Destiny Of Love

Destiny Of Love
JANGAN CARI GARA - GARA


__ADS_3

" Lama banget sih ? " Bu Tina yang sudah bersiap sejak satu jam yang lalu merasa kesal saat Nayla baru keluar dari dalam kamarnya. Walaupun setengah jam yang lalu bu Tina sudah kembali mengetuk pintu kamar Nayla dan tetap mendapat jawaban yang sama. Yaitu tunggu sebentar.


Haish, tunggu sebentar apanya ? satu jam buat mandi saja memangnya ngapain saja Nayla di kamar mandi, dan yang lebih jengkel lagi besan nya selalu saja menelepon menanyakan mereka sudah berada dimana ? tapi anaknya tak bisa di ajak kerja sama.


" Maaf bu , Mas Rey --- "


" Eh... kok ada Rey disini ? " Ucapan Nayla terpotong saat bu Tina melihat Rey juga keluar dari dalam kamar anaknya tersebut.


Rey tersenyum sambil menghampiri sang mertua dan mencium punggung tangan mertuanya. " Tadi subuh kesininya bu, ibu lagi solat kayaknya jadi gak denger. " Jawab Rey berdiri di samping istrinya.


" Mau jemput Nayla ? tapi kenapa kesiangan ? " tanya Bu Tina merasa heran.


Nayla sedikit gugup tak mungkin dia bercerita jika suaminya datang hanya meminta jatah, bahkan dia melupakan acara pestanya.


" Nayla ngajak tidur lagi bu, jadinya kesiangan. " Celetuk Rey sambil terkekeh pelan, Nayla memutar kepalanya melirik tajam pada sang suami yang tega - teganya melempar kesalahan pada istrinya sendiri. Lihat saja, jika suaminya meminta jatah tidak akan dia beri.


" Ayo pergi ! mamamu sudah menelepon berkali - kali. " Ajak bu Tina tak ingin membuang waktu.


Mereka berjalan keluar rumah dan disana sudah ada Ayu dan aki nininya sudah menunggu bersama dengan ayah Dimas dan juga Dio. Ayah Dimas pergi bersama bu Tina dan juga Dio dengan mobil yang di belikan oleh Rey sebulan yang lalu, dan Rey membawa Nayla beserta keluarganya Ayu.


***


Singkat cerita mereka sudah sampai di gedung acara. Mama Rania tampak mondar mandir di depan gedung tersebut.

__ADS_1


" Kalian kemana saja ? " Pertanyaan itu yang pertama kali terlontar dari mulut sang mama saat kedua pengantin itu datang menghampirinya. Rey dan Nayla hanya saling tatap tanpa mau menjawab.


Tak mau membuang waktu lagi, Mama Rania segera menarik keduanya untuk masuk. Mempersiapkan raja dan ratu itu untuk memulai pestanya.


Rey dan Nayla di bawa ke satu kamar yang sudah di persiapkan khusus untuk merias mereka berdua. Disana juga sudah ada Gisella yang menunggu pasangan tersebut untuk membantu Nayla mempercantik diri dengan baju rancangannya. Karena dirinya sudah dinyatakan bebas kemarin.


Gisella menundukkan wajahnya saat melihat Rey, tapi Rey memicingkan matanya merasa tak suka dengan keberadaan wanita itu di sana. Rey menarik tangan Nayla dan mendekatkan padanya. " Kenapa dia ada disini ?" Tanya Rey sambil matanya menatap tajam pada Gisella. Mereka pun terlibat perdebatan pelan yang hanya di dengar mereka berdua saja.


Nayla menoleh ke arah Gisella yang tampak menunduk malu, lalu beralih pada sang suami yang menunjukkan wajah ketusnya. " Jangan cari gara - gara ! kita kan sudah sepakat sebelumnya. " Geram Nayla sambil melototkan matanya.


" Kesepakatan apa ? aku sudah bilang jangan menampakan diri di depanku, kenapa sekarang dia disini. " Decak kesal Rey.


" Jangan di lihat apa susahnya ! Mba Gie juga gak mau lihat mas. Lihat saja dia menunduk terus dari tadi ! " Seru Nayla telak sambil memperhatikan gerak - gerik Gisella.


