
Kicauan burung yang saling bersahutan di pohon meramaikan suasana pagi hari. Setelah berolahraga pagi yang melelahkan, Rey dan Nayla terlelap begitu nyaman. Apalagi Rey yang semalam tak bisa tidur di rumahnya karena selalu ingat dengan sang istri yang menginap di rumah mertuanya. Jadi satu - satunya cara agar Rey bisa tidur yaitu dia harus menyusul Nayla, dan beginilah akhirnya. Nayla memberikan obat tidur yang manjur untuk dirinya.
Mata Nayla mengerjap beberapa kali saat mendengar seseorang mengetuk pintu kamarnya beberapa kali, Ibu Tina yang sempat tidur bersama Nayla semalam di kamar itu kembali ke kamarnya setelah mendengar adzan subuh berkumandang. Bu Tina hendak menunaikan kewajibannya dan bersiap untuk pergi ke pesta resepsi Nayla dan Rey yang akan di adakan hari ini di sebuah gedung mewah yang sengaja di sewa oleh mama Rania. Bu Tina tak tahu jika menantunya sudah ada di dalam rumahnya.
Tok...Tok...Tok...
" Nayla... kamu sudah siap belum ? Apa kamu tidur lagi ? " Teriak bu Tina dari luar kamar Nayla.
Nayla menyipitkan matanya, merasa silau dengan cahaya mentari yang berhasil masuk dari celah gorden jendela kamarnya. Nayla sedikit terhenyak saat melihat dirinya sedang memeluk tubuh sang suami yang masih bertelanjang dada, dan saat dirinya mengintip tubuhnya di balik selimut Nayla baru ingat jika setelah subuh tadi suaminya datang meminta jatah.
" Astaga, kenapa aku bisa lupa dan ketiduran lagi. " Gumam Nayla sambil melepaskan pelukannya dari tubuh suaminya tersebut.
" Mas, bangun ! " Nayla menepuk - nepuk bahu suaminya pelan, berusaha membuatnya segera terjaga. Tapi Rey hanya mengubah posisinya memiringkan tubuhnya ke arah Nayla dan melayangkan satu tangannya kembali mendekap tubuh mungil itu tanpa membuka matanya.
" Nay... ? " Suara bu Tina terdengar lagi. Membuat pandangan Nayla beralih ke arah pintu.
" Iya bu. " Sahut Nayla dengan sedikit berteriak.
" Kamu sudah siap belum ? bu Rania dari tadi telepon ibu terus, katanya kamu gak boleh telat soalnya mau di dandani dulu. " Teriak bu Tina lagi. Nayla tersentak dia membelalakan matanya dengan cepat. Dia juga lupa kalau hari ini adalah pesta pernikahannya.
" Iya bu, tunggu sebentar ya ! Nayla belum selesai. " Teriak Nayla, bu Tina mengiyakannya dan pergi untuk menyelesaikan persiapan yang lainnya.
Nayla mendengus sebal, melihat wajah suaminya begitu tenang tidur sambil memeluk tubuhnya itu. Tiba - tiba sebuah senyuman usil melengkung di bibir Nayla, dia memencet hidung suaminya membuat Rey tak bisa menghirup udara dan dengan cepat membuka matanya dan juga membuka mulutnya untuk mendapatkan udara dari sana. Rey menepis tangan Nayla yang masih menempel di hidung mancungnya itu.
__ADS_1
" Apaan sih yang ? kamu mau bunuh suami kamu ya ? " Tuding Rey sambil mengatur kembali nafasnya.
Bukannya minta maaf Nayla malah kembali melayangkan cubitan di perut sang suami.
" Iiish... Sembarangan kalau ngomong ! " Decak Nayla sambil melototkan kedua matanya. Rey tersadar, sebuah cengiran dia layangkan sebagai tanda ucapannya tadi hanya sebuah candaan.
" Maaf ." Ucap Rey . " Memangnya ada apa ? sampe mencet hidung segala, mau lagi ya ? " Imbuh Rey malah menggoda.
Nayla mengernyit semakin gemas dengan tingkah sang suami, bukannya segera bergegas malah mengajaknya kembali berolahraga. " Kamu lupa sekarang ada acara apa ? " Tanya Nayla dengan kesal.
Rey sejenak berpikir, sambil menggaruk kepalanya pelan. " Ada acara apa memangnya ? " Astaga Rey juga lupa, terlalu asyik memadu kasih dengan istrinya membuatnya lupa dengan segala urusannya.
