Destiny Of Love

Destiny Of Love
Nayla ku Akan Pulang


__ADS_3

Seminggu kemudian Nayla sudah mulai bisa berjalan meski masih harus dengan perlahan, Ayu dengan telaten memapah dan membantu Nayla untuk belajar menggerakkan kaki nya kembali.


" Hore...teh Nay, udah bisa jalan " Teriak heboh Ayu sambil berjingkrak dengan ceria nya. Membuat Nayla tertawa kecil melihatnya.


Aki dan Nini yang mendengar teriakan heboh Ayu keluar dari dalam rumah mereka. Mereka penasaran dengan apa yang di ributkan oleh cucu perempuannya itu.


" Ada apa Ayu, berisik pisan sampe kedenger ke dalam. " Seru Mak Lastri yang membawa sepiring ubi rebus di tangannya.


Ayu sontak menoleh dan berlari kecil menghampiri neneknya yang berada di teras rumah, karena dia sedang berada di halaman bersama Nayla yang masih berdiri dan belajar mengerakkan kakinya di sana.


" Teh Nay udah bisa jalan ni " Ucap Ayu sambil mengambil sebuah ubi rebus di piring yang di bawa mak Lastri.


" Bener itu teh ?" mak Lastri tampak tersenyum senang mendengarnya.


Ayu mengangguk dengan cepat dengan mulut yang penuh dengan makanan ubi tadi.


" Bagus atuh Nay, aki juga ikut seneng dengerna " ucap aki Asep ikut berbicara.


Nayla perlahan berjalan menghampiri mereka di teras depan, Ayu dengan cepat membantu Nayla untuk duduk di kursi saat tubuh Nayla sudah mendekat.


" Hati - hati teh ! " ucap Ayu sambil memegang tangan Nayla.


Nayla mengulas senyum " Makasih ya Ayu " Ucapnya dengan lembut.


Ayu mengangguk sambil tersenyum manis, kemudian kembali melahap ubi rebus yang dia ambil kembali dari piring.


" Aki , emak, kayaknya besok Nayla mau pulang ke rumah. Nayla udah bisa jalan sekarang, kasian keluarga Nay disana pasti mereka sangat khawatir. " Ujar Nayla


Aki dan Nini saling beradu pandang, kemudian keduanya menatap Ayu yang tiba - tiba wajah nya berubah muram ketika mendengar keputusan Nayla untuk pulang besok.

__ADS_1


" Apa neng udah bisa berjalan jauh? menuju ke jalan utama di desa ini jauh sekali loh neng. " ujar mak Lastri mencoba mencegah Nayla. Warga desa itu memang harus berjalan melewati jalan setapak di tengah hutan menuju jalan utama di pedesaan di luar hutan sana jika mereka akan menjual hasil panen perkebunan mereka. Tapi ada beberapa warga yang juga memakai sepeda sebagai alat transfortasi yang paling efektif. Tapi aki Asep tak mempunyai sepeda hingga dia selalu berjalan kaki kemana pun dia pergi.


" Nayla bisa kok mak, bisa pelan - pelan jalannya. " Nayla mengulas senyum, dia merasa sudah sangat rindu kepada keluarga nya, dan ingin segera kembali bertemu dengan mereka.


Aki dan nini tidak bisa melarang keinginan Nayla lagi, kalau memang itu sudah menjadi keputusan Nayla, mereka harus menerimanya. Nayla menoleh ke arah Ayu yang sedang memasang wajah sedihnya, dia akan kembali kesepian ketika Nayla pergi dari rumah nya.


" Ayu jangan sedih, nanti teteh akan main kesini lagi, sekalian ngajak keluarga teteh juga biar mereka tahu ada desa di tengah hutan seperti ini. " Ujar Nayla sambil memegang pundak gadis kecil tersebut.


Ayu mendongak menatap wajah Nayla dengan tatapan sendu " Emak sama bapak juga dulu bilangnya gitu, katanya mereka pasti balik lagi, tapi nyampe sekarang mereka gak pernah balik " Ayu tak kuasa menahan air mata yang mengalir membasahi kedua pipinya, membuat hati Nayla terenyuh mendengarnya, Ayu sangat merindukan orang tua nya. Nayla merengkuh tubuh kecil itu dalam pelukannya memberikan rasa nyaman dan kasih sayang yang di rindukan nya selama ini.


" Ayu ikut teteh aja ya..! " Pinta Nayla yang sudah menganggap gadis kecil itu seperti adiknya sendiri. Tapi Ayu menggeleng masih dalam pelukan Nayla.


" Ayu gak bisa ninggalin aki sama nini " ucap nya lirih.


Nayla menoleh ke arah aki dan nini nya Ayu


" Maaf neng, kami tidak bisa meninggalkan desa ini. " Tolak Aki Asep, tersirat rasa kecewa yang mendalam di wajah Ayu, dia menundukkan kepalanya mencoba menahan air mata yang kembali tergenang di sudut matanya.


" Kalau Ayu ingin ikut, nini sama aki gak apa - apa kok " sahut mak Lastri. Ayu mendongak menatap sendu wajah neneknya itu, kemudian dia tersenyum lebar.


