
" Gisella " ucap Rey sedikit tertahan.
"Rey " Sahut Gisella.
Sejenak kedua mata mereka saling pandang, Nayla yang melihat itu semakin tidak nyaman, hati nya seperti di aduk-aduk, sakit sekali. Nayla pun mulai memundurkan langkahnya tanpa suara, dia kemudian berbalik badan, berlari pergi meninggalkan adegan yang membuat matanya terasa perih.
Nayla berlari menuju ke arah villa, Rere yang pertama kali sadar sangat terkejut melihat Nayla yang tiba-tiba pergi " Nayla.. mau kemana ? " Teriak Rere, tapi Nayla tak menggubrisnya
" Bang, Nayla pergi tuh " Imbuh Rere memberitahu abangnya.
Tapi sayang nya, Rey tak bergeming, matanya tetap memandangi Gisella yang kini berada di hadapannya. Rere kecewa, kenapa abangnya bisa sejahat itu, seketika melupakan Nayla, yang katanya sangat dia cintai, saat Rey bertemu dengan cinta lamanya, apakah Rey akan membuang cinta Nayla yang sudah berhasil dia dapatkan dengan susah payah.
" Kamu jahat bang " Seru Rere, lalu dia berlari menyusul Nayla ke villa.
Di perjalanan menuju villa, Nayla tak henti-hentinya merutuki dirinya sendiri " Dasar bodoh, Nayla tidak tahu diri, dari awal kan sudah tahu, Rey itu gak pantes buat lo, hatinya udah ada orang lain. Lo itu cuma pelampiasan doang. " Rutuk Nayla pada dirinya sendiri.
Tak lama Nayla pun sampai di villa, terlihat Jordy sedang duduk mengobrol bersama Ana, di teras depan. Jordy dan Ana pun merasa heran karena Nayla datang dengan raut wajah yang kesal. " Nay, kamu kenapa? mana bos Rey, bukankah tadi dia menyusulmu.?" Tanya Jordy penasaran.
Nayla terhenti sebentar, nafasnya tampak ngos-ngosan, sejenak menatap Ana dan Jordy bergantian. Tapi Nayla tidak ingin menjawab pertanyaan Jordy, dia kembali melangkahkan kaki nya untuk masuk ke dalam villa, dan saat bersamaan Ardi keluar dengan membawa 3 botol minuman dingin di tangannya. Nayla pun bertabrakan dengan Ardi, kepala Nayla terbentur botol minuman, karena Ardi dengan reflek menahan tubuh Nayla tapi dia lupa kalau dia sedang memegang botol.
"Awww...." pekik Nayla sambil memegang keningnya yang terbentur botol.
" Eh....sorry...sorry..Nay, gak sengaja gue, lo sih jalannya buru-buru banget. " Ucap Ardi merasa bersalah.
Nayla merengut kesal, kemudian dia menyaut satu botol minuman dingin yang di pegang Ardi, membuka tutup botolnya lalu meneguknya sampai habis, dia mengembalikan botol kosongnya ke tangan Ardi, dan mengulangi aksi sebelumnya pada botol kedua. Ardi dibuat ternganga melihat itu. Begitupun dengan Jordy dan Ana yang dari tadi penasaran dengan sikap Nayla " Lo abis makan apaan sih? minum udah kayak kuda " Sahut Ardi dengan heran.
Nayla mengangkat alisnya sebelah, " Lo tuh yang kayak kuda, gue abis makan hati " Celetuk Nayla dengan geram, wajahnya tergurat kemarahan karena cemburu buta.
" Gue mau ke kamar, jangan ganggu gue " Ucap Nayla seraya masuk ke dalam villa, tapi setelah beberapa langkah, dia berhenti dan menoleh kembali ke arah Ardi yang masih mematung di ambang pintu " Kamar gue yang mana ?" Tanya Nayla dengan sorot mata bingung, dia tidak tahu dimana letak kamar yang di sediakan Rey untuknya, karena dia tadi langsung pergi ke pantai bersama Rere, dan Villa itu juga bukan miliknya, jadi dia masih asing dengan tempat itu.
Ardi mengelengkan kepalanya, Nayla memang tidak pernah berubah, sifatnya selalu terburu- buru, terkadang membuat dirinya menjadi tidak fokus. " Makanya tenang dulu " Ucap Ardi menenangkan Nayla. Ardi beralih ke ke arah Jordy dan memberikan dua botol kosong yang isinya telah habis di minum Nayla, dan satu botol yang masih penuh. Dan kembali berjalan ke arah Nayla yang masih mengatur nafasnya, rasanya dia sangat lelah sekali, rasa sakit di kakinya akibat tendangan penjahat tadi, kini mulai menjalar di seluruh tubuhnya. Tapi rasanya tidak lebih sakit dari sakit hati nya sekarang.
