
Setelah acara wisuda selesai, mereka pun kembali ke rumah masing-masing. Nayla dan keluarganya kini pulang di antar oleh Rey, karena dia tidak mau kalau Nayla selalu dekat-dekat dengan Ardi.
Setelah sampai di pekarangan rumah Nayla, Rey memarkirkan mobilnya tepat di depan rumah Nayla. Penumpang mobil itu pun keluar satu-persatu dari dalam mobil. Rey juga ikut turun untuk sejenak mampir di rumah kekasihnya sebelum dia kembali berkutat dengan pekerjaannya yang tidak pernah selesai.
" Nak Rey , mau minum apa ?" tanya bu Tina yang sebelumnya mempersilahkan Rey duduk di kursi luar rumah itu, semenjak kejadian tikus itu, Tina tidak pernah mengijinkan Nayla dan Rey berada berdua di dalam rumah.
" Apa saja tante, yang penting bisa di minum" Ucap Rey sambil tersenyum lebar, lalu mendudukkan tubuhnya di atas kursi.
Tina mengangguk, lalu bergerak masuk ke dalam rumah, " Rey , om ganti baju dulu ya, gak enak di rumah pake baju formal gini " Pamit om Dimas yang masih berdiri dekat teras, dia masih menunggu Tina mengajaknya masuk tapi ternyata sang istri malah tidak memperdulikannya sama sekali. Tina malah lebih memperhatikan calon mantunya dengan menawarkan dia minum.
" Iya om. " Ucap Rey sambil tersenyum.
Nayla yang sempat duduk di kursi yang bersebelahan dengan Rey, kemudian kembali beranjak hendak masuk ke dalam rumah, tapi dengan cepat Rey mencekal tangan Nayla membuatnya tertahan di tempatnya semula.
Nayla mengerutkan dahi " Apa ?" tanyanya.
" Mau kemana ?" Rey malah balik bertanya.
" Masuk, ganti baju " jawab Nayla
" Enggak boleh , duduk ! "
Nayla mengernyit, dia kembali mendudukkan tubuhnya " Kenapa sih ?" tanya nya dengan kesal.
Rey tersenyum geli, dia semakin gemas melihat Nayla wajah Nayla cemberut sambil memanyunkan bibirnya. " Mas belum puas lihat kamu kayak gini " ucap Rey.
Nayla mengangkat alis nya sebelah, lalu menatap tubuhnya dari bawah sampai batas jarak pandang matanya " Lihat apa ?" tanya nya heran.
" Kamu gak tanya kenapa tadi mas langsung peluk kamu di sana ? " Rey memainkan kedua alisnya.
Nayla menggeleng " Kenapa ?"
__ADS_1
Rey tersenyum menyeringai, lalu mencondongkan kepalanya mendekati telinga Nayla " Aku tuh gemas lihat kamu, berdandan seperti ini, pengen nya sih tadi bukan peluk doang " Bisik Rey sedikit menggoda.
Nayla menarik mundur kepalanya menjauhkannya dari kepala Rey, merasa takut Rey akan berbuat sesuatu, tak ayal dia pun tersipu. Rey tersenyum miring melihat reaksi Nayla yang begitu cepat.
" Takut banget " Rey mendengus dengan kesal, dia kembali menegakkan tubuhnnya dan Nayla pun melakukan hal yang sama.
Belum sempat Nayla menanggapi ucapan Rey, bu Tina datang dari dalam rumah sambil membawa dua gelas air minum di atas nampan. Lalu menyimpannya di atas meja.
" Maaf ya Rey, cuma air putih " Ucap Tina, dia melirik ke arah Nayla yang masih memakai baju kebaya nya.
" Nay, ganti dulu itu bajunya, dapat sewa loh itu, nanti kotor " Bu Tina dengan cepat menarik tangan Nayla dan menyuruhnya untuk masuk ke dalam untuk mengganti baju.
Nayla terkekeh saat melihat pelototan mata Rey yang tidak lagi berpengaruh karena perintah juragan mami tak bisa di bantah lagi.
Rey terpaksa merelakan, pemandangan indahnya pergi begitu saja masuk ke dalam rumah. Tak lama Nayla kembali ke tempat Rey dengan dandanan yang seperti biasa, tapi tidak mengurangi kadar kecantikannya yang alami.
Rey pura-pura merajuk, dia mengalihkan pandangannya ke arah lain sambil melipatkan tangannya di atas dada, saat Nayla datang.
