Destiny Of Love

Destiny Of Love
Ana meninggal


__ADS_3

Rey terdiam dia tampak bingung, siapa yang menjebak Nayla sampai membuat skenario yang sesempurna ini. Rey sangat percaya Nayla tidak mungkin melakukan itu walaupun dia seorang petarung tapi dia tidak pernah sampai membuat lawannya babak belur tak berdaya, apalagi sampai kehilangan nyawa.


"Apa kita bisa mendapatkan video rekaman CCTV itu?" Rey ingin melihat sendiri apakah bukti adalah rekayasa atau asli.


Ardi mengangguk. "Bisa saja pak, tapi bukti itu hanya akan di berikan oleh polisi pada pengacara Nayla saja, dan sekarang Nayla belum punya pengacara untuk membelanya nanti." Seru Ardi terdengar sendu. Karena bagaimanapun keluarga Nayla tidak akan mampu untuk menyewa seorang pengacara untuk membantunya di pengadilan.


Rey tampak mengerti lalu dia mengambil ponsel miliknya dan melakukan panggilan telepon dengan Jordy asisten pribadinya.


"Hallo ...Jo, tolong kamu bawa pengacara terbaik kita untuk menyelesaikan sebuah kasus pidana, segera temui aku di kantor polisi, aku share lokasinya sekarang." Tanpa basa basi Rey langsung memberikan perintah pada Jordy setelah panggilan teleponnya terhubung dengan asistennya tersebut. Tentu saja perintah tersebut harus segera di laksanakan. Dan Rey memutuskan panggilan itu setelah asistennya mengerti dengan apa yang ia perintahkan.


***


Tak membutuhkan waktu lama untuk Jordy untuk menemukan lokasi bosnya kini berada. Dia datang bersama dengan seorang pengacara terbaik kepercayaan keluarga Rey.


Tak ingin membuang waktu kembalilah mereka ke kantor polisi untuk meminta rekaman video CCTV dari pihak berwajib agar bisa di selidiki lagi oleh pihak pengacara Nayla untuk pembelaannya nanti.


Saat mereka sudah sampai di halaman kantor polisi, nampak lah Tina dan Dimas yang baru keluar dari pintu kantor polisi tersebut. Sepertinya mereka sudah selesai membesuk anak gadisnya itu. Tina menyipitkan matanya berusaha mengingat wajah Rey dengan jelas. Tapi saat ia melihat Rere di belakang tubuh Rey, sebuah senyuman getir langsung terbesit di bibirnya di ikuti tatapan sendu seolah mengadu pada sahabat anaknya itu.


"Rere?" Tubuh Tina langsung memburu gadis cantik yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri. Keduanya pun berpelukan dengan isakan yang terdengar pilu dari bibir kedua wanita itu.


"Ibu tenang ya! Abang pasti melakukan apapun untuk membantu Nayla. Nayla pasti bebas. Rere yakin bu!" Ucap Rere menenangkan Tina, sambil mengelus punggung wanita paruh baya yang biasanya bersikap ceria sehari-harinya. Pelukan mereka pun terpisah saat Tina mengakhirinya lalu menyeka air mata yang menggenang di sudut matanya.


"Tante dan om tidak perlu khawatir, Rey sudah menyewa seorang pengacara untuk mengurus kasus Nayla. Kita berdoa saja semoga kebenaran akan segera terungkap. Dan Nayla akan terbebas tanpa cela apapun." Tutur Rey sambil memperkenalkan seorang pengacara pada kedua orang tua Nayla.


Tina dan Dimas terlihat senang, terbersit rasa haru yang tak kuasa menahan bulir airmata bahagia menetes tanpa permisi "Terima kasih nak Rey, kamu dan keluargamu sudah banyak membantu kami." ucap Dimas dengan penuh rasa haru. Rasa syukurnya pada Tuhan yang Maha Kuasa begitu besar karena telah mengirimkan seorang malaikat berwujud laki-laki di hadapannya itu.


Rey memegang pundak Dimas. Ia mengulas senyum tipisnya. "Om tidak usah sungkan, aku senang membantu kalian. Nayla pasti bebas. Sekarang sebaiknya kalian pulang!" Rey beralih pada Ardi yang berdiri di samping adik perempuannya.


"Ardi, bisa tolong antarkan mereka pulang! Sekalian bawa adik saya juga, biar nanti saya jemput dia di rumah Nayla. Sepertinya saya akan lama disini."


