
Keesokan harinya, Rere tampak mondar- mandir di depan pintu rumahnya, sambil memegang ponsel dan sesekali mencoba untuk menelepon seseorang, dengan wajah kesal, beberapa kali mulut nya berdecak sebal saat yang di hubungi nya tak kunjung mengangkat panggilan teleponnya.
"Sialan ni anak, kemana sih?" Umpat Rere untuk kesekian kali.
Lalu Rey yang sudah siap dengan setelan kantor nya keluar dari dalam rumah karena akan pergi bekerja. Rey menatap heran kepada adiknya yang tengah mondar-mandir tidak jelas.
"Kenapa masih disini dek, sudah jam sembilan loh?" tanya Rey sambil melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Rey memang sengaja berangkat agak siang ke kantornya karena memang hari ini tidak terlalu banyak pekerjaan yang akan di kerjakannya.
Rere menoleh ke arah kakaknya. Dengan wajah di tekuk dan bibirnya juga cemberut. "Iya nih bang, Nayla belum datang juga. HP nya juga gak bisa di hubungi." Gerutu Rere sambil mendengus kesal.
Tapi sesaat ia berubah jadi tegang, karena tidak biasanya sahabatnya datang terlambat tapi tak ada kabar. "Biasanya kalau dia telat suka telepon atau WA aku bang, tapi ini gak ada kabar sama sekali, bahkan ponselnya juga gak aktif. Aku jadi khawatir." Seru Rere mendadak gelisah.
"Kalau begitu kita kerumahnya saja, ayo abang yang antarantar!" Seru Rey yang jadi ikutan panik.
"Bang Rey, gak kerja?" Rere sedikit tidak enak kalau harus mengganggu waktu kerja kakaknya, padahal malah senang melakukan apapun yang penting bertemu dengan pujaan hatinya.
"Jangan pikirkan itu! Kita ke rumah Nayla dulu, pastikan dia baik-baik saja sekarang." Seru Rey begitu semangat. Ada rasa kekhawatiran yang mendalam dari sudut hatinya yang tiba-tiba melesak sakit tapi tak tahu entah kenapa alasannya.
***
Setelah sampai di rumah Nayla, Rey dan Rere mencoba untuk mengetuk pintu rumah yang tertutup rapat. Suasana rumah tampak sepi. Seperti rumah yang tak berpenghuni. "Sepertinya tidak ada orang bang." Ucap Rere yang sudah lelah mengetuk pintu rumah itu.
"Kemana mereka?" Rey sejenak berpikir, pikirannya mulai bercabang kemana-mana. "Coba kamu hubungi siapa saja yang kira-kira tahu dimana Nayla sekarang!" Perintah Rey. Dari guratan di keningnya terlihat dirinya begitu khawatir.
Rere terdiam sejenak lalu memancarkan sinar cerah di wajahnya saat ia mengingat seseorang. "Aku tahu, Ardi." Tanpa basa basi lagi Rere segera mengambil ponselnya dari dalam tasnya dan membuat panggilan telepon pada lelaki itu, dan tak lama panggilan pun terhubung.
"Hallo Ar, apa Nayla ada sama kamu? Aku sekarang di rumahnya tapi gak ada orang di rumah Nayla." Rere bertanya dengan tidak sabar.
"Re, Nayla sedang dalam masalah, semalam dia di fitnah di tuduh mau bunuh orang dan dibawa ke kantor polisi, sekarang aku dan keluarga Nayla sedang di kantor polisi. Kamu bisa datang kesini." Ardi menjelaskan di seberang telepon dengan terburu-buru. Hingga lelaki itu meminta maaf pada Rere untuk mengakhiri panggilan telepon mereka terlebih dahulu.
__ADS_1
"Ada apa Re?" Rey yang dari memperhatikan merasa penasaran dengan perubahan mimik wajah adiknya setelah menelepon temannya itu. Terlihat panik dan begitu ketakutan.
