
Esok harinya, pagi - pagi Rey menjemput Nayla untuk pergi bekerja bersama dengannya, kebetulan dia juga ada urusan ke bagian kepala rumah sakit tersebut, Nayla sudah siap dengan setelan kemeja putih di balut blazer creamy dan celana span ala - ala dokter muda yang elegan, dia sedang duduk bersandar di kursi teras rumahnya saat Rey datang menjemputnya.
" Lama banget sih mas ?" gerutu Nayla dengan wajahnya yang di tekuk, ketika Rey sudah turun dari mobilnya dan menghampiri Nayla di depan teras.
" Maaf, gara - gara teman kamu tuh ! yang maksa ikut, mana dandannya lama. " ceteluk Rey sambil memanyunkan mulutnya dan memajukan sedikit dagu nya ke arah mobil yang terparkir di depan rumah Nayla.
" Hai Nay !" Seru Rere yang menyembulkan kepalanya di jendela mobil di belakang kemudi.
" Eh...tumben dia ikut ? pacarnya kemana ?" Nayla bertanya pada Rey yang celingukan melihat ke dalam rumah.
" Ibu dan ayah mu mana ? " bukannya menjawab pertanyaan Nayla, Rey malah sibuk mencari keberadaan ibu Tina dan pak Dimas.
" Ibu lagi nyuci baju, ayah udah pergi nganterin TV, ngapain cari ibu dan ayah ?"
" Mau pamit lah. "
" Gak usah, aku udah pamit dari tadi, berangkat sekarang aja, aku udah telat ini ." Nayla menarik tangan Rey menuju ke dalam mobil.
Rey dengan terpaksa menuruti keinginan gadis yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu.
" Ardi kemana Re ? tumben dia gak jemput kamu ? " Tanya Nayla saat sudah duduk di dalam mobil di samping Rey yang memegang kemudi. ( udah jadi dokter ngomongnya aku kamu ya ! )
Rere yang sedang memainkan ponselnya pun mendongak ke arah Nayla.
" Katanya ada rapat penting pagi - pagi, jadi gak bisa anterin aku" Jawab nya lalu beralih kembali ke ponsel miliknya.
" Hati - hati tuh, pagi - pagi rapat apaan ? wajib di curigai itu. " Rey yang sudah menjalankan mobilnya juga ikut berbicara.
Rere mendelik tajam ke arah abangnya, yang di balas dengan senyum sinis saat Rey melirik kaca tengah yang memperlihatkan raut wajah adiknya yang berubah sangar.
" Apaan sih bang, pengen banget lihat adiknya patah hati , baru dua bulan tau jadiannya " ujar Rere dengan wajah yang cemberut. Sejak berlibur ke pantai waktu itu, Rere dan Ardi semakin sering berkomunikasi, mereka pun menjadi lebih dekat, dan akhirnya Ardi melabuhkan cinta nya pada Rere.
__ADS_1
" Iya ih, jahat banget " Nayla ikut membela calon adik ipar sekaligus sahabatnya tersebut. Dia memiringkan tubuhnya sedikit menoleh pada Rere.
" Jangan di dengerin Re ! Ardi tuh orang nya baik kok, di jamin setia deh " Imbuh Nayla kemudian. Rey sekilas melirik ke arah Nayla kemudian beralih kembali ke arah jalan.
" Berani - beraninya dia memuji laki - laki lain di hadapan tunangannya sendiri " Gumam Rey dalam hati, wajah nya kini berubah muram,hawa panas cemburu pada Ardi tak pernah hilang dari pikirannnya, walaupun kini Ardi sudah menjadi kekasih adiknya sendiri, dan Rey harus rela menerimanya, karena Rere mencintai Ardi, dan setidaknya Ardi tidak akan lagi mengusik Nayla.
" Puji aja terus si Ardi itu, lagian aku kan cuma mengingatkan, memangnya salah, Rere tuh adik aku jadi aku berkewajiban menjaga dia " Gerutu Rey menunjukkan wajah kesal nya. membuat Nayla menoleh ke arah Rey.
" Dih,, mas cemburu ?" tanya nya sambil terkekeh.
Rere pun jadi tertawa, merasa lucu karena abangnya malah yang jadi kepanasan karena ulahnya sendiri.
