Destiny Of Love

Destiny Of Love
Ternyata


__ADS_3

Berita tentang kematian Ana tentu saja sudah terdengar oleh orang tua Nayla, Tina dan Dimas sangat terkejut di buatnya. Terutama Tina, dia tidak henti-hentinya menangis saat mendengar kabar itu dari Ardi.


Bagaimana tidak, harapan satu- satu nya kebebasan Nayla adalah sadarnya Ana, tapi sekarang harapan itu musnah bersamaan dengan meninggalnya Ana.


"Bagaimana ini yah? Apa Nayla akan benar-benar mendekam di penjara? Aku tidak rela anakku yang tidak bersalah sampai di hukum seperti itu." Ucap Tina sambil terisak.


Dimas diam saja, dia juga bingung harus bagaimana menolong anak gadis nya itu, rasanya dia seperti seorang ayah yang tidak berguna yang tak bisa melindungi anaknya sendiri.


Tina menoleh pada sangat suami yang diam saja tak menanggapi. "Kenapa ayah diam saja? Ayo lakukan sesuatu! Ibu gak mau Nayla di penjara." Imbuh Tina sambil mengguncang lengan tangan suaminya sedikit kesal.


Dimas merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukannya. Mencoba menenangkan hati istrinya tersebut. "Ayah juga gak bisa apa-apa bu, ayah juga bingung kenapa Nayla bisa berada dalam masalah seperti ini, mungkin ini juga salah ayah yang membiarkan Nayla belajar bela diri, sehingga dia selalu berhadapan dengan orang jahat, tapi ayah yakin kebaikan pasti akan di balas dengan kebaikan pula bu, pasti akan ada keajaiban. Kita berdoa saja ya!" Sebagai orang biasa Dimas memang tak punya kuasa apa-apa. Selain bisa pasrah lelaki ini bisa apa?


Tina semakin bersedih hati, ia menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya. "Ibu takut yah" Ucap Tina lirih.


Dimas hanya mengusap-usap pelan punggung istrinya. Menyalurkan ketenangan dihati istrinya tersebut. Lalu tiba-tiba ponsel milik Dimas berbunyi tanda ada pesan masuk ke ponselnya. Dimas pun melepaskan pelukan istrinya dan mengambil ponsel di saku celananya dan langsung membuka isi pesan tersebut.


"Kalau kamu mau anakmu bebas dari penjara datang lah temui aku di kafe X sekarang juga! Ingatlah datang sendiri dan jangan beri tahu siapapun tentang ini! Mata-mataku sangat banyak, sedikit kamu melakukan kesalahan, putri mu akan menanggung akibatnya."


Begitulah isi pesan singkat yang diterima oleh Dimas di ponsel jadulnya. Nomor pengirimnya baru, Dimas ingin mengabaikannya tapi ia takut orang ini benar-benar bisa Nayla bebas.


Melihat wajah suaminya seperti orang bingung saat sudah membaca pesan masuk dari ponselnya, Tina menepuk pelan pundak suaminya. "Ayah kenapa? Siapa yang ngirim pesan?" tanya Tina.


Dimas tersentak. Menoleh pada istrinya "Ah.... Pesan dari pelanggan ayah bu, katanya mesin cucinya rusak. Minta ayah benerin sekarang katanya." Jawab Dimas berbohong.


Tina hanya membulatkan bibirnya dan berkata 'Oh' tanpa suara.

__ADS_1


"Ayah pergi sekarang ya bu! Takut orangnya kelamaan nungguin." Seru Dimas lagi seraya berjalan hendak mengambil perkakas sebagai alat kerjanya nanti.


"Dimana itu, Yah?" Rina mengikuti gerak langkah suaminya.


"Tidak jauh, hanya tetangga kampung ini saja, mungkin ayah agak lama soalnya ayah tidak bisa membawa mesin cuci itu kesini, ayah akan mencoba membenarkannya di rumahnya." Ucap Dimas, ia membawa beberapa saja peralatan seadanya, karena itu hanya alasannya saja pada istrinya.


Tina percaya saja dan mengizinkan suami nya pergi tanpa curiga.


***


di Kafe X


Terlihat seorang pria berjas hitam dan ber kacamata sedang duduk di bangku di sudut kafe, dia terlihat seperti menunggu seseorang dengan sesekali meneguk secangkir kopi di tangannya.


Sebenarnya dulu keluarga Nayla tidak terlalu miskin, Dimas sempat mempunyai usaha funiture yang lumayan besar, tapi saat Tina hamil Nayla usahanya merugi, ada seseorang yang menyabotase usaha nya itu, sehingga Dimas harus membawa keluarga untuk tinggal di rumah kerabatnya yang ada di Bogor dan menitipkan Tina yang sedang hamil untuk tinggal disana. Karena Dimas harus pergi ku luar pulau untuk bekerja disana atas bujukan dan bantuan kerabatnya juga. Dimas tak punya pilihan lain karena dia harus menafkahi anak istrinya. Disanalah Nayla lahir dan belajar bela diri silat. Hanya beberapa bulan sekali dimas pulang untuk menemui anak istrinya itu.


