
"Alexa, bangun dong sayang! Mau sekolah gak? Lihat tuh Abang kamu udah ganteng! Udah siap berangkat." Nayla mengguncang tubuh anak perempuannya dengan lembut. Tapi, anak gadisnya itu masih enggan untuk membuka mata.
Alexa, gadis kecil yang masih berumur tujuh tahun itu, hanya menggulirkan tubuhnya berbalik menghadap Nayla, tapi matanya masih tertutup dan mulutnya hanya mengeluarkan suara gumaman yang terdengar begitu malas.
Entah menurun dari siapa sifat malas anaknya itu, yang pasti Nayla tidak mau mengakui, karena menurutnya, ia adalah anak yang penurut dan tidak pernah membantah orang tua.
Nayla hanya bisa menggelengkan kepalanya, anak kembar perempuannya yang satu ini memang susah untuk diajak kerjasama. Padahal sang Abang yang lahir lebih dulu lima menit dari dirinya, sudah bersiap sejak tadi dengan baju seragamnya.
"Ma, siram aja pakai air, biar bangun!" Celetuk Axel yang sedang duduk, tapi tangannya sibuk memainkan ponsel sang Mama. Dan kedua matanya juga tertuju ke sana.
Nayla menoleh, menatap anak lelakinya yang satu itu. Wanita itu sungguh heran, punya anak kembar kok, sifatnya jauh berbeda. Padahal mereka dulu satu paket di dalam rahimnya.
Axel lebih rajin daripada saudara kembarnya itu, tapi pemikirannya melebihi anak seumurannya. Terlampau dewasa, dan yang satu ini juga berhasil membuat Nayla pusing kepala.
"Jangan main HP terus! Mending baca buku!" Perintah Nayla pada anak lelakinya itu.
"Ini juga lagi baca Ma, tuh lihat!" Axel menunjukkan layar ponsel pada mamanya, terlihat di sana artikel panjang yang tulisannya kecil-kecil, dan Nayla tidak bisa membacanya dengan jelas.
Hingga mengharuskan ibu beranak dua itu mendekati anak sulungnya, meraih ponsel dan membaca isi dari artikel yang anaknya baca.
Betapa terkejutnya Nayla, saat melihat artikel yang dibaca oleh anaknya yang terkesan berat. Bayangkan saja, anak sekecil itu sudah membaca bahasan tentang nilai tukar rupiah. Apa yang dia pahami dari bacaan itu? Untuk apa? Pelajarannya juga belum sampai ke sana.
"Kamu itu kebiasaan, bacaan begini itu hanya untuk Papa. Kamu bacanya pelajaran sekolah!" hardik Nayla sambil menutup link artikel tersebut. Lalu membawa ponselnya untuk ia sita.
Axel mencibir, "Itu juga pelajaran sekolah Ma, lagipula kalau Axel tahu harga rupiah. Axel bisa tahu kalau nanti mau nukerin dolar. Kali aja Mama sama Papa ngasih dolar buat uang saku aku."
Pernyataan selanjutnya dari mulut anaknya tersebut membuat Nayla kembali mengembuskan nafas kasar. Dirinya benar-benar harus extra sabar. Beginilah repotnya mempunyai anak kembar.
Tanpa menghiraukan ocehan anak lelakinya itu, Nayla kembali membangunkan putri tidur yang masih mendengkur. Harus bagaimana lagi Nayla membangunkannya? Apa iya harus disembur?
Suara decitan pintu yang terbuka mengalihkan perhatian Nayla dan Axel. Keduanya melihat sang Papa masuk ke dalam kamar anaknya tersebut.
"Lexa kok belum bangun sih? Ini udah jam berapa?" Seru Rey sambil menengok jam tangan yang sudah melekat di pergelangan tangannya itu.
"Tahu tuh Pa, tinggalin aja yuk!" Celetuk Axel, langsung menghambur memeluk papanya.
Rey mengusap kepala Axel dengan lembut, lalu tersenyum sambil mengurai pelukan sang anak. "Gak boleh gitu! Lexa 'kan adik Abang. Mana boleh ditinggalin!" tuturnya.
Axel mendengus, anak kecil itu mengerucutkan bibirnya sambil melipat tangannya di depan dada, lalu memalingkan muka.
"Anak kamu nih, susah banget bangunnya?" sungut Nayla.
"Hush ... anak kita, 'kan bikinnya juga berdua. Mana bisa jadi anak aku aja," kelakar Rey yang sontak mendapatkan cubitan di pinggangnya. Bukannya apa-apa, di sana masih ada Axel. Anak itu bisa saja jadi penasaran dan ujung-ujungnya pasti akan bertanya. Setelah itu, mereka mau jawab apa?
