
Sore hari menjelang petang, Nayla sedang berjalan kaki hendak pulang ke rumahnya, setelah melatih anak-anak di padepokan silat yang tak jauh dari rumah nya. Dia menyusuri jalanan yang tampak sepi.
"Gue kesorean nih kayaknya, mesti cepet- cepet bentar lagi magrib." Ucap Nayla pada dirinya sendiri sambil mempercepat langkahnya.
Tapi tiba-tiba dari arah belakangnya seorang gadis yang kira-kira seumuran dengan nya menabrak tubuh Nayla sampai keduanya terjatuh dan duduk di atas tanah yang berlapis aspal. "Ah...Nayla." Ucap gadis itu yang ternyata mengenali Nayla. Tapi sayangnya Nayla tak mengenali gadis tersebut.
"Kau mengenal ku?" tanya Nayla sambil mengernyitkan dahi.
Bukannya menjawab gadis malah langsung berdiri dan bersiap untuk lari kembali. Sepertinya ia sedang di kejar okeh seseorang. "Pergilah Nay! Aku harus pergi sekarang. Jaga dirimu!" Seru gadis itu, lalu berlari meninggalkan Nayla yang masih termangu di tempatnya.
Nayla tidak mengerti apa yang di maksudkan oleh gadis itu, bahkan ia tak mengenal gadis itu tapi kenapa dia menyuruh Nayla untuk menjaga diri?
"Aneh banget sih? Rasanya gue pernah ketemu dia, tapi dimana ya?" Gumam Nayla sambil mencoba mengingat -ingat tapi sayangnya ternyata Nayla benar-benar lupa.
Di sela kebingungan nya tiba-tiba datang dua orang pria bertubuh kekar dan berpenampilan seperti preman yang berlari dan berhenti di depan Nayla. Preman itu seperti sedang mengejar seseorang.
"Hei.... Apa kamu lihat seorang gadis yang lari ke arah sini?" Tanya salah satu preman dengan nafas ngos-ngosan.
Nayla sempat melongo sampai akhirnya menggelengkan kepala. "Enggak." Jawabnya singkat. Preman itu berdecak, hingga temannya yang lain menarik tangan preman tersebut untuk segera berlari lagi.
"Hei... cepatlah! Nanti dia keburu jauh. Kalau sampai dia lolos habis lah kita di marahi bos." Ucap preman yang berbadan lebih kecil dari yang bertanya pada Nayla.
Nayla masih terdiam, menatap dua preman itu dengan kening berkerut dalam. Tampak jelas rasa penasaran yang ia tunjukkan di raut wajahnya itu. Hingga Nayla tersadar saat kedua preman itu sudah berlari agak jauh darinya. "Ah... Apa mungkin gadis yang tadi menabrak ku? Dia juga terlihat seperti di kejar orang, dua preman tadi pasti bukan temannya. Jadi dia....." Tanpa berpikir panjang lagi, Nayla segera berlari kedua preman tadi. Dan saat berada di tikungan Nayla kehilangan jejak kedua preman itu, "Kemana mereka?" Gumamnya pelan.
Nayla berjalan perlahan, menyusuri jalanan trotoar di sana hanya ada satu lampu jalan yang sudah mulai redup. Hingga saat sinar mentari sudah hilang tertelan awan. Tempat itu menjadi temaram.
Saat ia berada di dekat satu gang kecil yang jarang di lewati, ia mendengar suara laki-laki yang tertawa terbahak-bahak. Dengan langkah gontai dan rasa penasaran yang begitu besar Nayla menghampiri tempat itu. Nayla melihat dua preman itu sedang berdiri membelakangi nya sepertinya ada sesuatu di hadapan mereka.
"Hei...." Nayla berteriak hingga membuat kedua preman itu menoleh secara bersamaan.
Kedua preman itu pun menoleh, kemudian nampak lah gadis yang menabrak Nayla tadi sedang terduduk sambil meringis kesakitan memegangi perutnya di celah tubuh dua orang preman yang meregang karena terkejut saat mendengar teriakan Nayla. "Gawat, ada yang melihat." ucap salah satu preman.
"Jangan ikut campur! Lo mau mati kayak gadis itu hah?" Ancam salah satu preman sambil berkacak pinggang. Sebenarnya mreka ingin pergi tapi sayangnya, gang itu buntu jadi mau tidak mau mereka harus menerobos tubuh Nayla yang berdiri menghalangi di ujung gang sana.
"Habisin aja! Biar gak ada saksi!" Seru preman yang bertubuh gempal pada temannya.
