
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 7 malam, Nayla dan Dio terlihat tengah sibuk berdebat di ruang tengah rumah mereka, tepatnya di kursi tamu yang tadi sore juga di pakai Dio untuk mengerjakan tugas sekolahnya, mereka meributkan perihal Dio yang susah sekali mengerti akan penjelasan Nayla mengenai tugas matematikanya itu.
Nayla memang baru memulai membantu Dio mengerjakan tugasnya nya, karena tadi sore saat Nayla hendak membantu Dio, ibu Tina datang membawa plastik yang berisi bahan makanan untuk di masak, dan meminta Nayla untuk membantu nya di dapur, alhasil Dio lah yang harus mengalah untuk menunda permintaannya pada sang kakak untuk membantu mengerjakan tugas, karena tak bisa membantah perintah juragan mami.
" Yang ini gimana ngerjainnya?" Tanya Dio yang telah selesai mengerjakan satu soal, lalu beralih ke soal lainnya.
" Itu buat persamaan nya dulu, baru cari nilai X sama Y-nya... " Tutur Nayla, lalu kembali memainkan ponsel nya.
Dio mulai berpikir, bukannya langsung mengerjakan tapi dia malah diam menatap bukunya sambil menggigit ujung pulpennya.
" Contohin dong kak !" Pinta nya setelah sekian lama dia berpikir.
Nayla menoleh, dia pikir Dio diam saja sedang mengerjakan soal tadi, tapi ternyata buku tugasnya masih berisi satu soal yang sudah di pecahkannya tadi . " Ish...dari tadi kamu ngapain aja ?" Celetuk Nayla.
" Abis kakaknya sibuk main hp mulu, Dio kan minta di ajarin bukan di jelasin doang " Tukas Dio.
Nayla menyimpan ponselnya di atas meja
" Sama aja, ngejelasin sama ngajarin, itu-itu juga, sini kakak lihat buku paketnya. " Gerutu Nayla sambil mengambil buku paket materi pelajaran matematika.
" Ya bedalah...kayak guru aku dong kalau jelasin, dia tuh suka kasih kami contoh di papan tulis " Ucap Dio
" Terus kamu ngerti ?" Nayla melirik Dio, di tengah kesibukannya membolak-balikkan lembaran buku paket Dio seperti tengah mencari sesuatu.
"Enggak.." Jawab Dio singkat.
Dan jawaban itu berhasil membuat buku yang di pegang Nayla mendarat halus di kepala Dio
" Itu berarti kamu nya aja yang o'on, mau di kasih contoh berapapun juga, ya susah " Seru Nayla.
" Makanya jangan pacaran mulu kalau sekolah, masih kecil juga " imbuh Nayla lagi.
__ADS_1
" Eh...bujang ibu udah pacaran toh," Tina yang sedang duduk di kasur lantai menonton acara televisi bersama Dimas ikut nimbrung dalam perdebatan anak-anaknya, karena mereka masih satu ruangan hanya di sekat oleh bangku panjang saja sehingga obrolan mereka terdengar sangat jelas.
" Yeay...kakak jangan fitnah, siapa yang pacaran? Enggak kok bu " Bantah Dio sambil mendongak ke arah ibunya. " Dio juga gak o'on, Dio cuma gak fokus aja waktu guru jelasin" Imbuh Dio sambil menatap tajam kakaknya.
" Lah itu, surat-surat cinta yang berserakan di kamar mu itu apa ?" Celetuk Nayla sambil menyimpan buku yang tadi dia baca di depan Dio. " Nih...contoh soalnya ada, sama persis dengan soal yang itu, cuma beda angkanya aja." Sambung Nayla sambil menunjukkan satu contoh soal di buku itu.
Dio mendengus lalu menoleh ke arah buku di depannya dan sejenak membaca nya " Eh...iya ya, sama banget. Kok aku ga tahu ada contoh seperti ini " Ucap Dio sambik menggarukkan ujung pulpennya ke kepala.
" Makanya kalau punya buku tuh baca " Omel Nayla, lalu kembali mengambil ponselnya lagi dan memainkannya.
" Kak, gak ada yang datang bawa makanan gitu, enak kali ya sambil belajar ada camilan. " Ucap Dio di sela kesibukannya menulis tugas.
Nayla sedikit melirik adiknya, lalu kembali menatap ponsel. " Siapa yang mau bawa makanan tiba-tiba, kecuali kamu udah pesen sama mang ojol (ojek online) buat beli makanan " Celoteh Nayla.
Dio hanya manggut-manggut saja, entah karena ucapan Nayla atau karena soal yang selanjutnya harus dia kerjakan. Ada senyum kecil terselip di bibirnya yang mungil.
Selang beberapa menit, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu, dan sontak membuat Nayla dan Dio menoleh ke arah pintu begitu juga dengan Tina dan Dimas.
