Destiny Of Love

Destiny Of Love
Merasa Kehilangan


__ADS_3

Rey masih terlihat mondar-mandir di depan pintu ruangan ICU.


Ceklek...


Pintu ruang ICU yang dari tadi selalu di harapkan segera terbuka, akhirnya terbuka juga, Dokter pun keluar dari dalam ruangan tersebut.


Tanpa Aba-aba Rey langsung berlari kecil menghampiri dokter tersebut.


" Bagaimana keadaannya dokter ?" Tanya Rey dengan panik.


Wajah dokter tampak pucat, tersirat rasa penyelesalan dalam raut wajahnya itu " Maaf tuan Rey, dengan sangat menyesal kami tidak bisa menyelamatkan nyawa pasien. " Ucap dokter dengan lirih.


Mata Rey membulat, dadanya seperti di hujam oleh benda berat, sakit sekali, tubuhnya pun menjadi lemas. Nayla yang melihat itu langsung menghampiri Rey dan mencoba untuk menjadi penopang tubuh Rey.


" Sabar mas.." Ucap lembut Nayla.


Rey tak bisa berkata apa-apa, wajahnya tampak pucat, matanya tampak memerah menahan cairan bening yang hendak keluar di pelupuk matanya. Dia tak menyangka pertemuan nya dengan sahabat lamanya yang sudah bertahun-tahun berpisah, akan berujung dengan kematian. Sebagai laki-laki dia mencoba untuk tetap bersikap tegar di hadapan orang lain, terutama gadisnya Nayla.


" Saya turut berduka cita tuan, mohon segera urus pemakaman beliau. " Ucap dokter sambil memegang pundak Rey yang terlihat lemas.


Rey hanya tersenyum pahit menganggapinya, "Bagaimana dengan gadis nya? apa dia baik-baik saja ?" Tanya Rey , tiba -tiba mengkhawatirkan Gisella, membuat Nayla sedikit mendelikkan matanya, dia cemburu, tapi rasa itu depan cepat dia tepis dari pikirannya, dia sadar hal itu tidak pantas di lakukannya sekarang.


" Dia baik-baik saja, kondisinya sudah normal, sekarang masih dalam pengaruh obat, sebentar lagi mungkin akan sadarkan diri " Ucap dokter itu, membuat Rey merasa lega.


" Dokter, aku akan mengurus kepulangan dan pemakaman Martin dengan segera, tapi bersamaan dengan itu kami akan membawa Gisella bersama kami, aku akan memindahkannya ke rumah sakit di Bandung."

__ADS_1


Mendengar pernyataan Rey, sontak membuat Nayla tersentak, dia menatap lekat wajah Rey dari samping tempat dia berdiri. Pikiran Nayla mulai kacau Apakah Rey akan berencana kembali dengan wanita itu, dengan membawa nya ke Bandung berarti dia benar-benar akan menjaga Gisella, apa wanita itu akan tinggal bersama Rey ? Pertanyaan -pertanyaan seperti itu seakan ingin keluar dari mulutnya sekarang. Tapi Nayla lagi-lagi mengurungkannya, waktunya belum tepat. Pikir nya.


***


Singkat cerita, upacara pemakaman Martin telah selesai di laksanakan, Rey mengantar jenazah sahabatnya ke tempat peristirahatan terakhirnya di pemakaman umum di daerah Bandung, karena pada awalnya Martin memang lahir dan besar di sana. Dia masih punya keluarga disana yakni pamannya.


Martin adalah anak yatim piatu, keluarga satu-satunya yang dia punya hanya pamannya. Setelah Martin pergi Rey selalu berusaha mencari tahu alamat Martin di luar negeri dengan bertanya pada paman Martin, tapi pamannya juga tidak tahu alamat Martin disana, katanya Martin kuliah di sana atas permintaan seseorang dan ternyata itu adalah ayahnya Gisella, Martin juga tidak tahu pada awalnya, tapi setelah Gisella menyusulnya dia pun tidak bisa berbuat-buat apa-apa lagi. Gisella akan melakukan apapun untuk orang yang di cintainya.


" Ayo kita pulang mas !" Ajak Nayla yang selalu setia menemani Rey sejak awal proses pemakaman sahabat kekasihnya itu. Semua orang yang mengiringi kepergian Martin termasuk pamannya sudah pergi meninggalkan makam itu.


Rey tak bergeming, dia tetap di posisi nya berjongkok di hadapan pusara Martin, Kemudian dia mendongakkan kepalanya setelah Nayla mendaratkan tangan di pundak Rey dengan lembut. " Kamu harus ikhlas mas, sahabatmu sudah tenang di alam sana " Imbuh Nayla memberi semangat kepada Rey.


Rey mengulas senyum tipis, " Makasih sayang" Ucap Rey dengan suara nya yang sedikit serak.


Nayla menoleh, kemudian mengerutkan dahi nya dengan heran " Ada apa lagi ?" tanya nya.


Rey menatap sendu wajah gadis di hadapannya itu, " Nay, mengenai permintaan terakhir Martin, apa kau setuju ?" Rey merasa tidak yakin akan melakukan permintaan terakhir sahabatnya itu, karena sekarang dia sudah punya kekasih yang bisa saja cemburu dan salah paham dengan kedekatan nya bersama gadis lain, terlebih gadis itu adalah mantannya sendiri.


