
Nayla dan Rey melakukan ritual mandinya hingga hampir dua jam, tapi belum juga selesai, mereka meluapkan kerinduan yang selama ini tertahan, Nayla yang selama ini merasa kecewa dengan Rey, kini mulai terbuka hatinya kembali membuat kerinduannya semakin menggebu.
Mama Rania dan Rere telah lama duduk di meja makan, mereka ingin makan malam bersama dengan pasangan pengantin baru yang telah pulang sejak sore tadi. Rere berdecak sebal saat mama Rania menyuruhnya untuk memanggil abang dan kakak iparnya untuk segera turun dan makan malam bersama.
" Ngapain aja sih mereka, dari sore gak turun - turun ? " Decak Rere sambil mendengus kesal melangkahkan kaki nya ke arah kamar abangnya tersebut.
Setelah sampai di depan kamar abangnya, Rere segera meraih gagang pintu dan dengan mudah membukanya karena memang tidak di kunci. Rere menyapukan pandangan ke sekitar ruangan tersebut, tapi tak mendapati abang maupun istrinya dimana pun .
Dia pun dengan berani melangkah masuk lebih dalam ke dalam kamar. Sampai terdengar suara aneh yang membuat bulu halus di lehernya meremang dan merinding geli. Sepertinya suara itu berasal dari kamar mandi. Rere mendekat dan suaranya semakin lekat. Rere membulatkan matanya dengan sempurna dan menutup mulutnya dengan telapak tangannya dengan cepat.
" Astaga, sedang apa mereka di dalam ? " Rere menelan ludahnya dengan berat, apalagi saat mendengar sebuah jeritan kecil dan berakhir dengan desahan pelan, membuat perasaannya semakin tak karuan.
" Kok aku seperti lagi nonton film gituan ya ? " Gumam Rere pelan.
Rere segera berlari meninggalkan kamar abangnya saat mendengar percakapan dua orang di dalam kamar mandi yang hendak mengakhiri ritual mandi mereka. Saking paniknya dia lari sampai - sampai Rere lupa untuk menutup pintu kamar abangnya kembali.
Beberapa menit kemudian, kedua orang yang sedang di mabuk cinta ini keluar dari kamar mandi dengan saling melemparkan senyum satu sama lain. Seakan dunia milik berdua, tak peduli dengan dua orang menunggu mereka untuk makan. Rey benar - benar lupa jika sebelum Nayla datang mama Rania meminta Rey untuk memberitahu Nayla untuk makan malam bersama, sekalian mama Rania ingin membicarakan sesuatu hal yang penting pada mereka.
Sejak keluar dari kamar mandi dirinya terus mengekor di belakang tubuh Nayla sambil memeluknya dari belakang, dan sesekali menciumi leher istrinya tersebut.
" Udah dong ah..." Decak Nayla sambil mencoba melepaskan tangan suaminya yang melingkar di perutnya.
Rey hanya tertawa kecil, kemudian melepaskan pelukannya sambil mencium pipi Nayla sekilas. " Baiklah..nanti kita sambung lagi. " Goda Rey dan sukses membuat Nayla tersipu.
Saat Nayla hendak mengambil baju, matanya tersita ke arah pintu yang terbuka lebar. Dia heran, perasaan saat dirinya masuk pintu itu sudah di tutupnya kembali. Dia pun beralih ke arah suami nya lagi.
" Mas..."
" Apa sayang ? Mau lagi ? " Goda Rey sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
" Ish... bukan itu . " Nayla mendengus kesal.
__ADS_1
" Pintunya terbuka, bukannya tadi sudah di tutup ya ? " Imbuhnya kemudian membuat Rey menghentikan aktifitasnya dan mengalihkan pandangannya ke arah pintu kamar mereka.
" Kamu lupa kali tadi pas masuk gak di tutup lagi. " Ucap Rey santai lalu melanjutkan mengeringkan rambutnya kembali.
" Aku tidak lupa, aku benar - benar sudah menutupnya tadi. Atau jangan - jangan ada yang mengintip kita ? " Ujar Nayla dan sontak membuat Rey tertawa.
" Siapa yang berani mengintip kita sayang ? jangan berpikir aneh - aneh deh, lagian di sini cuma ada mama, Rere sama bi Ijah. Kamu mau menuduh mereka ? " Seru Rey masih tertawa kecil.
Nayla terdiam, benar juga mana mungkin orang - orang di rumah itu berani mengintip, apalagi mereka tahu mas Rey orangnya seperti apa. Pikir Nayla. Mungkin Nayla benar - benar lupa menutup pintunya, tak mau pusing memikirkannya lagi Nayla berjalan menuju pintu tersebut dan menutupnya dengan rapat. Dan kemudian memakai pakaian santainya.
***
Di meja makan
" Mana abangmu dan istrinya, Re ? " Tanya Rania saat Rere telah kembali ke meja makan dan duduk di tempatnya semula.
