
Rey segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit, dirinya begitu khawatir saat mendengar kabar bahwa istrinya tiba - tiba pingsan, ada sedikit keraguan dalam hatinya, berhubung istrinya adalah seorang wanita tangguh, mengapa bisa pingsan. Mungkin ini hanya lelucon yang di buat oleh adiknya Rere. Begitu pikirnya, tapi tetap saja hatinya tak bisa tenang sebelum melihat istrinya baik - baik saja.
Entah apa yang ada dalam pikiran Rey, masih sempat dia berpikir itu hanyalah lelucon karena istrinya seorang jagoan istrinya tidak bisa pingsan, apa dia lupa bahkan istrinya pernah hampir mati karena saking jagoan dan tangguhnya wanita itu. Dasar si Rey !
Sesampainya di rumah sakit Rey memberikan kunci mobilnya pada penjaga disana, dan menyuruhnya untuk memarkirkan mobil tersebut karena saking paniknya. Dengan langkah gontai dia bergegas ke ruangan IGD tempat istrinya mendapatkan perawatan. Dia mengabaikan setiap orang yang memberi hormat bahkan menyapa sang atasan. Pikiran Rey hanya tertuju pada Nayla saja.
Ingin rasanya dia memaki seluruh dokter bahkan adiknya sendiri, bisa - bisanya seorang istri pemilik rumah sakit hanya di rawat di ruang IGD saja, bukankah di sana ada fasilitas VIP.
Rey dengan kasar membuka pintu ruangan IGD lalu menyapukan pandangannya ke setiap sudut ruangan, membuat perhatian semua orang di ruangan itu tersita padanya. Di ruangan itu ada empat buah tempat tidur pasien, hanya di sekat oleh tirai saja, dan semuanya ada yang menempati. Beberapa perawat dan seorang dokter sedang memeriksa pasien lain.
" Mas Rey . " Panggil Nayla yang sedang berbaring di tempat tidur pasien. Kebetulan kasurnya berada sejajar dengan pintu masuk. Kini Nayla telah sadar dari pingsannya. Rey langsung menghampiri tubuh istrinya yang terbaring lemah di tempat tidur rumah sakit, dengan selang infus di tangannya. Di ruang bersekat itu Nayla hanya di temani oleh Rere saja.
" Kenapa dia di rawat di sini ? memangnya ruang VIP sudah penuh ? " Tanya Rey menatap tajam pada adiknya. Pertanyaan Rey tersebut membuat Nayla mengernyit heran, Suaminya itu, bukannya menanyakan keadaan istrinya yang terbaring sakit malah mempermasalahkan ruangan.
" Mas ini kenapa sih ? aku gak apa - apa, ngapain di rawat di ruang VIP ! " Sahut Nayla merasa tak senang dengan tingkah suaminya.
" Kamu sakit sayang, kalau baik - baik saja kenapa harus di infus . " Ujar Rey sambil duduk di samping Nayla dan menggenggam tangannya.
" Nayla cuma dehidrasi aja bang. " Sahut Rere ikut menimpali, merasa kesal dengan sikap abangnya yang berlebihan.
" Dehidrasi ? " Rey mengernyit heran.
" Memangnya kamu ngapain aja jam istirahat tadi ? gak makan ? " Imbuh Rey pura - pura tak tahu apa yang di lakukan istrinya tadi yaitu menemui Gisella di penjara.
Nayla merasa terjebak, menatap mata sang suami yang penuh dengan tanda tanya. Haruskah dia berkata jujur sekarang. Apa dirinya pingsan akibat kualat karena telah berbohong pada suaminya. Hanya senyuman kikuk yang dapat Nayla lontarkan untuk menjawab pertanyaan suaminya itu.
" Yeah... Di tanya kok malah senyum - senyum ? Ngapain aja tadi ? " Rey mulai tak sabar, dia ingin mendengar kejujuran istrinya.
" Tunggu... tunggu ! Bukannya tadi kalian makan bareng ya ? " Rere yang merasa ada yang aneh abangnya bertanya seperti itu ikut berbicara, bukannya tadi Nayla bilang mau makan bersama abangnya tersebut. Nayla mengerutkan dahi, dia benar - benar terjebak dalam kebohongan yang dia buat sendiri.
" Nayla... ? " Kini kedua pasang mata sengit itu tertuju padanya.
Nayla menelan salivanya yang terasa kering, dua orang di sampingnya kini sedang menunggu penjelasannya. Apa aku pura - pura pingsan lagi saja ya ? Batin Nayla.
__ADS_1
Dan Nayla benar - benar melakukannya, dia memejamkan matanya, pura - pura tak mendengar pertanyaan mereka. Hal yang paling bodoh yang pernah dia lakukan, kebohongan memang akan terus di tutupi dengan kebohongan. Jika orang tersebut tak mau berkata jujur.
" Jangan pura - pura tidur, aku tahu kamu bohong. Cepet bangun ! " Seru Rere mulai kesal dengan tingkah kekanakan sahabatnya itu.
Nayla membuka sebelah matanya, sekedar mengintip apakah raut wajah dua orang tersayangnya itu sudah tidak terlihat menakutkan. Rere semakin tidak sabar, dia menyentuh kaki Nayla, berniat hendak mengkelitiki dia.
" Kalau gak mau bangun, aku kelitik ya ! " Ancam Rere sudah siap dengan posisinya.
" Jangan... jangan ! " Nayla sontak membuka matanya dengan sempurna. Rey hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap polos istrinya itu.