Dio terus menatap ke arah pintu, dia yakin yang datang adalah orang yang sudah dia tunggu-tunggu dari tadi.
Nayla pun memegang gagang pintu dan memutarnya, setelah pintu terbuka Nayla membulatkan matanya sempurna, dia menelan ludahnya dengan berat " Hai..." Sapa orang itu sambil menunjukkan senyum manisnya.
Nayla gugup " Ba.. Bang Rey ngapain kesini. ?" ucap Nayla terbata.
Rey menunjukkan satu kantung plastik berisi makanan yang di bawa nya " Ini...aku membawakan pesanan mu. " Jawab Rey.
" Pesanan ?" tanya Nayla meyakinkan.
" Hmm... bukannya tadi sore kamu meminta aku membawakan ini " Ucap Rey.
Nayla sejenak terdiam, mengingat saat terakhir dia kirim chat dengan Rey, dan tiba-tiba ada Dio di dalam kamarnya waktu dia selesai mandi, Nayla kemudian menoleh ke arah Dio, terlihat Dio sedang menyembunyikan wajahnya di balik buku pelajarannya, Nayla menyipitkan kedua matanya sepertinya kecurigaannya benar, Dio biang keroknya.
__ADS_1
" Apa aku tidak boleh masuk ?" Tanya Rey lagi.
Nayla terkesiap, kemudian mempersilahkan Rey masuk kedalam rumah. Setelah tahu kalau yang datang adalah Rey, Tina dan Dimas pun menyambut kedatangan Rey, mereka menghampiri Rey dan Rey mencium punggung tangan mereka. " Rey, tumben kesini nya malam-malam ?" Tanya Tina.
" Anak ibu yang minta, tadi sore dia minta di bawakan martabak pisang keju ini, buat sekarang katanya " . ucap Rey sambil melirik ke arah Nayla.
" Martabak pisang keju ? itu sih kesukaan nya Dio. " Celetuk Tina. " Wah...Nayla kamu pengertian banget ya jadi kakak, mau bantuin ngerjain tugas di pesenin makanan kesukaannya pula " Imbuh Tina membanggakan anak gadis nya.
Nayla hanya tersenyum getir, dia kembali menatap tajam adiknya, yang sempat mengintip di balik buku yang menutupi wajahnya. " Ah...ibu benar, Dio kan adik aku satu-satu nya, aku harus selalu membantunya dan harus memberikan PELAJARAN yang baik buat nya nanti " Ucap Nayla penuh penekanan, matanya terus mengarah pada Dio.
Dio sedikit mengintip ke arah kakaknya, dan langsung menutupinya kembali saat melihat tatapan Nayla yang sengit itu, Dio menelan ludah nya yang hampir kering, lalu segera membereskan bukunya dengan tergesa-gesa . Sedangkan Tina dan Dimas berpamitan untuk pergi ke kamar mereka.
" Mau kemana kamu ? bukannya tugasnya belum selesai ." tanya Nayla sinis sambil duduk menghampiri Dio dan di ikuti oleh Rey yang sebelumnya sudah di persilahkan duduk.
" Dio mau ngerjain di kamar aja kak," Ucap Dio gugup.
" Disini saja, kan ada martabak kesukaan kamu, bukannya tadi kamu mau ada camilan sambil ngerjain tugas. " Sindir Nayla sambil memegang pundak adiknya.
Dio memasang wajah memelas, matanya menunjukkan rasa penyesalan yang dalam, berharap kakaknya mau memaafkan kesalahannya itu. Nayla menghela nafas, dia memang tidak pernah tega jika sudah melihat Dio bersikap seperti itu. Nayla sangat menyayangi adiknya itu, walaupun kadang Dio suka ngeyel dan sering kali mereka ribut tapi dalam sekejap mereka akan akur kembali.
" Haish.... wajahmu itu menyebalkan sekali Dio, baiklah kakak ampuni kamu, sekarang selesaikan dulu tugas mu disini, biar kakak bantu. " Ucap Nayla dengan nada rendah.
Dio tersenyum lebar, kemudian memeluk erat kakaknya " Kakakku memang terbaik." Ucap Dio, lalu melepaskan pelukannya. Lalu mengerjakan tugas nya dengan serius di bantu oleh Nayla, sebelumnya Nayla meminta maaf pada Rey karena harus di abaikan dulu, sebelum tugas adiknya selesai.
Rey mengerti, dia hanya tersenyum hangat melihat tingkah kakak beradik itu. Sebenarnya Rey sudah tahu, kalau pesan terakhir yang dia terima bukan lah Nayla yang mengirim, karena dia tahu Nayla tidak mungkin mengirim pesan seperti itu, sekarang dia tahu bahwa Dio lah yang telah mengirim pesan tersebut.
***
Jangan lupa vote , like dan komen ya readers...
Kasih semangat author terus dong readers ku, ngasih vote nya yang banyak ga usah sungkan-sungkan..😆😆
__ADS_1