Ardi menarik tangan Nayla ke sebuah sofa yang berada di ruang tengah villa.
" Duduk sini dulu . " Pinta Ardi sambil mendudukkan tubuh Nayla, kemudian dia duduk di sampingnya. " Lo kenapa ?" tanya Ardi sambil menghadapkan wajah Nayla padanya.
" Gue ga apa-apa " Nayla mengalihkan wajahnya ke arah lain.
" Bohong " Seru Ardi " Cepat katakan " imbuh Ardi sedikit memaksa.
Nayla kembali menatap Ardi " Gue mau pulang " Pinta Nayla.
__ADS_1
Ardi mengernyit " Kita baru sampai , lagian..bukannya tadi lo semangat banget " Ucap Ardi heran.
Belum sempat Nayla menjawab pertanyaan Ardi, Rere yang tadi mengejar Nayla, segera masuk ke dalam villa dan mencari sosok Nayla disana. Rere langsung memeluk Nayla dengan heboh nya saat dia sudah menemukan Nayla yang sedang duduk bersama Ardi. " Maafin abang gue ya Nay, " Ucap Rere dengan memelas sambil memeluk erat Nayla, sehingga membuat Nayla kesulitan bernafas.
" Re, lepasin gue dulu..mati gue dah. " Gerutu Nayla sambil menepuk-nepuk bahu Rere.
Rere melepaskan pelukannya, " Tapi lo ga marah kan? gue bisa jamin abang gue cuma kaget aja tadi lihat dia. " Ucap Rere dengan yakin.
Nayla terdiam, sejenak mencerna perkataan Rere, kemudian dia tersenyum " Lo bener, tapi gue mau pulang sekarang " Ucap Nayla membuat mata Rere membulat seketika.
" Jangan gila lo Nay, kita baru sampai kan.. ini acara lo dan bang Rey " Seru Rere dengan nada tak senang.
Nayla menajamkan kedua alisnya saat dia melihat Rey masuk ke dalam villa bersama seseorang, " Dan sekarang bukan lagi Re, abang lo sudah membawa pasangannya yang asli, sudah saat nya gue pergi. " Ucap Nayla dengan senyum menyeringai menatap ke arah pintu villa dimana Rey dan wanita itu berada.
Rere menoleh ke arah pandang Nayla, kemudian menatap tajam Rey dan Gisella bergantian. " Abang ngapain membawa dia ke villa ini ?" Tanya Rere dengan sinis
Rey menoleh ke arah Gisella, dan memberinya kesempatan untuk berbicara " Cepat katakan ! " Perintah Rey dengan tatapan sinis. Membuat Nayla mengernyit heran, terselip sedikit rasa puas di hatinya, melihat sikap Rey yang nampak acuh pada Gisella.
Gisella menelan ludah nya, dia seakan mendapat tekanan yang sangat berat " Nona Nayla, aku kesini cuma ingin mengucapkan terimakasih atas pertolonganmu tadi,dan sepertinya kalian salah paham padaku, aku minta maaf " Ucap Gisella dengan tulus.
" Aku juga mau sekalian pamit, tunangan ku sudah menunggu di luar " Pamit Gisella
Nayla dan Rere saling beradu pandang, mendengar Gisella mengucap kata tunangan, membuat mereka merasa malu dengan sikap mereka yang berlebihan. Apalagi Nayla, wajahnya jadi bersemu merah, dia ingin sekali menyembunyikan diri saat itu juga.
Sesaat suasana jadi hening, sampai sesosok pria bertubuh kekar dengan tinggi badan di atas rata-rata pria dewasa, menghampiri mereka dan langsung memeluk Gisella dari samping.
" Sayang, apa kau sudah selesai ?" Ucap nya dengan lembut. Lalu dia melemparkan senyum nya yang menawan ke setiap orang yang ada di dalam " Maaf saya Martin, tunangan Gisella, saya juga sangat berterima kasih pada nona Nayla yang sudah menolong tunangan saya saat di ganggu penjahat tadi, saya telah lalai membiarkan dia berjalan sendirian, hingga dia kesasar sampai ke tempat sepi itu " Ucap Martin, yang membuat suasana kembali hangat.
Rey terlihat tidak nyaman, dia sepertinya tidak menyukai orang yang bernama martin itu, tanpa memperdulikan ucapan Martin, Rey menghampiri Nayla dan memeluknya dari samping, membuat Nayla menatap Rey dengan tatapan curiga " Apa dia sedang cemburu" Batin Nayla.
Nayla mencoba menepis tangan Rey dengan pelan, tapi Rey semakin menguatkan pelukannya, membuat Nayla semakin tidak nyaman dan mendongak menatap tajam manik-manik mata Rey. Rey merasa kalah, akhirnya dia melepaskan pelukannya. Nayla dengan segera menjauhkan dirinya dari Rey dan menghampiri Gisella.
