Destiny Of Love

Destiny Of Love
Pajak Jadian


__ADS_3

"Eh .... Tadi lo ngapain di kamar bang Rey berduaan?" Tanya Rere yang masih penasaran. Mereka kini sedang berada di kantin kampus mereka.


Nayla yang sedang melahap makan siangnya jadi tersedak, lalu meminum segelas air untuk melewatkan makanan yang tersangkut di tenggorokannya.


Sambil ter batuk-batuk Nayla pun jadi gugup. "Ehm.... Gue gak ngak ngapa-ngapain." Bantah Nayla.


Rere mengernyitkan kening,melihat kegugupan Nayla,dirinya jadi curiga. "Jangan bohong!" Seru Rere sambil memicingkan matanya.


"Lo gak mungkin macam-macam kan sama abang gue? Belum muhrim tahu." imbuh Rere yang sontak mendapatkan toyoran di keningnya dari Nayla.


"Sembarangan kalau ngomong. Emangnya gue cewek apaan?" Sanggah Nayla tak terima.


Rere melebarkan senyumnya, dia tahu jika sahabatnya tidak akan melakukan hal itu. Tapi ia teramat penasaran bagaimana ceritanya mereka bisa berada di dalam kamar berduaan.


"Tapi gue penasaran, kenapa tiba-tiba lo bisa ada di dalam kamar abang gue? Lo datang aja gue gak tahu." Seru masih belum puas dengan jawaban Nayla barusan.


"Gue baru datang, dan mau masuk ke kamar lo. Tapi tiba-tiba abang lo narik gue masuk ke dalam kamarnya. Gue pikir dia udah berangkat kerja." Tutur Nayla, ia menceritakan perihal kejadian tadi di rumah Rere.


Mengingat hal itu semburat merah tercetak di wajahnya, sungguh bayang-bayang Rey yang menggodanya sedemikian rupa, membuat gadis itu hampir gila.


Rere tercengang, ia jadi paham. Jadi itu alasan abangnya menyuruhnya untuk tetap diam di dalam kamar? Sampai harus memberikan kerjaan yang seharusnya di berikan pada asistennya. Katanya untuk latihan. Latihan apa? Bukannya adiknya itu calon dokter apa hubungannya dengan pekerjaan kantoran?


Raut wajah Rere berubah jadi cemas. "Bang Rey gak ngelakuin apa-apa kan Nay?" Tanyanya penuh ketakutan.


"Memangnya abangmu ini mau melakukan apa Renata?" Suara bariton Rey yang tiba- tiba muncul dari arah belakang, sontak membuat mereka berdua terlonjak kaget.


Nayla dan Rere menoleh bersamaan, Nayla membulatkan matanya dengan sempurna. Sementara Rere membalas pertanyaan abangnya dengan cengiran.


"Eh.... Panjang umur si abang." Celetuk Rere merasa tertangkap basah.


Rey mencebikkan bibir, lalu pandangan matanya beralih pada gadis yang duduk di samping Rere.


"Hai... Sayang." Sapa Rey sambil melambaikan tangannya pada Nayla.


"Eh..." Nayla menautkan kedua alisnya. "Sayang?" Imbuh nya mengulangi ucapan Rey.


Rey duduk di kursi kosong tepat di samping Nayla. Lelaki itu sedikit mencondongkan kepalanya hingga hampir menyentuh kepala Nayla jika gadis itu tidak reflek menarik mundur kepalanya.


Nayla mengerjapkan matanya dan mengeleng cepat. "Kenapa dimana-mana selalu ada bang Rey sih.." Gumamnya yang nyaris tak terdengar.

__ADS_1


"Kamu malu ya?" Goda Rey ia menyahut gelas minum Nayla dan langsung menyedot sisa air yang berada disana hingga tandas tak bersisa. Kemudian menatap Nayla yang terlihat melihat aksinya itu.


"Kenapa bengong? Gak apa-apa kok malu juga. Bukannya itu wajar buat yang baru jadian." Imbuh Rey tanpa rasa malu.


"Apa?" Seru Rere dan Nayla hampir bersamaan.


Rere tiba-tiba menepis bahu Nayla. "Kenapa lo juga kaget?" tanya Rere heran.


Nayla mencebik sambil memegang bahunya yang sedikit perih. "Ya... Gimana gak kaget, sejak kapan gue jadian sama abang lo?" Seru Nayla tak merasa.


Rere mengerutkan dahi, seiring dengan kedua alisnya yang bertaut bersamaan. "Jadi yang bener yang mana?" Kedua orang di sebelahnya itu benar-benar membingungkan.


Rey memiringkan kepalanya menatap wajah Nayla yang tampak kebingungan. "Bukannya tadi kamu sudah mengakui perasaanmu padaku Nayla?"


Nayla tersentak, ia hampir lupa jika telah mengatakan hal demikian. Apa iya seperti itu saja bisa di nyatakan mereka jadian? Padahal sama sekali belum ada peresmian.


"Bener Nay?" Pertanyaan Rere membuat Nayla menoleh ke arah temannya. Wajahnya terlihat bingung. Ia seperti orang yang linglung.


"Memangnya kalau seperti itu bisa di anggap jadian ya? Lagi pula gue bilang kayak gitu karena...."


"Ah.... Udahlah kebanyakan drama. Mending sekarang gue resmiin aja kalian berdua. Dan tentu saja ada pajaknya." Ucapan Nayla terpotong oleh Rere, sahabatnya itu merasa gemas dengan sikap Nayla. Sudah tahu sama-sama cinta masih saja di tunda-tunda.


