Destiny Of Love

Destiny Of Love
Menghindar


__ADS_3

Seminggu sudah berlalu, dan sikap Rey malah semakin memperlihatkan bahwa dirinya sedang mengejar Nayla, sejak seminggu yang lalu Rey selalu meminta Nayla dan Rere agar mau di antar jemput kuliah, bahkan jika Nayla belum datang ke rumah Rere dia rela menjemput Nayla ke rumah nya, ajakan makan bersama sampai nonton juga di gunakan dalam aksinya itu, mungkin dia sudah tidak sibuk lagi dengan pekerjaannya padahal Jordy asistennya Rey di buat kewalahan mengurus pekerjaan-pekerjaan yang tiba-tiba harus Rey tinggalkan demi Nayla. Semua ajakan dan perintahnya tidak boleh ada penolakan dari Nayla karena Rey selalu menggunakan nama Rere dan juga mama nya, entah kenapa Nayla tidak pernah bisa menolak permintaan dari mereka berdua, Nayla benar-benar di buat tidak mengelak dengan permintaan abang sahabatnya itu.


Hingga kala itu Nayla sudah mulai jengah dengan kelakuan Rey, dia berniat pergi kuliah sangat pagi menggunakan motor kesayangannya, Nayla sadar bahwa dirinya tidak pantas jika harus bersanding dengan Rey nanti, dia sadar diri karena dia cuma berasal dari keluarga yang biasa- biasa saja. Jadi dia berniat untuk menghindari Rey.


Pagi sekali Nayla sudah mengeluarkan si mocan dari ruang tamu rumahnya, karena dia tidak mempunyai garasi untuk motor cantiknya itu, "Tumben kamu nak, jam segini udah ngeluarin motor? Gak bareng Rere lagi naik mobil?" tanya bu Tina heran.


Nayla yang sedang asyik mengelap-ngelap sedikit debu dari motor nya pun menoleh ke arah ibunya "Gak bu, mau ada perlu. Lagian kenapa sih kalau Nayla bangun siang di omelin sekarang bangun pagi di cela juga." Seru Nayla dengan mengerucutkan bibirnya.


Bu tina hanya tersenyum mendengar ucapan anak gadisnya itu, lalu memegang kepala Nayla dan mengacak rambut anaknya kemudian dia pergi menuju ke arah dapur untuk menyiapkan sarapan.


"Ibu.... Aku udah rapi, jadi acak - acakan lagi kan?" Gerutu Nayla sambil merapikan rambutnya dengan jari-jari nya.


Jam menunjukkan pukul 6 pagi, Nayla sudah siap akan berangkat kuliah dan bergegas menuju motornya yang ada di pekarangan rumahnya , padahal jadwal kuliah Nayla hari ini mulai jam 8 pagi tapi dia ingin berangkat lebih pagi agar bisa terhindar dari ulah Rey yang selalu memaksanya berangkat bersama. Setelah sampai dekat motornya Nayla duduk di atas motornya dan memakai helm, lalu dia mengambil ponsel dari dalam tas dia berniat memberikan pesan singkat pada Rere kalau dia sudah berangkat kuliah duluan, supaya Rey tidak menjemputnya ke rumah.


* Ting...


Satu tanda pesan singkat masuk di ponsel milik Rere, pesan itu di kirim oleh Nayla


"Re, gue udah berangkat kuliah ya, gue mau sekalian ke toko buku dulu jadi gue pergi sama si mocan. Lo masih di antar abang lo, kan? Jangan jemput gue ke rumah ya!" -Nayla.


Rere mengernyitkan dahinya, dia heran tidak biasanya sahabatnya seperti itu, dia pun membalasnya pesan singkatnya.


"Lo lagi gak marah sama gue kan Nay? Lo baik-baik aja kan?" -Rere.


"Jangan berpikir macem-macem gue emang lagi ada perlu aja." -Nayla.


Kemudian tak Rere membalas lagi.


