Destiny Of Love

Destiny Of Love
Pacar siapa?


__ADS_3

Rey memegang dagunya sambil mengangguk- anggukkan kepala nya pelan, tanpa Nayla sadari Rey melangkah maju ke depan. Lalu dia mencondongkan wajah mendekati telinga Nayla. "Terimakasih." Ucapnya lirih.


Mendengar suara yang begitu dekat, kepala Nayla sontak menoleh. Membuat bibir Rey menyentuh sedikit pipi Nayla. "Eh..." Nayla langsung menarik mundur kepalanya, walaupun mungkin sudah terlambat karena modus Rey sudah berhasil dengan baik.


Nayla memegang pipinya sambil menatap Rey dengan tatapan tajamnya, terlihat dari semburat merah yang memancar dari wajahnya. Menandakan gadis ini benar-benar merasa malu.


Rey menjauhkan kepalanya sambil mengangkat kedua tangannya ke udara. "Aku tidak sengaja, aku cuma ingin bilang terimakasih." Ucapnya membela diri.


"Harusnya tadi lebih miring sedikit, mungkin bisa kena yang lain." Rey bergumam dalam hati, sambil mengulum senyum di bibirnya yang terlipat ke dalam.


Nayla tak memberi komentar, ia menghela nafas panjang dan membuangnya perlahan, lalu berjalan melewati Rey yang masih mematung di tempatnya. Sungguh butuh banyak kesabaran untuk menghadapi sosok lelaki di hadapannya itu.


"Pakai bajumu!" Seru Nayla dengan posisi membelakangi Rey.


Rey menurunkan kedua tangannya, berjalan mendekati Nayla. "Bukankah kamu akan mengganti perban dan mengobati luka ini, bagaimana bisa jika aku memakai baju?" Ucap Rey sambil menunjuk luka di perutnya yang masih terasa ngilu.


Mau tidak mau Nayla pun menoleh lagi, membalikkan tubuhnya menghadap laki-laki itu. "Tapi kan bisa jangan cuma pakai handuk aja? Gak enak lah di lihat orang." Seru Nayla memberi saran.


Rey menyapu pandangannya ke sekeliling kamar. "Gak ada orang lain tuh. Cuma ada kita berdua aja disini." Kelakar Rey sambil melangkah maju ke arah Nayla.


"Jangan macam-macam!" Nayla menggertak dengan nada memperingati. "Aku bisa membuat lukamu lebih parah dari ini." Imbuhnya membuat langkah Rey langsung terhenti.

__ADS_1


"Jahat banget." Cebik Rey, lalu mengalihkan langkahnya ke arah lain.


"Aku pakai celana pendek, kamu gak perlu takut jika handuknya sampai terlepas. Gak akan ada yang bisa kamu lihat." Tutur Rey sambil mendudukkan tubuhnya di tepi tempat tidur.


Nayla menghela nafas lega, lama-lama berdua dengan manusia ini rasanya dadanya semakin sesak saja. "Terserah abang saja lah, dimana kotak obat nya?" tanya Nayla sambil menadahkan telapak tangannya.


Rey sejenak menatap Nayla, merasa heran dengan kepolosan yang dimilikinya. Apa iya Nayla tidak sedikit pun tergoda? Padahal banyak wanita yang ingin sekali mempunyai kesempatan untuk berdua dengan laki-laki yang terkenal dengan pesonanya.


"Kotak obatnya ada di laci meja. Ambil saja!" Rey mengangsur tubuhnya mendekati kepala ranjang untuk menumpuk bantal untuk menumpu kepalanya agar bisa lebih nyaman.


Nayla berjalan mendekati meja, lalu membuka laci mejanya dan mengeluarkan kotak obat. Nayla sejenak terdiam, saat melihat foto Rey bersama gadis itu lagi tepat di hadapannya. Ekor mata Rey menangkap sikap Nayla yang terpaku sambil memandang foto dirinya itu. Dengan cepat ia meraih foto itu dan langsung menyembunyikannya di bawah bantal.


Nayla pun mengernyit heran. Tatapan matanya mengikuti gerak tangan Rey yang menyembunyikan foto itu. "Takut banget, gak bakal di ambil kok." Seru Nayla sambil membawa kotak obat dan duduk di samping Rey.