"Pajak jadian." Ucap Rere santai. Teman-teman kampusnya selalu menggunakan istilah itu untuk merayakan jika ada temannya yang baru menjalin hubungan.


"Kita jalan- jalan yuk bang! Pantai asyik tuh." Rere terus bercetoleh dengan riangnya tanpa mempedulikan raut wajah Nayla yang berubah masam.


Nayla nampak malas mendengarnya, dia mengalihkan padangannya ke tempat lain. Rey melihat Nayla yang bersikap acuh memicingkan matanya dengan tajam, "Sepertinya temanmu tidak mau Re.." Ucap Sinis Rey


Nayla kemudian menoleh dan dia menangkap pandangan Renata alias Rere yang tidak enak di lihat. "Ngapain lihatin kayak gitu, jelek tau." Umpat Nayla dengan nada mengejek.


"Ikut dong Nay! Masa pengantin wanitanya tidak ikut merayakan." Seru Rere sedikit menggoda.


"Ngaco.... Kayak mau nikah aja 'pengantin'." Sahut Nayla.


"Sekalian nikah juga gak apa-apa. Abang sih siap-siap aja." Rey pun ikut berbicara. Membuat rasa panas kembali menjalar di tubuh Nayla. Bukan perasaan ingin marah, melainkan rasa malu yang kian membuncah. Nayla belum pernah merasakan ini sebelumnya.


"Cie.... Udah main nikah aja. Di lamar tuh Nay mau gak?" Rere semakin gencar menggoda Nayla. Hingga gadis itu tak bisa berkata apa-apa. Sejenak ia terdiam lalu kemudian berucap.


"Oke gue ikut jalan-jalan."

__ADS_1


"Gitu dong." Seru Rere begitu senang.


"Tapi Ardi harus ikut." Nayla melanjutkan ucapannya. Dan hal itu membuat raut wajah Rey seketika jadi suram.


Rey menautkan kedua alisnya, dia sangat tak suka Nayla membahas Ardi di depannya, apalagi mengajaknya untuk berlibur. Rey begitu kesal, bisa-bisa nya Nayla mengusulkan pria lain ikut berlibur disaat ingin merayakan hari jadian mereka.


"Tidak boleh." Sahut Rey langsung menolak dengan tegas.


"Kenapa tidak boleh?" tanya Nayla tak kalah tegas.


Rere menatap abang nya dan Nayla secara bergantian, lalu dia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Rere tahu betul sikap Rey dan Nayla, keduanya sama - sama keras kepala. Benar-benar pasangan yang memiliki banyak persamaan. Sepertinya sulit untuk di persatukan.


"Hei.... Ayolah! Bagaimana kalau kita ajak kak Jo dan juga Ana, bagaimana bang? makin rame kan makin seru." Ucap Rere memberi saran.


Sejenak berpikir, akhirnya Rey setuju juga. Setidaknya usul Rere jauh lebih baik daripada usul kekasih barunya itu. Ardi tidak akan fokus hanya pada Nayla karena sodaranya Ana juga akan ikut berlibur, kebetulan dia juga sudah sembuh dari lukanya.


"Kapan abang ada waktu?" Tanya Rere lagi.


"Paling akhir minggu ini, abang akan memberitahu Jordy untuk mengosongkan jadwal pada hari itu. Soalnya dia juga akan ikut. Jadi tidak ada yang bisa mewakilkan abang kalau ada kerjaan di hari itu." Tutur Rey. Lelaki itu tidak bisa mempercayakan pekerjaannya selain kepada asistennya itu.


"Memang nya mau kemana?" imbuh Rey lagi.


"Ke garut aja bang, sudah lama kita tidak berkunjung ke villa papa yang disana. Semenjak papa meninggal kita jadi jarang kesana kan?" Rere jadi sedih saat mengingat almarhum papanya, wajahnya jadi tampak lesu.


"Baiklah, abang setuju kita akan berangkat hari sabtu dan menginap di villa kita yang disana." Ucap Rey dan membuat senyum Rere kembali merekah.


"Bagaimana sayang?" Tanya Rey pada Nayla yang memilih diam tak memberikan komentar. Yang menurutnya tidak akan di dengar.


"Iya ....Terserah kalian, aku ikut saja lah. Dan satu lagi bang Rey, tolong jangan panggil aku sayang deh, aku gak biasa risih aja denger nya." Nayla bukan tipe wanita yang suka di manja. Ia paling tidak suka melihat yang berpacaran dengan panggilan yang menurutnya lebay.


"Romantis dikit kenapa, sih? Baru pacaran jutek banget." Sahut Rere merasa aneh dengan sikap temannya yang satu ini. Rere jadi curiga sebenarnya Nayla itu perempuan atau bukan? Bagaimana bisa ia se angkuh itu sama laki-laki.


Sedangkan Rey hanya tersenyum melihatnya. Ia malah semakin gemas dengan sikap Nayla yang terlihat jaim di matanya. "Nanti juga terbiasa. Iya kan sayang?" goda Rey lagi sambil mencondongkan sedikit kepalanya mendekati wajah Nayla.


Nayla sontak mundur, tapi tak bisa di pungkiri dirinya merasa bersyukur. Ada orang baik yang begitu mencintainya seperti Rey. Nayla sebenarnya bahagia ia hanya tidak bisa mengungkapkannya saja.


***


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2