Destiny Of Love

Destiny Of Love
Mulai Terpengaruh


__ADS_3

Acara wisuda pun di mulai terlihat para mahasiswa dan mahasiswi berderet memenuhi ruang depan aula gedung, mereka terlihat gagah dan anggun dengan menggunakan baju toga kebesaran dan para orang tua dan keluarga mereka duduk berjejer di belakangnya.


Setelah beberapa acara sambutan dari para petinggi dan beberapa susunan acara telah selesai di laksanakan, tibalah saatnya para mahasiswa dan mahasiswi melakukan simbol kelulusan mereka yang dilakukan oleh bapak Rektor yang memindahkan tali pada topi toga mereka dari kiri ke kanan, sambil memberikan piagam kelulusan mereka.


Gisella duduk di deretan depan diantara para wali murid, karena ikut bersama mama Rania yang termasuk dalam deretan orang-orang terpandang, dia duduk dengan santainya menyaksikan acara itu berlangsung, Gisella duduk di samping mama Rania. Saat nama Nayla disebut dan mendapat giliran maju ke depan Rania dengan hebohnya bertepuk tangan, membuat seorang ibu yang duduk di sebelahnya jadi menoleh penasaran. "Memangnya dia siapa, Bu Rania?" tanya ibu itu, yang kebetulan adalah teman sosialitanya Rania dan anaknya juga satu fakultas dengan Rere.


"Calon mantu," jawabnya singkat pandangannya terus menatap ke depan.


Mendengar itu Gisella menoleh pada Rania, lalu mengalihkan pandangannya pada Nayla


"Nayla sangat beruntung sekali, sepertinya mamanya Rey sangat menyukainya," gumamnya dalam hati.


Entah kenapa hatinya sedikit kacau, ada sesuatu yang mengganjal, dia kembali merasa kesepian. Gisella berpikir apakah ini balasan dari kesalahannya di masa lalu, karena telah mengecewakan Rey. Sehingga dia harus hidup sendirian bahkan yang menolongnya adalah orang-orang yang dia sakiti dulu.


Saat dia sedang termenung memikirkan nasibnya yang terasa pahit, tiba-tiba ibu yang tadi bertanya pada Rania sedikit mencondongkan tubuhnya dan menghalangi pandangan Rania ke depan, sambil memiringkan wajahnya menatap wajah Gisella "Ada apa sih, bu Rina? Sampai segitunya," decak Rania yang merasa terganggu.


Bu Rina menegakkan kembali tubuhnya. "Bu Rania, bukannya yang di sebelah itu Gisella Rosalia, pemilik butik Rosalia yang berada di komplek apartemen mewah yang terkenal itu?" tanyanya heboh.


Rania menoleh ke arah Gisella yang juga menoleh karena mendengar pertanyaan Rina yang sedikit keras. "Iya ..." jawab Rania datar.

__ADS_1


"Wah ... kok dia bisa ada di sini, Bu? Apa ada keluarganya yang kuliah di sini? Saya kok baru lihat dia, ya? Saya itu langganan baju-bajunya dia loh, Bu. Yah ... walaupun harganya sangat mahal, tapi bagi saya sih, kalau kualitasnya ok, saya gak keberatan," tutur Rina sambil melemparkan senyum pada Gisella yang masih memperhatikannya. Gisella pun mengangguk sambil tersenyum.


Rania menghela napas. "Bu Rina, itu orangnya udah denger, kenapa gak tanyain langsung aja? Lagian saya sudah tahu baju-baju Gisella memang bagus, saya malah sering di kasih, gratis pula." Rania tak mau kalah.


"Wah ... asyik, dong. Andai bisa punya mantu kayak gini, senang banget tiap mau kondangan selalu dibuatin baju mewah," ucap heboh bu Rina. Lalu beralih pada Gisella.


"Eh ... nak Gisella, kesini sama bu Rania, ya? Ada hubungan apa sama dia?" Rina bertanya seperti sedang mengunjingkan orang lain, dan orang tersebut tepat berada di depan matanya. Membuat Rania mendelik tajam, temannya yang satu ini, memang sangat menyebalkan.


"Iya tante, aku ikut tante Rania ke sini, dan aku temannya Rey," jawab Gisella dengan nada sopan.


"Oh ... sayang sekali ya, cuma teman. Padahal lebih cocok yang ini lho, dari pada yang onoh," ucap Rina sambil tangannya bergerak dengan cepat menunjuk ke arah Gisella lalu ke arah Nayla berada. "Saya tuh suka banget sama baju-bajunya nak Gisella ini, sama orangnya juga, cantik. Katanya juga punya pabrik konveksi besar ya, di kota ini?" tambah Rina lagi terus-menerus memuji, tapi Gisella hanya menanggapinya dengan senyuman saja dan mengangguk mengiyakan ucapan bu Rina.


