
Rey masih asyik berbincang dengan Rere dan Nayla. Hingga waktu menunjukkan pukul satu siang dia pamit untuk kembali ke kantornya. "Abang balik ke kantor dulu ya!" Pamitnya.
Rey memberi kode pada adiknya agar bisa memberi kesempatan padanya biar bisa berdua dulu dengan Nayla sebentar. Rere membalasnya dengan mengacungkan jempolnya ke udara.
"Gue ke toilet bentar ya!" Pamit Rere pada Nayla, tanpa menunggu jawaban Rere langsung melangkah pergi.
Suasana kantin yang mulai sepi, membuat Nayla gugup sekali.
"Aku juga mau ke toilet ya, Bang." Nayla beralasan. Dia ingin sekali menghindar, karena orang-orang akan berpikiran macam-macam.
Rey menarik tangan Nayla yang hendak beranjak dari duduknya. "Diam dulu! Kenapa sih?" Seru Rey sedikit kesal.
Nayla tersentak dan kembali duduk. "Mau ngapain lagi? Udah sana, katanya mau ke kantor?" Ucap Nayla ketus.
"Ish ... pacarku ini jutek banget, sih?" dengus Rey sambil mencubit manja hidung pacar barunya itu.
"Eh, aku juga belum bilang mau ya, Bang, main ngaku-ngaku aja udah jadian," bantah Nayla sedikit memundurkan kepalanya.
"Tadi kan udah diresmiin sama Rere. Kamu diam aja berarti iya, dong," sahut Rey memperjelas. Kemudian menarik kursinya untuk lebih dekat dengan wanitanya.
"Apa perlu pakai pengumuman?" imbuh Rey sedikit menggoda.
Nayla yang tidak sempat menghindar hampir saja terjengkang. Tapi dengan Rey cepat menangkap lengan gadis itu dan menariknya lebih dekat. Kedua bola matanya pun sontak membulat.
"Sebenarnya aku gak suka pacaran," ucap Nayla setelah berhasil lepas dari genggaman Rey. Kemudian menggeser kursinya ke belakang.
Rey mengangkat kedua alisnya. "Ya udah, langsung nikah aja kalo gitu," seloroh nya tiba-tiba.
"Hah??" Nayla jadi melongo mendengarnya. Yang benar saja. Kenapa jadi serba mendadak?
"Cup..."
Sebelum sempat Nayla menanggapi. Satu kecupan di pipi membuatnya terlonjak lagi. Tidak bisa di bayangkan betapa malunya dia saat ini.
"Abang pergi kerja dulu, ya!" pamit Rey dengan mesra, sambil mengacak rambut Nayla. Sebuah senyuman ia sematkan di bibirnya.
Nayla masih terpaku dia sangat malu. Walaupun hanya sedikit orang yang melihatnya tetap saja mereka akan membicarakannya. "Apa-apaan sih, Bang? Malu lah, ini kan kampus," ucap Nayla sambil mengerucutkan bibirnya. Membuat semakin gemas saja.
"Ya udah... Kalau gitu nanti di rumah saja tambahannya."
__ADS_1
" Eh..." Nayla terhenyak. "Tambahan apa?" tanyanya bingung.
Rey tersenyum geli. Tapi tiba-tiba raut wajahnya berubah datar. Entah apa yang dilihatnya sekarang.
Nayla yang melihat perubahan wajah Rey jadi mengernyit heran. "Kenapa?" tanyanya.
Rey memutar wajah Nayla mengarahkan pada seseorang yang sedang bergandengan tangan di luar kantin. Mereka berjalan tak melihat ke sekitar. Padahal ada dua pasang mata yang sedang memperhatikan.
Nayla mengerutkan dahi, setelah ia mengenal sosok yang tidak asing lagi."Itu kan kak Jordy?" serunya.
Rey jadi menajamkan matanya, ia penasaran dengan sosok gadis yang di gandeng oleh asistennya. Karena posisinya terhalang tubuh Jordy sehingga wajah gadis itu tidak kelihatan.
Saat mereka membelokkan arah. Posisi gadis itu pun berubah dan otomatis memperlihatkan wajah. Sorot mata tajam yang memperhatikan keduanya pun jadi membeliak dan secara bersamaan mereka berkata. "Ana."
***
Rey memasuki kantornya dengan langkah gontai, dia menaiki lift khusus menuju ke ruangannya. Setelah lift nya sampai di lantai tiga, ia keluar dari lift dengan segera, dia melewati beberapa staff karyawannya dengan perlahan. Menyoroti satu meja yang biasanya di duduki oleh asistennya .
Ternyata Jordy sudah ada di tempat kerjanya, dia terlihat sedang fokus menghadap ke layar monitor di depannya, sampai dia juga tidak sadar kalau bos nya sudah berdiri di depannya.
"Ehem." Rey berdehem di depan meja kerja Jordy.
Jordy menelan ludahnya, tiba-tiba dia merasakan hawa dingin dari cara bicara atasannya tersebut. Mungkin akan ada urusan penting. Membuat Jordy merasakan sedikit pusing.
Jordy beranjak dari duduknya dan mengikuti atasannya masuk ke dalam ruangan yang berhadapan dengan meja kerjanya.
Setelah masuk ke ruangannya Rey berjalan menuju kursi kebesarannya dan langsung mendudukinya. Sedangkan Jordy hanya berdiri di depan meja bosnya.
"Ada perlu apa, Bos!" tanya Jordy tak mau basa basi.
Rey menyimpan punggung tangannya di bawah dagu dan menopangkan kedua sikutnya ke atas meja. "Apa saja yang kau lakukan hari ini?" tanya Rey penuh selidik.
