
" Nay, kamu lagi gak ada masalah kan sama suami kamu? " Tanya bu Tina sambil mengelus puncak kepala anaknya yang sedang berbaring di pangkuannya, di kamar miliknya sebelum dia menikah dengan Rey. Iya, di sini lah Nayla sekarang berada tepatnya di rumah bu Tina, di malam sebelum pesta pernikahannya berlangsung, entah kenapa dia ingin sekali tidur bersama ibunya, bahkan ayahnya pun harus berlapang dada karena harus tidur sendirian di malam minggu yang katanya penuh cinta.
Lebih menderita lagi seorang Rey, saat keluarga jauhnya berkumpul di rumah besarnya, istrinya malah tidak berada di rumah itu. Dia juga terpaksa mengizinkan permintaan istri dan calon bayinya itu. Jahatnya Nayla, dia tak mengizinkan suaminya untuk ikut bermalam di rumah orang tuanya. Entah ngidam macam apa itu. Rey sungguh frustasi dengan keinginan Nayla yang serba aneh. Di mulai dengan membebaskan Gisella, lalu meminta Rey untuk berdandan ala wanita, dan sekarang minta tidur bersama ibu kandungnya. Sungguh di luar perkataan mamanya, saat Rey bertanya mamanya ngidam apa saat mengandung Rey dulu. Biasanya orang hamil itu ngidamnya kebanyakan makanan, tapi Nayla belum pernah minta makanan apapun.
Nayla menggeleng, dia yang sedang berbaring di pangkuan ibunya sedikit mendongak dan menatap wajah sang ibu. " Bu, waktu ibu hamil aku, ibu ngidam apa ? " Tanya nya kemudian.
Bu Tina mengernyit, mencoba mengingat kembali pada memori nya 23 tahun yang lalu, saat dirinya hamil Nayla. " Ibu gak pernah ngidam yang aneh - aneh, bahkan ibu baru tahu kalau ibu hamil kamu saat usia kandungan ibu sudah mau menginjak empat bulan. Kata orang hamil ibu itu kayak hamil kerbau. "
Nayla menajamkan kedua alisnya, " Lah, aku kerbau nya dong ! " Sahutnya merasa tak terima.
Bu Tina terkekeh, " Ya gak gitu juga artinya, kata orang kalau kerbau lagi hamil dia gak akan merasakan apapun termasuk mual dan muntah, apalagi ngidam. Dan waktu ibu hamil kamu ya kayak gitu, tahu - tahu kamu udah gerak aja di perut ibu. " Tutur bu Tina tersenyum lucu mengingat masa lalu.
Nayla mencebikkan bibir, " Itu sih ibunya aja yang gak punya perasaan. Memangnya ibu gak sadar kalau udah gak dateng bulan selama empat bulan ? "
" Ibu lupa, waktu itu memang siklus haid ibu lagi gak teratur juga, jadi ibu pikir gak haid itu karena gak teratur aja. Orang gak ada gejala apa - apa. " Bantah Bu Tina.
" Gitu ya bu ? " Nayla sejenak berpikir, dia jadi ingat waktu itu kalau dia tidak pingsan dirinya juga tidak akan tahu kalau sudah berbadan dua. Nayla jadi senyum - senyum sendiri ternyata cerita hamil nya hampir sama dengan sang ibu.
" Kenapa senyum - senyum ? " tanya bu Tina merasa aneh dengan sikap anaknya.
" Gak apa - apa bu, lagi inget mas Rey aja. "
" Kangen ya ? " Tanya bu Tina meledek.
" Iya. " Jawab Nayla begitu saja.
__ADS_1
" Kangen kok malah di tinggal nginep, kamu tuh gimana sih ? " Ucap bu Tina sambil mencolek hidung mancung Nayla.
Nayla mendengus geli. " Aku tuh lagi gak suka lihat suami aku bu, bawaannya kesel terus. " Mendengar itu bu Tina malah tertawa kecil. Apa mungkin bu Tina senang mendengar menantunya di jauhin sama anaknya sendiri ?
" Kok ibu malah ketawa ? " Tanya Nayla sambil mengernyit dahi. Dia heran, karena biasanya jika dirinya berkata seperti itu, ibunya langsung berubah jadi seorang ustadzah yang akan menceramahinya panjang lebar karena tidak patuh pada suami.
" Kamu memang betul anak ibu Nay . " Ucapnya di sela tawanya. Lah, memangnya selama ini Nayla anak siapa ? Kok baru sekarang ibunya bilang seperti itu. Nayla semakin bingung dengan perkataan ibunya itu.
" Ibu ngomong apa sih ? " Nayla beranjak duduk sambil bersila menghadap ke arah ibunya dengan tatapan bingung .
" Waktu ibu hamil kamu juga ibu gak mau ketemu sama ayah kamu. "
" Katanya waktu ibu hamil aku, ayah lagi kerja di luar kota ? " Nayla ingat cerita itu selalu di bicarakan oleh tantenya saat dirinya masih tinggal di Bogor di masa kecilnya dulu.
