Destiny Of Love

Destiny Of Love
Rencana Jordy


__ADS_3

Dalam mobil Nayla tak banyak bicara, dia tak hentinya menghirup udara dari jendela kaca mobil yang sengaja di buka lebar-lebar. Semilir angin yang menerpa wajahnya, menyibakkan rambutnya yang tergerai indah.


Rey yang sedang mengemudi sesekali melirik pemandangan indah yang berada di samping kemudinya itu. Suasana dalam mobil tampak hening. Di dalam nya hanya ada dirinya, Nayla, dan kedua orang tua Nayla. Rere yang membawa mobil miliknya sendiri pulang bersama mamanya. Dan Ardi pulang dengan Kak Nina.


Awalnya orang tua Nayla datang bersama Ardi, tapi pulangnya Rey mengambil alih peran itu, dia memaksa untuk mengantar Nayla beserta keluarganya. Tina dan Dimas memilih ikut bersama Rey. Sedangkan Ana di antar oleh Jordy kembali ke rumah sakit.


"Rey, paman masih penasaran bagaimana Ana bisa bersama mu? Bukankah dia di tahan oleh Panji?" Suara bariton Dimas memecahkan suasana, dan semua orang yang di dalam mobil memusatkan perhatiannya pada jawaban Rey, mereka juga penasaran akan hal itu, termasuk Nayla. Karena yang Nayla tahu Ana sudah meninggal. Dan masalah siapa itu Panji, Nayla tidak tahu akan hal itu.


"Panji? Siapa dia ayah?" Nayla menoleh ke arah ayahnya. Dan pertanyaan itu membuat Dimas langsung menoleh ke arah istrinya.


Dimas merasa kelabakan dia lupa kalau Nayla tidak boleh tahu masalah ini. "Ah... Panji, dia seseorang yang mengaku-ngaku menculik Ana waktu itu, dia ayahnya Echa. Gadis yang mencoba melukaimu waktu itu." Dimas tidak sepenuhnya berbohong, memang benar kan lelaki itu adalah ayahnya Echa. Dan untuk statusnya sebagai mantan pacar ibunya tentu saja Nayla tak perlu tahu.


Dimas mengukir sebuah senyuman manis di bibirnya, lalu menggenggam erat tangan Tina.Seolah ingin berkata agar Tina tidak usah khawatir lagi masalah Panji. Dimas tidak mau Tina selalu merasa bersalah dengan masalah yang menimpa keluarganya akibat ulah mantan kekasih istrinya itu.


Nayla hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti. Ternyata semua tragedi ini di awali karena perasaan sakit hati seorang ayah yang tidak terima jika anaknya tersakiti.


Nayla mengalihkan pandangannya ke arah Rey. Lelaki itu belum menjawab pertanyaan ayahnya. "Bagaimana bang Rey, aku juga ingin dengar ceritanya. Bagaimana Ana bisa bersamamu?" Nayla memfokuskan pandangannya pada Rey membuat Rey salah tingkah di tempatnya. Di tatap oleh gadis yang selama ini cintai membuatnya merasa gugup.


"Kau jangan menatapku seperti itu! Aku tidak akan fokus mengemudi." Ucap Rey tanpa menoleh ke arah Nayla.


Nayla mengerutkan dahi. "Maksudnya?"


Rey melihat sekilas raut wajah Nayla yang tampak bingung. "Aku cuma bercanda." ucap nya sambil cengengesan.


Tina dan Dimas juga jadi tersenyum kecil melihat tingkah Rey yang menggoda Nayla.


"Sebenarnya, yang paling berjasa saat ini adalah asistenku, Jordy. Dia yang berjasa menyelamatkan Ana waktu itu. Semua ini adalah rencananya." Tutur Rey mulai menceritakan kejadian yang sebenarnya.


*** Flashback on


Hari itu, Ricard dan Raymond. Dua orang yang di tugaskan oleh Jordy sebagai mata-mata untuk mengawasi Ana. Mereka melihat sesuatu yang mencurigakan terjadi pada gadis itu.


Saat itu Ana yang masih dalam keadaan koma, di bawa keluar dari ruangannya oleh seorang dokter dan seorang perawat lalu di ikuti oleh Nina kakaknya Ana. Mata-mata itu mengikuti kepergian mereka lalu menghubungi atasannya.

__ADS_1


Ternyata Ana di bawa masuk kedalam sebuah mobil ambulance dan hendak di bawa pergi. Jordy menyuruh mata-mata itu terus mengikuti kemana Ana di bawa dan mengaktifkan sinyal GPS di ponsel mereka agar Jordy bisa menemukan lokasi dimana mereka berada.


"Terus awasi mereka jangan sampai lengah dan kehilangan jejak!" perintah Jordy dengan tegas.


Jordy pun menyusul Ricard dan Raymond bersama beberapa orang kepercayaannya yang lain, dengan terus mengikuti navigasi yang menunjukkan lokasi anak buahnya di ponsel miliknya.


"Mereka seperti akan pergi keluar kota bos, ini sangat berbahaya untuk keselamatan Ana, dia tidak boleh terlalu lama di luar seperti ini." Lapor Ricard lagi, sedangkan Raymond dia hanya fokus mengemudi mengejar mobil ambulance itu.


"Cepat hadang mobil itu! Aku sudah semakin dekat dengan lokasi kalian, seperti nya wilayah itu daerah yang sepi dan jarang di lalui kendaraan." Perintah Jordy sambil melihat situasi dalam navigasi nya.


"Siap bos." Sahut Ricard


"Kita hadang mereka!" Titah Ricard pada Raymond yang sedang mengemudi.