"Nayla ... Nayla di tahan polisi bang, katanya dia di jebak orang di tuduh melakukan percobaan pembunuhan." Rere bercerita dengan tergagap.
Rey begitu terkesiap, ia menggelengkan kepalanya merasa tak percaya, "Kita ke kantor polisi sekarang!" Ajak Rey selanjutnya.
Di dalam mobil Rey memberikan ponselnya pada Rere, meminta nya untuk memberikan pesan singkat pada Jordy kalau dia tidak bisa ke kantor hari ini. Karena Rey sedang sibuk mengemudi jadi tidak bisa mengirim pesannya sendiri.
***
Di kantor Polisi
Saat sudah sampai kantor polisi, Rey bertanya pada polisi yang bertugas disana. "Permisi Pak, saya keluarga dari tahanan yang bernama Nayla Agustina, apa saya boleh menjenguk nya?" Tanya Rey dengan ramah.
Polisi itu mengangguk lalu mengecek data pembukuan pembesuk hari ini. Dan ternyata Nayla sudah ada yang mengunjungi.
Polisi itu menutup map besar berisi berkas - berkas para tahanan lalu tangannya bersidekap di atas meja. "Tahanan sedang di kunjungi oleh keluarganya, anda bisa menunggu disana dulu, kalau waktu besuknya masih keburu anda bisa menemuinya." Ujar Pak polisi sambil menunjuk ke arah bangku panjang tidak jauh dari sana.
Setelah mengucap terimakasih, Rey dan Rere menghampiri Ardi dan Dio yang sedang duduk dengan sedikit gugup. Dan kedatangan dua kakak beradik itu mengalihkan perhatian mereka berdua.
"Mba Rere?" Dio yang melihat Rere langsung berhambur memeluk gadis itu. mereka memang sangat akrab, Dio sudah memanggap Rere seperti kakaknya sendiri. Karena Rere sering main ke rumah Nayla, dan sering bermain dengan remaja SMP itu.
"Dio tenang lah!" bujuk Rere sambil mengelus kepala Dio yang menangis di pelukan Rere.
"Kenapa jadi gini sih Ar?" Rere masih tak percaya dengan apa yang menimpa sahabatnya.
"Aku juga awalnya tidak mengerti, tapi setelah mendengar penjelasan Nayla dan juga keterangan dari polisi, sepertinya aku bisa menyimpulkan kalau Nayla memang sengaja di jebak oleh seseorang." Tutur Ardi membuat kesimpulannya. "Bagaimana kalau kita jelaskan di luar saja. Sambil menunggu orang tua Nayla yang masih di dalam." Imbuhnya mengajak Rey dan juga Rere keluar untuk mengobrol di tempat yang lebih santai.
Rey menganggukkan kepalanya, tanda setuju. "Baiklah, di depan kantor ini sepertinya ada sebuah kafe, kita akan berbincang disana." Ajaknya kemudian. Lalu mereka bertiga berjalan bersama menuju kafe tujuan mereka.
__ADS_1
***
Setelah di cafe, mereka duduk di meja dekat kaca depan, agar bisa melihat jelas jika orang tua Nayla sudah keluar dari kantor polisi. Rey memesan beberapa minuman pada pelayan dan cemilan untuk menjadi pelengkap perbincangan mereka.
"Coba jelaskan Ar!" Pinta Rere yang sudah begitu penasaran.
Ardi sedikit menghela nafas, dia terlalu bingung untuk memulainya darimana. Bahkan dia juga tidak tahu bagaimana kejadian sesungguhnya. Ardi hanya bisa menebak-nebak saja.
Ardi pun menceritakan semua kejadian yang menimpa Nayla yang ia ketahui sebelumnya. Di selingi oleh datangnya pelayan yang menghidangkan pesanan mereka. Hingga akhirnya cerita itu berakhir pada saat Nayla di jemput paksa oleh petugas opsir.
