Destiny Of Love

Destiny Of Love
Nasihat Ibu


__ADS_3

Malam itu, Nayla sedang sibuk mengemas barang- barang yang mau di bawa untuk liburan besok bersama Rere dan yang lainnya. Nayla memasukkan beberapa helai pakaiannya ke dalam tas ransel miliknya, karena rencananya mereka akan menginap di villa milik keluarga Rey.


Ibu Tina yang sedang berjalan melewati kamar Nayla tak sengaja melihat anaknya yang sedang sibuk memasukkan baju, karena pintu kamar Nayla setengah terbuka, lalu dia menghampiri Nayla masuk ke dalam kamar anaknya tersebut.


" Kamu lagi ngapain Nay?" Tanya bu Tina penasaran, dia duduk di tepi ranjang Nayla.


Nayla mendongakan pandangan dari tas ransel yang dari tadi menjadi fokusnya "Eh...kapan ibu masuk, tau-tau udah duduk di situ aja ? " Bukannya menjawab Nayla malah bertanya akan kedatangan ibunya, membuat bu Tina memasang wajah masam nya.


" Memangnya kamu lagi mikirin apa? sampai - sampai ibu masuk kamu gak tahu. " Seru Tina sambil melipatkan tangannya di depan dada.


Nayla hanya terkekeh sambil menggaruk kecil kepalanya " Maaf bu .." Ucap nya.


" Kamu mau kemana ? kok masukin baju ke dalam tas ?" Tanya Bu Tina masih penasaran.


Nayla menutup resleting tas ransel nya karena di rasa bawaannya sudah cukup dan menyimpan tasnya itu di atas meja di samping ranjangnya. " Nayla mau izin bu, besok Nayla mau liburan ke Garut " Ucap Nayla sambil duduk bersila di atas kasur.


" Kenapa bawa baju segala, memangnya mau nginep ?" Tanya Tina lagi.


" Rencananya sih begitu, kita akan nginep di villanya mas Rey ". Jawab Nayla santai


Tina mengernyit " Eh...gimana- gimana ? kamu mau liburan sama nak Rey dan nginep di villa nya dia ? gak boleh. " Tolak Tina dengan menajamkan kedua alisnya.


Nayla tersentak, dia menelan ludahnya berat, tak menyangka ibunya akan melarangnya secepat itu. Tapi kemudian dia tersadar sepertinya ibunya salah sangka akan maksud perkataan Nayla sebelumnya " Aku kesana nya rame-rame bu, bukan cuma sama mas Rey aja, ada Rere, Ardi, Ana, dan kak Jordy juga ikut. " Tutur Nayla.


Tina mulai tenang, matanya kembali sayu. "Gitu kek, bilang dari tadi " Omel bu Tina.


" Ibu aja yang udah su'udzon duluan " Celetuk Nayla.


Tina memasang wajah serius " Inget ya Nay, walaupun kamu perginya rame- rame, kamu jangan curi- curi kesempatan, ibu gak pernah ya ngajarin anak-anak ibu buat ngelewatin batasan norma kita, kamu tuh anak gadis ibu satu-satunya, kamu jangan sampai mempermalukan keluarga kita nantinya" Pesan bu Tina panjang lebar.

__ADS_1


Nayla terdiam lalu mencondongkan wajah nya ke arah ibunya " Kalau Dio boleh ya bu, dia kan bukan gadis " Ucap Nayla dengan polosnya.


Mendengar hal itu, Tina refleks menarik telinga Nayla yang jaraknya dekat dengan dirinya, sehingga membuat Nayla memekik kesakitan " Ibu serius....Dio juga sama aja" Omel Tina lagi.


" Aduh...duh...bu, sakit " Pekik Nayla berusaha melepaskan tangan ibunya yang masih menempel di telinganya. Tina pun melepaskan telinga Nayla.


Nayla menarik tegak tubuhnya sambil meringis kesakitan memegangi telinganya "Becanda doang kali bu, sadis banget sih. " Gerutu Nayla.


" Lagian Nayla juga tahu kali, mana yang boleh di lakuin sama yang enggak, jadi ibu tenang saja, Nayla bisa jaga diri kok " Imbuh Nayla dengan yakin.