Raymond hanya mengangguk, lalu menginjak pedal gas nya dengan kuat mempercepat laju mobil nya. Sampai tepat di depan ambulance itu dia menginjak remaja kuat-kuat agar bisa berhenti tepat di depan mobil tersebut. Tentu saja seketika mobil ambulance pun berhenti mendadak.


Seorang lelaki kekar keluar dari mobil ambulance tampak tersulut emosi, dia menggebrak mobil yang di tumpangi oleh Ricard dan Raymond. "Turun lo!" teriak lelaki itu.


Ricard dan Raymond pun keluar, mereka tampak cengengesan. "Sory... bos, kami gak sengaja." Ucap Raymond sambi mengangkat kedua tangannya. Mereka hanya sengaja mengulur waktu menunggu Jordy dan teman-temannya datang ke tempat itu.


"Sial..." umpat lelaki itu.


Melihat terjadi keributan di luar mobil membuat kedua teman preman yang ada di mobil ambulance turun menghampiri mereka.


Dan saat mereka hendak mengepung Ricard dan Raymond, datanglah sebuah mobil Ferray hitam tepat di depan mobil milik Ricard dan Raymond. Lalu keluarlah Jordy bersama tiga orang anak buah nya berbadan tegap layaknya pengawal kelas kakap. Mereka balik mengepung tiga orang preman itu.


Sekejap saja Jordy dan anak buahnya mampu melumpuhkan ketiga orang itu, ketika Jordy ingin bertanya maksud dari pemindahan Ana ponsel miliknya tiba-tiba berdering, terlihat panggilan masuk dari bosnya di layar ponsel tersebut. Jordy langsung menekan tombol hijau di ponselnya dan mendekatkan ponselnya ke telinganya.


"......."


"Baik bos, kamu tidak perlu khawatir! Aku mengerti sekarang kenapa gadis ini tiba-tiba di pindahkan. Aku akan melakukan yang terbaik untuk membantu kebebasan wanitamu." Ucap Jordy setelah mendengar penuturan Rey di seberang teleponnya. Sebelum kemudian Jordy mengakhiri panggilannya dengan Rey.


Jordy tersenyum menyeringai menatap ketiga preman yang sudah berhasil di ringkus oleh anak buahnya tersebut. "Ternyata kalian ingin memalsukan kematian Ana, hah.." Teriak Jordy di depan wajah mereka.

__ADS_1


Mereka tampak ketakutan. "Ma.... Maaf bos, kami hanya di suruh!" Seru salah satu preman begitu ketakutan.


Jordy sejenak berpikir, ia harus membuat rencana agar semuanya berjalan dengan baik. "Baiklah, aku ikuti permainan kalian. Kemarikan ponsel milikmu!" pinta Jordy sambil mengulurkan tangannya. Ia meminta ponsel milik preman itu. Dan preman tersebut pun memberikannya.


Jordy menyuruh anak buahnya untuk memotret Ana yang sedang terbaring di mobil ambulance menggunakan ponsel milik preman itu.


Setelah selesai Jordy memberikan ponsel itu pada preman lagi. "Hubungi bos kalian, kirim foto Ana yang sudah di ambil barusan. Bilang padanya kalau Ana sudah berhasil kalian bereskan!" Perintah Jordy yang tak bisa bantah.


Preman itu kemudian menuruti perintah Jordy, mereka memberi kabar kepada bos nya kalau sudah beres mengamankan Ana, lalu mengirim foto Ana yang masih koma melalui pesan WA.


"Ku peringatkan kalian, kalau sampai bos kalian tahu Ana bersama kami sampai persidangan Nayla selesai, kalian akan tahu akibatnya, anak buahku akan terus mengawasi kalian. Mengerti !" Ucap Jordy dengan nada penuh penekanan.


Akhirnya Jordy membawa Ana ke rumah sakit milik keluarga Rey untuk menjalani perawatan khusus. Kak Nina menjelaskan di perjalanan kalau dia di ancam oleh seseorang agar mau menerima tawaran pemindahan Ana kalau mau Ana tetap hidup.


*** Flashback off


Nayla begitu tercengang mendengar rencana Jordy yang tak kalah sempurna dari rencana orang yang menjebaknya.


"Maaf, waktu persidangan aku tidak datang lebih awal." Ucap Rey di akhir ceritanya. Dia bercerita sambil tetap fokus dengan kemudinya.


"Saat aku mendengar kabar bahwa Ana telah sadarkan diri, aku langsung menemui nya ke rumah sakit, dan sesampainya disana Ana memintaku untuk mempertemukannya dengan temannya yang bernama Ira, dia bilang bukti kejahatan orang itu ada padanya. Berdasarkan informasi dari Ana, akhirnya Ira datang dan memberikan kartu memori itu langsung ke tangan Ana." Imbuh Rey menambahkan penuturannya.


Senyum Nayla mengembang dengan sempurna. Dia begitu tak menyangka jika Rey akan melakukan apapun untuk membebaskannya. Akankah kini hatinya terbuka? Menerima cinta Rey dan mengabaikan pesan ibunya.


"Terimakasih bang Rey, aku juga ingin bertemu dengan kak Jordy untuk berterimakasih padanya secara langsung." Ucap Nayla dengan tulus.


Rey tersenyum sambil menoleh sekilas ke arah Nayla. Hatinya tiba-tiba menghangat saat melihat senyum itu. Senyum yang membuat jantungnya semakin berdegup lebih kencang. Dan meyakinkan cintanya semakin mendalam.


***


bersambung


jangan lupa tinggalin jejak nya readers..

__ADS_1


Follow IG @amih_amy


__ADS_2