Ardi menarik bibirnya segaris lalu menganggukkan kepalanya tanda bersedia. Sepertinya lelaki ini masih bersikap segan pada seorang Rey yang notabene adalah pemilik kampus tempatnya menimba ilmu bersama Nayla dan juga Rere.


Tak lama setelah mobil yang Ardi bawa melesat di jalan raya, Rey bersama dua bawahannya melanjutkan niatnya untuk masuk ke dalam kantor polisi. Niat awal yang ingin meminta salinan video rekaman CCTV bukti kejadian itu.


Beruntung polisi tidak mempersulit permintaan pengacaranya Rey. Karena memang kasus ini masih dalam status penyelidikan.


Rey sangat peduli dengan Nayla, rasa cinta nya pada Nayla membuatnya hati dan pikirannya hanya di penuhi oleh Nayla seorang. Tidak ada keraguan sedikitpun di hatinya dengan gadis petarung itu. Walaupun terkesan bar-bar, Nayla sebenarnya adalah sosok gadis yang begitu lemah. Lemah dalam hal mengasihani orang. Gadis itu tidak pernah bisa tahan jika melihat seseorang kesulitan. Hatinya yang lembut selalu membuat pikiran jernihnya pun ikutan hanyut. Yang terpenting bagi gadis itu adalah berbuat baik dan menolong sesama jika memang dirinya bisa.


***


Sudah dua minggu berlalu, Ana sebagai saksi sekaligus korban masih tak kunjung sadar dari komanya, pengawasan terhadap gadis itu lebih di perketat lagi. Pasalnya seminggu yang lalu Polisi menginformasikan ada seseorang yang mencoba mencabut selang oksigen dari hidung Ana. Untungnya ada seorang suster yang mengetahuinya tepat waktu dan Ana masih bisa di selamatkan.


Siang itu Rey seperti biasa membesuk Nayla, kali ini dia ditemani oleh Rere. Seperti biasa mereka berbincang lewat saluran telepon karena terhalang oleh tembok kaca. Rere yang mengambil kendali gagang telepon, karena ia rindu sekali berbincang dengan sahabatnya. "Lo terlihat kurus Nay, lo gak di kasih makan ya disini? " Celetuk Rere yang berhasil mendapatkan sentilan di telinganya dari sang abang yang duduk di sebelahnya.


"Jangan bicara sembarangan! Kamu gak sadar ini di kantor polisi?" Seru Rey menceramahi adiknya.

__ADS_1


Rere mencebikkan bibir. "Iya maaf.... " Serunya setengah menyesal.


Nayla yang juga mendengar omelan Rey pada sahabatnya itu, ia pun tertawa di dalam sana.


"Eh, lo bisa-bisanya ya tertawa sebahagia itu di saat kayak gini?" Rere yang menyadari sahabatnya ikut menertawakan dirinya di balik kaca jadi tidak terima.


"Terus gue mesti nangis-nangis gitu? Polisi juga gak bakal ngeluarin gue kalaupun gue nyampe nangis darah sekalipun." Cebik Nayla sambil mengerucutkan bibirnya.


"Iya.... Iya..... Sabar ya cantik!" Rere menjulurkan lidahnya, dan bergaya seperti orang mau muntah, seolah yang di katakannya barusan terasa aneh saat ia ucapkan.


"Sialan lo." Seru Nayla sadar bahwa Rere sedang meledeknya. Rere pun tertawa di ikuti oleh gelengan kepala Rey yang melihat tingkah kedua gadis itu. Bisa bisanya mereka bercanda di saat kondisi Nayla yang sedang di timpa musibah begitu beratnya.


"Eh..... Iya Nay, tadi pak Dekan menitipkan surat untukmu." Rere membuka tasnya dan meraih sebuah amplop putih dari dalam sana.


Nayla menegakkan tubuhnya sepertinya surat itu begitu penting. "Apa isinya Re? Buka aja!" Seru Nayla penasaran.


Setelah mendapatkan izin dari Nayla, Rere pun membuka amplop tersebut dan mengeluarkan selembar surat dari dalamnya. Tanpa pamit lagi Rere membaca surat tersebut. Dari raut wajahnya yang tiba-tiba berubah muram, bisa dipastikan jika isi dari surat tersebut pastinya adalah hal yang buruk.


"Apa isinya Re?" Rey bertanya lebih dulu, karena ia juga sangat penasaran, apalagi saat melihat reaksi Rere setelah membacanya.


