
Nayla masih serius mengobati luka Rey, kemudian dia membalutkan perban pada luka itu. Rey tak hentinya menatap Nayla, tangan Nayla begitu lembut menyentuh setiap inci lukanya, sehingga rasa sakit yang tadinya menusuk hingga tulang, tiba-tiba menjadi hilang, Rey berkhayal Nayla mengobati lukanya dengan begitu mesra, sesekali dia meniup-niup luka Rey lalu tersenyum dengan sangat manis kepadanya. Wajahnya begitu bersinar bak seorang putri kerajaan yang sedang melayani sang pangeran. Rey pun di buat melayang. "Ah.. indahnya." Gumam Rey dalam dunia khayalan.
"Sudah beres." Suara Nayla membuyarkan khayalan Rey begitu saja.
Rey berdecak lalu menatap lukanya yang sudah rapi di balut oleh perban. "Cepat sekali." Gerutunya.
Nayla mengernyitkan kening. "Memangnya mau berapa lama?" Sahutnya aneh.
Rey mendengus, dia memalingkan wajahnya ke arah lain. "Maunya sih lama." Gumamnya nyaris tak terdengar.
"Ngomong apa sih?" Nayla merasa penasaran dengan apa yang Rey gumamkan. "Aneh banget." Serunya penuh curiga.
Rey menoleh ke arah Nayla sambil menunjukkan deretan giginya yang terlihat rapi, ia cengengesan dan malu sendiri. Dan Nayla yang melihatnya jadi bergidik, entah kenapa ia merasa jijik.
"Bang Rey jangan terlalu banyak gerak! Takut lukanya terbuka lagi kayak tadi kan bahaya." Perintah Nayla setelah tugasnya selesai semua.
Rey hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanggapan. "Apa kau mau pulang sekarang?" Tanyanya kemudian.
Nayla yang sudah berdiri menggelengkan kepalanya. "Aku mau ke kamar Rere, nanti sore kan abang mesti ganti perban lagi. Sekarang istirahat aja dulu!" Nayla berbalik badan hendak melangkah meninggalkan kamar. Tapi suara desisan dari mulut yang terdengar miris membuat langkahnya jadi terhenti.
Nayla langsung menghambur pada tubuh Rey yang hampir tersungkur. Rey yang memiringkan sedikit tubuhnya saat hendak membuka laci tak bisa menahan nyeri. Luka di perutnya jadi tertekan dan dirinya hampir jatuh karena kehilangan keseimbangan.
"Di bilangin jangan banyak gerak! Bandel banget sih." Omel Nayla sambil membantu Rey kembali duduk bersandar.
Rey meringis, salah satu sudut bibirnya tersungging tipis. Ia senang mendapatkan perhatian seperti itu dari gadis pujaannya.
"Aku hanya mau membuka laci." Serunya membela diri.
Nayla mencebikkan bibir sambil memeriksa apakah luka Rey kembali terbuka. Dan ternyata aman-aman saja.
"Lain kali kalau butuh sesuatu bilang aku aja! Mumpung aku masih disini, kalau udah pulang bukan tanggungjawab ku lagi." Ujar Nayla seraya berdiri.
__ADS_1
"Tapi kan kamunya mau pergi?" Kilah Rey sok manja.
Nayla memutar kedua bola matanya malas, lelaki ini lebaynya sungguh luar biasa. "Aku masih di sini abang, apa susahnya tinggal panggil doang." Cebiknya dengan nada di tekankan.
"Ya udah kamu diam disini saja, gak usah kemana-mana. Biar kalau ada apa-apa kan kamu ada." Rey berucap dengan tatapan penuh maksud. Dengan memainkan kedua alisnya naik turun.
"Aku cuma ada di kamar Rere, kalau ada apa-apa teriak aja. Bukannya bang Rey suka teriak ya?" Cibir Nayla sambil melipat tangannya di depan dada.
"Abang istirahat dulu! Tadi kan abis minum obat. Baringan aja kalau duduk terus nanti lukanya jadi ke tekan." Seru Nayla memberi saran.
Rey mengedikkan bahu. "Abang gak mau, memangnya abang mumi baringan mulu." Kelakarnya asal.
"Bang Rey mau aku jadiin mumi beneran?" Seru Nayla sedikit mengancam.
