
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tak terasa waktu berlalu begitu cepat, hingga Nayla pun sudah menyelesaikan sidang skripsinya dan lulus dengan nilai terbaik di fakultasnya.
Nayla sangat bahagia bisa menyelesaikan kuliahnya dengan baik, akhirnya cita-citanya selama ini tercapai juga, walaupun belum resmi menyandang gelar dokter, setidaknya Nayla sudah lulus pendidikan akademiknya.
" Nay, lihat deh, baju ini buat ibu pakai besok menghadiri wisuda kamu, bagus gak ?" Celoteh Bu Tina yang sedang menunjukkan sebuah baju kebaya berwarna coklat tua dipadukan dengan rok batik berwarna senada, yang sedang di pakainya, sangat cocok di badan bu Tina. Tina terlihat melenggak lenggokkan tubuhnya di depan cermin yang menempel di lemari rias di kamar Nayla.
Nayla yang duduk bersila di atas kasur nya, hanya senyum-senyum kecil melihat tingkah ibunya yang sangat centil. " Bagus kok bu, cantik. " Puji Nayla sambil tersenyum cengengesan.
Tina menoleh ke arah Nayla, kemudian melangkah dan duduk di sisi ranjang. " Bener gak ? kok kamu senyum-senyum gitu sih, ibu kan jadi gak pede ." Tina memanyunkan bibirnya.
Nayla memasang wajah serius, sambil memegang dagu dengan sebelah tangannya
" Hmmm.... sebentar, aku teliti dulu yah. " Nayla terdiam sejenak, Tina hanya diam dan mengerjap bingung " Baju nya sih pas banget di badan ibu, warna nya juga cocok, tapi bisa gak nanti bilangnya ibu itu kakak aku saja, soalnya ibu jadi keliatan lebih muda..." Imbuh Nayla sambil tertawa kecil.
Tina mengerutkan dahi, merasa anaknya malah menanggapi nya dengan candaan. " Kamu yah, di tanya serius kok malah bercanda " Decak Tina.
" Ehehehe...gak kok bu, Nayla serius ibu cantik banget, pantesan ayah cinta mati sama ibu." Nayla sangat mengagumi kecantikan ibunya, bentuk tubuhnya yang masih terlihat langsing dan kulit wajah yang masih terlihat kencang, di usianya yang sudah setengah abad itu, membuat Tina terlihat lebih muda dari usianya.
Tina mengetuk kening Nayla " Becanda mulu " Ucapnya dengan kesal, " Ibu kan gak mau malu-maluin kamu nanti " imbuh Tina sambil melipat tangannya di depan dada.
Nayla mengelus keningnya yang sedikit perih
" Ibu gak pernah malu- maluin kok, bagaimana pun penampilan ibu dan ayah besok, Nayla bakal bangga memperkenalkan kalian sebagai orang tua terbaik di muka bumi ini " Ucap nya dengan yakin.
Tina tersenyum mendengar ucapan anaknya, dia sedikit terharu tapi dia berusaha untuk tidak menangis di depan anaknya " Gitu dong, itu baru anak ibu sama ayah, sini ibu peluk. " Tina menarik bahu Nayla kemudian memeluk tubuhnya dengan erat, membuat Nayla kesulitan bernafas.
" Mati deh Nayla bu, kenceng banget peluknya" Celetuk Nayla sambil memegangi dadanya,saat ibu nya sudah melepaskan pelukannya. Tina hanya tersenyum menganggapinya.
" Eh...Nay, besok nak Rey datang kan ?" tanya Tina kemudian.
" Pasti lah bu, orang dia pemilik saham terbesar di kampus itu, malahan katanya jadi tamu kehormatan. " Sahut Nayla.
__ADS_1
Tina menganggukkan kepala nya sambil mengerjap bengong, tak menyangka calon menantunya itu orang yang benar - benar hebat. Masih muda tapi usahanya dimana -mana. Pikir Tina.
" Jeng Rania juga datang kan Nay ?" Tanya nya lagi.
" Datang bu, Rere kan wisuda juga "
" Ah..iya ya.." Ucap Tina
" Mbak Gisella juga ikut, aku yang menyuruh mas Rey untuk mengajaknya " Nayla menambahkan ucapannya, semenjak hari itu, hubungannya dengan Gisella menjadi lebih baik, Gisella sering berkunjung ke rumah Nayla, mereka menjadi akrab sehingga Nayla memanggilnya dengan panggilan mba, karena Nayla ingin sekali punya kakak perempuan dan Gisella dengan senang hati menerimanya.
***
Di tempat lain, semenjak kematian Martin, Rey jadi ikut membantu dalam mengelola perusahaan textille milik Gisella, karena memang Gisella tidak begitu paham masalah bisnis, waktu kuliah dia mengambil jurusan fashion sesuai dengan hobinya mendesain baju.
Untuk mengusir rasa kesedihan dan kesepiannya sepeninggal Martin diapun membuka sebuah butik kelas atas di dekat apartemen miliknya, dalam waktu beberapa bulan saja butik itu sudah menjadi butik favorit di kalangan artis dan orang -orang kelas atas lainnya. Hanya sesekali dia mengunjungi pabrik textile nya itu, hanya jika Rey juga berkunjung kesana, memantau kinerja para pegawai nya.