" Nona Gisella, aku menerima rasa terima kasih mu, aku juga minta maaf karena tadi sudah bersikap tidak sopan padamu, pergi tanpa pamit saat di pantai. " Ucap Nayla dengan ramah.
" Tidak apa-apa nona, aku sangat berhutang budi padamu, tapi saat ini kami harus pulang ke villa kami, besok kami akan melakukan sesi foto pra-wedding di pantai ini, lain kali mungkin aku akan membalas jasamu. " Ucap Gisella.
Mereka pun akhirnya berpelukan, Martin dan Gisella beranjak pergi meninggalkan villa. Sebelum pergi, Martin melemparkan senyumnya pada Rey, tapi Rey tidak mau membalas senyumnya. Dia hanya menunjukkan wajah sinisnya. Sepertinya Rey sangat membenci laki-laki itu. Sangat jelas guratan kemarahan di wajahnya kali ini.
*** Flashback on
" Gisella...kau disini ? " Ucap Rey saat Rere telah berlalu meninggalkan mereka berdua di pantai itu, rasa rindu yang selama ini terpendam seketika terbayar dengan menatap wajah sang terkasih sudah ada di depan mata.
__ADS_1
Gisella hanya diam saja, dia sangat gugup bertemu dengan mantan kekasih yang sudah dia sakiti sebelumnya, Gisella tidak ingin membuka luka lama, karena sangat jelas terlihat di mata Rey, seperti masih menyimpan hasrat yang besar terhadapnya.
" Sayang...ternyata kau ada di sini " Teriak seorang pria dari kejauhan dan kemudian berlari menghampiri Gisella dan langsung memeluknya dengan rasa khawatir yang sangat dalam.
Rey menyipitkan kedua matanya, lebih meyakinkan pandangannya saat menangkap sosok pria yang sangat dia kenal sebelumnya
" Martin ? " Ucap Rey lirih.
Martin tersentak saat Rey menyebut namanya, melepaskan pelukannya pada Gisella lalu menoleh ke arah Rey . " Kau...kau sedang apa di sini ?" tanya Martin dengan sedikit gugup.
Rey tersenyum kecut " Sekarang aku mengerti, kenapa dulu kalian menghilang secara bersamaan." Seru Rey dengan nada menyindir . " Aku tidak menyangka, sahabatku yang paling aku percaya, tega menusukku dari belakang seperti ini. " Imbuhnya sambil melipatkan tangan di depan dada.
" Rey, aku bisa jelaskan ." Martin mencoba memegang pundak Rey, tapi dengan cepat Rey menepisnya.
" Kau pikir aku mau mendengarnya? aku sudah tidak peduli, terserah apapun yang terjadi di masa lalu, aku sangat bersyukur karena Tuhan telah menyuruhmu untuk membawa wanita ini pergi, sehingga aku bisa tahu siapa pengkhianat yang sebenarnya. " Tutur Rey.
" Itu artinya kau bisa memaafkan kami ?" Tanya Martin dengan hati-hati.
" Tidak juga, anggap saja kita sudah impas, dulu kau pernah menyelamatkan nyawaku saat kecelakaan itu, dan kau telah mengambil Gisella sebagai balasan dariku. " Sahut Rey mengingatkan masa lalu.
Martin dan Gisella hanya terdiam, " Rey, tolong ijinkan aku bertemu dengan gadis yang menolongku tadi, aku mau berterima kasih padanya. Aku mohon " Pinta Gisella dengan penuh harap.
Rey menatap Gisella dengan tatapan kosong, dia tak percaya gadis yang selama ini dia cari ternyata kabur dengan sahabatnya sendiri. Tapi saat dia mengingat Nayla, hatinya terasa lebih hangat, dia jadi ingat kalau tadi Nayla tiba-tiba lari meninggalkannya.
"Ah...Nayla, mungkin dia sudah salah paham dengan sikapku barusan ?" Gumam Rey dalam hati.
Rey menatap Martin dan Gisella bergantian
" Baiklah, kalian ikut aku, sekalian aku juga butuh penjelasan kalian kepada kekasihku, mungkin dia tadi sedikit salah paham terhadapku " Ucap Rey, lalu mereka pun berjalan beiringan menuju Villa milik keluarga Rey.
*** Flashback off.
***
Bersambung dulu ya readers...maaf up nya sedikit, maklum ya authornya masih belajar merangkai kata, kalau ada kata-kata yang masih ambigu tolong kasih saran yah.....
jangan lupa
LIKE
KOMENT
__ADS_1
DAN VOTE sebanyak nya ya...biar author tambah semangat nih...