
Hari pun sudah beranjak sore, matahari telah tergelincir ke arah barat, mereka tampaknya sudah puas bermain di pantai dan kembali ke villa untuk beristirahat. Karena besok pagi mereka berniat untuk kembali pulang ke Bandung.
Nayla tengah membersihkan diri di kamar mandi, sedangkan Rere tengah merebahkan tubuhnya yang lelah di atas kasur dengan posisi terlentang. Dan Ana semenjak pulang dari pantai wajahnya yang tampak berseri, sesekali nampak bibirnya yang tersenyum-senyum sendiri. Ana mendudukkan tubuhnya di sisi ranjang di samping Rere.
Rere menoleh saat merasakan gelombang di kasur tempatnya berbaring, dia sejenak memperhatikan punggung Ana, kemudian duduk bersila menghadap ke arah sahabat baru nya itu, karena semenjak kejadian penjebakan Nayla, Ana resmi menjadi sahabat mereka.
Rere menyimpan bantal di pangkuannya dan menopang dagu nya dengan tangan dan bertumpu di bantal itu " Dari tadi lo terlihat aneh An ?" Tanya Rere yang merasa penasaran.
Ana menoleh, lalu melebarkan senyumannya
" Gue lagi seneng...lihat ini ! " Ana memampangkan telapak tangan kirinya dan melebarkan jari-jari nya, menunjukkan sebuah cincin yang tersemat disana.
Rere tertegun, sejenak memandang tangan Ana, saat dia menemukan hal yang berbeda dia pun langsung menyaut tangan Ana, lalu berteriak histeris. " Aaa......, siapa yang kasih ?" Teriak histeris Rere dengan hebohnya.
Di saat yang bersamaan Nayla yang sudah selesai membersihkan diri keluar dari kamar mandi " Kenapa sih, rame banget ?" Tanya Nayla, merasa risih. kemudian berjalan menuju tas ransel nya mau mengambil baju, karena tadi pagi dia tak mau mengembalikan baju ke dalam lemari lagi, sudah tanggung katanya.
" Nayla lihat ini ! Ana habis di kasih cincin sama seseorang ." Seru Rere dengan heboh, dia menunjukkan tangan Ana yang masih di genggamnya.
" Terus ? " Tanya Nayla datar, dia melanjutkan memakai baju piyama tidur nya.
Rere memberenggut, sedangkan Ana menarik kembali tangannya yang di pinjam Rere untuk di tonton oleh Nayla, tapi sayangnya tak ada respon yang luar biasa dari Nayla, seperti yang dia lakukan tadi.
" Gak seru banget lo mah Nay, sebel gue " Decak Rere.
Nayla terkekeh, " Gue bukan lo yah, belum apa-apa juga udah heboh duluan. " Sindir Nayla sambil merapikan rambutnya di depan cermin.
Rere mencebikkan bibirnya, menirukan ucapan Nayla dengan bibirnya yang di gerak-gerakkan tanpa suara. Membuat Ana tertawa geli melihatnya.
Setelah selesai memakai baju dan menguncir rambutnya, Nayla menghampiri mereka berdua yang masih duduk di atas kasur.
__ADS_1
" Mana gue lihat ?" Nayla langsung menyaut tangan Ana, dan melihat cincin itu.
" Wah,, bagus banget .." Imbuhnya memuji keindahan cincin itu. Nayla mendongakkan pandangan dari tangan Ana dan menatap wajah Ana yang sedang tersipu malu.
" Siapa yang kasih ? " Nayla mengulangi pertanyaan Rere yang belum sempat Ana jawab tadi. Rere pun menajamkan telinganya , tak mau ketinggalan mendengarkan jawaban Ana.
" Kak Jo. " jawab Ana pelan.
Nayla tersenyum, ternyata memang benar selama ini kak Jo sedang mendekati Ana, pantas saja kak Jo sering terlihat di kampus menemui Ana, pikir Nayla. Sedangkan Rere dia terpaku tak percaya, karena dia sangat tahu kak Jo selama ini tidak pernah terlihat bersama wanita, malah Rere pikir kalau kak Jo adalah seorang yang belok. ( Hihihi )
" Yang bener lo An ?" Rere tak percaya.
" Hmmm..." Ana menggangguk sambil tersenyum sumringah.
" Astaga, gue pikir kak Jo bukan pria normal " Celetuk Rere tanpa pikir lagi.
Nayla dan Ana saling beradu pandang, kemudian tertawa bersamaan " Hahahaa,, kenapa lo berpikiran seperti itu? " tanya Ana di sela tawanya.
" Cuma pikiran lo aja itu mah " sahut Nayla sambil menyentil hidung Rere.
" Yang penting sekarang kita udah punya pasangan baru, kayaknya liburan kali ini, selain buat pajak jadiannya gue sama bang Rey, tapi sekaligus rencananya kak Jo buat nembak Ana. " Imbuh Nayla sambil mencondongkan wajah nya mendekati Ana, mencoba menggodanya lebih dekat. Ana pun merasa malu.
***
Di sisi lain, Jordy dan Rey sedang berada di balkon villa sedang minum teh, sedangkan Ardi masih berada di kamar nya sedang membersihkan diri.
" Jo, apa kau tahu, semenjak aku bertemu dengan Gisella dan Martin, hatiku menjadi tidak tenang ." Ucap Rey sambil menyesap secangkir teh di tangannya.
Jordy mengernyit " Apa maksudmu? apa kau berencana merebut Gisella kembali? apa kau masih mencintai nya ? " tanya Jordy secara bersamaan.
