Destiny Of Love

Destiny Of Love
Permintaan Terakhir


__ADS_3

Setelah sampai di rumah sakit Martin dan Gisella, kedua nya masuk ruang ICU. Rey yang bertanggung jawab ke pihak rumah sakit atas kedua orang tersebut.


Nayla dan Rey menunggu di luar ruang ICU, dengan keadaan panik. Wajah Rey tampak lebih gusar dan Nayla yang menyadari nya mengerti dengan sikap kekasihnya itu, dia sudah tahu mengenai persahabatan Rey dengan Martin. Rey pasti sangat mengkhawatirkan sahabatnya itu, dan juga Gisella, Nayla berusaha untuk tidak cemburu lagi padanya, karena Rey sudah menyakinkan Nayla kalau Gisella hanya masa lalu nya saja.


" Tenanglah mas, mereka akan baik-baik saja" Ucap Nayla menenangkan hati Rey sambil menepuk pundak Rey yang kala itu sedang duduk menutup wajahnya dengan tangannya menopang di kedua lututnya.


Rey kemudian menoleh, dan menggenggam tangan Nayla " Terima kasih sayang, kau sudah ikut menemaniku di sini, aku sangat menyayangi sahabatku itu, walaupun dia pernah mengkhianatiku, tapi itu tidak akan merubah kasih sayang ku padanya. " Ucap Rey dengan wajah sendunya.


Nayla mengerti, dia hanya mengulas senyuman untuk menguatkan kekasihnya itu.


Tak lama Rere dan Ardi yang menyusul mereka tiba di rumah sakit, setelah menghubungi Nayla, Rere segera menuju ke ruang ICU sesuai yang di katakan Nayla.


" Bang Rey , Nayla...." Teriak Rere tak jauh dari ruang ICU.


Rey dan Nayla sontak menoleh ke arah Rere dan juga Ardi yang kemudian berjalan menuju tempat mereka berdua.


" Bagaimana keadaan mereka?" Tanya Ardi setelah mereka dekat dengan Rey dan Nayla.


" Mereka masih di tangani dokter " Jawab Nayla.


" Bang, apa kita akan tetap di sini ? dan tidak jadi pulang ? " Tanya Rere, dia masih merasa tidak senang, karena Rey masih peduli dengan nasib mantan kekasihnya.


Rey mendelik " Kalau kau mau pulang, pulang lah duluan. Abang akan tetap disini, sampai abang tahu kalau mereka baik- baik saja. " Jawab Rey dengan nada yang ketus.


Rere mengerutkan dahinya " Aku kan cuma bertanya, kenapa abang menjawabnya dengan emosi seperti itu " Decak Rere dengan kesal terhadap sikap kakaknya.


Suasana menjadi tegang, kakak beradik itu memang selalu berbeda pendapat sejak liburan kemarin jika berkaitan dengan mantan sang abang.


" Sudahlah Re, di dalam bukan cuma Gisella yang di rawat, masih ada Martin sahabat dari abangmu, Mas Rey sangat mengkhawatirkan dia. Lebih baik lo pulang dulu bareng Ardi, biar gue yang nemenin Mas Rey di sini." Tutur Nayla berusaha menenangkan suasana tegang itu.

__ADS_1


Rere mendengus, " Terserah deh, gue juga gak mau lama-lama di sini. " Ucap Rere sekenanya. Rey hanya diam mendengar celotehan adiknya itu, dia duduk di kursi tunggu dengan melipatkan tangannya di atas dada.


Rere pun mengajak Ardi pergi dari rumah sakit, tapi sebelum pergi Ardi meminta ijin pada Rey untuk membawa Rere pulang duluan, karena bagaimanapun Rere adalah adiknya Rey dan Ardi bukan lah siapa-siapa nya Rere. Rey mengizinkan Ardi mengantar Rere pulang duluan, dia juga menelepon Jordy dan memberitahu perihal kejadian yang menimpa sahabat dan mantan kekasihnya itu. Dan meminta Jordy untuk mengirimkanya sebuah mobil ke rumah sakit, karena tadi mereka menumpang di mobil Ardi.


Jordy yang mobil nya tersalip jauh dari mobil Ardi, tidak tahu jika Rey ikut dengan mobil ambulance yang membawa korban kecelakaan mobil yang dirinya juga lewati saat pulang dari villa, dia kira mobil Ardi yang menghilang dari pandangannya saat macet, sudah mendahului nya pulang ke kota asal mereka.


***


Tak lama setelah Rere dan Ardi pergi, dokter pun keluar dari ruangan ICU, Nayla dan Rey pun beranjak menemui dokter tersebut.


" Bagaimana keadaan mereka dokter ?" Tanya Rey.


Dokter membuka masker yang masih menutupi mulutnya " Mereka masih belum sadarkan diri pak, keadaan nya sudah stabil kalian boleh menemui mereka di dalam. " Ucap Dokter, lalu bergegas pamit meninggalkan ruang ICU tersebut.


Rey menghela nafas panjang, dia memegang dadanya yang terasa lega saat mendengar perkataan dokter barusan. Lalu mengajak Nayla untuk masuk menemui Martin dan Gisella.


