Destiny Of Love

Destiny Of Love
Hanya masa lalu


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Nayla sudah bangun, dia terlihat sibuk mengepak baju-baju nya ke dalam tas ransel miliknya, Ana pun mengerjap, menyipitkan matanya yang terasa perih, mencoba menyesuaikan cahaya matahari yang menyusup di jendela kamar mereka, karena Nayla, Ana dan Rere tidur dalam satu kamar.


Ketika Ana membuka matanya dengan sempurna dia merasa aneh dengan apa Nayla lakukan, dia pun langsung mengoyang-goyangkan tubuh Rere dengan kasar.


" Re...bangun Re...." Seru Ana sedikit pelan, sambil mengoyang-goyangkan tubuh Rere yang masih meringkuk di atas kasur.


Rere menggeliat " Apaan sih?" Tanya nya dengan malas.


" Lihat tuh, Nayla mau kabur..." ucap Ana serius.


Rere yang mendengar itu langsung terperanjat bangun " Apa lo bilang ?" Ucap Rere terkejut.


Ana menunjuk ke arah Nayla yang sedang duduk di lantai di bawah lemari baju, Nayla terlihat sudah menutup resleting tas ransel miliknya, sepertinya kegiatannya mengemas pakaian sudah selesai. Melihat itu Rere membulatkan matanya dengan sempurna. Lalu turun dari ranjang dan menghampiri Nayla.


" Lo lagi ngapain?" Tanya Rere sambil menatap tajam tas ransel milik Nayla.


Nayla terkesiap, tak tahu Rere sudah bangun tapi tiba -tiba sudah ada di depannya.


" Bikin kaget aja sih, " Nayla memegang dadanya karena kaget.


" Lo lagi ngapain, tas ransel nya mau di bawa kemana? " Rere mengulangi pertanyaannya, lalu dia melangkah menuju pintu lemari dan membukanya, melihat baju-baju Nayla yang sudah tidak ada. " Gue udah cape-cape ya semalam mindahin baju-baju lo ke dalam lemari dan sekarang lo masukin lagi ke dalam tas, maksud lo apa ?" imbuh Rere sedikit emosi.


Nayla berdiri kemudian berjalan menuju sofa dan mendudukan tubuhnya disana " Gue ga nyuruh lo ya semalam, gue kan udah bilang, gue mau pulang...eh, lo malah masukin baju gue ke lemari. " Ucap Nayla dengan santai.


" Lo masih marah Nay, bukannya semalam dah jelas yah..? " Rere merasa heran dengan tingkah sahabatnya kali ini, tidak biasa-biasanya Nayla bersikap egois.


" Iya...memang sudah jelas, sangat jelas. " Nayla menekankan ucapannya penuh dengan arti yang tersirat.


Rere mengernyit dahi, tak mengerti dengan ucapan Nayla " Gue gak ngerti Nay, kalau lo udah ngerti, kenapa masih pengen pulang " tanya Rere sambil mendudukkan tubuhnya di samping Rere.


Nayla tersenyum " Lo kan selalu bilang, kalau acara liburan ini buat ngerayain jadian gue sama abang Lo, kayaknya gue mesti berpikir ulang buat jadiin dia pacar, sebelum perasaan gue lebih dalam buat abang lo. " Tutur Nayla.


Rere semakin tidak mengerti, dia mengusap wajahnya kasar " Gue bingung, lo ngomong apaan sih?"


" Gue cuma gak mau memulai sesuatu yang bakal melukai hati gue pada akhirnya. " Nayla menghela nafas, sejenak berpikir " Gue udah pikirin semalaman, abang lo belum bisa ngelupain mantannya, lo lihat sendiri kan ? saat dia pertama kali melihatnya, matanya tidak bergeming sedikitpun, dan dia langsung lupa kalau gue ada di sana. Gue yakin dalam hatinya gue cuma sampingan dan gue gak butuh cinta sampingan seperti itu. " Imbuh Nayla sambil memejamkan matanya.


" Lo salah paham Nay, lagian Gisella udah mau nikah juga kan? abang juga gak bisa balikan sama dia. " Ucap Rere meyakinkan.


" Gue yakin sama perasaan Gisella, tapi gue gak yakin sama perasaan abang lo " Nayla masih ragu dengan cinta Rey.


Rere terdiam, begitupun Ana yang masih duduk terpaku di atas ranjang.