" Kamu kenapa sih sayang, ada yang di sembunyiin dari aku ya ? " Tanya Rey penuh tatapan selidik.
" Ehm.... " Nayla mulai gugup, mungkin sudah saatnya dia berkata jujur pada suaminya itu.
Tapi saat Nayla hendak berucap sesuatu, seorang perawat datang menemui Rere.
"Permisi ... ini hasil laporan pemeriksaan lab saat dokter Nayla pingsan tadi." Ucap suster itu sambil memberikan kertas laporannya.
Rere menerimanya. "Terima kasih Sus, kamu boleh pergi!"
Rere dengan fokus membaca isi hasil laporan tersebut, terlihat Rere mengerutkan dahinya, lalu beralih menatap intens pada sosok Nayla.
" Ada apa ? kenapa reaksi mu seperti itu ? apa isi laporannya ? " Rentetan pertanyaan terlontar dari mulut Rey yang juga memperhatikan Rere saat membaca laporan itu.
Rere menoleh ke arah abangnya, lalu beralih lagi pada Nayla. " Kamu tuh ya, sejak kapan kamu jadi pinter bo'ong ? Kalau terjadi sesuatu sama anak kamu gimana ? pergi keluar tanpa izin abang, panas terik gini. Pantesan aja pingsan." Omel Rere panjang lebar.
Eh..tunggu ! gimana - gimana tadi, anak ? Nayla gak salah denger kan ? dirinya kan belum punya anak, anak siapa yang Rere maksud ?
" Anak ? " pertanyaan itu keluar bersamaan dari mulut Rey dan juga Nayla. Sekilas mereka saling tatap. Kemudian menjurus ke arah Rere menunggu konfirmasi ucapannya tadi.
" Nih baca ! kamu tuh lagi hamil baru tiga minggu. " Rere menyodorkan kertas laporannya pada Nayla, dan dengan cepat Nayla menyaut surat laporan pemeriksaannya itu, lalu membacanya dengan seksama.
"Beneran, Nay?" Tanya Rey yang juga penasaran.
__ADS_1
"Gak percayaan banget sih sama adik sendiri." Ketus Rere sambil melipatkan tangannya di atas dada.
"Abang gak nanya kamu," Ucap Rey tidak peduli. Masih fokus menunggu jawaban istrinya.
" Iya.. Rere benar mas. " Jawab Nayla sambil tersenyum kecil, merasa lucu dan tak percaya ternyata dirinya bisa juga hamil. Ya iyalah Nayla, berani berbuat harus mau menanggung akibat nya. Ups... berbuat apa ya kira - kira ???
Tak terelakkan lagi Rey senang bukan main, mendengar berita itu rasa kesalnya pada istri nya di lupakan seketika. Dia langsung memberikan kecupan bertubi - tubi di wajah istrinya itu. Membuat Nayla malu pada sosok Rere yang berdiri gigit jari melihat kemesraan dua insan di hadapannya. Untungnya ada sekat yang menghalangi mereka dengan pasien - pasien lain, kalau tidak kemesraan mereka akan menjadi tontonan gratis disana.
" Woy... masih di rumah sakit ini, pulang sana ! lanjutin deh di rumah. Tapi inget ya bang, gak boleh sering - sering ! janin nya masih rentan. " Celetuk Rere yang merasa kepanasan.
Rey mendongak menoleh pada adiknya.
"Masa gak boleh, Re? Selama sembilan bulan?" Rey mendengus, perasaan kecewa terpancar di wajahnya.
"Gak sembilan bulan juga sih bang, tiga bulan pertama aja. Selanjutnya terserah abang deh! Pelan-pelan aja mainnya." Ucap Rere seakan mengerti apa yang di maksud oleh abangnya.
Rey tersenyum senang adiknya memang pintar, mampu membaca pikirannya saat ini. Tapi tunggu, kenapa Rere langsung mengarah kesana? Apa dia tahu abangnya adalah si mesum yang tidak tahu waktu saat meminta jatahnya, Rey sejenak menatap adiknya dengan tatapan curiga.
"Apa sih ngeliatin aku kayak gitu bang, aneh ih?" Decak Rere yang tak sadar dengan ucapannya barusan.
"Mas, aku mau ngomong sesuatu." Ucapan Nayla mengalihkan perhatian Rey dari Rere kembali pada istrinya.
"Apa?" Tanya Rey.
" Masalah mba Gie. " Nayla menggigit bibir bawahnya karena takut, dia bingung harus memulai dari mana ceritanya itu.
Mendengar nama itu di sebut, raut wajah Rey kembali datar, merusak mood saja istrinya itu bisa gak sih gak bahas hal itu dulu. Rey sedang ingin berbagi kebahagiaannya hari ini. Dan melupakan hal - hal yang membuatnya kesal.
" Mas udah tahu, dan jangan bahas itu dulu ! " Rey mengelus puncak kepala Nayla dengan lembut sambil tersenyum pelik, karena teringat kembali dengan si wanita licik.
Nayla tersentak mendengar suaminya berucap sudah tahu, berarti dia tahu jika Gisella di penjara, dari mana suaminya bisa tahu. Ah... Nayla merasa sedang dalam masalah besar, Rey tidak akan mengampuni kesalahan Gisella nantinya, padahal beberapa lagi dia akan bebas. Tapi apa daya Nayla hanya bisa pasrah berharap suaminya mendapat pencerahan agar bisa memaafkan Gisella.
***
__ADS_1
Happy reading 😉😉
jangan lupa Like , comment , favorit dan vote nya Ya...