Destiny Of Love

Destiny Of Love
Terbukti bersalah


__ADS_3

Rey menoleh ke arah Rere yang masih kaget dengan reaksi abangnya yang tiba-tiba menghentikan mobil nya. "Apa yang kamu katakan? Berikan teleponnya padaku!" Rey menunjukkan wajah dinginnya.


Lalu Rere memberikan ponsel miliknya yang masih terhubung dengan panggilan Ardi. "Katakan dengan jelas Ar, kenapa dengan gadis itu?" Tanya Rey tidak sabar.


"Anda ke rumah sakit saja pak, saya akan jelaskan disini, soalnya ada yang aneh, saya juga tidak bertemu dengan Ana, tapi pihak rumah sakit mengatakan bahwa Ana meninggal dan sudah di bawa pulang oleh kakaknya." Cerita Ardi dalam panggilan itu.


"Ini tidak mungkin!" Rey mengerang frustasi. Ia memukul setir kemudi yang ada di hadapannya kini. Panggilan pun berakhir saat Rey mengatakan akan segera ke rumah sakit untuk menemui Ardi. Kalau memang benar Ana meninggal, apakah Nayla bisa di bebaskan?


***


Ardi sedang duduk di depan ruangan ICU yang kemarin dia tahu masih di gunakan untuk merawat Ana, dia tampak bingung kenapa Ana bisa tiba-tiba di nyatakan meninggal. Dan kenapa nomor ponsel kak Nina tidak dapat di hubungi.


"Di bawa pulang kemana jenazah Ana? kenapa kak Nina tidak memberita tahuku, kalau Ana sudah meninggal, dan ponselnya malah tidak aktif sekarang?" Gumam Ardi berbicara sendiri. Sebagai saudaranya seharusnya Nina memberitahukan perihal kematian adiknya tersebut kepada Ardi. Tapi kenyataannya, Nina malah sulit sekali untuk di hubungi. Dan hal itu menjadi tanda tanya besar bagi Ardi saat ini.


Tak lama Rey dan Rere juga datang ke ruangan bekas merawat Ana, sekilas Rey menoleh ke arah kaca jendela ruangan tersebut, melihat isi ruangan yang sudah tampak rapi dan tak berpenghuni.


"Ardi kenapa sampai seperti ini? Bagaimana kamu bisa tidak tahu, bukankah kamu kerabat nya? Kamu tahu jenazah Ana di bawa kemana?" Tanpa basa basi Rey langsung memberondong pertanyaan kepada Ardi yang bahkan belum sempat berdiri.


Ardi yang sempat terkesiap dengan kedatangan Rey yang langsung bertanya tanpa aba-aba seketika beranjak berdiri dari duduknya. "Saya juga tidak tahu pak, kak Nina juga susah di hubungi, apa mungkin kak Nina membawa Ana ke Semarang? Tapi aku tidak punya nomor telepon kerabat lain disana, karena memang hanya kak Nina dan Ana saja keluarga kami yang tersisa." Jawab Ardi masih bingung, Ardi terdiam sejenak, memikirkan langkah selanjutnya. "Apa kita perlu kesana?" Saran Ardi kemudian.


Rey berpikir. Sepertinya tidak mungkin Nina melakukan itu sendirian, dia hanya seorang perempuan sudah pasti ia akan meminta bantuan Ardi jika melakukan hal itu. Ini jelas ada yang tidak beres. Nina menghilang, bersamaan dengan kabar meninggalnya Ana yang begitu mendadak.


Tanpa menanggapi saran dari Ardi, Rey malah mengambil ponsel nya dari saku jasnya. Lalu menghubungi nomor seseorang yang ada di ponselnya tersebut.


"Hallo, kenapa kau sampai kecolongan seperti ini? Kau tahu sekarang Ana meninggal?" Rey menumpahkan emosinya pada orang yang dia hubungi, lelaki itu begitu kecewa dengan kinerja anak buahnya yang sudah di perintahkan untuk melindungi Ana.


"...."


Entah kenapa setelah mendengar jawaban dari balik teleponnya, wajah Rey terlihat sedikit tenang. Guratan di keningnya pun sedikit berkurang. Bahkan ia mengeluarkan hembusan nafas yang terdengar melegakan. "Baiklah, aku tidak mau tahu, Nayla harus mendapatkan keadilan, dia tidak boleh masuk dalam jebakan ini, dapatkan bukti apapun yang bisa membebaskan Nayla!" Rey mengakhiri panggilannya setelah berkata seperti itu.

__ADS_1


"Bagaimana bang?" Rere begitu penasaran dengan perubahan wajah abangnya yang terlihat tenang.


Rey menoleh ke arah Rere, seulas senyum smirk terukir di bibirnya, lalu memegang pundak adiknya itu. "Kamu tenang saja, kita sekarang ke kantor polisi lagi, abang akan melakukan apapun untuk kebebasan Nayla." Ucapnya begitu menyakinkan.


"Kamu mau ikut kami Ar?" tanya Rey pada Ardi yang masih mematung di tempatnya tadi. Ia tidak bisa membaca dengan rencana apa yang akan di lakukan oleh kakak sahabatnya.


Ardi menggelengkan kepalanya, ia menolak untuk ikut. "Sepertinya aku akan pulang dulu, aku akan menanyakan kepada Papa ku, mungkin ada keluarga lain yang bisa kita hubungi di kota itu. Agar kita bisa menghemat waktu dan tidak kecewa jika kita langsung kesana dan ternyata mereka tidak ada." Ujarnya.


"Baiklah, terimakasih kau juga mau membantu." ucap Rey seraya menepuk-nepuk pundak Ardi.