Nayla menatap Rere dan Ana bergantian, kemudian dia tertawa " Hahahha... serius amat sih wajah kalian. " ucap Nayla di sela tawanya.


" Sialan...lo ngerjain gue yah ?" hardik Rere, sambil memukul bahu Nayla. dan juga mendapat lemparan bantal dari Ana.


" Jahat loh Nay..." Teriak Ana.


Nayla mencoba menahan tawanya " Sorry ... Sorry, gue cuma kepikiran bikin drama pagi aja " Ucap nya masih menahan tawa.

__ADS_1


" Cepetan kalian mandi, kita udah di tunggu sarapan sepertinya, tadi bi inah ngetuk pintu ngajak sarapan, tapi tidur kalian udah kayak kebo, heran gue susah banget bangunnya. " imbuh nya kemudian.


Rere beranjak berdiri " Awas lo Nay, jangan sampai sandiwara lo tadi jadi kenyataan " ancam Rere dengan menyipitkan matanya.


Nayla hanya tersenyum tipis, dalam hatinya memang benar ada keraguan, tapi dia mencoba untuk tidak menunjukkannya pada siapapun, dia akan melihat dan menilai sendiri keraguannya tersebut, hingga pada akhirnya Nayla tahu, perasaan Rey yang sebenarnya pada diri Nayla.


****


" Waduh....ini para gadis, kenapa jadi duluan para cowok ganteng ya bangun nya. " Ledek Ardi saat ketiga gadis itu sudah ada di meja makan. Mereka hanya cengengesan, lalu menarik bangku masing-masing kemudian mendudukinya.


Nayla masih canggung saat melihat Rey, dia malu karena semalam dia sudah salah paham pada Rey, walaupun ada sedikit rasa curiga di hatinya, tapi Nayla mencoba menepis perasaan itu. Rey makan dengan tenang sambil mata nya tak henti menatap Nayla.


" Kita ke pantai ya abis ini..." Seru Rere sambil mengunyah makanannya.


" Gue mau berenang " Ucap Ana menanggapi


Jordy tak luput memandangi wajah Ana, bibirnya selalu membentuk senyum yang penuh arti. Nayla sadar akan hal itu, dan sedikit memiringkan tubuhnya ke arah Rere yang duduk di sampingnya.


" Re,, lo lihat tuh kak Jordy, matanya ngarah ke Ana terus " Bisik Nayla di telinga Rere.


Rere menoleh ke arah Jordy yang sedang senyum-senyum sendiri sambil menatap Ana, kemudian melihat Ana yang sedang asyik melahap makanannya.


" Ana nya sadar gak sih ?" bisik Rere kemudian.


" Gue gak tahu " jawab Nayla.


" Ehem..." Rey berdehem, membuat Nayla menjauhkan tubuhnya dari Rere. " Kalian ngapain bisik-bisik ?" Tanya Rey penasaran.


Rere terkesiap " Ah...iya bang, gak ada apa-apa kok, Nayla cuma pengen ke pantai saja. " ucap Rere gugup.


Rey mengangguk dan kembali meneruskan makannya " Nay, nanti abis sarapan aku mau bicara " Ucap Rey sambil menguyah makanannya.


Nayla mengerjap " Iya...mas " Jawab nya.


Tak lama mereka pun meyelesaikan sarapannya, Rere dengan heboh nya mengajak semua nya ke pantai. "Ayo lah,, kita ke pantai lagi.." Ajak Rere.


" Pergilah duluan, nanti abang dan Nayla menyusul. " Ucap Rey


Rere dan Ana pun menyetujui, termasuk Jordy. Tapi tidak dengan Ardi, wajahnya nya terlihat muram, dia sebenarnya tidak rela meninggalkan Rey dan Nayla berduaan di villa, tapi apa mau di kata. Kini, Nayla sudah menjadi kekasih Rey, Ardi hanya bisa mendoakan agar Nayla bisa bahagia bersama Rey.


Mereka pun pergi ke pantai, kecuali Rey dan Nayla. Keduanya duduk di sofa di ruang tengah villa itu. " Mau ngomong apa ?" Tanya Nayla tanpa basa -basi.


Rey pun menggeser tubuhnya mendekati Nayla, Nayla pun reflek menjauh, dia harus tetap waspada, karena mereka cuma tinggal berdua, Nayla selalu ingat pesan ibunya.