Ck, tanpa mau menjawab pertanyaan sang suami Nayla segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang tak bakai baju. Dan segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, meninggalkan sang suami yang masih berdiam diri menunggu jawaban sang istri.
Saat Rey merasa frustasi karena di tinggal pergi mandi, dia menyahut ponsel miliknya yang tergeletak di atas meja lampu di samping tempat tidurnya. Dia sengaja menon- aktifkan ponselnya itu karena tak mau terganggu saat bersama Nayla.
" Mama ? " Rey mengernyit bingung, tumben sekali mamanya telepon sampai sebanyak itu.
Dengan cepat Rey menekan tombol panggilan pada nomor mamanya tersebut. Dan saat panggilannya terhubung teriakan mama Rania seakan membuat gendang telinganya hampir pecah hingga Rey sedikit mejauhkan sedikit ponsel itu dari telinganya.
" REY.....KAMU DIMANA ? " Itulah teriakan yang pertama Rey dengar.
" Rey di rumah Nayla mah, ada apa sih pagi - pagi sudah ribut ? " Decak Rey merasa tak bersalah.
__ADS_1
" Oh, kamu udah berangkat jemput Nayla. Syukurlah. Ini para MUA nya sudah datang mau merias Nayla. Cepetan ya Rey ! " Seru mama Rania di seberang telepon, berpikir jika Rey ke rumah mertuanya untuk menjemput sang istri untuk persiapan acara pesta.
Rey terbelalak menoleh ke arah jam dinding yang menunjukkan waktunya hanya tinggal satu jam untuk memulai acara pesta. Bagaimana bisa dia melupakan hari ini, padahal semuanya sudah di atur dengan sangat rapi.
" Rey , kamu masih di sana nak ? Nayla udah siap berangkat kan ? " Tanya mama Rania karena tak mendapatkan jawaban apa - apa dari anaknya.
" I... Iya mah ? Rey udah siap kok. " Sahut Rey dengan gugup dan terpaksa dia berbohong agar mamanya segera mengakhiri panggilan telepon mereka. Mama Rania percaya begitu saja dan mengakhiri panggilannya.
Rey tampak kelabakan, dia segera turun dari ranjangnya dan mendekati pintu kamar mandi lalu mengetuk pintu tersebut dengan cepat.
" Sayang cepetan, mama udah nungguin kita. Kamu lupa ya ? hari ini kan acara resepsi pernikahan kita. " Teriak Rey tanpa jeda. Rey seperti tak punya rasa bersalah sedikit pun, dirinya malah menyalahkan Nayla yang lupa akan acara itu.
Nayla yang mendengar teriakan suaminya dari dalam kamar mandi hanya bisa menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Mencoba menarik kesabaran dan tak ingin emosinya meledak kemudian. Nayla membuka pintu dengan kasar dengan hanya menggunakan lilitan handuk yang menutupi bagian tengah tubuhnya saja. Rey menelan ludahnya berkali - kali, karena hormon kehamilannya membuat tubuh Nayla semakin terlihat berisi apalagi di bagian tertentu membuat Rey hanya bisa menahan nafsu.
" Sayang , jangan menggodaku ! " Ucap Rey sambil menutupi sebelah matanya.
Nayla menautkan kedua alisnya, merasa heran bukan karena ucapan Rey tapi karena tingkah Rey yang hanya menutup sebelah matanya saja.
" Kok cuma sebelah ? " tanyanya penasaran.
Rey tersenyum cengengesan, lalu menurunkan sebelah tangannya yang menutupi mata. " Kalau lihat kamu kayak gini mas gak kuat, tapi mubajir juga kalau mas gak bisa lihat. " Ucapnya sambil berbisik dan melewati tubuh Nayla untuk masuk ke kamar mandi. Tapi tangan usil lelaki itu masih sempat menyentuh bagian sensitif dari tubuh istrinya sambil berjalan. Nayla begitu terkejut, ingin sekali mencubit tangan jahil itu tapi terlambat Rey dengan cepat menutup pintu kamar mandi saat Nayla berbalik badan. Hal itu membuat Nayla kesal, tapi semburat merah juga nampak di pipinya yang terasa panas, walaupun dari suaminya tetap saja dia malu mendapat perlakuan seperti itu. Jika dari orang lain mungkin orang itu sudah habis babak belur di hajarnya.
" Awas kamu ya ! " Teriak Nayla dengan kesal. Rey hanya terkekeh geli di dalam kamar mandi, karena sudah berhasil menggoda istrinya .
__ADS_1
****
Like , Comment , share , favorite dan Vote nya ya.