Destiny Of Love

Destiny Of Love
Cemburu


__ADS_3

Mobil Rey melaju dengan kecepatan sedang, tak lama mereka sudah sampai tempat kuliah mereka, selama perjalanan tak ada percakapan yang terdengar di antara ketiganya. Rey langsung membelokkan mobil nya masuk ke pintu gerbang kampus. "Kenapa mobilnya masuk bang? Bukannya abang mau ke kantor? Di depan aja juga gak apa-apa kok." tanya Rere heran.


Rey menoleh ke arah adiknya lalu fokus kembali dengan kemudi mobil untuk memarkirkan mobil tersebut di tempat parkir mahasiswa. "Abang ada perlu sebentar dengan rektor di sini." jawabnya santai.


"Oh." seru Renata membulatkan bibirnya. Tak ingin tahu lagi dengan urusan abangnya tersebut.


Nayla yang sedari tadi hanya sibuk dengan ponselnya bergegas memasukkan ponsel tersebut ke dalam tas miliknya dan menyampirkan tas itu di bahu nya. Ia bersiap untuk turun. Rey yang sesekali melihat sikap Nayla yang acuh tersebut di buat jengkel sendiri.


"Cuek banget sih?" gumam Rey dalam hati.


Ketika mobil sudah terparkir dengan benar ketiga nya pun bergegas turun, kala itu kebetulan Ardi juga baru sampai kampus dan baru selesai memarkirkan mobilnya pula. Ketika melihat Nayla dan Renata dia tersenyum dan menghampiri mereka.


"Hai Nayla," sapa Ardi dengan senyum keceriaan yang menghiasi bibirnya.


Nayla menoleh ke arah suara kemudian tersenyum juga "Hai Ar..." balas Nayla.


Rey menyipitkan kedua matanya nya tanda tak suka akan keberadaan Ardi.


"Aku tidak di sapa juga Ar?" ucap Renata sambil melambaikan tangannya.


Ardi menoleh pada Renata yang baru keluar dari mobil, lalu tersenyum. "Eh..Re, maaf aku tadi gak lihat kamu." jawab nya sambil terkekeh.


Rere pun tertawa sambil menutup pintu dan menghampiri Nayla. "Dimata kamu tuh cuma ada Nayla ya?" Renata menggoda Ardi sambil menyenggol tubuh Nayla.


Wajah Ardi bersemu kemerahan mungkin dia merasa malu "Ehm... bisa aja kamu Re." ujar Ardi dengan gugup sambil menggaruk tengkuk lehernya.


Rey yang mendengar candaan adiknya semakin di buat geram, ada perasaan tidak enak di hatinya seakan tubuhnya menjadi sangat panas dan pikirannya jadi tidak karuan. Seperti ada yang menusuk-nusuk jantung dan hati nya, sakit sekali!!?


"Ehem ...." Suara deheman Rey mengalihkan perhatian mereka ke arah asal suara itu.


Ardi yang dari tadi tidak sadar siapa yang mengantarkan dua gadis itu terkejut saat mendapati Rey yang turun dari pintu samping kemudi. "Pak Rey ...?" ucapnya tak percaya, bagaimana bisa sosok pemilik saham terbesar di kampusnya sekarang bisa mengantarkan dua orang gadis yang ia kenal begitu sederhana. Ardi tidak tahu jika Rere sebenarnya adik kandung dari sang pemilik saham tersebut. Ardi tersenyum segan pada Rey. Lalu beralih mendekati Nayla.


Si Mocan kemana Nay? Kok gak di bawa?" tanya Ardi mengalihkan keterkejutan nya.


"Tadi ban nya kempes di rumah Rere jadi di tinggal disana," jawab Nayla dengan nada sedih.


Ardi mengalungkan sebelah tangannya pada bahu Nayla, hal itu sontak membuat Rey membulatkan matanya dan mengepalkan tangan kanannya dengan kuat.


"Kebetulan dong, Lo pulang bareng gue aja kalo gitu, nanti gue anter ambil si Mocannya." sahut Ardi seperti mendapat angin segar.


Rey yang dari tadi sudah geram dengan perlakuan Ardi pada Nayla berjalan menghampiri mereka sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celana, dia berdiri di samping Renata dan Nayla persis di depan Ardi.


"Dia akan pulang dengan saya," Ucap Rey dengan penuh penekanan sambil menatap Nayla tajam.