Nayla mencebikkan bibir, tangannya sibuk membuka kotak obat lalu mengeluarkan perban dan obat-obatan. "Aku gak nanya." Seloroh nya bersikap biasa saja. Nayla berpikir jika Rey seperti ketakutan saat ketahuan sudah punya pacar, sehingga dia begitu kelabakan saat Nayla melihat foto itu.


Entah kenapa Rey merasa kecewa, tidak adakah sedikit pun Nayla menyukai dirinya? Atau gadis ini sangat pandai berpura-pura? Rey menatap sendu wajah Nayla. Gadis itu mulai membuka perban yang masih membalut perut Rey, rasa sakit di perut nya seakan terbiaskan oleh rasa sakit di hatinya kini. Rey merasa kalah tapi ia tak akan menyerah.


"Astaga .... Luka nya terbuka lagi bang, sepertinya gara-gara hendak terjatuh tadi ya?" Seru Nayla yang tercengang saat melihat luka Rey sedikit terbuka lagi. Hingga darah segar mulai keluar dari bekas jahitan luka itu.


Rey meringis sambil menggigit bibir bawahnya karena menahan sakit. Saat kain kasar yang di baluti oleh cairan beralkohol itu mulai menempel di bagian lukanya. Nayla sedang membersihkan darah yang keluar dari sana. Untung saja tidak banyak, jadi tidak berbahaya.

__ADS_1


"Pelan-pelan dong!" Decak Rey yang merasakan rasa sakit yang semakin menghujam bagian perutnya.


Nayla melirik sekilas ke arah wajah Rey yang merengut. Bibirnya tertarik segaris merasa lucu dengan ekspresi wajah Rey yang tengah menahan nyeri. Tanpa menanggapi apa-apa Nayla kembali melanjutkan tugasnya.


"Apa kau sama sekali tidak menyukaiku, Nay?" Rey memberanikan diri untuk bertanya demikian. Ia tak bisa menahan gejolak batinnya yang terus saja memaksanya untuk di ungkapkan. Walaupun dulu ia pernah kecewa dengan jawaban gadis di hadapannya itu, tapi entah kenapa hatinya belum sepenuhnya percaya. Jika Nayla sama sekali tak punya perasaan sedikitpun terhadapnya.


Mendengar pertanyaan itu, Nayla sontak menghentikan aktifitasnya untuk mengobati luka Rey. Tangannya terasa lemas tak bertenaga, hampir saja kain kasar yang di pegangnya jatuh diatas perut Rey. Tapi pikirannya kembali tersadarkan oleh kenyataan jika Rey sudah punya pacar.


"Kenapa nanya gitu lagi?" Nayla berusaha tidak peduli, ia kembali melanjutkan tugasnya yang sejenak tertunda. "Udah punya pacar gak usah genit-genit sama cewek lain! Nanti ketahuan ceweknya baru tahu rasa." Imbuh Nayla tanpa mengalihkan pandangannya. Matanya tetap tertuju pada luka sedang ia periksa.


Rey mengernyitkan kening, otaknya gagal mencerna ucapan Nayla. "Pacar siapa?" Tanyanya sambil meraih tangan Nayla dan menghentikan aktifitas gadis itu.


Nayla sedikit tersentak dengan cekalan tangan Rey yang tiba-tiba, kedua manik-manik matanya terkunci oleh tatapan Rey yang begitu menghujamnya. Nayla menelan ludahnya dengan susah payah, ia merasakan jantungnya hampir meledak saking gugupnya. Bisa gak sih lelaki ini berhenti membuat hatinya resah?


Nayla sejenak memejamkan matanya, di iringi dengan helaan nafasnya yang terdengar tegas. "Pacar abang lah." Seru nya sambil menepis tangan Rey dengan kasar. Membuat Rey termangu dengan sikap Nayla yang tidak seperti biasanya. Nayla memang jagoan tapi selama ini sikapnya selalu lembut jika di hadapan orang-orang terdekatnya. Apa Rey hanya di anggap sebagai orang asing saja?


"Abang gak punya pacar." Sahut Rey menekankan.


Nayla mencebikkan bibirnya, "Udah ketahuan tetap aja bohong. Lalu di foto tadi tuh siapa? Gak mungkin kan itu foto Rere saat masih SMA?"


Mendengar itu membuat Rey jadi tertawa. Ia jadi tahu ternyata Nayla sedang cemburu. Nayla pun jadi merengut kesal. "Apanya yang lucu?" Decak nya sebal.

__ADS_1


***


bersambung...


__ADS_2