Rere menatap mamanya dengan gugup.
" Lagi ngapain sih mereka, kok bersih - bersih lama banget dari sepulang kerja. "
Rere melebarkan matanya, dia bingung mau menjawab apa, masa dia harus bilang kalau dirinya memergoki sang abang sedang ena - ena bersama istrinya di kamar mandi. Bisa - bisa dirinya di tuduh mengintip oleh sang mama.
" Enggak tahu ." Jawab Rere bohong, sambil mengambil makanan dan di pindahkam dalam piring kosong miliknya.
" Kalian lama banget sih ? " Tanya mama Rania saat Rey dan Nayla sudah tiba di hadapannya. Dan menarik kursi kosong yang akan mereka duduki masing - masing.
Nayla tersenyum getir, lalu melirik ke arah suaminya, berharap dia yang akan menjawab pertanyaan mama nya. Lalu meraih piring kosong di hadapan suaminya untuk mengisinya dengan makanan.
" Kami ketiduran mah . " Jawaban itu lolos dari mulut Rey dengan santainya. Membuat Nayla refleks menendang kaki suaminya, dan Rere tersenyum kecil mendengarnya, memangnya tidak ada alasan lain selain itu, Nayla sangat malu mendengarnya.
" Sayang....sakit ih. " Pekik Rey sambil melihat ke arah kakinya.
__ADS_1
" Kenapa Rey ? " Tanya mama Rania merasa heran anaknya tiba - tiba kesakitan.
" Gak apa -apa mah, kaki mas Rey gak sengaja aku injek. " Tukas Nayla lalu melototkan matanya pada sang suami yang menatapnya dengan tatapan bingung.
" Maklum lah mah, namanya juga pengantin baru, gak aneh sore - sore udah ketiduran. " Celetuk Rere sambil tertawa kecil, lalu kembali memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
Mama Rania menoleh pada Rere. " Memangnya tadi kamu lihat abangmu sedang tidur Re, saat mama suruh kamu panggil mereka ? " Pertanyaan itu sontak membuat Rere tersedak, dan membuat mata Nayla menatap Rere dengan tatapan penuh curiga. Tapi tidak dengan Rey, lelaki itu tampak biasa saja. Rere langsung menyaut segelas air putih yang berada di hadapannya dan meneguknya sampai sakit di tenggorokannya hilang. Rere melirik ke arah Nayla yang masih menatapnya tajam, lalu beralih lagi ke arah mamanya.
"Enggak mah, Rere cuma nebak aja soalnya pas di panggilin gak ada yang jawab, jadi Rere pikir mereka tidur. " Sanggah Rere dengan sesekali melirik ke arah Nayla yang masih memicingkan mata. Jangan sampai mereka tahu kalau tadi aku mengintip apa yang mereka lakukan di kamar mandi. walau gak lihat juga tapi sama aja rasanya. Batin Rere.
Nayla tetap memasang wajah curiga pada adik ipar sekaligus sahabatnya itu, apalagi saat dia ingat kalau pintu kamar mereka tadi terbuka begitu lebar saat mereka keluar dari kamar mandi. Dia akan malu sekali jika hal itu benar terjadi. Hah, mau di simpan dimana wajahnya nanti, walaupun hal itu wajar di lakukan oleh suami istri tetap saja tidak pantas jika harus ketahuan oleh orang lain apalagi sampai terciduk adik sendiri. Sungguh memalukan sekali.
" Mah, katanya mau ngomongin sesuatu ?" Rey yang tidak peduli dengan sikap Rere yang terlihat berbeda, lebih memilih fokus pada sesuatu yang katanya ingin mamanya utarakan pada saat makan malam .
" Owh...itu, mama punya rencana buat ngerayain acara resepsi pernikahan kalian yang belum sempat di gelar. Kalian setuju kan ? " Ujar mama Rania, meminta persetujuan tapi sedikit memaksa.
Rey mengangguk - anggukan kepalanya pelan sambil mengunyah makanan di mulutnya.
" Rey sih setuju aja . " jawab nya santai.
" Bagaimana denganmu Nay ? " Tanya Rania kini beralih pada menantunya.
" Terserah mama aja. " Jawab Nayla pasrah, karena menolak pun juga percuma, Mama Rania tersenyum senang mendengarnya.
" Oke, biar mama yang atur semuanya. Kalian tinggal persiapkan diri aja jadi raja dan ratu di pesta itu ! " Seru ma Rania dengan penuh semangat. Sedangkan Nayla hanya tersenyum melihat mertuanya segirang itu dan menatap ke arah Rere kembali, rasanya dia masih punya perhitungan dengan sahabatnya itu.
***
Happy Reading 😉😉😉
Gak bosen tetap minta readers buat kasih dukungan terus ya....tinggalkan jejak kalian ya...makasih
__ADS_1