"Ya udah gak apa-apa, hati-hati!" -Rere.


"Oke, nanti ketemu di kantin kampus, ya." -Nayla.


Dan tidak ada balasan lagi setelah Nayla mengirimkan pesan tersebut.

__ADS_1


Nayla memasukan ponselnya ke dalam tas, lalu melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Sesampainya di kampus suasana masih sangat sepi karena memang masih terlalu pagi , cuma terlihat ada beberapa orang di sana itupun hanya para pegawai kebersihan yang sedang membersihkan area kampus dan bapak satpam dan rekan-rekannya.


Nayla memarkirkan motornya di area parkir, di karenakan masih sepi dia memutuskan untuk pergi ke perpustakaan dulu membaca buku sebelum Rere datang karena mereka sudah janji ketemu di kantin. Nayla memang belum sarapan karena tadi dia buru-buru saat keluar dari rumahnya. Tapi dia berniat menunggu Rere datang untuk mengajaknya sarapan bersama.


***


Rere turun dari kamarnya menuju meja makan, mama Rania juga sudah ada di sana tapi Rey belum turun dari kamarnya. "Abang kemana mah? Tumben belum turun?" tanya Rere sambil menarik salah satu kursi dan duduk berhadapan dengan mama nya.


Bu Rania mengangkat kedua bahunya. "Gak tau mama juga, tumben abang mu belum siap." ujarnya sambil mendongakkan kepalanya ke lantai atas ke arah kamar Rey, dan saat itu Rey sedang berjalan menuruni anak tangga.


"Nah itu abang mu." Tambah bu Rania sambil menunjuk menggunakan dagu nya dan memanyunkan bibirnya ke arah Rey.


Rere pun menoleh ke arah Rey dan pandangan nya mengikuti gerakan Rey sampai Rey duduk di meja makan. "Tumben bang telat?" tanya Renata.


"Iya, abang semalam tidurnya telat." Jawabnya sambil menyiapkan roti untuk ia makan. "Nayla belum datang?" Tanya Rey kemudian.


Renata menggeleng dan menelan makanan yang ada di mulutnya. "Dia gak bakalan datang bang, dia tadi ngirim pesan ke aku kalau dia udah berangkat duluan naik motor." Sahut Renata lalu melahap makannya lagi.


Rey sejenak terdiam, dia menoleh ke arah Renata dan menghentikan makannya lalu menyimpan roti yang di pegangnya di atas piring. Raut wajahnya tiba-tiba berubah datar. "Kenapa gak bilang dari tadi? Kita berangkat sekarang!" Seru Rey dengan nada kesal.


"Rey sudah kenyang mah." Ucap Rey sambil meminum air putih yang ada di hadapannya. "Rere ayo!" Ajak Rey pada adiknya dengan tidak sabar lalu bergegas mencium tangan mama nya dan pergi meninggalkan Rere yang terburu - buru menghabiskan sarapannya dan kemudian ikut mencium tangan mama nya dan berpamitan pergi.


"Bang Rey tungguin dong!" teriak Renata, ia begitu kewalahan mengejar abangnya yang begitu bersemangat karena kesal di tinggal oleh Nayla.


Rey berhenti di samping pintu mobilnya dan menoleh kearah adiknya yang berlari mengejarnya, Renata mengaturnya nafasnya yang terlihat ngos-ngosan mengejar kakaknya itu. "Kenapa kamu biarin Nayla berangkat sendiri Re?" tanya Rey melampiaskan kekesalannya.


Renata mulai mengatur nafasnya sambil memegang dadanya. "Abang kenapa sih? Nayla mau ada perlu mampir ke toko buku dulu sebelum ke kampus, jadi dia duluan. Aku gak berhak buat ngelarang dia ngelakuin itu kan?" Jawab Renata dengan sedikit kesal karena mendengar Rey seperti membentak nya.


"Kan bisa bareng abang." ucap Rey sedikit lebih tenang.


