Destiny Of Love

Destiny Of Love
SALAH PAHAM


__ADS_3

Rey dengan cepat mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit, sedangkan di tempat pesta, Dio dan Ayu mencari ayah dan ibunya memberi tahu keadaan kakak perempuannya itu, kebetulan mereka sedang berbincang bersama mama Rania juga.


Tanpa banyak bertanya mereka menyusul Rey dan Nayla ke rumah sakit. Gisella ingin ikut, tapi dia masih takut sampai seseorang datang padanya dan menawarkan bantuan. Dia mau bersaksi di hadapan Rey jika Gisella tidak bersalah, karena sejak tadi dia selalu memperhatikan Gisella dari kejauhan, siapa lagi kalau bukan Erfan.


Awalnya Gisella menolak, tapi karena bujukan Erfan dan juga rasa khawatirnya pada Nayla akhirnya Gisella mau juga, dia pergi menyusul bersama Erfan untuk menemui Nayla.


***


Di rumah sakit.


Rey duduk di tempat tunggu di luar ruang ICU, karena dokter tak mengizinkannya masuk dan menemani Nayla. Raut wajahnya tampak muram, tercetak jelas gurat ketakutan di wajah itu, kenapa ini terjadi lagi, kejadian buruk selalu saja menimpa istrinya, tak henti - hentinya Rey merutuki dirinya sendiri, kenapa dia meninggalkan istrinya saat dia tahu jika orang yang dulu mau mencoba membunuh istrinya ada di tempat yang sama.


" Harusnya aku tidak mengizinkan dia datang ke pesta itu. Kamu terlalu baik Nayla, wanita itu benar - benar tidak tahu diri. " Gumam Rey penuh dengan emosi.


Tak lama berselang keluarga Rey dan Nayla telah sampai di rumah sakit dan segera menghampiri Rey yang terlihat duduk sambil menopang dagu.


" Bagaimana keadaan Nayla, Rey ? " Pertanyaan itu keluar dari mulut ibu mertuanya, beliau adalah orang yang paling panik saat mendengar Nayla kecelakaan. Ibu Tina tak ingin kehilangan anaknya lagi, berkali - kali selalu terjadi seperti ini, apa salah anaknya hingga selalu mendapat cobaan yang bertubi - tubi.


Rey mendongak, lalu menoleh ke arah keluarganya. Dan beranjak berdiri berjalan menghampiri ibu mertuanya itu. " Nayla di dalam bu, sedang di periksa oleh dokter. Dia dan bayinya akan baik - baik saja. Ibu berdoa saja ya !" Ucap Rey dengan lembut.


Ibu Tina menangis, dia tak bisa menahan kesedihannya itu, pak Dimas menenangkan istrinya dan mengigiring tubuh istrinya untuk duduk di kursi tunggu dan di ikuti oleh Dio dan Ayu. Aki Asep dan mak Lastri tak bisa ikut karena mobil yang mereka tumpangi tidak cukup untuk membawa mereka juga. Mereka berdua hanya menitip doa, semoga Nayla dan bayinya baik - baik saja.


" Tenang dulu bu, jangan nangis terus ! " Ucap Pak Dimas sambil merangkul tubuh istrinya itu.


Bu Tina menyeka air matanya dengan kasar, menoleh pada sang suami dengan wajah kesal. " Ayah ini bagaimana ? Ibu ini sedih memikirkan nasib Nayla sekarang. Berkali - kali dia selalu saja membuat ibu khawatir. Anak itu benar - benar keterlaluan. " Omel bu Tina dengan penuh kekesalan.


Eh, kenapa dengan bu Tina ini, kenapa dia jadi menyalahkan anaknya sendiri. Memangnya Nayla yang sengaja menyakiti dirinya untuk membuat keluarganya khawatir. Bu Tina terlalu cemas, hingga ucapannya keluar tidak jelas, apapun yang ada di pikirannya dia ungkapkan tanpa pikir panjang.


Pak Dimas sudah sangat mengenal sifat istrinya itu, dia hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan sambil mengelus bahu istrinya memberikan ketenangan.


Rey mengajak mama dan adiknya juga duduk, lalu berjalan mendekati pintu ICU, tapi langkahnya terhenti saat seseorang yang paling dia benci datang mendekati. Orang itu adalah Gisella bersama seseorang yang Rey juga kenal.

__ADS_1


" Untuk apa kamu kemari ? " Kalimat itulah yang pertama keluar dari mulut Rey dengan penuh emosi, membuat semua orang yang ada di sana menoleh kaget mendengar nada bicara Rey yang terdengar menyentak.


" Rey, kamu ini kenapa ? Gisella mengkhawatirkan Nayla, apa salahnya dia kemari ? " Kali ini mama Rania ikut menanggapi.


Rey tersenyum remeh, khawatir ? cih, wanita seperti dia tak punya rasa itu. Rey menghampiri Gisella hendak mengusirnya dari sana, tapi seseorang yang menemaninya tiba - tiba menghadang menghalangi tubuh Gisella yang ketakutan. Dialah Erfan, seseorang yang belum lama menjadi rekan bisnis Rey.


" Pak Erfan ? kenapa anda di sini ? ada hubungan apa anda dengan wanita ini ? " Tanya Rey sambil mengernyit heran, dan menunjuk Gisella yang terhalang tubuh Erfan dengan jari tangannya.


Erfan mencoba bersikap tenang, lalu menoleh ke arah Gisella dan tersenyum seolah berkata "Tenang saja ada aku di sini." Lalu kembali beralih pada Rey.