" Jangan dekat-dekat, kita cuma berdua " Pinta Nayla sedikit khawatir.


Rey tersenyum menyeringai " Takut banget sih, aku tidak akan macam-macam kok, cuma semacam aja. " Ucap Rey dengan tatapan penuh arti.


Nayla mengerti dengan tatapan itu, Rey meminta sesuatu yang mereka lakukan di rumahnya dulu. " Enggak.." Tolak Nayla cepat.

__ADS_1


Rey mengernyit " Dikit doang " bujuk Rey.


Nayla mendorong tubuh Rey " Aku masih kesal sama kamu mas, soal semalam ." Seru Nayla.


Rey menyipitkan matanya, kemudian tertawa "Hahahaha,,.. "


Nayla mengernyit " Kenapa ketawa ?" Tanya nya dengan kesal.


" Kamu lucu sekali jika sedang cemburu.." Ucap Rey menghentikan tawanya.


Nayla merengut, " Aku tidak cemburu " bantah Nayla sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain dan menggembung kan pipinya, membuat Rey semakin gemas melihatnya.


cup...


Rey mencium pipi Nayla, sehingga membuat Nayla terkesiap dan membulatkan matanya dengan sempurna " Ih....kebiasaan, suka nyolong-nyolong " Ucap Nayla sedikit tersipu.


Rey tersenyum " Tapi suka kan ?" Goda nya.


Pipi Nayla sedikit memerah, " Aku mau tanya " Seru Nayla.


" Tanyalah.." sahut Rey


" Mas Rey, masih mencintai Gisella kan?" tanya Nayla dengan hati-hati.


Rey tertegun, matanya mengerjap beberapa kali. " Kenapa bertanya seperti itu ? aku bahkan sudah melupakannya. " Ucap Rey dengan serius.


Nayla berdecak, " Kalau kau sudah lupa, mas Rey tidak akan mengingatnya saat ketemu lagi. " Seru Nayla merasa di bohongi.


Rey tersenyum miring " Maksudku, aku sudah melupakan cinta ku untuknya, dia telah pergi menentukan pilihannya sendiri. Dan aku dengan pilihan ku sekarang. Yaitu kamu " Goda Rey sambil mencondongkan wajah nya mendekati Nayla, Nayla pun dengan cepat menarik kepala nya ke belakang.


Tapi tiba-tiba Rey berdiri " Ayo kita ke pantai, aku cuma mau mengatakan hal itu padamu " Ajak Rey sambil mengulurkan tangannya sebelah.


Nayla mengerjap bingung " Hal yang mana ?" Tanya nya masih belum mengerti.


Rey kembali membungkukkan setengah badan nya dan mendekati wajah Nayla, kali ini Nayla tidak menjauh sehingga membuat jarak wajah mereka begitu dekat. Mata mereka sejenak beradu pandang " Aku akan tetap selalu mencintaimu, apapun yang terjadi, Gisella hanya masa laluku, kau adalah masa depanku sekarang " Ucap Rey lirih dengan nafas yang menderu, dan jantungnya kini berdetak tak karuan, dia selalu tak bisa menahan hasrat nya jika sudah menatap manik-manik mata Nayla yang indah itu.


Rey pun dengan cepat mengecup sekilas bibir Nayla yang ranum, lalu menegakkan kembali tubuhnya. " Ayolah...sebelum aku berubah pikiran, dan melakukan apa yang ku inginkan saat ini padamu " Ucap Rey mencoba menahan hasrat nya yang dalam.


Nayla terkesiap, dia masih memegang bibirnya yang sedikit basah. Lalu beranjak dengan cepat saat dia dapat mencerna ucapan Rey barusan membuat nya merinding tak karuan.


" Gue gak boleh berduaan terus sama dia, bisa-bisa.... " Gumam Nayla dalam hati, pikirannya mulai kemana-mana.


" Mikir apaan sih? " Rey mengusap wajah Nayla, sehingga membuyarkan pikiran nya.


" Tidak apa-apa , ayo pergi " ucap Nayla dengan gugup.


Rey menggenggam tangan Nayla dengan erat, lalu mengajaknya pergi untuk menyusul yang lainnya ke pantai untuk bersenang-senang.


***

__ADS_1


Maaf ya readers up nya lama, author nya lagi ada pekerjaan dulu...


Jangan lupa LIKE, KOMEN DAN VOTE YANG BANYAK YA... salam hangat dari author.


__ADS_2