"Hari ini, aku mewakilkan mu untuk bertemu dengan pengacara kita mengenai pembebasan lahan di daerah Lombok, untuk rencana pelebaran resort kita yang disana. Setelah itu aku menemanimu bertemu dengan client kita yang dari Jepang di hotel O*****. Setelah itu aku bikin laporan. Selesai," tutur Jordy menjelaskan rincian tugasnya hari ini.
Memang benar. Tapi bukan itu yang Rey ingin dengar. "Setelah itu, jam istirahat? Kau kemana?"
Jordy mengangkat sebelah alisnya, mengingat apa adalagi pekerjaan setelah itu. "Setelah itu, kita makan siang masing-masing kan bos? Karena tidak ada pertemuan apapun lagi," ucap Jordy merasa yakin.
Rey menghela nafas. "Haish ... sudahlah aku tidak mau berbasa basi lagi denganmu, apa kamu tadi pergi ke kampus Renata?" tanya Rey merasa kesal, karena asistennya ternyata selalu berusaha menyangkal.
__ADS_1
Pertanyaan itu membuat Jordy langsung terdiam. Apakah bosnya tahu sesuatu? Haruskah ia jujur dengan masalah pribadinya pada atasannya tersebut?
Walaupun hubungan mereka adalah bos dan karyawan tapi tetap saja sebenarnya mereka berteman. Jadi tidak ada salahnya kan jika Jordy sedikit menceritakan.
"Ehm ... tidak, Bos." Jordy menjawab bohong, ternyata dirinya masih belum siap untuk mengatakan.
Rey mengerutkan dahi, kenapa Jordy harus berbohong? Apa dia tidak menganggap Rey sebagai sahabatnya? Ah, sudah lah mungkin dirinya belum siap dan malu untuk bercerita. Pikir Rey.
Jordy bukannya tidak mau bercerita tapi ini baru awalan saja. Jika semuanya sudah berjalan seperti keinginannya ia pasti akan bercerita pada atasan sekaligus sahabatnya itu. Kalau kalau nanti malah gagal ia pasti akan malu.
Jordy sangat menghargai persahabatannya dengan Rey. Kalau bukan karena bantuan Rey waktu itu, mungkin ayahnya tidak akan tertolong, karena ayah nya harus melakukan operasi karena ada pendarahan di otaknya pasca kecelakaan dan membutuhkan biaya banyak.
Rey dengan tulus menolong Jordy karena sudah menganggapnya seperti saudaranya sendiri. Rey juga membantu Jordy untuk tetap melanjutkan sekolahnya ke perguruan tinggi. Karena pasca kecelakaan itu ayahnya tidak bisa berjalan lagi. Kakinya menjadi lumpuh, sehingga tidak bisa membiayai kuliah Jordy.
Di mulai saat itu, Jordy berjanji pada dirinya kalau dia akan setia pada keluarga Rey. Walaupun harus menjadi asistennya lelaki itu. Makanya dia jarang sekali terlihat berkencan dengan wanita karena terlalu fokus dengan pekerjaannya.
"Apa kau tidak berbohong? Lalu siapa laki-laki yang ku lihat tadi bersama Ana di kampus?"
Jordy pun membulatkan mata. Ternyata benar Rey melihat segalanya. Hah, malu sekali dia. Harus kepergok oleh Rey saat dirinya sedang mendekati cewek.
Rey kemudian bangkit dari duduknya, lalu berjalan menghampiri Jordy. "Ayolah Jo, kau tidak perlu se formal itu padaku, aku tahu dirimu, apa kau sedang mengejar Ana?" tanya Rey sambil menyenggol tubuh asistennya tersebut dengan bahunya.
Jordy terkesiap, dia memang tidak pandai menyembunyikan apapun dari Rey. "Oke, aku akui, aku hanya kagum pada keberanian dan kesetiakawanan Ana, itu saja." Jordy masih saja membantah perasaan yang sebenarnya.
Rey malah tertawa mendengar jawaban Jordy. "Hahaha.... Kau pikir aku percaya? Kalian begitu mesra saat bergandengan tangan. Apa hal itu bisa di katakan hanya sebuah kekaguman?" ujar Rey dengan nada menyindir.
"Selama ini kau selalu setia padaku, aku tidak pernah melihatmu berkencan dengan seorang wanita sebelumnya. Sikapmu seperti ini membuat ku merasa jika aku membatasi masalah pribadimu Jo." Rey kembali berucap dengan nada serius, sambil duduk di atas meja kerjanya.
"Jadi... Kalau kau benar-benar serius, aku akan membantumu," imbuh Rey sambil melipat tangannya di depan dada.
Jordy menggaruk kepalanya yang tak gatal, ternyata Rey bisa membaca perasaan nya. "Tak perlu bos, aku bisa sendiri untuk masalah seperti ini, kau hanya perlu mendukungku saja. Jangan sebut aku laki-laki jika aku tak bisa menaklukkan hati Ana," ucap Jordy begitu yakin.
Rey tersenyum miring. "Itu baru sahabatku. Aku akan selalu mendukungmu," ucap Rey sambil menepuk pundak Jordy dengan begitu bangga.
Rey kembali duduk di kursi kebesarannya, kemudian dia menoleh lagi ke arah Jordy saat ia ingat sesuatu. "Ah ... iya Jo, minggu depan kita akan berlibur ke pantai Santolo Garut, Rere menyuruhku untuk mengajak mu dan juga Ana. Ini kesempatanmu Jo untuk mendekatinya disana." Rey memberikan semangat pada sahabatnya sambil menaikkan kedua alisnya bersamaan.
Tentu saja Jordy begitu senang, sudah lama ia tidak pergi liburan. Apalagi liburan kali ini akan ada orang yang spesial, pasti sangat menyenangkan. "Aku akan ikut, Bos." Jordy tak kalah semangat.
***
__ADS_1
Bersambung....