Mendengar itu Nayla, Renata dan Ardi seketika menoleh pada Rey dan terpaku keheranan, melihat ketiganya menatap Rey dengan begitu aneh Rey mendengus kesal.


"Kenapa? Kamu keberatan? Bukannya motor Nayla masih di rumah saya, dan saya mau menjemput adik saya nanti, bukankah lebih baik jika sekalian saja?" seru Rey menatap ke arah Ardi dengan tatapan menyeramkan.


Mendapatkan tatapan itu Ardi pun jadi gugup "Ti–tidak ... Pak, kenapa saya mesti keberatan!" seru nya dengan terbata.

__ADS_1


"Baguslah," ucap Rey dengan puas.


Nayla yang merasa heran dengan sikap dari kakak sahabatnya itu sedikit kesal juga, pasalnya dari tadi walaupun Rey yang menolongnya mengantar sampai kampus tapi bantuannya seperti memaksa dan tidak boleh di bantah. Nayla tidak suka dengan seorang pemaksa.


"Gue ke kelas dulu Re, bentar lagi masuk. Bang Rey duluan, ya," ucap Nayla berpamitan pergi lebih dulu dan menarik tangan Ardi lalu menggandengnya dan berjalan berdampingan. Melihat itu Rey semakin kesal dia kembali mengepalkan tangan kanan nya, dan menatap tajam kedua orang yang pergi menjauh dari pandangannya.


Rere heran dengan sikap abangnya, sedari tadi dia selalu memperhatikan perubahan raut wajah Rey saat Ardi mulai mendekati Nayla apalagi saat Ardi menggodanya. Dia seperti melihat abangnya marah karena cemburu melihat Nayla di dekati oleh laki-laki lain.


"Abang kenapa sih? Dari tadi Rere perhatiin abang kom kayak kesel banget lihat Nayla bareng sama Ardi?" tanya Rere dengan heran.


Rey yang masih menatap kepergian Nayla menoleh ke arah Renata lalu menautkan kedua alisnya bersamaan. "Apa laki-laki itu pacarnya Nayla?" Rey malah bertanya balik.


"Ardi?" tanya Rere memastikan. Dan saat setelah mendapatkan anggukan kepala dari abangnya Rere pun melanjutkan perkataannya. "Ardi memang suka sama Nayla tapi Nayla nya cuma menganggap Ardi sebagai sahabatnya aja gak lebih kok." Rere menjelaskan dengan begitu serius.


Mendengar jawaban dari adiknya, wajah Rey terlihat sumringah lalu menaikkan kedua sudut bibirnya membuat sebuah senyuman kecil disana.


"Baguslah..." gumamnya pelan tapi masih terdengar oleh Rere.


Rere sedikit terhenyak mendengar gumaman kakaknya. "Apa maksud dari perkataan abang barusan, apanya yang bagus?" pikirnya dalam hati.


Rey menepuk pundak Rere pelan dan membuatnya terperanjat dari lamunannya.


"Kamu kenapa? Malah melamun, abang tinggal dulu, ya, nanti kamu hubungi abang lagi kalau mau pulang, jangan lupa bawa temanmu itu! Motornya juga masih di rumah kita, kan," pamit Rey sambil mengingatkan Rere.


Rere hanya mengangguk dan kemudian pergi ke kelasnya.


***


Rere berpikir sejenak sambil menguyah makanan nya lalu mengambil gelas dan meminum es di dalamnya. "Gue juga bingung sama sikap abang gue hari ini". ujar Rere sambil menyimpan kembali gelasnya.


"Dia gak pernah seperti ini sebelumnya, bahkan dia selalu cuek sama orang yang baru di kenalnya, apalagi sama cewek," tambah Rere lagi.


"Oh ... terus kenapa abang lo jadi kayak gitu?" tanya Nayla masih heran.


Rere teringat sesuatu sampai-sampai dia tersedak oleh makanannya sendiri lalu Nayla dengan cepat memberikan minum padanya.


"Kenapa sih lo, tiba-tiba tersedak gitu? Abis makan cicek ya?" seru Nayla sambil terkekeh.


Rere masih sedikit menahan sakit di tenggorokannya dan sesekali berbatuk, bahkan beberapa kali meminum air.


"Gue baru ingat abang gue pernah dulu kayak gini, pas dia lagi deketin cewek saat dia masih SMA," ucap Rere dengan serius.


