Destiny Of Love

Destiny Of Love
Keputusan Sidang


__ADS_3

Pengacara Nayla dengan yakin berucap kepada hakim, sehingga membuat hakim agung mengernyitkan kening kenapa pengacara itu tiba-tiba begitu yakin ingin menyelesaikan sidangnya. "Apa maksud anda sodara pembela?" Tanya Hakim agung.


Pengacara Nayla membungkuk setengah badan. "Maaf yang mulia, rekan saya tuan Rey telah membawa saksi kunci masalah ini, dan saya yakin sodari Nayla akan di nyatakan tidak bersalah hari ini." Tutur pengacara dengan begitu percaya diri.


Mendengar nama Rey di sebut, desiran aneh mengalir di tubuhnya yang seakan mati rasa. Apakah benar Rey yang datang? Lelaki itu sudah menyerah bukan? Dengan berbagai macam dugaan yang melingkupi kepalanya. Nayla memberanikan diri untuk mendongakkan pandangannya. Kemudian menoleh ke arah belakangnya.


Dan ternyata yang di lihat Nayla di luar prediksinya. Betapa terkejutnya dia dengan kejutan yang di berikan oleh orang yang katanya mencintai dirinya itu.


Nayla begitu terharu terlihat dari matanya yang berkaca-kaca, cairan bening itu menggenang di pelupuk matanya. Nayla tidak menyangka bagaimana bisa Rey datang bersama dengan saksi utama yang katanya sudah meninggal dunia.


"Ana." Gumam Nayla lirih.


"Maaf yang mulia, bolehkan saya mempersilahkan saksi kami untuk masuk ke dalam persidangan." Izin Pengacara ingin kembali melanjutkan sidang.


"Di persilahkan." Sahut hakim agung.


Rey kemudian mendorong kursi roda yang di duduki oleh Ana dan membawa nya dekat dengan kotak saksi persidangan, mata Nayla tak lepas dari gerakan Rey dan Ana, Rey pun demikian, dia sedari tadi selalu memperhatikan Nayla dengan senyuman yang mengembang di bibirnya.


Ana pun di sumpah untuk memberikan kesaksian yang sebenar-benarnya. Lalu dia menceritakan semua kejadiannya secara detail tanpa satupun yang tertinggal. Bagaimana dia menjadi sasaran korban penikaman untuk menjebak Nayla, dia juga memberikan sebuah video yang berisi percakapan seseorang pria dengan dua orang preman yang ingin mencelakai Nayla.


* Flaskback on


Sore itu Ana sedang duduk sebuah cafe sendirian, dia sedang menunggu temannya hendak makan bareng di sana, kebetulan temannya mengabarkan akan datang terlambat karena ada satu keperluan dulu. Jadi Ana harus menunggu. Samar-samar dia mendengar seorang pria berjas hitam sedang ngobrol dengan dua orang lainnya mereka duduk di meja sebelah Ana, pria itu menyebut nama Nayla Agustina. Ana menajamkan telinga nya apakah Nayla yang di sebut itu adalah orang yang di kenalnya?

__ADS_1


Setelah sekian lama dia mendengarkan ternyata memang benar yang mereka maksud adalah Nayla temannya, karena orang itu sempat menyebut nama Echa, sebagai orang yang di jebloskan ke penjara oleh Nayla. Ana mengenal Echa, karena kebetulan mereka satu jurusan. Ana langsung menghidupkan ponselnya dan merekam percakapan mereka. Disana terekam semua rencana jahat orang berjas hitam dan dua orang preman itu, tapi orang berjas itu membelakangi Ana, sehingga hanya terlihat punggungnya saja.


Tapi sayang nya, salah satu preman itu melihat Ana merekam percakapan mereka, Ana menyadari itu dan langsung menekan tombol berhenti pada mode rekamnya. Dan langsung beranjak meninggalkan cafe itu, dan memasukan ponselnya di kedalam tas.


Preman tersebut langsung memberitahu kepada pria yang berjas hitam yang di ketahui adalah bosnya perihal rekaman Ana, Pria itu langsung menyuruh kedua preman untuk mengejar Ana. Ana berlari se kencang mungkin menghindari kedua preman itu.