__ADS_1
"Jangan bicara sembarangan! Gak baik didenger anak-anak!" geram Nayla, sambil menggertakkan gigi putihnya.
"Axel udah denger, Ma," sahut Axel yang kini sudah duduk di sofa, menunggu sang adik yang malasnya luar biasa.
Astaga ... Nayla kembali mendesah pasrah, kelakuan mereka benar-benar membuatnya naik darah.
Rey hanya terkekeh melihat kekesalan istrinya. Tingkat kesabaran lelaki ini lebih tinggi dibandingkan dengan sang istri. Jadi, dirinya lebih telaten dalam membimbing anak-anaknya.
Alexa mengerjapkan kedua matanya, saat sayup-sayup ia mendengar suara papanya berbisik di telinganya.
"Bangun, Nak!" seru Rey sambil mengusap kepala anaknya dengan lembut.
Hanya sekali panggilan itu, Alexa langsung membuka matanya. Lalu tersenyum pada sang Papa yang kini berjongkok men-sejajarkan tubuhnya dengan tempat tidur Alexa.
"Pagi, Pa!"
"Udah siang ini, Sayang. Cepat mandi!" Perintah itu keluar dari mulut Nayla, nadanya terdengar menyentak di telinga anak gadisnya.
Alexa beranjak duduk, mengucek matanya, lalu menggaruk daun telinganya. Sudah terbiasa baginya mendengar omelan sang Mama.
"Iya, Mah," sahut Alexa dengan nada malas.
"Papa tunggu di meja makan, ya!" seru Rey sambil beranjak berdiri, lalu mengacak rambut Alexa dengan gemas.
Alexa menganggukkan kepalanya lemah, lalu beranjak berdiri dan bergegas untuk mandi. Rey mengajak Axel menunggu adiknya di luar saja. Sedangkan Nayla, wanita itu sibuk mempersiapkan baju seragam anaknya, sambil menunggu Alexa membersihkan badannya.
Baru lima menit Alexa masuk ke kamar mandi, gadis kecil itu sudah keluar lagi. Dengan menggunakan handuk yang terlilit di bagian dadanya.
"Cepet banget! Mandi gak?" tanya Nayla saat melihat anaknya tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya. Dia pun membalikkan tubuhnya, lalu berjongkok agar sejajar dengan tubuh anaknya.
"Sudah kok, Mah. Ini aku pakai handuk," unjuk Alexa pada handuk yang dipakainya.
"Tapi kok, badan kamu masih kering?"
"Udah Lexa keringkan tadi di dalam pakai handuk. Makanya gak basah," jawab anak itu.
Mengernyitkan keningnya dalam, Nayla sebenarnya curiga dengan keterangan anaknya. Tapi, tidak ada alasan bagi wanita itu untuk tidak percaya. Akhirnya dia pun mengangguk saja. Lalu membantu anaknya untuk memakai seragam sekolahnya.
Drama pagi seperti ini, hampir setiap hari Nayla perankan. Entah kenapa anak-anaknya itu lebih menurut kepada papanya. Apa mungkin Nayla terlalu kasar dalam berkata atau kesabaran suaminya yang memang luar biasa.
Menghadapi anak kembar yang mempunyai sifat bertolak belakang. Membuat kesabaran wanita ini terus diuji. Bagaimana dengan keinginan Rey yang ingin tambah momongan lagi. Hah, melahirkan saja sendiri!
***
__ADS_1
Maafkan bonus partnya kelamaan, itu tadi terjadi kesalahan ya, part awal malah aku publish ulang. Jadi repost deh di part akhir. Nanti aku usahakan untuk bisa up lagi kedepannya. Terimakasih.
Sekalian visual gambar pemeran, ya. Foto hanya ilustrasi, jika kurang berkenan silakan berimajinasi sendiri 😅🥰
Nayla Agustyna
Dokter cantik jago beladiri
Reydian Rahadi
Si ganteng kalem yang susah move-on
Renata Rahadi (Rere)
Sahabat baik Nayla
Ardi
Katanya temen, tapi demen 🥰
Dan ini si kembar Axel dan Alexa
Aku ucapkan terimakasih atas dukungan kalian semuanya 🙏, novel ini masih banyak kekurangannya. Dan diusahakan sedikit-sedikit akan direvisi dari segi alur, penulisan dan PUEBI-nya. Karena aku juga masih belajar.
Jika berkenan, baca juga novelku yang lainnya, ya :
MY LOVELY IDIOT HUSBAND (tamat)
MY STUBBORN BOSS (on going)
Follow IG @amih_amy, jika ingin tahu karyaku yang lainnya. Bye-bye ....
Sampai jumpa di novel selanjutnya 👋👋👋🙏
__ADS_1