Rey melirik kemudian menurunkan tangannya dan menghadap ke arah Nayla " Di bilangin jangan di ganti "
Nayla mencebikkan bibirnya " Kenapa gak tadi aja ngomongnya pas ibu narik aku, takut ya...?" Ledek Nayla lagi sambil melebarkan senyum nya. " Lagian itu baju sewaan, nanti kalau rusak ibu harus tanggung jawab, mahal tau " Imbuh Nayla lagi.
Rey mendelik, kemudian beranjak berdiri dari duduk nya dan menarik tangan Nayla mengajaknya untuk pergi.
" Mau kemana ?" Nayla terkesiap, Rey menarik tangan Nayla menuju ke pekarangan rumah. " Ikut aja " katanya.
" Bilang dulu sama ibu " Seketika Rey menghentikan langkahnya, lalu melepaskan tangan Nayla.
" Ya udah sana , mas tunggu di sini " Perintah Rey dengan gaya angkuh nya.
Nayla mengernyit, sudah tak aneh baginya, Rey memang terkadang bersikap semaunya "Menyebalkan " Gumam Nayla.
__ADS_1
Dengan menghentakkan kakinya Nayla terpaksa membalikkan tubuhnya dan melangkah masuk ke dalam rumah. Tak lama Nayla dan bu Tina pun keluar dari dalam rumah dan Rey langsung menghampiri mereka.
" Nayla nya di pinjem dulu ya tante, bentar doang kok " Pamit Rey dengan sopan.
Tina hanya mengangguk mengiyakan, lalu Rey mencium punggung tangan Tina dan di ikuti oleh Nayla. Mereka pun pergi dari rumah Nayla dengan mengendarai mobil Rey.
Di perjalanan kedua nya tak saling berbicara, Nayla masih kesal karena Rey sudah memaksanya untuk pergi. Padahal dirinya sudah sangat lelah dengan acara wisudanya hari ini.
Rey memarkirkan mobilnya, didepan sebuah butik yang terpampang tulisan Rosalia. G di depannya . " Ngapain kesini ?" tanya Nayla heran. Melihat nama yang terpampang di bangunan itu, membuatnya mengingat monumen kecil yang ada di taman bunga yang bertuliskan nama yang sama. Nayla merasakan hawa yang aneh yang meresap dalam paru-parunya yang membuatnya sedikit terasa sesak.
Rey menoleh " Beli baju lah, memangnya mau ngapain ?" Rey membuka safety belt yang melingkar di tubuhnya, dan bergegas membuka pintu mobil hendak keluar dari sana. Tapi Rey mengurungkan niatnya saat melihat Nayla masih bengong di tempatnya " Malah bengong, ayo turun ! " Ajak Rey .
Tapi Nayla tak memberi respon apapun, matanya masih terfokus ke arah depan gedung itu. Sampai sebuah ciuman yang berhasil mendarat di pipi Nayla membuatnya terkesiap. Seketika dia menoleh ke arah Rey sambil memegang sebelah pipinya. Nayla merengut, menampakkan wajah kesalnya.
" Kenapa ? mau lagi ?" Rey kembali mencondongkan wajahnya mendekati Nayla, tapi dengan cepat Nayla menghindari nya. Dia bergegas membuka safety belt nya lalu membuka pintu dan turun dari mobil mendahului Rey.
Rey menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Nayla yang ketakutan. Kemudian dia pun turun dari mobil. Rey kemudian mengandeng tangan Nayla memasuki pintu masuk butik Gisella, dan seorang pegawai butik itu pun menyambut kedatangan mereka dengan ramah.
" Silahkan masuk tuan Rey, mau cari baju kayak gimana ? ini adek nya ya ? " Tanya pegawai itu sok tau .
Nayla mengerutkan dahi, Berarti mas Rey sering kesini, pikirnya.
Rey tertawa kecil, dia melepaskan tangan Nayla dan beralih memeluk tubuh Nayla dari samping " Dia calon istri saya, " ucapnya dengan bangga. Nayla sejenak menatap wajah Rey dengan senyum merekah di bibirnya, ada kehangatan dalam hatinya saat Rey memperkenalkan dirinya sebagai calon istri. Pegawai wanita itu merasa tidak enak hati, setelah minta maaf dia mengajak Nayla mencoba beberapa baju sesuai dengan permintaan Rey.
Tanpa mereka sadari Gisella yang dari tadi berdiri di ambang pintu ruangannya mendengar percakapan mereka, ada gurat kebencian di dahi nya melihat kemesraan Rey dan Nayla. Gisella menghampiri mereka, tapi dia berusaha untuk bersikap biasa saja di depan mereka berdua.
***
bersambung dulu..
Jangan lupa kasih jejak ya readers tersayang. makasih.
__ADS_1