Destiny Of Love

Destiny Of Love
Pilihan sulit


__ADS_3

"Tina sudah tidak mencintaimu, dia sudah lama melupakan mu, kalau dia mencintaimu mana mungkin dia mau menikah denganku." Dimas berkata dengan nada sedikit tinggi, Dimas tak bisa bersabar lagi. Laki-laki ini jika di biarkan akan semakin tak tahu diri.


Panji tertawa sarkas. Rasa malunya seakan hilang tak berbekas. Pintu hatinya sudah tertutup dengan satu nama yaitu Tina. "Aku tidak percaya, kau pasti memaksanya dan memanfaatkan hati Tina yang sedang rapuh saat itu." Ujarnya menyela.


Dimas terdiam, sekilas mengingat kejadian masa lalunya, memang dialah yang menyarankan agar Tina menikah dengannya. Tetapi semua itu ia lakukan demi kebaikan Tina. Semuanya terjadi begitu saja. Karena mungkin memang sudah jodohnya. "Sudah lah, aku sudah lelah berdebat denganmu, katakan apa pilihanmu sekarang?" Dimas menghela nafas kasar setelah ia menanyakan tentang sebuah penawaran yang sempat Panji katakan.


Panji menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi dan menopangkan kaki nya sebelah. "Aku ingin menukar kebebasan anakku, dan sama seperti dulu tinggalkan Tina, sebagai ganti nya aku akan menjamin anakmu mendapat bukti yang bisa membebaskannya dari hukuman itu."


Dimas terperangah, pantas saja semua bukti menyudutkan Nayla. Ternyata Panji lah biang keladinya. "Kau kira aku akan percaya dengan ucapanmu? Bukti apa yang kau punya sehingga bisa membebaskan anakku? Dan satu hal yang harus kau tahu Tina tidak akan mau kembali padamu walau aku meninggalkannya, saat dia tahu kau lah yang menjebloskan anaknya ke dalam penjara?"


Raut wajah Panji berubah muram, perkataan Dimas membuatnya hilang kesabaran. "Kalau kau tidak mengatakannya, dia tidak akan pernah tahu, atau kamu lebih suka melihat anakmu di penjara?" Ancam Panji dengan penuh penekanan.


Panji mengambil ponsel miliknya dalam saku jasnya. Lalu membuka galeri foto dalam ponselnya tersebut. Ia menggulirkan jemarinya di layar ponsel untuk mencari salah satu foto disana. Dan setelah menemukannya ia perlihatkan pada Dimas foto tersebut. "Lihatlah ini! Apa kau mengenalnya?" Tanya Panji saat menunjukkan sebuah foto seorang gadis yang sedang terbaring masih memakai selang oksigen dan jarum infus yang terpasang di tangannya, gadis itu terpejam sepertinya dia tidak sadar.


Dimas terkesiap, matanya membulat dengan sempurna. Dia mengenali sosok gadis tersebut. "Bukankah dia gadis yang di tusuk itu, kenapa kau bisa punya fotonya, menurut kabar dia sudah meninggal?" Ah, sepertinya Dimas lupa, jika Panji bisa melakukan segala cara agar keinginannya dapat tercapai.


Panji tersenyum kecut, melihat tampang Dimas yang begitu terkejut. "Tentu saja dia masih hidup, aku yang sengaja membuat kematian palsunya, agar anakmu segera di hukum, dan aku juga punya rekaman CCTV yang asli. Apa kau masih ingin menawar lagi?"


Dimas menggelengkan kepalanya, merasa tak percaya dengan apa yang di lakukan oleh mantan sahabatnya itu. Ya, mereka pernah bersahabat tapi Dimas tidak sengaja menikung sahabatnya itu dengan menikahi kekasihnya. "Kau sangat jahat Panji, bahkan Nayla adalah anak dari wanita yang kau cintai.." Dimas berkata dengan penuh emosi.


"Karena dia juga anakmu!" Panji tak kalah meninggi, ingin sekali dia meluapkan amarahnya saat ini. Tapi tempatnya tidak memadai. Keheningan sejenak melingkupi keduanya. Sebelum Panji kembali meneruskan perkataannya. "Kecuali kalau Tina mau menerimaku lagi, aku juga akan menerima anak-anakmu." Panji beranjak berdiri, rasanya sudah cukup untuknya bernegosiasi.


"Pikirkan baik-baik tawaranku ini, kau tidak punya banyak waktu, sebentar lagi anakmu akan di sidang bukan? Ku tunggu jawabanmu!" Ucap Panji lalu melangkah pergi sambil menepuk pundak Dimas dua kali.


Dimas hanya terdiam dan terpaku menatap punggung Panji yang berlalu menjauh dari pandangannya. Dia bingung harus berbuat apa, benar-benar pilihan yang sangat sulit baginya.

__ADS_1


***


Dimas kembali ke rumah nya dengan wajah yang lesu, kepalanya sungguh pusing memikirkan penawaran dari mantan pacar istrinya itu.