" Hahaha,, niatnya manasin aku, eh...dirinya sendiri yang kena " ucapnya di sela tawanya.
Rey semakin kesal, rasanya seperti di serang oleh dua orang gadis yang menyebalkan.
" Siapa yang cemburu ? " Sanggahnya kemudian.
" Mau abang turunin di sini kamu Renata ?" ucap Rey sedikit mengancam.
" Eh...jangan dong bang, masih jauh kan ? " Rengek Rere.
Rey mencebikkan bibir " Makanya diam !" Gertak Rey.
Rere membungkam seketika, Nayla hanya menggeleng - geleng kan kepalanya pelan melihat tingkah tunangannya yang kembali ke habitat aslinya.
***
Rey memarkirkan mobil nya dengan sempurna di parkiran khusus untuk dirinya jika berkunjung ke rumah sakit itu. Mereka bertemu dengan beberapa perawat dan dokter lain yang kemudian menyapa mereka dengan ramah, kabar bahwa Nayla adalah tunangan sang pemilik rumah sakit sudah menyebar dengan cepat di rumah sakit itu, di karenakan ulah Rey sendiri yang hampir setiap hari mengunjungi Nayla yang sedang bertugas di rumah sakit itu.
" Mas, ke bagian pengawas dulu setelah itu langsung ke kantor. Besok gak usah bawa motor lagi, biar mas yang jemput, perasaan mas gak enak kalau kamu kerja bawa motor sendiri. " Ujar Rey sebelum dirinya pamit kepada tunangannya.
__ADS_1
" Ya elah bang, Nayla kan jagoan ngapain di khawatirin, udah biasa juga kan dari dulu dia bawa motor sendiri " Celetuk Rere, lagi - lagi membuat abangnya kesal dan menatapnya dengan tak suka. Rere kembali membekap mulutnya sendiri dengan telapak tangannya.
" Maaf bang " ucap Rere sedikit tertahan di balik tangannya. Membuat Nayla tersenyum geli.
" Udah mulai posesif nih ceritanya. " Seru Nayla dengan nada mengejek.
" Bukannya gitu, mas cuma seperti punya firasat tidak baik aja akhir - akhir ini " Ucap Rey dengan wajah datar dan pikirannya yang seakan melayang, Rey terdiam sejenak.
" Jangan su'udzon gitu ! gak baik tau " Seru Nayla mengembalikan kesadaran Rey. Rey mencoba tersenyum walau hatinya masih mempunyai perasaan yang aneh.
" Pokoknya besok jangan bawa motor !" Pinta Rey lagi, kali ini dengan penuh penekanan.
" Iya.." Nayla hanya mengangguk pasrah.
Nayla dan Rere pun meninggalkan Rey ke ruangan kerja mereka masing - masing. Nayla masuk ke ruangan dokter anak dan terlihat dokter sudah ada di balik meja kerjanya.
" Selamat pagi dokter Ryan " Sapa Nayla dengan ramah.
Dokter Ryan mendongak dari layar ponsel di depannya, kemudian tersenyum saat melihat dokter cantik itu di hadapannya.
" Selamat pagi dokter Nayla, bagaimana acara mu kemarin ? sepertinya menyenangkan, sampai kamu tak bisa kembali ke rumah sakit" Dokter Ryan menyindir Nayla, membuat Nayla salah tingkah di buatnya, dia jadi teringat kejadian kemarin saat Rey menggodanya di depan dokter seniornya tersebut.
" Ehm....itu, maaf sebelumnya dok, kemarin ada kesalahan teknis jadi sesi foto nya agak terhambat. " Seru Nayla, sedikit memberi alasan yang mendekati kebenaran. Mendengar alasan Nayla, dokter Ryan malah tertawa.
" Hahaha,, aku sudah menduga hal itu, pasti Rey yang membuat pemotretannya jadi terhambat bukan ? "
Nayla membulatkan matanya, kenapa dokter Ryan bisa tahu hal itu, Nayla mengelengkan kepala, kemudian melangkahkan kakinya menuju tempat duduknya bekerja, dia jadi semakin yakin jika dokter Ryan dan Rey benar - benar sama gilanya.
***
mohon terus dukungannya ya readers, biar bisa stay on terus di sini...klik like, star five, coment sama vote yang banyak ya.....makasih.
__ADS_1