Setelah masuk ke dalam ruangan terlihat Martin dan Gisella yang masih tak sadarkan diri dengan selang infus yang terpasang di tangan dan selang oksigen yang menutupi hidung mereka, suara mesin fentilator yang mendominasi ruangan tersebut, membuat Nayla dan Rey selalu ingin memperhatikan jalannya garis yang bergelombang yang terpampang di layar mesin tersebut.


Rey menggenggam tangan Martin, wajahnya tampak penuh ketakutan, hal yang terjadi dulu kini terulang kembali, dulu di posisi yang sama dia juga melakukan hal seperti yang di lakukannya sekarang, Martin yang terbaring koma dan dia dengan setia duduk di sampingnya berharap Martin sadar dari komanya.


" Kenapa hal ini harus terjadi lagi Martin ?" Tanya Rey pada Martin yang tidak bisa mendengar apalagi menjawab pertanyaan Rey.


Nayla hanya menatap sendu wajah kekasih nya yang nampak frustasi, baru pertama kali dia melihat Rey menitikkan air mata.


Saat Rey menggenggam erat tangan Martin, tangan itu memberikan respon yang baik, dia bergerak dan membuat Rey terkesiap lalu mengusap puncak kepala Martin, berharap dia juga membuka matanya. Dan itu benar, perlahan Martin mengerjap, dia mencoba menyesuaikan matanya dengan cahaya lampu yang seakan menusuk di atas ruangan kecil itu.


Saat Martin membuka matanya dia melihat Rey yang sedang tersenyum senang melihat sahabatnya yang sudah sadar, dia pun menoleh ke arah sampingnya yang lain dan melihat Nayla juga melakukan hal yang sama. Samar-samar dia juga melihat wajah Gisella yang terbaring di ranjang yang bersebelahan dengannya dengan di tutupi tirai pembatas yang hanya menampakkan wajah Gisella dari tempat dia berada.


Martin menatap sendu wajah tunangannya yang masih belum sadarkan diri itu. Kemudian beralih kembali pada Rey yang menunggu reaksi dari sahabatnya yang baru sadar tersebut.

__ADS_1


" Rey..." Ucap Martin dengan suara seperti tertahan.


" Aku di sini Martin, kau tidak perlu khawatir, kau akan baik-baik saja. " Sahut Rey


Martin mencoba tersenyum, namun cairan bening tiba-tiba saja keluar dari pelupuk mata nya. " A..aku minta maaf Rey, " Ucap Martin dengan susah payah.


" Aku sudah memaafkanmu, kau jangan terlalu banyak bicara, istirahatlah ! " Seru Rey.


" Aaa...aku sudah tidak ku..kuat Rey, se..sepertinya waktuku tidak lama lagi. " Martin berucap dengan terbata.


Rey mengerutkan dahi, dia tak suka mendengar Martin berbicara seperti itu "Diamlah, kau jangan berkata macam-macam ! Dulu kau pernah selamat dan sekarang kau juga akan selamat. " Ucap Rey penuh dengan penekanan.


Martin mengeratkan genggaman tangannya pada Rey " Dengar kan aku Rey..." Martin menarik nafas nya dengan berat " Jika sesuatu terjadi padaku nanti, a..aku mohon padamu jagalah Gisella untukku. " Imbuh Martin sambil mengatur nafas nya yang terasa sesak.


Rey membulatkan matanya dengan sempurna, dia mendongakkan pandangannya ke arah Nayla yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan mereka berdua. Martin pun menoleh ke arah Nayla.


" Nona Nayla, aa..aku tahu kau adalah kekasihnya Rey, aa..ku mohon jagalah tunanganku bersamanya nanti. Di...dia tak punya si..siapa pun selain aa..aku. " Ucap Martin masih berusaha mengatur nafas beratnya.


Nayla tak tahu harus menjawab apa, dia hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan permintaan Martin tersebut.


Martin tersenyum, kemudian mengalihkan pandangannya lagi pada Rey " Ja...jangan biarkan dia sendirian Rey, se..tidaknya sampai dia menemukan cintanya yang lain. A..anggap saja ini permintaan ku yang terakhir, un..tuk memba..las budi yang kau selalu katakan dulu..." Ucap Martin dengan hembusan nafas yang sudah melemah, di iringi suara mesin fentilator yang semakin kencang dan menunjukkan garis lurus disana.


Rey semakin panik, saat melihat Martin juga kembali menutup matanya dengan rapat. Dia dengan cepat menekan tombol pemanggil darurat agar dokter segera datang.


Tak lama dokter dan perawat pun datang, dan meminta agar Rey dan Nayla untuk menunggu mereka di luar saja. Rey tampak frustasi dengan keadaan sahabatnya tersebut sambil mondar mandir tak jelas di depan pintu ruang ICU.


Nayla hanya diam, sambil memperhatikan setiap gerakan Rey yang membuat nya sedikit sakit kepala, suara Martin dan permintaan nya tadi masih terngiang-ngiang di telinganya. Akan kah dia bisa membiarkan wanita yang pernah menguasai hati Rey selama bertahun-tahun harus selalu berada dekat dengan kekasihnya sekarang. Pikiran buruk itu selalu berkecamuk di otaknya, dia sangat berharap Martin bisa selamat.


***

__ADS_1


Udah dulu ya.... jangan lupa like, koment , dan rate 5 bintang sama vote yang banyak juga nya ....


__ADS_2