" Gie, besok acara wisuda Nayla dan Rere, Nayla memintaku untuk mengundangmu menghadiri acara tersebut. " Ucap Rey, setelah mereka selesai melakukan rapat direksi di perusahaan Gisella.
" Kamu bisa datang bersama mama dan Rere, jadi kau tidak perlu membawa undangan lagi."
" Baiklah " Ucap Gisella sambil tersenyum senang.
Gisella beranjak dari kursi kebesarannya, setelah pamit untuk ke toilet sebentar pada Rey, tapi saat tubuhnya melewati tempat duduk Rey yang berada di depan meja kerjanya, kaki nya tiba-tiba tidak bisa seimbang dengan sepatu hak tinggi yang di pakainya, tubuhnya terpelanting dan hendak terjatuh. Tapi dengan cepat Rey menopang tubuh Gisella dengan tangannya, membuat posisi mereka menjadi sangat dekat, sejenak mereka beradu pandang. Kemudian melepaskan pelukan itu saat kedua nya sama-sama sadar, suasananya tiba-tiba sedikit canggung, Gisella menjadi salah tingkah.
" Maaf Rey, aku terlalu buru-buru " Ucap Gisella sambil tersenyum kikuk.
" Tak apa, lain kali hati - hati " Sahut Rey.
Rey pun kembali duduk di kursi nya, dan Gisella melanjutkan langkah nya menuju toilet.
Setelah Gisella pergi, suara dering ponsel milik Rey memecah kesunyian ruangan itu, saat Rey melihat ponselnya terpampang nama My lovely calling di layar ponsel depan. Dia pun tersenyum dan langsung menekan tombol terima di layar, lalu mendekatkan ponsel itu di telinganya.
__ADS_1
" Hallo sayang, mas kangen nih " Ucapan yang selalu Rey ucapkan saat mengangkat panggilan telepon dari Nayla.
" Hadeh mas, aku sampai hafal loh kalimat pertama mu itu, bosen aku dengernya " Seru Nayla di seberang telepon.
Rey tertawa kecil " Memangnya kamu tidak kangen sama mas ? " Rey pura - pura merajuk.
Nayla menghela nafas " Bukan begitu, tiap terima telepon, pertama tuh ngomong nya kangen duluan, tanya dulu kek mau ngapain gitu telepon mas ?" Suara Nayla terdengar kesal.
Rey mendengus " Baiklah sayang, mau apa telepon mas?"
" Aku cuma mau bilang, besok aku berangkat ke gedung bareng sama Ardi, Ana mau di jemput kak Jo, jadi Ardi ngajak keluarga aku bareng " ucap Nayla meminta izin pada Rey, karena kebetulan wisuda mereka di adakan bersamaan.
Rey mengerutkan dahi " Sepertinya Ardi sengaja mempertemukan kedua orang tuanya dengan orang tua mu, supaya mereka menjadi dekat, dan berencana untuk melamarmu nanti. Mengapa kau tidak menungguku saja " Ucap Rey dengan nada sinis.
" Jauh sekali pikiran mu itu, bukannya kemarin mas yang bilang, kalau besok mas akan datang agak telat ke acara wisuda ku, karena ada rapat penting sebelumnya, kalau aku nunggu mas bisa-bisa aku juga ikut telat. " Nayla juga sedikit kesal.
" Ok...ok...kali ini mas izinin, tapi inget ya ! pokoknya gak ada yang boleh ngelamar kamu selain mas "
" Egois banget sih, bagaimana jika takdir berkata lain, apa yang akan mas lakukan ?" Pertanyaan Nayla sontak membuat Rey sedikit tak enak hati, hatinya sedikit menciut, dia jadi takut kalau itu benar.
" Kalau ngomong tuh di pikir dulu, omongan tuh do'a, mas yakin kita sudah di takdirkan untuk bersama, karena Tuhan telah memantapkan hati mas buat kamu. Kamu juga harus yakin " Rey berkata dengan serius.
Sejenak tak terdengar suara balasan dari Nayla, hingga Rey beberapa kali memanggil nama Nayla di baliknya ponselnya itu.
" Aku sudah memberitahumu, aku tahu kau pasti akan cemburu jika aku bersama dengan Ardi, aku tutup dulu ya...bye " Nayla segera menutup teleponnya, Rey menatap ponsel yang sudah tidak bersuara lagi, sejenak dia terdiam, kemudian menghela nafas dan menyimpan ponsel itu di atas meja.
Gisella yang sedari tadi sudah selesai dari toilet, berdiam diri di belakang Rey saat mendengar perkataan cinta Rey terhadap Nayla di teleponnya. Entah kenapa hatinya sedikit terganggu, pikirannya jadi tak karuan, " Ada apa dengan ku " Pikir Gisella.
***
Mohon maaf up nya lama, kemaren authornya sedikit sibuk, sinyalnya juga lagi gak bersahabat...jadi maafkan ya...
__ADS_1
Tetap like , koment dan vote yang banyak ya...biar author lebih semangat lagi.