"Dia gak mau ngerepotin abang." Rere terdiam dia memberikan tatapan curiga pada abang nya itu, dengan menyenderkan tubuhnya pada pintu mobil.


"Abang suka ya sama Nayla?" Tanya Rere tiba-tiba dengan tatapan penuh selidik.

__ADS_1


Rey membulatkan matanya dia salah tingkah, tak menyangka adiknya ternyata peka juga. Rey tak mau menjawab ia lantas membuka pintu mobilnya dan duduk di depan kemudi. "Ayo pergi!" Ajak nya pada Renata tanpa basa basi.


Tapi bukannya ikut masuk mobil mengikuti abangnya,Rere malah menghampiri abangnya lalu membungkukkan badannya dan melipatkan kedua tangan nya di atas kaca pintu mobil Rey yang terbuka. "Abang jawab dulu!" Renata kembali menggoda abangnya.


Rey menoleh, menatap lekat wajah adiknya. "Kalau iya memangnya kenapa? Kamu keberatan?" Rey menunjukkan wajah dinginnya berusaha menutupi rasa malunya pada sang adik.


Renata terkekeh. "Ya gak lah, Rere malah seneng dengernya.Sebenarnya Rere udah curiga dari pertama abang mau antar jemput Rere sama Nayla kuliah, dan kayaknya Nayla merasa risih deh dengan sikap abang makanya dia sekarang mau mengindari abang. Menurut Rere sih itu juga, karena Nayla bukan type cewek yang suka di kejar secara terang-terangan." Ujar Renata panjang lebar lalu menegakkan tubuhnya dan bergegas memutar ke depan mobil lalu masuk ke dalam mobil melalui pintu mobil sebelah Rey. Sedangkan Rey masih diam terpaku mencerna ucapan adiknya tersebut.


"Lalu abang mesti gimana?" Rey menoleh ke arah Rere yang sudah duduk manis di samping kemudinya dengan tatapan sendu.


Renata tersenyum lucu tapi kasian juga melihat wajah abangnya yang terlihat frustasi. "Abang jangan terlalu agresif lah, jangan maksa-maksain kemauan abang cuma buat bisa deket sama Nayla, pelan -pelan aja!" ucap Renata memberikan saran.


Rey memegang dagunya sambil mengangguk-angguk pelan. "Oh, begitunya ya, tapi apa benar sekarang Nayla mencoba menghindar dari abang? Bukannya kemarin sikapnya biasa-biasa aja." Tanyanya merasa tidak yakin.


"Itu kan cuma dugaan Rere, tapi Nayla juga gak biasanya kayak gini, nanti Rere coba tanyain deh." Ujar Rere sambil terkekeh pelan.


Rey mengusap wajah Rere sambil tersenyum kemudian menyalakan mesin mobilnya dan bergegas pergi meninggalkan rumahnya. "Makasih ya." Ucapnya.


Sesampainya di kampus, Rere langsung mencari keberadaan Nayla setelah mengirim pesan singkat dan telah di balas oleh sahabatnya itu Rere tahu kalau Nayla sudah mengunggu nya di kantin dan mereka pun bergegas menyusul Nayla. Ya mereka, karena Rey ikut turun dari mobil mengikuti Renata. Penasaran banget dia sama Nayla.


"Nayla." Panggil Rere sambil berteriak, saat dirinya melihat Nayla sedang duduk di bangku kantin.


Nayla seketika menoleh ke asal suara yang memanggilnya dan tersenyum kepada Rere tapi seketika wajahnya merengut ketika melihat seseorang yang mengikuti Rere di belakangnya .


Deg!


Jantung Nayla seakan berhenti berdetak dia tak menyangka Rey akan menemui nya sampai ke kantin kampus. "Kenapa dia malah kesini." Gumam Nayla dalam hati.


****


bersambung ya...


nantikan episode selanjutnya ya,bantu juga votenya ya...thank' s readers...

__ADS_1


Follow IG author : amih_amy


__ADS_2