Tapi ternyata perkataan Rey membuat hati Ardi sedikit panas. Apa maksud dari perkataan tersebut. Nayla sahabatnya, sudah pasti ia akan membantunya tanpa perlu ucapan terimakasih dari lelaki di hadapannya itu. Memangnya siapa dia? Apa dia merasa menjadi orang yang paling berhak untuk melindungi Nayla?


"Nayla adalah orang yang terpenting buatku, dia adalah sahabatku, bagaimana aku bisa tidak peduli dengan nya. Anda tidak perlu berterimakasih akan hal itu, karena tanpa di minta aku pasti akan melindungi Nayla." Ucap Ardi penuh ketegasan. Tatapan matanya terlihat tajam, bahkan tersirat rasa cemburu yang begitu besar dari sorot matanya yang terbuka lebar.


Rey menatap Ardi dengan tatapan tidak suka, Rey tahu jika Ardi memang menyukai Nayla. Tapi itu tidak akan membuatnya mundur untuk mendapatkan gadis pujaan hatinya. Sebelum janur kuning melengkung, Nayla bukan milik siapa-siapa, Rey berhak untuk merebut cinta Nayla. Ardi hanyalah saingan kecil yang tidak ada apa-apanya.


Sejenak keduanya saling pandang dengan tatapan sengit di dalamnya, seperti mereka akan melakukan pertempuran saja. Rere yang melihatnya jadi takut jika mereka benar-benar akan berkelahi. "Abang, kita ke kantor polisi sekarang aja yuk! Jangan bikin keributan di sini" Seru Rere sedikit ketakutan dengan pikirannya sendiri.


Karena paksaan dari Rere akhirnya Rey pergi dari rumah sakit itu. Meninggalkan Ardi yang masih termenung di tempatnya. Ia sadar jika dirinya memang tidak akan menang. Melawan seorang Reydian Rahadi butuh keberanian yang cukup tinggi. Ardi akan menerima jika memang Nayla bisa bahagia bersama lelaki pilihannya.


***


Rey kembali ke kantor polisi, dan ternyata disana sudah ada Jordy dan pengacaranya sudah menunggu. Setelah keluar dari mobilnya, Rey dan Rere langsung menemui mereka yang menunggunya di area halaman depan kantor polisi tersebut


"Bagaimana Jo, kau sudah bicara pada polisi ?" tanya Rey.


"Kami juga baru sampai bos, ayo masuk!" Ajak Jordy kemudian. Rey pun menganggukkan kepalanya.


Mereka pun berjalan beriringan masuk ke dalam kantor polisi, lalu seorang polisi menyambutnya, mereka di persilahkan masuk ke ruangan pimpinan kapolres disana, hanya Rey dan pengacara yang masuk, sedangkan jordy dan Rere menunggu di luar ruangan.

__ADS_1


"Mari, silahkan duduk!" Pinta pimpinan polisi tersebut.


"Terimakasih pak." Rey dan pengacaranya pun duduk berhadapan dengan pimpinan polisi itu tapi terhalang oleh sebuah meja di depannya.


"Bagaimana dengan perkembangan kasus sodara Nayla Agustina pak, apa Bapak sudah menerima kabar bahwa korban yang jadi bukti terakhir kita sudah meninggal?" tanya pengacara yang memulai perbincangan mereka.


Polisi itu melipat tangannya di atas meja, ia memasang wajah seriusnya. "Kami sudah mendapatkan laporan nya, dan saya turut berduka, mungkin setelah ini pihak kejaksaan akan mempercepat proses persidangannya, karena di rasa bukti yang terkumpul sudah cukup kuat untuk menjerat tersangka." Tutur pak polisi.


"Jika tersangka sudah mau mengakui kesalahannya, kami akan secepatnya melakukan reka adegan peristiwa." Imbuh polisi itu.


Rey membulatkan matanya, rahangnya mengeras saat mendengar penuturan polisi. Dia tidak terima, Nayla bukan pelakunya. "Dia tidak bersalah, mana mungkin dia akan mengakui nya?" Rey sedikit berteriak sambil menggebrak meja di depannya.


Sang pengacara mencoba menenangkan Rey dengan memegang pundak Rey ."Sabar Pak, tenang dulu!" Ucap pengacara.


Polisi itu tersenyum kecut, beiau sudah terbiasa menghadapi sikap seperti ini. Emosi yang meledak saat pihak keluarga ada yang tidak terima dengan keputusan yang berwenang. "Anda bisa saja berbicara seperti itu, tapi bukti kita mengatakan lain, Nayla sudah terbukti bersalah, bahkan sampai sekarang kalian tidak bisa menunjukkan bukti rekaman CCTV katanya sudah pernah di ubah." Ucap polisi itu tetap bersikap tenang.


Rey terdiam, dia sungguh frustasi menghadapi masalah yang semakin rumit. Polisi itu benar, posisi Nayla benar-benar sulit. "Kira - kira sidang nya akan di adakan kapan pak?" Tanya pengacara lagi.


"Hal itu membutuhkan waktu, kami akan memberitahu kalian jika semua prosedurnya sudah di jalankan semua."


"Baiklah pak, sesuai prosedur. Kami akan tetap membela klien kami sampai di pengadilan." Pengacara berkata secara profesional.


"Tentu saja, kalian bisa melakukan apapun untuk meringankan hukuman tersangka di pengadilan nanti." Ucap polisi sedikit mencibir. Ia tidak habis pikir mereka begitu yakin jika tersangkanya tidak bersalah padahal tidak ada bukti lainnya selain korban yang sudah meninggal.


"Kami akan memberikan bukti tidak bersalah buat Nayla di persidangan nanti." Kali ini Rey ikut berbicara. Ia tidak suka cara bicara polisi tersebut yang seakan meremehkan kemampuannya.


***


bersambung dulu ya..

__ADS_1


__ADS_2