" Wanita ini temanku pak Rey, dan aku tahu anda menyalahkan dia atas kejadian yang menimpa istrimu, aku saksinya. Aku melihat sendiri istrimu jatuh bukan karena Gisella, dia tak sengaja di tabrak oleh tamu yang lainnya. " Tutur Erfan dengan lembut.


Tapi Rey tak bisa percaya begitu saja, apalagi Erfan bukan siapa - siapa, dia hanya orang asing yang tak tahu dimana letak kesalahan wanita yang ada di belakangnya itu seperti apa.


" Jangan membelanya pak Erfan, dan tolong jangan ikut campur ! " Seru Rey dengan wajah tak ramah.


Perdebatan mereka terdengar begitu menggema di lorong rumah sakit itu, hingga keluarga Rey dan Nayla yang memperhatikan merasa penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Mama Rania menghampiri terlebih dahulu di ikuti oleh Ayu yang merasa mengerti dengan kesalah pahaman yang terjadi di antara mereka.


" Saya tidak membela Gisella Pak Rey, saya hanya mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Gisella tak melakukan apa - apa pada istrimu. "


" Dia benar, Gisella tak mungkin mencelakai menantuku. " Tukas mama Rania.


" Mama tidak tahu, wanita ini lebih berbisa dari pada ular. Dia bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang dia mau. Mungkin saja kan dia menyuruh orang itu untuk menabrak istriku. "


" Kakak ini benar, Ayu juga ada di tempat kejadian A Dio juga. Iya kan A ? " Ayu menoleh pada Dio yang masih duduk di kursi tunggu. Dan Dio menggangguk mengiyakannya.


Rey berdecak, andaikan saja mereka tahu jika wanita itu yang telah menyuruh preman untuk mencelakai Nayla, melemparnya ke jurang dan hampir mati, mereka tidak akan sudi membela Gisella seperti ini. Ingin sekali Rey mengatakannya tapi dia sudah berjanji pada istrinya untuk tidak melakukan itu.


Suasana kini menjadi lebih tegang, walau raut wajah Rey terlihat masih kesal tapi dia masih diam, sampai terdengar suara pintu terbuka, semua mata teralihkan pada benda itu, dan terlihatlah seorang dokter keluar sambil melepas masker yang menutupi mulutnya. Rey dengan cepat menghampiri dokter itu.


" Bagaimana keadaan istri saya dok ? " Tanyanya dengan panik.

__ADS_1


Dokter itu tersenyum lega, menggambarkan tidak ada sesuatu yang buruk sedang terjadi. " Nyonya baik - baik saja, begitupun dengan bayinya. Bayinya hanya mengalami syok saja, akibat adanya benturan. Jadi rahim nyonya ikut menegang. Tapi bersyukur itu masih dalam kondisi normal. " Tutur dokter itu dengan tenang.


Seketika semuanya tersenyum senang, hembusan nafas lega terdengar begitu jelas dalam hentakan nafas mereka. Terlebih lagi Rey, dengan tak sabar dia langsung menemui istrinya setelah dokter mengizinkannya. Sedangkan yang lain di luar menunggu giliran.


****


" Aku baik - baik saja. " Ucap Nayla saat suaminya menggenggam erat tangannya, dan mencium punggung tangan istrinya berkali - kali.


Tersenyum senang, Rey mengusap pipi istrinya dengan lembut.


" Dia gak salah mas. " Nayla berkata seakan tahu apa yang telah terjadi di luar ruangannya tadi.


Rey mengernyit, Dia yang Nayla maksud pasti wanita ular itu, Gisella. Rey diam saja, tak mau membahas wanita itu.


" Kamu mau minum ? " Rey mengalihkan pembicaraannya. Nayla menggeleng.


" Sampai kapan mas akan salah paham dengannya, dia sudah berubah, kasihan dia harus terus menerus di liputi rasa bersalah. " Nayla tak mau terpengaruh dia masih mau membahas masalah itu.


Rey jengah mendengar semua orang terus membela Gisella, wajahnya yang tadinya senang kini berubah menjadi datar. " Jangan bahas dia lagi ! mas gak suka. " Seru Rey dengan penuh penekanan.


" Aku tidak akan membiarkan anakku mempunyai ayah seorang pendendam. " Kata - kata itu bagaikan cambuk yang menghantam telinga Rey, terdengar pelan tapi begitu menyakitkan.


" Sayang, jangan bicara seperti itu, tidak baik jika anak kita dengar ! " Rey mengelus perut Nayla yang masih datar.


" Dia sudah mendengar melalui telinga ibunya, dan melihat melalui mata ibunya, bagaimana ayahnya membenci seseorang tanpa kata maaf. " Nayla memberi jeda sekedar memberi waktu suaminya untuk berpikir sejenak.


" Apa mas lupa ? dulu mas sendiri yang berjanji akan menjaga mba Gie pada almarhum sahabatmu. Martin ? Mas memang menjaga raganya tapi tidak dengan hatinya, hingga dirinya merasa kesepian dan jatuh ke dalam jurang kejahatan. " Imbuh Nayla lagi, dan kini Rey benar - benar bungkam, dia tak mengerti bagaimana dia harus menjaga hati perempuan lain, sedangkan dalam hatinya hanya ada istrinya seorang.


***


Happy reading 😉😉😉

__ADS_1


Met sahur ya teman - teman.... jangan lupa like, comment, share dan Vote nya yang banyak...makasih 😆😆


__ADS_2