"Begitulah ceritanya Pak Rey, aku yakin Nayla tidak bersalah, tapi...." Ucap Ardi tercekat seperti ada sesuatu yang menghambat di tenggorokannya. Iya masih ragu untuk mengatakan fakta selanjutnya.
"Tapi kenapa?" Tanya Rey penasaran.
"Status Nayla sekarang sudah menjadi tersangka Pak, karena sidik jari dari pisau yang menusuk Ana cuma ada sidik jari Nayla, lalu semalam polisi dapat informasi kalau di depan gang tempat kejadian ada sebuah toko yang memasang CCTV di depan toko nya, toko itu mengarah persis pada pintu masuk gang itu tapi tidak sampai terlihat ke dalamnya, karena gang itu buntu satu-satunya jalan ya hanya itu." Tutur Ardi berhenti sejenaksejenak untuk sekedar menguatkan hatinya untuk mengatakan hal selanjutnya.
"Lalu?" Rey mulai tidak sabar.
"Polisi langsung memeriksa CCTV itu, dan pemilik toko memberikannya, setelah di buka hasilnya sangat mengejutkan, terlihat Ana berlari masuk ke gang buntu itu lalu tak lama seorang perempuan berbaju silat mengikutinya tapi dari arah lain, posisi nya membelakangi CCTV, hanya terlihat punggung dan rambutnya saja yang di ikat mirip seperti Nayla. Entah apa yang terjadi dalam gang itu, setelah beberapa menit berlalu, terlihat Nayla keluar dari gang itu sambil menggendong Ana, dia juga memakai baju silat. Aku sangat terkejut waktu itu, jika di lihat sekilas saja mungkin aku akan mempercayainya tapi jelas itu tidak mungkin. Jika memang Nayla mau membunuh gadis itu, untuk apa dia menolongnya dan membawanya ke rumah sakit?" Ardi menjelaskan secara rinci, ia begitu emosi dengan bukti yang di rasa telah di ganti.
Rere terpaku dia menutup mulutnya dengan telapak tangan, tak menyangka kejadiannya akan serumit ini. "Ya Tuhan, kenapa jebakannya sesempurna ini? Apa tujuan mereka sebenarnya? Siapa yang melakukannya?" Berbagai pertanyaan tak terjawab terlontar begitu saja dari mulut gadis yang menjadi sahabat terbaiknya Nayla tersebut. Dia tidak percaya gadis baik seperti Nayla begitu banyak yang ingin menjahati nya
"Lalu sekarang bagaimana?" Kini seorang Dio, bocah remaja yang ikut nimbrung dalam perbincangan orang dewasa itu pun ikut memberikan komentarnya. Ia merasa gemas kenapa kakaknya di anggap sebagai orang jahat.
Rere mengerti dengan perasaan bocah ini, ia mengusap bahu Dio dengan lembut berusaha menyalurkan ketenangan padanya. "Tenang Dio, kakak kamu tidak bersalah. Ia pasti bisa bebas."
Ardi yang semula terfokus pada Dio kini kembali beralih pada Rey yang duduk bersebrangan dengan dirinya. "Kini kasusnya sudah di limpahkan ke kejaksaan, awalnya Kak Nina, kakaknya Ana percaya kalau Nayla hanya di fitnah, tapi setelah dia di tunjukan video itu sama polisi tadi pagi, dia ragu dan akhirnya membuat laporan percobaan pembunuhan adiknya. Semua bukti memberatkan Nayla, sekarang bukti kita cuma satu yaitu Ana sendiri, tapi dia sekarang sedang koma, tidak tahu kapan sadarnya." Ucap Ardi sedikit menyesal, ia tak bisa berbuat banyak untuk sahabatnya itu. Apakah nasib Nayla benar-benar seburuk itu? Tapi Ardi yakin keajaiban pasti datang dan Nayla akan terbebas dari hukuman. Karena memang bukan dia yang melakukan semuanya.
***
__ADS_1
Bersambung...