Rey terhenyak, lalu menelan ludahnya begitu berat. "Apa kamu seorang psikopat?" Rey sedikit takut, dia tatap gadis di hadapannya dengan gugup.
Dan pertanyaan itu membuat Nayla menghela nafas kasar. Pikiran laki-laki ini benar-benar ambyar. "Abang tuh senang banget ya menghina orang, tadi mengataiku jelmaan katak sekarang psikopat, lalu nanti apalagi?" Cibir Nayla dengan nada menyindir.
"Eh..." Nayla mengerutkan kening, merasa aneh dengan julukan yang terdengar begitu keji tapi berakhir jadi memuji. Tak bisa di pungkiri Nayla jadi malu sendiri. Dan hal itu bisa terlihat dari semburat merah yang merona di pipi.
"Ngangenin." Rey melanjutkan kata-katanya yang sempat terjeda, lalu menatap Nayla yang sudah tersipu di tempatnya, Rey jadi semakin menggila.
Nayla jadi mengerjap gugup, bisa-bisa pertahanannya runtuh jika di goda terus-menerus. Nayla tidak boleh terpengaruh.
"Ehm.... Aku ke kamar Rere dulu deh, abang istirahat aja!" Seru Nayla jadi salah tingkah. Dengan cepat ia berbalik lalu meninggalkan kamar Rey begitu saja. Rey menarik salah satu sudut bibirnya, hatinya semakin tertarik dengan gadis polos yang baru saja hilang dari pandangannya.
***
Nayla langsung merebahkan dirinya di atas ranjang, yang membuat yang punya tempat jadi tercengang.
"Ngagetin aja sih, lo!" Decak Rere sambil melepas earphone yang menempel di telinganya. Dan merubah posisinya yang telungkup berubah menjadi duduk.
__ADS_1
"Lo nya aja budek, gue panggil-panggil diem aja. Ya udah gue masuk." Seru Nayla dengan santainya. Daripada mendengar celotehan sahabatnya ia memilih untuk memejamkan mata. Rasanya lelah sekali baru jadi perawat walau belum sehari. Benar-benar makan hati.
Rere memperhatikan raut wajah sahabatnya yang masih terpejam, ia merasa kasihan. Nayla mungkin tertekan. "Ganti perban nya udah selesai?" Tanya Rere memulai percakapan. Ia tahu sahabatnya itu tidak benar-benar tertidur.
"Udah." jawab Nayla singkat. Ia membuka matanya, menatap Rere dengan tatapan berbeda. Tatapannya terlihat merana.
"Lo kenapa sih?" Tanya Rere merasa aneh.
"Kenapa tadi lo gak bantuin gue masangin perban abang lo sih? Segala pura-pura mandi. Kan gue jadi malu lihat abang lo gak pakai baju" Seru Nayla yang malah mendapat ledekan dari sahabatnya.
"Ciye..... Asyik dong buka-bukaan." Ledeknya kemudian tertawa.
"Ish, gak lucu. Lo pikir gue senang ngerawat abang lo." Seru Nayla sambil menepis bahu gadis di sampingnya itu.
"Abang lo nyebelin tau." Imbuh Nayla sambil beranjak duduk.
Rere masih tertawa kecil, "Tapi suka kan?" godanya lagi.
"Kagak." Sangkal Nayla sambil mendelikkan mata. Dan Rere kembali tergelak tawa.
Nayla mencebikkan bibirnya menatap sahabatnya yang belum berhenti tertawa. Lalu wajahnya berubah serius saat ia menginat sesuatu. "Eh... Re, lo tahu gak cewek yang di foto sama bang Rey? Siapa sih?" Pertanyaan Nayla membuat Rere berhenti tertawa.
Rere mengerutkan dahi. Dia tidak tahu foto mana yang Nayla maksud. "Cewek? Di foto? Siapa?" Rere sejenak berpikir.
"Gue lagi nanya dodol, malah balik nanya!" Serunya kesal. "Fotonya ada di kamar bang Rey, cewek itu pakai seragam SMA tapi atributnya beda. Kayaknya beda sekolah deh. Tapi, kelihatannya akrab banget." Imbuh Nayla hampir tanpa jeda.
***
Bersambung ya...
Masih penasaran? Ikuti kisah selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan jejak yang menyenangkan ya. follow ig amih @amih_amy
__ADS_1