"Ayah udah pulang? Bagaimana mesin cucinya? Sudah bisa di pakai lagi?" Tanya Tina saat menyambut suaminya pulang.


Dimas hanya diam saja, dia masih memikirkan pilihan itu. Ia mengabaikan pertanyaan istrinya yang menyambutnya di teras rumah. Tina mendengus kesal, ia memukul sedikit keras tangan suaminya. "Ih..... Denger ibu gak sih?" Gerutunya kesal.


Dimas mengerjap terkejut, sambil mengelus tangannya yang terasa perih "Sakit bu..." Rintih nya.


"Rasain.... Salah siapa ibu di cuekin?" Ucap Tina acuh sambil melipat tangan di depan dada.


Dimas tersenyum tipis, sikap istri nya memang seperti itu, sikap yang diturunkan kepada anak gadis mereka. Yang selalu bisa membuatnya tertawa dengan kepolosan dan tingkahnya yang manja. "Ibu ini, sudah tua juga masih bersikap seperti anak kecil.l" Ucap Dimas sambil memegang dagu istri nya.


Dimas tertawa kecil kemudian memegang kedua pipi istrinya. "Ibu masih terlihat cantik kok, membuat ayah tidak bisa berpaling dari ibu."


Rayuan itu sukses membuat Tina tersipu, lalu menepuk pelan dada suaminya sambil tersenyum malu. "Ayah bisa saja, ibu kan malu." ucap Tina lalu memeluk suaminya.


Hening sesaat...


"Bu, apa kamu masih mengingat mantan pacar mu itu?" Pertanyaan itu tiba-tiba saja melesat di pikiran Dimas hingga tak terasa ia pun mengucapkannya.


Tina mendongak, menatap lekat wajah suaminya. "Kenapa tiba-tiba ayah bertanya seperti itu?" Tina heran, karena selama ini Dimas tidak pernah menyinggung masalah Panji mantan pacar Tina setelah mereka resmi menikah.


"Ayah hanya bertanya, mungkin saja istriku ini masih menyimpan rasa untuk nya." Goda Dimas mencubit gemas pipi istrinya.

__ADS_1


Tina terdiam, raut wajahnya berubah suram. Tina memang masih mengingat Panji, tapi Tina sudah tidak mencintai nya lagi, rasa itu sudah hilang saat dia sudah mengandung Nayla. "Tentu saja ibu masih mengingat nya." ucap Tina dengan yakin.


Dimas menautkan kedua alisnya, perlahan dia mendorong tubuh Tina menjauh dari tubuhnya, kemudian berbalik hendak pergi. Tina melongo melihat sikap suaminya, tapi kemudian dia tersenyum tipis, dan langsung memeluk tubuh suaminya dari belakang. "Apa ayah cemburu?" Goda Tina.


Dimas menatap tangan Tina yang melingkar di perutnya. "Tidak, mana mungkin ayah cemburu. Bagaimanapun kau menikah denganku karena untuk menghindarinya bukan?" Sahut Dimas tanpa membalikkan tubuhnya.


Tina memutar tubuh Dimas, lalu menangkup pipi suaminya tersebut dengan kedua telapak tangannya. "Ibu memang dulu mencintainya, tapi itu dulu, cinta itu bisa saja memudar termakan waktu. Saat kita terus bersama, dan aku terbiasa dengan mu, akhirnya cinta itu berpaling padamu. Aku mencintaimu." Ucap Tina dengan begitu romantis.


Dimas tersenyum lebar mendengar pengakuan istrinya tersebut. "Aku seperti kembali ke masa muda dulu, andai kata-kata ini kau ucap kan waktu itu, mungkin ceritanya akan menjadi lain." Ucap Dimas dengan serius.


"Apa maksud ayah dengan cerita yang lain? Ini sudah menjadi takdir kita, Allah menjodohkan kita dengan cara ini." Sahut Tina.


"Hish.... Malu ah, udah kayak ABG saja, ngomongnya cinta-cintaan kayak gini." Ucap nya sambil menepuk bahu Dimas dan mengalihkan wajahnya ke arah lain. Menyembunyikan semburat merah di pipi yang tiba-tiba muncul tak bisa di halangi.


Dimas pun jadi tertwa, sejenak mereka melupakan masalah Nayla. "Kalau begitu ayah mau mandi dulu, ini sudah sore, besok jadi kan kita membesuk Nayla?" Ucap Dimas.


"Tentu saja, ibu sudah kangen pada anak gadis ibu, ibu akan memasakan makanan kesukaannya." Sahut Tina dengan senang.


Dimas segera masuk ke kamar nya, pikiran nya kembali terbayang dengan pilihan Panji. "Apa yang harus aku lakukan ? besok aku akan bicara pada nak Rey, mungkin dia mempunyai solusi dari masalah ini." gumam Dimas dalam hati. Hanya itulah mungkin pilihannya saat ini.


****


Bersambung dulu...


jangan lupa vote, like dan komen ya... kesayangan author 😘😘

__ADS_1


__ADS_2