lama tidak terpakai, disana tampak sepi. Gisella turun dari mobil dan tampak celingukan seperti sedang mencari seseorang. Nayla memperhatikan gerak - gerik Gisella masih berada dalam mobilnya, dia sengaja parkir di tempat yang sedikit jauh dari tempat parkir mobil Gisella, tapi Nayla masih bisa melihat jelas dengan apa yang Gisella lakukan.


Gisella berjalan menuju sebuah bangku usang di tempat bermain itu, terlihat seorang laki - laki memakai topi hitam sedang duduk di sana. Nayla pun turun dari mobil untuk memastikan Gisella tidak dalam bahaya. Dia menyuruh sopirnya untuk tetap berada dalam mobil.


" Kenapa kamu menghubungiku lagi ? " Gisella berucap saat dia mendekati laki - laki misterius itu.


" Aku butuh uang, uang yang kau berikan waktu itu sudah habis lagi. " Ucap laki - laki tersebut tanpa basa - basi sambil berdiri berhadapan dengan Gisella.


" Baru sebulan yang lalu kau meminta uang, sekarang kau minta lagi. Ini namanya pemerasan. " Gertak Gisella dengan wajah kesal.


Laki - laki tersebut tertawa sarkas " Ini sudah kesepakatan kita, aku butuh uang dan kau masih butuh aku. " Ucapnya dengan penuh penekanan.


" Kau.." Gisella menunjuk wajah laki - laki itu dengan penuh emosi, tapi dia hanya bisa menahan amarahnya dan menurunkan kembali tangannya tersebut. Dengan terpaksa dia membuka tas kecil miliknya dan merogoh sejumlah uang dari dalam tas tersebut dan memberikannya pada tangan laki- laki di hadapannya itu.


" Aku hanya punya ini sekarang, dan jangan kau ganggu aku lagi ! " Gertak Gisella


" Aku tidak janji ." Ucap laki - laki itu dengan santai sambil menyimpan uang yang di berikan Gisella ke dalam saku jaketnya.


Nayla tak bisa mendengar percakapan mereka, tapi dia bisa melihat dengan jelas saat Gisella memberikan uang kepada pria misterius yang wajahnya tak dapat terlihat jelas oleh Nayla.


Tanpa ragu Nayla mendekati mereka berdua, Nayla berdiri di belakang Gisella dan menghadap ke arah laki - laki bertopi tersebut. Laki - laki tersebut langsung membelalakkan matanya dengan lebar.


" Kau ? " Seru laki - laki tersebut begitu terkesiap melihat wajah wanita yang sangat dia kenal.


" Ada apa ?" Gisella yang belum tahu keberadaan Nayla, merasa heran dengan sikap temannya tersebut.


Laki - laki tersebut tampak ketakutan, langkahnya tampak mundur selangkah demi selangkah. Gisella semakin bingung menatap langkah mundur orang itu. laki - laki itu membalikkan tubuhnya dengan cepat, dan berlari sekuat tenaga meninggalkan tempat itu.


" Tunggu...Jangan lari ! " Teriakan Nayla membuat mata Gisella membulatkan matanya dengan sempurna, sontak dia membalikkan tubuhnya ke arah suara Nayla.


" Nayla..? " suara Gisella terdengar bergetar dia seperti bertemu dengan orang yang belum pernah dia temui yang akan menyakitinya.


***

__ADS_1


Maaf ya readers, karena ada pengaturan baru yang membuat auhtor jadi gak semangat buat nulis, jadi author minta dukungan para readers buat lebih semangatin author yang lagi galau ini 😯😯😯


Tetap like , comment dan VOTE novel ini ya, dan jadiin favorite.


__ADS_2