Rania sejenak terdiam, dia mengalihkan pandangannya pada Nayla yang sudah duduk di kursi nya, kemudian pada Gisella yang di sampingnya. Sedikit menimbang-nimbang perkataan teman sosialitanya itu.


"Saya sih, gak mau maksain masalah hati sama anak sendiri, biarin mereka menentukan jalannya, yang penting mereka bahagia." Rania kembali berpikir jernih sebelum kemudian melanjutkan perkataannya, "Lagian calon mantu saya tuh lebih hebat, dia itu seorang calon dokter, tapi juga jagoan," imbuhnya membanggakan Nayla.


Cukup lama mereka mengobrol, Rania terus menerus membicarakan tentang kelebihan Nayla, membuat Gisella sedikit jengah. Mereka jadi tidak memperhatikan lanjutan acara di depan sana.


Gisella termenung, tatapannya kosong, walaupun mencoba untuk tidak mendengarkan, tapi tetap saja obrolan mereka tetap meresap di indera pendengarannya. Membuat dia merasa tidak nyaman berada di sana, Gisella mulai terpengaruh dengan obrolan kedua tante kaya itu, Gisella berpikir kenapa Nayla harus lebih baik dari pada nya, Nayla hanya seorang gadis yang terlahir dari keluarga biasa-biasa saja, dia hanya seorang dokter yang baru lulus masa akademiknya, perjalanannya masih panjang untuk memperoleh gelar itu. Tidakak pantas jika harus dibandingkan dengan dia, walau bagaimanapun juga Rey pernah tergila-gila kepadanya.

__ADS_1


Gisella meradang, dia merasa sudah tersaingi, dia tidak terima kalau harus kalah di bandingkan dengan Nayla, selama ini dia selalu mendapatkan apa yang dia inginkan, dan dia selalu bisa menang.


Belum sempat dia menganggapi obrolan kedua tante-tante itu, gemuruh tepuk tangan tiba-tiba menggema mengisi seluruh ruangan gedung. Ternyata pembawa acaranya sedang mengumumkan mahasiswa dan mahasiswi terbaik di universitas tersebut dan Nayla menjadi salah satu diantaranya.


Tepuk tangan semakin bergemuruh ketika Rey menaiki panggung dan mendapat kehormatan untuk memberikan piagam dan penghargaan kepada para mahasiswa dan mahasiswa terbaik tersebut. Rey dengan senang hati memberikan penghargaan kepada tiga orang yang terpilih, saat tiba berhadapan dengan Nayla, Rey mengangkat sebelah alisnya dan memberikan tatapan penuh arti.


Nayla mengernyit, sepertinya dia kenal tatapan itu, kemudian terkejut saat tiba- tiba Rey memeluknya tanpa rasa malu di depan banyak orang, seketika mereka jadi tontonan publik, sorak sorai dan siulan usil para hadirin di sana tak membuat Rey bergeming, Nayla meronta mencoba melepaskan pelukan Rey, tapi Rey malah semakin mengeratkan nya saja. "Coba saja berani meronta lagi, aku akan melakukan yang lebih dari ini," bisiknya di telinga Nayla. Membuat wajah Nayla merah merona karena menahan malu.


Gosip kedekatan Rey dan Nayla memang sudah menyebar di area kampus, jadi Rey merasa tidak segan-segan mengumbar kemesraannya di depan umum seperti itu.


Nayla membulatkan matanya. "Lepasin, Mas! Aku malu," bisik Nayla kemudian.


Rey tersadar, dia pun melepaskan pelukan itu. Kemudian memberikan senyuman menyeringai di bibirnya, dan sebuah kedipan kecil di matanya, membuat Nayla bergidik geli. Tak lupa Rey memberikan ucapan selamat dan penghargaan untuk Nayla. Kemudian turun dari atas panggung.


Pemandangan itu membuat mata Gisella menjadi sakit, tiba-tiba jantungnya terasa panas, bisa-bisanya Rey mengorbankan harga dirinya di depan banyak orang hanya demi seorang Nayla, Gisella tak menyangka jika Rey akan melakukan apapun juga kalau dia sudah mencintai seseorang "Ada apa denganku? Kenapa dadaku terasa panas, aku tidak mungkin mencintai Rey, kan?" gumam Gisella dalam hati.


***


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2