Ana masuk kesebuah toko buku yang berada di pinggir jalan untuk bersembunyi, sejenak membuat kedua preman kehilangan jejak Ana, dan mondar mandir di depan toko buku, mereka terlihat menghubungi seseroang sepertinya bos yang tadi. Ana ketakutan, dia bersembunyi di balik rak buku, sampai seseorang menepuk pundak Ana dari belakang.


Ana tersentak, lalu dia menelan ludah nya dengan berat sambil menoleh ke arah belakang nya.


"Ira..." Ucap nya lega. Ana menghela nafas, ternyata dia adalah teman sekelas Ana.


"Kamu kenapa? Seperti sedang ketakutan?" Tanya Ira heran.


"Apa ini? Nyawa? Aku gak mau terlibat dengan kejahatan. Maksud kamu apa?" Tolak Ira karena merasa takut.


"Kumohon!" Ana menunjukkan wajah sekelas mungkin. Berharap temannya mau menolongnya kali ini.


"Kau akan aman percayalah! Jika bukan aku yang meminta kartu ini, jangan kau kasih pada orang lain, dan kumohon jangan di buang berjanjilah!" Imbuh Ana lebih meyakinkan.


Ira pun tak kuasa menolak, seperti nya kartu itu sangat penting apalagi menyangkut nyawa seseorang. "Baiklah, tapi maukah kamu menceritakan ada masalah apa sebenarnya sampai kamu ketakutan seperti ini?" Akhirnya Ira menerima. Tapi dia juga penasaran sebenarnya apa yang terjadi dengan temannya itu.


Ana tampak celingukan melihat ke arah jendela yang menampakkan area depan toko buku itu, "Sepertinya mereka sudah pergi." Pikir Ana sedikit tenang.

__ADS_1


Tapi Ana harus pergi, ia harus segera bicara dengan Nayla masalah rencana penjebakan itu. Ira mengernyit heran melihat sikap aneh temannya itu. "Nanti saja aku ceritakan, sekarang aku harus pergi dulu, aku mohon jaga kartu ini apapun yang terjadi jangan kau kasih ke orang lain selain aku!" Pinta Ana lagi.


Ira menganggukkan kepalanya,walaupun ia masih penasaran tapi ia tidak bisa memaksa juga. "Baiklah..." jawabnya.


Ana pun keluar dari toko buku dengan mengendap- endap, saat di rasa aman Ana berjalan keluar dengan tenang, tapi setelah dia berjalan agak jauh dari toko itu, seseorang meneriaki Ana dari arah belakang.


Ternyata preman itu belum pergi, mereka hanya berputar-putar di sekitar daerah itu. Ana langsung berlari cepat dan kabur dari kejaran preman tersebut, berharap bisa lolos dari mereka dan menyelamatkan nyawa Nayla.


Tapi takdir berkata lain, Ana malah bertemu dengan Nayla di waktu yang tidak tepat. Laki-laki berjas hitam yang diyakini adalah bos dari preman melihat keberadaan Nayla disana.


Seolah takdir berpihak pada lelaki itu, muncullah ide penjebakan lain untuk Nayla. Sebuah rencana yang sempurna untuk membuat Nayla terjebak di dalamnya.


* Flasback off


Hakim agung dengan seksama melihat video percakapan penjahat itu, lalu memberikan video itu kepada pengacara kembali. Setelah Ana telah selesai dengan kesaksiannya. Akhirnya persidangan pun selesai dengan begitu yakin hakim agung akan menentukan keputusan sidang hari ini.


"Dengan melihat bukti-bukti yang ada, dan kesaksian para saksi, terutama saksi utama yang merupakan korban dalam kejahatan ini maka dengan segala pertimbangan persidangan memutuskan sodari Nayla di nyatakan bebas tidak bersalah, dan persidangan akan memberikan wewenang kepada pihak berwajib agar menyeliki kasus ini lebih lanjut. Dengan ini saya nyatakan sidang di tutup." Ucap Hakim agung di iringi ketukan palunya tiga kali.


***


Yeay.... Akhirnya bebas kan? Selamat ya Nayla....


Jika teman-teman suka cerita ini jangan lupa votenya!

__ADS_1


__ADS_2