" Ayu gak akan kemana - mana, Ayu akan tetap di sini menemani nini sama aki, teh Nay janji ya ! mesti sering - sering main kesini." Ucap Ayu mencoba mengubur dalam - dalam keinginan nya untuk pergi ke kota.


Nayla tampak kecewa, sebenarnya dia ingin sekali mengajak keluarga itu ke rumah nya di kota, sehingga mereka tidak perlu bersusah - susah hidup di desa itu, Ayu juga bisa bersekolah yang layak disana.


Karena di desa itu, anak - anak tidak mendapatkan pendidikan yang layak, hanya ada sekolah sederhana yang di sediakan dari hasil swadaya warga sekitar dengan seorang guru yang sudah bertahun - tahun mengabdi di desa itu, dia dengan tulus mengajari anak - anak disana baca dan tulis, sehingga warga sekitar desa itu bisa hidup lebih baik ke depannya.


" Tentu saja sayang, teteh akan sering datang kesini nanti " Ucap Nayla dengan senyuman yang mengembang di bibirnya.


***

__ADS_1


Di sisi lain, mama Rania tampak gusar menanti kedatangan Rey yang sudah sangat larut belum juga pulang ke rumah nya, suara bel pintu yang terdengar nyaring membuat Rania yang sedang berada di ruang depan dengan segera membuka pintu itu dengan cepat.


Ketika pintu terbuka tampak lah seorang Rey yang sedang di papah oleh Jordy asistennya dalam keadaan mabuk berat.


" Rey , kamu mabuk nak ?" Seru Rania, dia tak percaya anaknya menjadi seorang pemabuk sekarang.


" Eh..mama, apa kabar mama ? " Rey bicara tanpa kesadarannya.


Rania tak kuasa menahan tangisnya, dia menyuruh Jordy untuk membawa Rey ke kamar nya. Setelah sampai di kamar nya, Rey tak henti - henti nya berceloteh tak jelas kepada mama nya, Rania menyuruh Jordy untuk pulang dan mengucapkan terima kasih padanya , setelah itu, mama nya merebahkan Rey di tempat tidur, membuka sepatu yang masih menempel di kakinya lalu menutupi tubuh anaknya dengan selimut.


" Kenapa kamu jadi seorang pemabuk begini nak ? kamu ingat kan besok kamu akan menikah !" Seru Rania tak tega melihat anaknya semakin terpuruk.


" Menikah ? Nayla sudah kembali ? benarkah ?" Rey tampak kegirangan, dia langsung duduk menatap mama nya, tapi dirinya masih dalam pengaruh alkohol, dia tak sadar dengan apa yang dia ucapkan.


" Tidak sayang, Nayla sudah meninggal, kamu akan menikah dengan Gisella " Bantah Rania sambil mengusap - usap kening anaknya.


Rey menepis tangan Rania " Heh... aku tidak mau, Nayla ku masih hidup, dia akan pulang, Nayla ku akan pulang " Rey tak henti nya berbicara seperti itu pada mama nya, membuat hati Rania semakin remuk melihatnya. Rey kembali merebah kan tubuhnya ke tempat tidur, dan seketika terlelap dalam mimpinya dalam keadaan mabuk.


Keputusan Rey akan menikah dengan Gisella adalah permintaan dari mama Rania, dia tidak ingin anaknya selalu terbayangi oleh sosok Nayla yang sudah meninggal dunia. Rey kembali menjadi sosok yang dingin dan gila kerja bahkan lebih parah dari itu, dia semakin tak peduli dengan orang lain, sikapnya jadi kasar, Rey terpaksa mengiyakan permintaan mama nya karena akhir - akhir ini kesehatan mama nya juga sedang tidak baik.


Sejak Nayla di nyatakan menghilang, Rey meminta tolong kepada pihak kepolisian untuk mencari keberadaan Nayla, dua hari berselang polisi akhirnya menemukan sepeda motor milik Nayla yang tersangkut di pohon di tepi jurang itu. Tim penyelamat langsung melakukan penelusuran di tempat kejadian dengan menapaki setiap jengkal jurang tersebut, pencarian itu berlangsung hingga dua pekan tapi hasil nya tetap nihil, Nayla tak kunjung di temukan. Tapi Rey tetap terus menyuruh orang untuk melakukan pencarian.


Hingga seminggu kemudian, tim menemukan potongan tangan manusia di sekitar area jurang tempat penemuan motor Nayla, dengan kondisi tangan yang seperti tercabik - cabik binatang buas, dan tak jauh dari sana di temukan pula sebuah jam tangan yang di yakini Rey adalah milik kekasihnya Nayla, entah itu potongan tangan siapa, yang pasti jam tangan Nayla memang terjatuh saat aki Asep mengbopong Nayla ke rumahnya saat kejadian itu.


Polisi akhirnya menutup kasus tersebut dan menyatakan Nayla meninggal akibat kecelakaan, padahal Nayla masih hidup dan selamat. Jangan di tanya bagaimana perasaan Rey saat itu, dia sangat terpukul mendengar kabar tersebut, Rey tak bisa menerima keputusan itu. Dia selalu berpikir bahwa Nayla nya masih hidup.


***


Klik like , komentar sama vote nya ya...rate 5 bintang jangan lupa 😉😉

__ADS_1


__ADS_2