
Gedung ruangan yang tidak besar, langsung bergemuruh dengan tepuk tangan dan ucap syukur atas kebebasan Nayla. Betapa senangnya gadis itu, ia langsung melakukan sujud syukur di tempatnya.
Sebagai seorang ibu, Tina segera berlari menemui anak kebanggaannya itu. Diikuti oleh orang-orang terdekat Nayla lainnya yang berhamburan memberikan selamat dan memeluk tubuh mungil itu secara bergantian.
Semua orang tampak bahagia kecuali satu orang yang sejak tadi memperhatikan mereka di pojok ruang persidangan. Ia adalah Panji, sosok yang kalah dalam kasus ini.
Sorot matanya terlihat sendu. Entah kini dirinya sudah menerima kekalahan atau merasa di khianati oleh semua orang.
Bagaimana bisa Ana yang katanya sudah berhasil di sembunyikan malah datang bersama rivalnya di persidangan.
Tina terlihat bahagia sambil memeluk Nayla dan juga suaminya. Hal itu membuat gejolak kebencian yang ada dalam diri Panji semakin berkobar saja. Tangannya mengepal kuat. Dan rahangnya mengeras ketat.
Tina merasakan hawa dingin yang seakan menyelimuti tubuhnya. Seperti ada seseorang yang memperhatikan keberadaannya. Dengan mengalihkan pandangan ke kiri dan ke kanan Tina pun memastikan perasaannya.
Kedua bola mata Tina menyipit tajam saat ia menangkap satu orang yang sangat dia kenal. Tina terkesiap, ada desiran aneh dalam darahnya yang tiba-tiba meluap dengan sendirinya.
Matanya berkaca-kaca dan bibirnya tiba-tiba gemetar, suaranya seakan tercekat di tenggorokan. "Mas Panji?" Batin Tina
Keduanya pun terlibat adu pandang, sejenak teringat masa lalu yang kini menjadi kenangan. Kemudian Tina yang mengakhirinya dengan mengalihkan pandangan.
Panji sudah kalah, mungkin saatnya dia menyerah. Di dalam hati Tina sekarang sudah tidak ada namanya. Mungkin inilah akhir dari penantiannya selama ini. Tina sudah tidak menginginkannya lagi.
Panji beranjak berdiri lalu keluar dari ruang persidangan. Tina yang sebelumnya sudah tahu jika Panji lah dalang dari penjebakan Nayla pun sepertinya harus meluruskan semuanya. Dia tidak ingin dendam di antara mereka semakin berkepanjangan. Tanpa sepengetahuan suaminya Tina pun ikut keluar.
__ADS_1
"Mas panji tunggu!" Tina mengikuti Panji sampai ke tempat parkiran mobil milik lelaki itu.
Panji yang hendak membuka pintu mobilnya kemudian menoleh ke arah suara. Ia sedikit terperangah karena tidak menyangka jika Tina mengikuti dirinya. Ada kerinduan di dalam hatinya untuk memeluk tubuh wanita yang selama ini sudah mengisi hatinya itu.
Tapi apalah daya, semuanya sudah berbeda. Andai masa lalu itu tidak pernah ada, andai dirinya bisa tegas lebih cepat dengan keluarganya. Andai ia mempertahankan Tina. Andai.....
Hanya pengandaian yang kini lelaki itu punya. Hatinya tiba-tiba saja menciut melihat kebahagiaan yang terpancar dari sorot wajah Tina saat bersama dengan keluarganya.
Panji memejamkan matanya sejenak sebelum ia memberanikan diri untuk menghampiri mantan kekasihnya.
"Ada apa?" Tanyanya pura-pura cuek.
"Kenapa kamu jadi jahat seperti ini mas? dulu kamu adalah orang yang paling baik yang pernah aku kenal, kenapa kau tega melakukan semua ini?" Tina berkata langsung pada intinya. Dia benar-benar tidak terima jika anak gadisnya harus menderita.
"Aku memang jahat. Tapi kau lebih jahat Tina. Kau tahu? Saat aku menemuimu hari itu, aku ingin memberitahumu, jika orang tuaku sudah bersedia menerimamu menjadi istriku, tapi kau malah sudah menjadi istri orang, kau pikir itu tidak jahat? hatiku hancur saat itu Tina, apa kau tahu itu?"