__ADS_1
"Kalian apakan gadis itu?" Nayla mendelik tajam, ia begitu terkejut saat melihat gadis itu banyak mengeluarkan darah. Ia bisa mati kalau tidak cepat di bawa ke rumah sakit.
"Banyak omong!" Preman itu langsung menghujamkan satu pukulan ke arah wajah Nayla, tapi bukan Nayla namanya kalau dia tidak bisa mengelak dari pukulan itu, dia menghajar kedua preman itu dengan sangat cepat dan tepat. Tidak membutuhkan waktu lama untuk gadis jagoan itu melumpuhkan lawannya.
Kedua preman itu nampak tak berdaya, tubuh mereka penuh dengan lebam, ada darah yang keluar dari hidung dan mulut mereka. Nayla hendak menyerang lagi. Tapi gerakannya terhenti saat gadis yang terluka itu memanggil namanya. Nayla langsung berbalik dan menghamburkan tubuhnya untuk menahan tubuh gadis itu yang hendak terguling ke tanah. "Pergilah Nay!" Seru gadis itu sambil menepis tangan Nayla yang menyentuh tubuhnya.
Kening Nayla berkerut, mendengar gadis itu malah menyuruhnya untuk pergi. Bukankah ia butuh pertolongan saat ini? Ataukah dia ingin mati?
Nayla tak memperdulikan ucapan sang gadis. Dia tidak akan membiarkan gadis itu mati konyol di hadapannya. Ini adalah kasus pembunuhan dan gadis itu harus selamat agar pelakunya bisa tertangkap. "Kau harus ke rumah sakit!" Seru Nayla dengan sedikit nada tinggi. Gadis itu kemudian mengerang lebih keras sepertinya rasa sakitnya kian menghujam.
Nayla melebarkan matanya saat ia melihat sebuah pisau masih menancap di perut wanita tersebut. Tanpa pamit tangan Nayla menjulur untuk mencabutnya agar mengurangi rasa sakit.
Tapi tanpa diduga gadis itu malah menjerit. "Jangan sentuh! Pergilah Nayla! Jangan pedulikan aku! Kamu...." Gadis itu belum sempat menyelesaikan kata-katanya tubuhnya terkulai tak sadarkan diri.
Nayla begitu panik, dia tidak mendengarkan perintah gadis itu untuk tidak mencabut pisaunya. Dan dengan sekuat tenaga menggendong gadis itu sampai dia mendapatkan satu mobil yang mau mengantarnya ke rumah sakit.
***
"Nayla..." Suara seseorang yang tak asing di telinga Nayla terdengar menggema di koridor rumah sakit. Tepatnya di depan ruang ICU tempat gadis itu memperoleh pertolongan medis.
Nayla menoleh lalu mengernyitkan kening saat melihat yang datang malah sahabat dekatnya. "Ardi?"
"Ngapain lo disini?" Nayla bertanya saat Ardi dan temannya sudah berada di depan Nayla.
"Gue kesini karena kakak sepupu gue dapat kabar kalau adiknya ada yang mencelakai dan di bawa ke rumah sakit ini. Dan kata petugas di depan tadi memang ada gadis yang terluka yang dan di bawa ke ruang ICU." Tutur Ardi menjelaskan maksud keberadaannya di rumah sakit itu.
Nayla mengernyitkan kening, ia sejenak berpikir. Siapa yang menghubungi saudaranya gadis yang ia tolong? Padahal dari Nayla tidak menghubungi siapa-siapa karena memang tak mengenai gadis tersebut.
Satu tepukan di pundak Nayla menyadarkan gadis itu dari lamunannya. "Lo kenapa?" Tanya Ardi heran melihat ekspresi Nayla yang seperti kebingungan.
"Eh, gak apa-apa." Nayla menggelengkan kepalanya. "Cewek itu ada di dalam. Gue yang bawa dia ke sini." Tambahnya yang membuat kakak dari gadis itupun mendekat.
"Bagaimana keadaannya? Apa lukanya parah? Siapa yang sudah tega melukai adikku itu?" Gadis yang bernama Nina itu melayangkan beberapa pertanyaan pada Nayla secara bersamaan.
"Dia masih di dalam, dokter sedang memeriksanya. Aku juga tidak tahu mereka siapa, yang pasti aku melihat mereka mengejar dia. Dan aku mengikutinya tapi saat aku menemukan mereka, cewek itu sudah terkulai di tanah." Jawab Nayla menjelaskan.