Rere mendongakkan pandangannya pada Rey lalu ekor matanya melirik ke arah Nayla yang tak kalah penasaran dengan isi suratnya. Rere tak tega untuk memberitahu nayla masalah ini. Ia menyimpan gagang telepon penghubungnya dengan Nayla di tempatnya, hingga gadis yang berada di ruang tahanan itu tak bisa mendengar percakapan Rere dengan abangnya.


"Hei.... Kenapa teleponnya di tutup? Rere.... Rere....?" Nayla berbicara sendirian sambil menggedor pelan kaca di hadapannya, tapi sahabatnya tetap memilih untuk mengabaikannya. Nayla begitu kesal. Ingin sekali dia keluar dari ruangan itu walau hanya sebentar. Sekedar memberikan pelajaran karena sudah membuatnya penasaran.


"Kampus menghentikan beasiswa Nayla bang, dan jika nanti Nayla terbukti bersalah Nayla tidak bisa melanjutkan kuliahnya lagi." Seru Rere dengan nada sedih.


Di dalam sana Nayla jadi bertambah penasaran. "Kenapa bang Rey terlihat marah-marah? Ada apa sebenarnya?" Gumam Nayla. Tanpa sadar Nayla menggedor dinding kaca penghalang sedikit lebih kencang, hingga kedua kakak beradik tersebut berjengit dan langsung menoleh ke arah Nayla hampir bersamaan.


"Ada apa?" Nayla berbicara tanpa suara, mempertegas gerak bibirnya agar bisa di mengerti oleh kedua orang di hadapannya.


"Jangan katakan padanya Re!" Perintah Rey tanpa menggerakkan bibirnya. Ia takut jika Nayla membaca gerakan bibirnya tersebut. Rere pun mengangguk sebagai tanggapannya. Lalu mengambil kembali gagang telepon yang sempat tertutup.


"Ada apa sih? Kenapa teleponnya langsung di tutup? Kalian lagi ngomongin apa! " Nayla langsung mencecar sahabatnya itu saat gagang teleponnya sudah menempel di telinga sahabatnya.


"Gila lo ya? Gendang telinga gue bisa pecah. Bisa pelan-pelan gak sih?" Seru Rere malah mengoceh tidak jelas. Rere masih emosi dengan keputusan pihak kampus yang mencabut beasiswa untuk sahabatnya.


"Gue gak teriak deh Re, kenapa lo jadi sewot?" Seru Nayla dengan nada sendu. "Lo benci sama gue ya? Lo malu sahabatan sama gue?" Nayla memasang wajah datar, entah kenapa suasana hatinya jadi mendadak hambar.


Rere melebarkan kedua matanya, bukan itu maksudnya. "Eh.... Kok lo mikirnya gitu sih Nay? Gue kaget aja tadi lo langsung nanya banyak gitu. Sorry deh!" Rere memasang wajah menyesal berharap sahabatnya bisa memaafkan.


Rey yang melihat raut wajah Nayla yang berubah sedih, entah kenapa hatinya begitu nyeri. Seakan ada benda keras yang menghantam dadanya yang melesak sampai ke hatinya.


"Biar abang yang bicara!" Rey meraih gagang telepon yang menempel di telinga Rere. Lalu menempelkan nya di daun telinganya.


"Hai.... Apa kau sedih?" Nayla mengulas senyum tipis, dirinya jadi sadar apa yang di katakannya tadi terlalu dramatis. Tidak seharusnya Nayla berkata seperti itu pada sahabatnya yang selama ini sudah berjuang untuk membebaskannya.

__ADS_1


"Aku gak sedih kok bang. Aku hanya terharu karena kalian sudah mau membantu. Tapi.... Aku masih penasaran dengan isi surat itu. Apa katanya?" Nanya menatap wajah Rey dengan tatapan penuh harap. Membuat Rey sejenak hanyut dalam tatapan itu hingga ia jadi termenung sesaat. Satu tepukan di pundak Rey menyadarkan pria itu dari lamunannya.


"Abang?" Rere mendengus. Sedikit membentak karena sudah tiga kali dirinya memanggil tapi tak kunjung di jawab. "Kenapa malah melamun? Itu si Nayla dari tadi nungguin." Omel nya sambil berdecak sebal.