" Kalian lagi ngobrolin apa sih ? ayo cepetan ! acaranya sudah di mulai dari tadi . " Omelan mama Rania menghentikan perdebatan mereka. Nayla di tarik oleh mama Rania menghampiri Gisella dan satu MUA perempuan yang akan meriasnya. Dan juga Rey di bantu oleh asisten MUA yang laki - laki. Mereka akan di jadikan Ratu dan Raja untuk hari ini.


Gisella dengan serius mendandani Nayla agar tampil anggun dengan gaun desainnya sendiri, sesekali Nayla melempar candaan padanya agar suasana tidak terlalu canggung, karena Nayla tahu dari tadi mata tajam Rey selalu membidik ke arah Gisella takut - takut jika wanita itu menyakiti Nayla lagi. Rey masih belum percaya pada Gisella benar - benar sudah berubah.


Satu jam berlalu, Nayla sudah siap dengan riasannya yang tampak sempurna, Rey sudah lebih dulu setengah jam dari Nayla dia harus menyapa para tamu yang hadir. Karena mereka sudah lama menunggu sang pengantin untuk memberikan selamat. Tapi karena pengantinnya terlambat akhirnya Rey harus meminta maaf.


Nayla di gandeng oleh Gisella dan mama Rania memasuki gedung acara, Rey di buat terpukau dengan kecantikan istrinya itu. Tapi wajahnya berubah suram saat melihat istrinya di gandeng wanita jahat itu. Gisella tahu diri akhirnya dia memilih untuk berdiam diri. Dan membiarkan Nayla bersama mama mertuanya saja menuju pelaminannya .


Acara pun berlangsung dengan lancar, Rey memperkenalkan Nayla sebagai istrinya pada seluruh rekan bisnisnya. Mereka semua tampak bahagia menikmati acara pesta. Tapi tidak dengan gadis malang yang bernama Gisella, walaupun dirinya ikut bahagia dengan pesta pernikahan Nayla, tapi hatinya begitu sakit karena Rey masih belum memaafkannya. Dia duduk agak jauh dari keramaian sambil sesekali menyeka air mata yang tak bisa di bendung di pipinya. Dia mencoba untuk menyembunyikan kesedihannya itu .

__ADS_1


Saat dirinya sibuk mengusap air matanya sambil menunduk, uluran sebuah sapu tangan dari seseorang membuatnya mendongak kaget.


" Pakai ini ! " Seru orang itu.


Gisella mengernyit dahi, pria asing di hadapannya itu seperti pernah dia temui sebelumnya, Gisella berusaha mengingatnya tapi dia lupa. Sekedar menghargai pemberian orang Gisella menerima sapu tangan itu.


" Terima kasih . " Ucapnya.


Pria itu duduk di kursi kosong di sebelah Gisella. " Kamu lupa padaku ? " Tanyanya kemudian.


Gisella terhenyak, ternyata benar mereka pernah saling kenal. Gisella memiringkan posisi duduknya hingga menghadap ke arah pria di sampingnya itu. " Maaf, apa kita pernah kenal sebelumnya ? " Tanya Gisella penasaran.


Pria itu tersenyum tipis, lalu menoleh hingga kini mereka saling berhadapan. " Aku adalah teman sekolahmu dulu, saingan Martin dalam setiap pertandingan antar sekolah. Sekaligus saingan untuk mendapatkan dirimu. Dan akhirnya aku kalah. Kamu lebih memilih bersamanya. Bahkan rela berpura - pura menjadi pacar temannya itu. " Tutur orang itu tanpa basa - basi sambil matanya tertuju ke arah Rey.


Gisella terhenyak, dirinya baru mengingat orang ini adalah musuhnya Martin dulu. Teman satu sekolahnya yang selalu berusaha mendapatkan hatinya. Namun Gisella tak memilihnya.


***


Klik Like, beri komentar, share dan favorite ya.. Vote pake poinnya jangan ampe lupa, biar lebih kenceng up nya😆😆


Baca juga cerita ku yang lain ya... judulnya.


MY LOVELY IDIOT HUSBAND

__ADS_1


Happy reading 😉😉


__ADS_2