Tina berdecak " Halah.... kamu lupa apa sama kejadian tikus waktu itu? di rumah sendiri saja kamu berani kayak gitu apalagi di luar " Ucap Tina dengan sinis.


Nayla tersenyum getir, rasanya malu jika mengingat kejadian itu, " Ya elah bu, itu lagi di bahas, Nayla lagi khilaf saja itu mah " Jawab Nayla dengan santai nya, dan mendapat cubitan kecil di pinggang Nayla.


" Sakit bu..." Pekik Nayla lagi.


Nayla menunduk, ucapan ibunya memang benar, tapi dia malah menjadikannya bahan candaan " Iya...maafin Nayla ya bu.." Ucap Nayla dengan memelas.


Tina menghela nafas " Iya...ibu ngerti kok, ibu juga dulu pernah muda sama kayak kamu gini, masa-masa pacaran memang saat yang paling menyenangkan, tapi ibu gak pernah sampai melewati batasan. " Ucap bu Tina mengenang masa muda nya dulu.


" Eh...sebentar, kok ibu bisa tahu aku lagi pacaran sama mas Rey? " Tanya Nayla heran, karena dia belum pernah cerita pada ibunya perihal hubungannya dengan Rey.


" Ya ibu tahu lah, kalau gak pacaran mana berani Rey datang kesini malam-malam, terus cium-cium kamu pula. " Tina berucap dengan nada menyindir.


Nayla terkekeh, ibunya memang menafsirkan keadaan. " Eh...Nayla boleh tanya gak bu? "


" Apa ?" Tina mengangkat sebelah alisnya.


Nayla sedikit mencondongkan wajahnya lagi pada ibunya " Ibu pernah ciuman gak waktu pacaran dulu, pastinya sama mantan ibu itu " Ucap Nayla dengan nada pelan, dan langsung menegakkan tubuhnya kembali, takut telinganya kena sasaran lagi. Nayla tahu kalau ayah ibunya tidak pacaran dulu sebelum menikah. Jadi ibunya tadi pasti mengenang masa pacarannya dengan mantannya dulu.

__ADS_1


Tina mengerjap bingung, dia tak menyangka anaknya akan menanyakan hal itu, sebenarnya kelakuan Tina di masa muda tidak jauh beda dengan kelakuan Nayla sekarang, cuma bedanya Tina tidak bisa ilmu bela diri saja. Mungkin benar kata pepatah Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya .


Tina mulai kelabakan, wajahnya tersipu dan dia berusaha menutupinya dengan mengalihkan pandangannya ke arah pintu kamar Nayla yang masih terbuka " Eh...ayah nyariin ibu ya..." Ucap Tina tiba-tiba, lalu beranjak dari duduknya hendak meninggalkan kamar Nayla.


Nayla mengernyit dahi " Ayah..." Gumamnya heran.


Sebelum Nayla menengok ke arah pintu, Tina dengan segera menghalangi pandangan Nayla dengan tubuhnya. " Ibu pergi dulu ya, jangan lupa nasihat ibu tadi, kamu mengertikan Nayla !" Ucap Tina penuh penekanan.


Nayla mengerjapkan kedua matanya, " Ibu jawab dulu, Nayla nungguin ini " Rengek Nayla masih penasaran.


Tina mulai gugup " Itu ayah kamu udah nungguin di luar...daah.." Ucap nya sambil melangkah buru-buru keluar kamar Nayla.


Nayla curiga, ibunya hanya pura-pura, lalu dia segera melompat dari atas ranjangnya ke arah pintu kamar kemudian melongok ke arah luar kamar tapi tak melihat ayahnya disana. Hanya ada Tina yang sedang berjalan menuju kamar nya, kemudian menoleh dan melemparkan senyuman pada Nayla. Dan kembali melanjutkan langkah nya menuju kamar.


Nayla merengut, mulutnya berdecal sebal


" Ibu curaaaang " teriak Nayla. Tapi Tina tidak menggubrisnya, dia hanya terkekeh tanpa menoleh ke arah Nayla, dan masuk ke dalam kamarnya.


***


Jangan lupa


LIKE


COMENT


SAMA VOTE SEBANYAK-BANYAK NYA ya... terus dukung author yang masih pemula ini.


terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2