__ADS_1
Rey menyimpan cangkir tehnya di atas meja kecil yang ada di sampingnya, kemudian menoleh ke arah Jordy. " Tentu saja tidak, aku mencintai Nayla, bagiku Gisella hanya lah masa lalu, hatiku sudah tidak punya perasaan apapun padanya. Tapi..." Rey terdiam, sejenak menghela nafas.
" Tapi apa bos ?" Jordy semakin penasaran.
" Saat aku tahu kalau Gisella ternyata pergi bersama Martin, aku jadi merasa bersalah kepada mereka berdua. " Ucap Rey melanjutkan perkataannya.
" Bagaimana mungkin, bukankah kau yang tersakiti. Tapi, kenapa jadi kau yang merasa bersalah. ?" Tanya Jordy lagi.
Rey memejamkan matanya, dia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, lalu membuka matanya kembali " Kau kan tahu, Martin adalah sahabat lama ku, sebelum kau berteman denganku, dia lebih dulu mengenalku, kami bersahabat sejak SMP. Dia sangat baik padaku, dan menganggapku seperti sodaranya sendiri , Sampai suatu hari dia pernah menyelamatkanku saat aku hendak tertabrak mobil, dia mendorongku sampai dirinya yang terluka dan koma sampai beberapa hari, saat itu aku berjanji pada diriku sendiri, jika dia bisa sembuh aku akan membalas apapun yang dia minta suatu saat nanti. " Rey menelan ludah dengan berat, tenggorokannya terasa kering, dia pun kembali meneguk teh nya.
" Lalu, apa hubungannya dengan Gisella ? dari dulu bukannya kau juga sudah berhubungan dengan Gisella ?" tanya Jordy, dia dengan seksama mendengarkan cerita Rey.
" Martin lebih dulu mengenal Gisella, waktu itu kau belum sekelas denganku, jadi kau belum akrab dengan kami dan kau tidak tahu, Gisella adalah siswi dari SMA lain, Martin mengenalnya saat ada pertandingan olahraga antar sekolah, mereka sangat akrab saat itu, bisa di katakan berteman dekat, sampai suatu saat Martin mengenalkan Gisella padaku, lalu aku jatuh hati pada Gisella. Aku pun mengatakan nya pada Martin, Martin sangat terkejut waktu itu, aku berpikir dia juga menyukai Gisella, tapi ternyata Martin menyangkalnya dia hanya kaget saja katanya. Dia pun merestui hubungan kami, sampai aku menyatakan cinta pada Gisella. " Rey terjeda sebentar.
" Apa Gisella juga menaruh hati padamu dan langsung menerimamu ?" Jordy menyela cerita Rey.
Rey menggeleng " Tidak, dia menolakku, tapi beberapa hari kemudian entah kenapa dia berubah pikiran dan mau jadi pacarku, aku sangat senang dan memberitahukannya pada Martin, setelah aku dan Gisella jadian, Martin jadi menjaga jarak dari Gisella, sehingga Gisella kadang suka uring-uringan tak jelas kepadaku tentang perubahan sikap Martin, aku tidak curiga waktu itu, aku pikir mereka hanya cekcok antar sahabat saja, kalau ku tanyakan pada Martin dia selalu mengelaknya dan menganggap Gisella terlalu berlebihan. Sampai saat kelulusan, kedua orang itu menghilang, Martin sempat mengirimkan pesan padaku lewat surat, kalau dia harus pergi melanjutkan kuliahnya di luar negeri atas suruhan pamannya, dan itu sangatlah mendadak, sedangkan Gisella dia pergi tanpa memberiku kabar apapun. Setelah beberapa hari aku baru tahu dari teman dekatnya kalau dia juga melanjutkan kuliah di luar negeri dan tinggal dengan papanya, aku tidak tahu alamat mereka di mana, Martin tak pernah memberi kabar lagi setelah itu apalagi Gisella. " Hati Rey mulai terasa sakit, nafasnya mulai tersengal mengingat kenyataan pahit ternyata sahabat yang di anggap sodara nya itu telah berbohong padanya.
" Lalu apa salah nya kau dalam hal ini bos, mereka yang mengkhianatimu ?" Jordy mulai geram.
Rey tersenyum tipis " Kau tahu, saat kemarin aku melihat cinta yang sangat dalam di antara mereka berdua, aku jadi berpikir kalau waktu itu Martin mencintai Gisella begitupun sebaliknya, aku selalu berkata aku akan melakukan apapun yang Martin minta sebagai balas budiku , tapi ternyata Martin lah yang selalu berkorban. Dan ternyata pikiranku benar, kemarin malam, setelah mengantarkan Gisella pulang ke penginapan, Martin kembali menemuiku, kalian semua sudah tidur, kami bicara menjelang dini hari. Martin sangat menyesal telah mengkhianatiku, tapi dia tidak bisa membohongi perasaannya lagi, dan tidak mau membuat Gisella selalu terluka, karena dulu Martin mengancam Gisella, kalau dia akan menjauhi Gisella jika Gisella tidak menerima aku menjadi pacarnya. tapi kenyataannya Martin tetap menjauhi nya. Dan saat Gisella tahu Martin pergi ke luar negeri, Gisella langsung menyusulnya, Martin tidak bisa menolak Gisella lagi, dia tidak tega. Aku sangat terkejut dengan pengakuan Martin waktu itu, ternyata akulah yang telah menjadi orang ketiga di antara mereka. Aku yang selalu ingin membalas budi, malah semakin berhutang terhadapnya. " Rey terlihat sangat menyesal, raut wajahnya tampak frustasi.
****
Next ya....
jangan lupa
LIKE
__ADS_1
KOMENT
DAN VOTE SEBANYAK - BANYAK NYA.