Rey menyengir, deretan giginya yang tampak putih membuat ketampanannya kian terpatri. "Maaf abang terpesona dengan sorot mata Nayla." Rey mungkin lupa dia berbicara dengan adiknya dengan gagang telepon yang masih menempel di telinganya. Dan tentu saja Nayla juga mendengarnya.


Seketika saja wajah Nayla pun merona, ia sering mendapat rayuan receh dari setiap lelaki yang mengaguminya, tapi entah kenapa mendengar pengakuan Rey yang tidak di sengaja jantungnya malah berdegup lebih kencang dari biasanya. Untung saja mereka beda ruangan hingga Nayla bisa menyembunyikan rasa malunya dengan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.


"Ehm.... Gimana bang? Isi suratnya apa?" Rey sedikit tersentak saat mendengar suara Nayla di telinganya. Dan lelaki itu kembali menghadap ke arah kaca. Rere terkekeh melihat tingkah abangnya yang sedang di mabuk cinta.


"Lucu banget si abang kalau udah jadi bucin." Gumam Rere sambil menahan tawa.


"Pihak kampus cuma ngasih tahu untuk sementara kamu kena skorsing sampai masalah ini selesai. Kamu tidak perlu khawatir. Aku akan berjuang sampai titik akhir. Kamu harus percaya jika keadilan itu pasti ada." Seru Rey membuat hati Nayla terenyuh dalam rapuh. Begitu tenang hingga tak terasa senyum indahnya pun mengembang. Keduanya pun saling tatap dalam diam. Seakan tidak ada penghalang di depan mereka. Rey ingin sekali menyentuh wajah Nayla.


"Ngapain sih?" Rere menepis tangan Rey yang mengusap kaca di hadapannya. Rey mengusap wajahnya kasar. Kenapa dirinya tak bisa menahan diri jika sedang bertatapan dengan Nayla si gadis pendekar. Seorang petugas tiba-tiba datang mengingatkan jika jam besuknya sudah mencapai batas maksimal. Dengan terpaksa keduanya pun berpamitan untuk pulang.


***


Rere tak henti-hentinya meledek kakak kandungnya. Gelak tawanya yang begitu kencang, tak bisa teredam oleh suara deru mobil yang saling bersahutan di jalanan.


"Berisik! Abang turunin nih?" Rey mendengus, ekor matanya mendelik tajam ke arah adiknya yang duduk di samping kemudi nya. Lalu kembali menatap jalan dan fokus dengan kemudi nya.


"Eh.... Jangan dong! Jahat banget sih." Protes Rere sambil mengerucutkan bibirnya. "Abang sih lucu. Gak bisa nahan diri di depan Nayla. Segitu nya ya jatuh cinta sama dia?" Rere kembali terkekeh tapi kali ini tidak sampai bersuara seperti tadi


Rey berdecak, belum sempat ia memberikan alasan suara dering ponsel milik Rere membuat perhatian mereka teralihkan seketika. Rere segera meraih ponsel yang sengaja ia simpan di depan dasbor mobil.


Terlihat panggilan suara dari sahabatnya Ardi saat ia melihat layar ponsel miliknya itu. Rere Langsung menekan tombol hijau lalu mendekatkan layar pipih itu di daun telinganya.


"Hallo Ar, ada apa?"


"Re, apa pak Rey sedang bersamamu?"


Rere mengernyit dahi, tumben sekali Ardi menanyakan abangnya. Ia menolah ke arah Rey yang sedang mengemudi. "Iya... Dia sedang mengemudi, kita baru saja pulang menjenguk Nayla." jawab Rere lagi.


"Kalian bisa pergi ke rumah sakit sekarang? Ana meninggal." Ucapan Ardi seakan petir yang menyambar di siang bolong. Begitu mengejutkan sekaligus menakutkan. Raut wajah Rere berubah jadi tegang.


Rey yang melirik adiknya yang sedang mengobrol di telepon menjadi terheran melihat adiknya seperti sangat terkejut. "Ada apa?" Tanya Rey sambil menoleh sekilas dan kembali menatap kedepan.


"A.... Ana meninggal bang." Ucap Rere tergagap dengan suara berat.


Dan seketika itu Rey langsung menginjak rem secara mendadak, untung saja tidak ada mobil atau kendaraan lain di belakang mobil Rey tersebut. Jika ada, mungkin akan terjadi tabrakan beruntun disana.


"Kamu jangan bercanda!" Seru Rey tak percaya.


****

__ADS_1


Bersambung dulu ya...


__ADS_2