" Iya, tapi ayahmu jadi sering pulang gara - gara ibu selalu ingin bertemu dengan dia, tapi anehnya jika ayahmu sudah ada di rumah, ibu malah tidak mau berdekatan dengannya. Malahan ayahmu sering tidur di ruang TV. " Bu Tina tersenyum lucu, sungguh menggelikan jika mengingat masa itu, bu Tina benar - benar menyiksa suaminya saat awal dirinya ketahuan hamil.
Hah ? apa Nayla tidak salah dengar? bukannya wanita hamil selalu ingin di dekat suaminya saat mendekati bulan kelahiran. Tapi ibunya malah sebaliknya. Nayla melongo tak percaya. Sesabar itukah ayahnya ? Apa Rey bisa melakukan itu ? Nayla mengelus pelan perutnya sambil berkata dalam hati, berharap janin yang masih sebiji kacang itu mendengar kata hatinya itu. Nak, jangan ikuti jejak mamamu ini ya ! waktu mama masih di dalam kandungan, mama udah nyusahin kakek kamu, nanti jangan gitu ya sama papa !
Saat Nayla hendak berbaring kembali di pangkuan ibunya, tiba - tiba terdengar suara berisik dari luar kamar mereka. Membuat kedua wanita itu saling beradu pandang dan memutuskan untuk keluar dari kamar.
***
" A Dio, siniin remot TV nya ! " Pinta Ayu dengan nada kesal.
" Gak mau ." Seru Dio sambil duduk santai di sofa, menyembunyikan remot TV di belakang tubuhnya yang sedikit gembul.
__ADS_1
" Ada apa sih ? " Suara Nayla membuat Ayu menoleh dan berjalan menghampiri Nayla.
" Teteh , A Dio nya ngeselin ! masa Ayu lagi nonton TV acaranya selalu di ganti - ganti terus sama dia. Ayu kan jadi pusing. " Rengek Ayu sambil menggelayuti tangan Nayla.
" Kalau pusing minum obat ! masa minta remot TV . " Celetuk Dio sambil mengunyah cemilannya.
" Dio.... " Nayla menajamkan pandangannya ke arah adik laki - laki nya itu. Dan berkata dengan penuh penekanan. Dio mendengus tapi pandangannya masih tertuju pada layar kaca di hadapannya, seakan tak peduli dengan panggilan kakaknya.
" Kamu tuh kenapa sih Dio, semenjak Ayu di sini selalu saja bikin ribut ? " Omel bu Tina menambah Dio semakin merengut kesal. Pasalnya semenjak kedatangan Ayu dan keluarganya perhatian ibu dan ayahnya jadi beralih pada gadis desa itu, Keluarga bukan kerabat juga bukan tapi pelayanan yang mereka dapatkan layaknya tamu kehormatan.
Dio menoleh, memberikan tatapan benci pada Ayu, yang masih menggelayut di tangan kakaknya. Lalu beralih ke arah ibunya . " Ibu kenapa sih ? belain gadis desa itu terus ? memangnya dia itu siapa ? Udah di sini numpang. "
" Dio ? " Tukas Nayla dengan sedikit membentak.
Dio tersentak, untuk pertama kalinya kakaknya membentak padanya, dan itu gara - gara gadis kecil yang tiba - tiba datang dari tengah hutan itu. Dio ingin berkata tapi suara nya seperti tercekat di tenggorokan. Rasanya ingin sekali dia menangis, tapi ego keremajaannya membuatnya menahan cairan bening yang hendak keluar dari pelupuk matanya. Dia merasa gengsi jika harus menangis di depan gadis desa itu.
Suara bentakan Nayla sampai terdengar oleh aki Asep dan istrinya. Mereka pun keluar dari dalam kamar mereka dan menyaksikan ketegangan itu, nini Lastri meraih tangan Ayu lalu merengkuh tubuh mungilnya dalam pelukan. Ayu menangis, lagi - lagi dia membuat Dio di marahi, rasa bersalah menyelimuti hatinya kini.
" Kamu tidak boleh berkata kasar seperti itu ? kakak tidak pernah mengajari kamu untuk tidak sopan pada tamu. " Imbuh Nayla masih dengan nada tinggi. Nayla tidak menyadari jika adiknya sedang cemburu. Selama Ayu tinggal di sana, jika kakaknya berkunjung atau sekedar menelepon yang pertama kali kakaknya tanyakan selalu saja Ayu. Dio seakan terlupakan.
Dio beranjak dari duduknya, alih - alih meminta maaf atas kesalahannya dirinya malah berlari menuju kamarnya. Semua orang disana jadi terpaku, menatap aneh kepergian Dio yang menghilang di balik pintu.
" Dio kenapa sih bu ? " Tanya Nayla heran, dan ibunya hanya mengangkat kedua bahunya sebagai tanggapan.
***
__ADS_1
Happy reading 😉😉
Like , comment, favorite, share, rate 5 dan Vote nya ya teman...