Nayla menghela nafas panjang, kemudian mengulas senyum di bibirnya " Dia cuma memintamu untuk menjaganya, bukan untuk menikahinya khan? mana mungkin aku tidak setuju, aku percaya padamu, bahkan jika hatimu juga berkeinginan untuk menikahi nya, aku juga tidak punya hak apa -apa untuk menolaknya. " Jawab Nayla dengan sedikit menahan rasa nyeri di hatinya saat melontarkan kata-kata terakhirnya itu.


Rey menajamkan kedua alisnya " Apa yang kamu katakan, itu tidak akan terjadi, aku sudah berkali-kali bilang, kamu satu-satunya wanitaku sekarang. Hanya kamu yang akan menjadi istriku nanti " ucapnya dengan penuh keyakinan.


Mendengar hal itu, Nayla sedikit merasa lega, hati nya tidak sesakit tadi. Seketika pikiran -pikiran buruk mengenai orang ketiga dalam kisah cinta nya yang baru saja tumbuh menghilang dari otaknya.


" Aku percaya padamu " Ucap Nayla lebih melebarkan senyumnya, tak ayal dia juga tersipu.

__ADS_1


Rey sangat senang mendengar jawaban Nayla, setidak nya dia tidak merasa khawatir lagi jika suatu saat Nayla melihat Rey sedang bersama Gisella nantinya. Rey pun menyatukan jemari tangannya dengan jemari tangan Nayla, mereka berjalan berdampingan meninggalkan Martin yang sudah tertidur tenang di tempat istirahat terakhirnya.


***


Esok harinya, Rey mengajak Nayla untuk menjenguk Gisella. Rey memindahkan Gisella di rumah sakit milik keluarganya agar lebih terkontrol olehnya.


Gisella sudah sadar dari komanya, dia sangat terpukul saat Rey memberi tahunya tentang kepergian Martin. Gisella sangat tertekan saat itu, hingga tubuhnya pun kembali tak sadarkan diri beberapa saat, beruntung itu bukan hal yang buruk. Gisella hanya mengalami tekanan saja, dia kembali sadar beberapa jam kemudian setelah pingsan.


Rey menceritakan permintaan terakhir dari Martin, yang meminta Rey dan Nayla untuk menjaga Gisella setelah kepergian Martin. Gisella menolak dengan tegas, dia tak mau merepotkan orang lain, terlebih orang itu adalah orang yang pernah dia sakiti.


" Aku tidak mau merepotkan kalian, lagi pula aku masih bisa mengurus diriku sendiri, aku bukan anak kecil " Ucap Gisella mencoba menolak kebaikan Rey dan Nayla.


" Aku juga tidak melakukan hal ini demi dirimu, aku hanya ingin memenuhi permintaan sahabatku saja, " Rey sedikit memaksa, dia tidak mau mengecewakan mendiang sahabatnya itu, dia sudah berjanji akan membalas budi semua jasa sahabatnya selama ini.


Gisella menunduk, dia merasa Rey masih sangat membencinya " Nona Gisella, sebaiknya kamu menerima tawaran kami, aku mendengar sendiri tunanganmu mengatakan hal itu, dia cuma ingin kau punya seseorang yang bisa kau andalkan saat kau merasa kesulitan, anggap saja kami ini sebagai saudara mu, apa kau tidak ingin tunanganmu pergi dengan tenang? " Nayla mencoba menasihati.


Setelah mendapat pengertian dari Nayla akhirnya Gisella menyetujui nya, mereka sepakat untuk menjadi sodara satu sama lain, setidaknya selama tinggal di negara asalnya itu, dia tidak sendirian. Dia merasa seperti mempunyai keluarga baru ketika melihat ketulusan Nayla. Gisella sangat kagum dengan kepribadian Nayla, yang mau menerima kenyataan jika kekasihnya harus berbaik hati kepada mantan kekasihnya dulu.


Sedangkan Nayla, dia sangat iba dengan kondisi Gisella, Gisella harus di tinggalkan oleh kekasih hatinya pada saat acara pernikahannya tinggal menghitung hari. Apalagi saat mendengar ucapan Martin jika Gisella hanya mempunyai Martin satu-satunya orang terdekat dengan nya saat ini. Dia pasti sangat merasa kehilangan orang yang sangat di cintainya itu.


Gisella seorang piatu sejak kecil, ibunya meninggal sehari setelah melahirkannya. Ayahnya sangat memanjakan Gisella, apapun yang dia inginkan selalu di turutinya termasuk menyetujui hubungannya dengan Martin. Gisella memang bukan orang biasa, dia adalah orang kaya raya, usaha ayahnya di luar negeri terbilang sangat banyak. Tapi dia tidak pernah tertarik untuk menggeluti usaha ayahnya tersebut, selama ini ayah Gisella mempercayakan usaha nya pada Martin. Tapi, setelah ayah Gisella meninggal, Martin dan Gisella mencoba membuka usaha nya sendiri di Indonesia dengan membuka pabrik textille di daerah Bandung, hanya sesekali mereka memantau perkembangan pabriknya tersebut, dan harus sering kembali ke Singapura untuk mengurus usaha ayah Gisella. Pantas saja Rey tidak pernah bertemu dengan mereka walaupun mereka masih tinggal di kota yang sama.


***


Klik like, koment , dan vote ya readers tersayang... klik favorit profil amy.

__ADS_1


__ADS_2