"Terus maksud lo dia lagi deketin gue gitu?" tebak Nayla dengan percaya dirinya.


Renata terdiam kemudian tertawa terbahak-bahak.


"Lo pede banget sih, Nay ... eh tapi ...," Rere kembali terdiam dan berpikir lagi.


"Tapi bisa juga sih, soalnya semenjak ketemu lo kemaren, abang gue jadi aneh. Kok bisa sih abang gue suka sama cewek kayak lo gitu?" tambah nya lagi.

__ADS_1


Mendengar celoteh sahabatnya itu, Nayla langsung melayangkan sedotan yang sedang dipakainya ke kepala Renata sampai cipratan minuman tersebut berhasil juga mendarat di wajah Rere.


"Ish.... Jorok banget sih," seru Rere sambil berdecih.


Nayla terkekeh. "Lagian ngomong gak pake saringan, teh aja perlu di saring dulu biar enak," ucap nya santai lalu menyandarkan tubuhnya di kursi memainkan sedotan yang sudah di masukan lagi ke dalam minuman.


"Gue kan pernah ketemu dia sekali, ya walaupun gak sengaja juga sih, mungkin aja kan dia terpana dengan kecantikan gue," tambah Nayla lagi sambil menatap Rere dan mengedip-ngedipkan matanya sebelah.


Rere kembali terkekeh. "Dih, narsis!" cibirnya.


Memang selama ini pesona Nayla mampu meluluh lantahkan hati para cowok di kampusnya, jadi tidak aneh kalau Nayla curiga kalau Rey menyukainya.


"Tapi abang gue itu tipe orang yang gak mudah jatuh cinta Nay, dulu saat cinta pertamanya pergi tanpa kabar, bang Rey jadi orang yang pendiam, dia selalu dingin sama orang, ya sampai sekarang ini," cerita Rere tentang kisah masa lalu nya Rey.


"Kalau misalkan abang gue suka beneran sama lo gimana Nay?" tanya Rere lagi dengan tampang penuh penasaran.


Nayla hanya sekilas melihat Rere kemudian menyimpan gelas yang di pegangnya. "Kagak mau gue, abang lo tuh aneh , takut gue sama tatapan mautnya itu," jawabnya kemudian.


"Jiah .... Sejak kapan pendekar takut sama tatapan mata orang, jangan-jangan lo yang udah jatuh cinta sama abang gue?" goda Rere sambil mencondongkan kepalanya ke arah Nayla.


"Ish...rese lo," desis Nayla seraya melayangkan tangannya hendak memukul kepala Rere, tapi beruntung gadis itu bisa menghindar dengan cepat.


Kemudian Nayla membuka tas nya dan mengambil ponselnya disana dan melihat ada pesan masuk dari adiknya.


"Lo selesai kelas jam berapa sekarang , si Dio minta gue anterin beli buku sehabis ngampus nih," ujar Nayla sambil menunjukkan ponselnya pada Rere.


"Gue sih udah selesai dari tadi juga, dosen selanjutnya katanya gak bakal datang cuma ngasih tugas doang," jawab Rere sambil mengedikkan bahunya.


Nayla mengangguk pelan. "Kalau gitu lo suruh abang lo jemput sekarang aja dosen gue juga gak bisa datang abis ini, mereka janjian kali," kelakar Nayla sambil cengegesan.


Rere tertawa. "Lo becanda terus ah, gue telpon abang gue dulu, ya," ucap Rere sambil mengambil ponselnya lagi mencari kontak abangnya dan menekan tombol panggilan untuk menghubungi nya.


'Tuut...tuuut.....tuut... ' Suara telepon terhubung .


"Hallo bang, bisa jemput sekarang gak? Rere dan Nayla udah selesai nih," ucap Rere saat panggilan teleponnya tersambung dengan abangnya.


"Tunggu sebentar! Abang segera kesana," ucap Rey di seberang telepon.


"Oke." Rere menutup panggilan teleponnya dan menyimpan kembali ponsel miliknya kedalam tas.


"Beres," seru Rere pada Nayla sambil tersenyum.


Nayla membalasnya hanya dengan senyuman dan anggukan kepalanya saja.


bersambung.


***


Tolong kasih vote ya readers, dan review serta subscribe nya jika suka. Follow juga ig author : amih_amy. kalau mau lihat karya author yang lainnya. makasih.

__ADS_1


__ADS_2