Ungkapan perasaan yang selama ini terpendam oleh lelaki yang pernah mengisi relung hati Tina itu seakan menyuat luka lama yang sudah lama membeku.
Pikiran Tina melayang-layang pada memorinya saat hari pernikahannya dengan Dimas. Ia memang terlalu terburu-buru mengambil keputusan saat itu. Dan sekarang haruskah dia menyesal? Tidak, semua ini adalah takdir cintanya yang sudah lama di tuliskan. Sekarang sudah waktunya mereka menerima kenyataan.
"Aku minta maaf mas, aku tahu aku salah, aku tidak akan menyalahkanmu dengan apa yang kau lakukan saat ini, mungkin ini hukuman buatku, tapi ku mohon jangan pernah kau sakiti keluargaku lagi. Kita sudah tidak mungkin bersama, relakan aku! Terimalah kenyataan kalau aku bukan jodohmu." Tina menurunkan ego nya untuk memelas permohonan maaf pada lelaki yang sudah di sakitnya tersebut.
"Nasib memang sudah mempermainkan kita, tapi kita harus menerimanya. Jangan jadikan kebencian mu menjadi bumerang dalam hidupmu mas? Kau juga masih punya yang harus kau jaga hatinya. Aku akan menyuruh Rey untuk membebaskan anakmu juga. Ku mohon hiduplah dengan bahagia, karena itu juga akan membuatku bahagia." Tina berkata sambil terisak, semakin lama isakannya berubah menjadi suara tangis yang tak bisa lagi ditahannya.
__ADS_1
Tangisnya pecah di antara deretan mobil yang berjejer disana.
Panji menghampiri Tina, lalu merengkuh tubuh Tina ke dalam pelukannya. Dia sangat merindukan pelukan itu, hatinya pun mulai menghangat. Tina merasa tidak nyaman dengan pelukan itu, dia berusaha untuk melepasnya, tapi Panji menahannya.
"Biarkan aku egois untuk untuk kali ini! Aku ingin memelukmu seperti ini. Sebentar saja aku janji! Setelah ini aku akan pergi." Ucap Panji dengan lembut, Tina pun tak kuasa untuk menolak, sesungguhnya dia pun rindu akan pelukan itu.
Panji melepas pelukannya pada Tina "Sampaikan permohonan maaf ku pada anakmu!" Ucap Panji sambil menghapus air mata yang mengalir di pipi Tina. Setelah itu ia melangkah mundur sambil terus menatap Tina yang sedang sesegukan di sela tangisnya. Sampai akhirnya dia berbalik dan pergi meninggalkan Tina seorang diri.
Tanpa di sadari, Dimas yang berdiri di balik salah satu mobil yang terparkir menyaksikan semua adegan yang terjadi antara istri dan mantan kekasihnya itu, sebenarnya hati nya sangat sakit, tapi dia sengaja memberi ruang untuk mereka berdua agar saling mengungkapkan kemelut dalam hati yang sudah bertahun-tahun mereka pendam. Karena Dimas yakin, itu tak akan mengubah cinta Tina padanya sekarang.
Setelah Panji pergi Dimas menghampiri Tina. "Ibu ngapain di sini? Semua orang disana mencarimu." Ucap Dimas pura-pura tidak tahu apa-apa.
Tina tersentak dan langsung menghapus air mata yang tersisa di pipinya, dia pun menoleh. "Ah.... Ayah sejak kapan disini?" Tina merasa gugup takut suami nya melihat dia berpelukan dengan Panji.
Dimas memeluk Tina. "Ayah baru saja tiba, aku tahu kau sangat bahagia mendengar anakmu di nyatakan tak bersalah, sehingga kau ingin melampiaskan keharuan mu di sini.... Iya kan?" Dimas mengeratkan pelukannya, dia tidak ingin istrinya terus merasa bersalah.
Tina kembali menangis dan menyembunyikan wajah nya di dada bidang suaminya itu. "Sudah lah, ayo kita pulang! Yang lain sudah menunggu kita." Ajak Dimas sambil melepaskan pelukan Tina dan menghapus air mata wanita itu.
Tina hanya mengangguk tanpa suara, dan Dimas menggiring istrinya untuk kembali pada keluarga mereka sambil memeluk bahu istrinya.
***
Bersambung dulu ya gengs.... Jangan lupa tinggalkan jejak.
__ADS_1