Dimas masuk ke dalam kafe, dia menyapukan pandangannya ke segala penjuru kafe, mungkin ada seseorang yang dia kenal yang sengaja mengirim pesan itu, tapi dia tak mengenal siapapun. Waktu itu pengunjung kafe terlihat sepi hanya ada beberapa orang saja. Lalu dia mengeluarkan ponselnya dan menelepon nomor ponsel yang mengirimkannya pesan tadi. Saat Dimas menelepon terdengar dering yang sangat nyaring dari ponsel seorang yang duduk di pojok kafe membelakangi Dimas. Dimas pun segera menoleh ke asal suara ponsel itu. Lalu dia menghampiri orang tersebut.


Saat telah sampai dimeja tersebut, Dimas sungguh terkejut. Ternyata orang yang di temuinya itu adalah seseorang yang sudah lama dia kenal.


"Panji?" Dimas termangu menatap lelaki yang sudah lama tidak pernah berjumpa dengannya itu.


Panji berdiri lalu mengulurkan tangannya ingin berjabat tangan. "Iya...ini aku, apa kabarmu Dimas?" Sapa Panji dengan mengulas senyum tipisnya.


Dimas masih terpaku, dia tidak menggubris jabat tangan Panji. Panji melirik tangannya yang masih menjulur yang tidak mendapatkan respon dari Dimas. "Bahkan kau tak mau menjabat tanganku Dimas? sombong sekali kau ini, masih seperti dulu." ucap nya dengan sinis.

__ADS_1


Dimas tersadar, kedua bola matanya beralih pada tangan Panji tapi masih tak mau menjabat tangan itu. "Mau apa kamu? apa kamu tidak puas sudah membuat usahaku hancur waktu itu." Dimas berkata dengan nada tak kalah sinis.


Panji berdecak, lalu menurunkan tangannya yang tak mendapatkan balasan. "Hah, kau masih saja tidak berubah. Duduklah dulu! Kita bicarakan baik-baik. Bukankah kau ingin anakmu bebas?" Ucap Panji dengan santai sambil mendaratkan tubuhnya di atas kursinya yang semula.


"Apa kau mau kupesankan kopi?" Tanya Panji lagi.


Dimas pun mencoba tenang dan menarik nafasnya dalam. Ia pun menarik kursi lalu duduk di atasnya. "Tidak perlu, cepat katakan apa maumu!" Dimas sangat yakin Panji pasti memiliki niat terselubung dari tawarannya itu.


Panji menarik salah satu sudut bibirnya hingga membentuk senyuman licik disana. "Sama seperti dulu , ku kira setelah aku menghancurkan usahamu kau akan menyerah dan melalukan keinginanku tapi ternyata kau malah membawa Tina kabur, sampai aku sulit untuk menemukanmu. Pada awalnya aku tidak tahu kalau Nayla adalah anakmu, tapi saat aku tahu kalau gadis yang sudah membuat anakku di penjara adalah anakmu, aku pikir Tuhan sudah menakdirkan aku dan Tina kembali." Ucap Panji dengan sarkas.


"Owh... Berarti kau adalah ayah dari Echa, gadis yang mencoba untuk mencelakai anakku?" Tanya Dimas dengan sinis.


"Iya.... Walaupun aku tak mencintai ibunya tapi dia tetap anakku, tak akan aku biarkan orang lain menyakitinya." Tutur Panji sambil menyesap kembali kopi miliknya.


Dimas semakin geram, lelaki ini masih saja gila seperti dulu, bahkan sudah puluhan tahun. Tapi dia masih saja tidak bisa merelakan Tina. "Kau sudah gila Panji, bahkan kau sudah punya keluarga yang lengkap tapi kenapa masih mengejar Tina. Kau tidak memikirkan perasaan anak dan istrimu?"


Panji berdecak, ia bersikap seolah masa mudanya kembali lagi. Cinta pertamanya tidak bisa ia lupakan begitu saja. Dan Dimas telah merebutnya waktu itu. Jika lelaki itu tidak menikahi Tina. Pasti Panji sudah menikah dengan Tina waktu itu.


"Aku hanya memenuhi permintaan orangtuaku saja, saat itu aku tidak punya pilihan lain, kalau kau tidak menikahi Tina pasti Tina akan menikah denganku, aku sudah berusaha untuk meyakinkan orangtuaku saat itu, tapi kau merebutnya dariku. Tina masih mencintaiku mungkin sampai saat ini dia pasti masih mengharapkan aku. Aku bahkan sudah menceraikan istriku setelah dia melahirkan Echa. Kalau dulu kau tidak membawanya kabur Tina pasti akan memilih pergi bersamaku daripada hidup susah denganmu." Seru Panji meluapkan emosinya yang telah lama ia pendam.


***


masih belum kelar ya readers kuh....


Biar masalah nya cepet kelar tambah vote gratis nya ya kesayangan-kesayangan author. jangan lupa like dan komennya biar kenceng up nya.Hihihihi....

__ADS_1


__ADS_2