__ADS_1
"Gadis itu bernama Ana, apa kau lupa? Kau pernah menolongnya saat dia hendak kecopetan waktu itu?" Ardi menyela obrolan antara kedua wanita di hadapannya.
Belum sempat Nayla mengomentari perkataan Ardi, pintu ruangan ICU terbuka mengalihkan perhatian mereka dan seketika berhambur menghampiri sang dokter yang keluar dari sana. "Dokter.... Bagaimana keadaan adikku?" tanya Nina tak sabar lagi untuk menunggu.
Dokter tersebut membuka masker yang ia pakai. Terlihat dari raut wajahnya yang begitu muram, bisa di simpulkan jika keadaan pasien di dalam sepertinya tidak dalam keadaan baik-baik saja. "Maaf nona, Adik anda terlalu banyak mengeluarkan darah, kami sudah mengangani lukanya dan melakukan transfusi darah padanya. Tapi....." Ucapan Dokter itu terhenti, seakan ada yang tercekat di tenggorokannya. Ia bingung harus mengatakan apa.
"Tapi kenapa dokter?" Nina mulai panik.
"Sekarang dia masih koma, luka nya sangat dalam, sedikit lagi saja akan mengenai ginjalnya, dan dia juga agak terlambat datang kesini, jadi kami mengalami kendala dalam menanganinya, keadaan adik anda sekarang kritis nona." Ujar Dokter.
Mendengar itu Nina terkulai lemas, kaki nya seakan tak kuat untuk menopang tubuhnya untuk berdiri, dengan di bantu Ardi, Nina duduk di kursi tunggu. dia menangis sesegukan. "Sabar kak, dia pasti selamat." Ucap Ardi menenangkan.
Nayla hanya diam saja, dia sangat menyesal karena tidak bisa membawa Ana tepat waktu, suasana hening seketika hanya suara segukan dari tangis Nina yang sesekali terdengar.
Hingga kedatangan dua orang yang langsung kenali dari seragam yang mereka pakai sebagai seorang polisi membuat ketiga orang yang sedang menunggu di depan ruang ICU tersebut mengalihkan pandangannya pada orang yang datang. "Selamat malam, kami mau meminta keterangan dari nona yang membawa seorang gadis yang terluka. Siapa kira-kira di antara kalian?"
Nayla dan Nina saling tatap karena cuma ada mereka berdua perempuan disana. Nayla dengan sigap langsung berdiri dari duduknya. "Saya pak, saya yang membawa gadis itu." Aku Nayla.
"Ada seseorang yang melaporkan bahwa ada kasus percobaan pembunuhan di dekat sebuah ruko, kami sudah menyelidikinya ke TKP dan kami menemukan bercak darah dan sebuah pisau disana, apa kamu kenal pisau ini?" tanya polisi itu sambil menunjukkan sebuah pisau yang sudah di bungkus kantung plastik.
"Iya pak, itu pisau yang tertusuk di perut gadis itu." jawab Nayla sejujurnya.
"Kalau begitu anda bisa ikut kami ke kantor polisi, untuk mendapatkan keterangan lebih lanjut, ada dugaan kamulah yang mencoba membunuh gadis itu." Ucap seorang polisi. Nayla begitu terkesiap mendengarnya, apa-apaan kenapa jadi dia yang di salahkan?
"Tunggu dulu pak, ini pasti salah paham Nayla yang menolong Ana, jadi tidak mungkin dia mencoba membunuhnya." Sergah Ardi mencoba menghalangi polisi untuk membawa Nayla pergi.
Polisi itu mengangguk mengerti. Mereka bersikap bijak sekali. "Ini masih dugaan pak, kami akan menyelidikinya lebih lanjut. Nona Nayla akan kami interogasi biar semuanya jadi terbukti."
Nayla menghela nafas panjang dia berusaha untuk tenang. "Gak apa-apa Ar, gue gak salah kok. Lo tenang aja! Tolong beritahu orang tua gue kalau gue gak pulang malam ini." Seru Nayla membiarkan polisi itu membawanya.
Ardi mencoba mengerti, dia tidak percaya kalau Nayla melakukan hal serendah itu, dia mencoba meyakinkan Nina bahwa apa yang dia dengar dari polisi itu tidak benar, Nayla tidak punya masalah apapun dengan Ana. Jadi tidak mungkin Nayla yang melukai Ana.
***
Bersambung dulu tegangnya ya readers...
__ADS_1
spoiler nih...Nayla cuma di fitnah kok...tenang aja.
Follow igeh amih ya...