
"Mas ...." keluh Nayla saat Rey mulai memulai aksinya.
Rey tak menghiraukan itu, dia terus saja menjelajahi leher Nayla dan memberikan jejak kepemilikan disana, Rey mendongak, bibirnya kemudian beralih menuju bibir ranum Nayla, dengan lembut dia mengecup bibir itu, semakin dalam dan semakin menyatu. Membuat Nayla kesulitan bernafas. Dengan susah payah dia melepas pagutannya sekedar untuk menghirup kembali oksigen sebanyak-banyaknya.
Rey tak mau menunggu lama, dia menarik tubuh Nayla kembali dan menggiringnya ke tempat tidur, Nayla tersentak saat tubuhnya di dorong hingga terlentang di atas ranjang, dengan cepat Rey merangkak ke atas tubuh Nayla, membuat wanita itu tidak bisa mengendalikan detak jantungnya yang berdetak lebih cepat. Tak sempat Nayla berucap, bibirnya kembali di santap.
"Kamu siap ya, ini akan sakit sebentar saja, lama - lama juga gak, kok," bisik Rey dengan lembut, setelah cukup lama melakukan pemanasan, bersiap melakukan penyatuan dengan tubuh istrinya itu. Nayla tak mampu berucap, rasa malu dan juga takut menguasai pikirannya, hanya anggukan pasrah yang bisa dia lakukan saat itu.
Rey melakukannya dengan perlahan, dia sejenak berhenti saat Nayla menjerit kesakitan, Rey pun mengalihkan rasa sakit itu dengan sebuah kecupan, Nayla kembali hanyut dalam buaian. Saat itulah Rey melanjutkan misi penyatuannya, walau sakit itu kembali datang, Nayla mencoba untuk menahan, Rey merasakan sesuatu yang hangat saat dirinya sudah menembus benteng pertahanan yang selama ini Nayla jaga, sambil tersenyum bangga Rey mengecup kening istrinya dan menyeka air mata yang keluar dari pelupuk mata sang istri, dirinya sangat paham istrinya benar-benar kesakitan.
Rey menggulirkan tubuhnya di samping istrinya, dengan napas yang tersengal-sengal dan keringat yang bercucuran. Seketika keduanya saling diam, kemudian Rey menarik tubuh Nayla agar tidur dalam pelukannya.
"Terimakasih, Sayang," ucap dengan lembut sambil mencium puncak kepala Nayla. Mereka pun tertidur dalam kelelahan.
Satu jam kemudian, Nayla kembali menghela napas kasar. Suaminya benar-benar keterlaluan, dengan lirih dia berkata.
"Lagi ya, Sayang?"
Tidak perlu mendengar jawaban dari Nayla, Rey langsung menerkamnya. Malam itu benar - benar menjadi malam panjang bagi pasangan pengantin yang sudah lama menahan hasratnya.
***
Pagi hari
Cahaya mentari yang menyelinap masuk melalui celah jendela kamar Rey membuat Nayla mengerjapkan mata, dengan perlahan dia membuka matanya yang terasa perih, tubuhnya begitu lemas tak bertenaga, rasanya seperti dia habis bertarung dengan puluhan preman. Nayla baru bisa tidur saat subuh menjelang, Rey benar-benar menghujamnya habis-habisan.
__ADS_1
Nayla duduk sambil meringis kesakitan, merasakan nyeri pada bagian bawahnya, dia melihat ke arah sampingnya, Rey sudah tidak ada disana. "Dimana mas Rey?" gumam Nayla pelan. Tak mau ambil pusing Nayla membalutkan selimut untuk menutupi tubuhnya dan berjalan dengan perlahan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tak lama Nayla sudah selesai dengan ritual mandinya, dan bersiap untuk pergi bekerja ke rumah sakit. Nayla menoleh ke arah pintu saat dia mendengar seseorang membuka pintu kamar dari luar.
"Kamu mau kemana?" tanya orang yang baru masuk yang tak lain adalah Rey, suaminya. Nayla kembali melengos dan merapikan rambutnya yang telah selesai dia keringkan.
"Mau kerja lah mas, ke rumah sakit," jawab Nayla masih sibuk dengan rambutnya.
Rey melangkahkan kakinya ke arah Nayla lalu mendudukkan tubuhnya di tepi tempat tidur sambil tertawa kecil.
Nayla mengernyit saat melihat suaminya malah tertawa.
"Kenapa mas tertawa? apanya yang lucu?" tanya Nayla sambil menyimpan tangannya di atas pinggang. Nayla merengut kesal dan membuat Rey semakin gemas melihatnya. Dia menarik tubuh Nayla agar duduk di pangkuannya.
"Mas aku mau kerja, nanti terlambat," seru Nayla dengan nada memelas.
Rey malah semakin menyelusupkan kepalanya, kini hidungnya mengendus wangi parfum yang membuatnya kembali bergairah. Nayla merasakan embusan napas Rey meresap di kulit lehernya membuat bulu guduknya berdiri menahan geli.
"Kamu juga akan terlambat jika berangkat sekarang." Rey berucap sedikit tertahan, tubuhnya kembali panas saat melihat Nayla, bayangan permainannya semalam selalu menari-nari di kepalanya, jika dia berhadapan dengan istrinya tersebut.
Nayla tidak mengerti, dengan sekuat tenaga akhirnya dia bisa lepas dari pangkuan Rey, dan bangun dari posisi duduknya "Maksud mas apa? Aku tidak akan terlambat jika berangkat sekarang, ayo antar aku!"
Nayla memperlihatkan tatapan memelas, membuat Rey mendengus kesal tidak bisa menolak.
"Kamu tahu sekarang pukul berapa?" Rey malah bertanya dan Nayla sontak melirik ke arah jam weker yang ada di atas meja dekat tempat tidur.
__ADS_1
Mata Nayla sontak terbelalak saat melihat jam itu. "Apa jam ini sudah rusak, mana mungkin sudah jam sebelas siang, padahal aku belum lama bangun," seru Nayla dengan heran, dirinya benar-benar tidak menyangka, jika dirinya sudah bangun se siang itu, bagaimana dengan pekerjaannya? Bagaimana dengan sikap mertuanya, dia sangat malu sekali, serasa menjadi menantu yang tidak tahu diri. pergumulannya semalam bersama suaminya sangat membuatnya tidak berdaya.
Rey terkekeh, melihat sang istri kaget setengah mati, "Jam itu tidak rusak, kalau kau tak percaya lihat saja ponselmu, dan lihat jam berapa disana, kau tidak mungkin menyangka ponselmu rusak tentunya."
Nayla mengikuti ucapan suaminya dan segera meraih ponsel miliknya yang tergeletak di atas meja di samping jam weker tersebut. Setelah menekan layar ponsel, Nayla mendengus kesal dan mengusap wajahnya kasar, ternyata benar dirinya memang kesiangan.
"Kenapa tidak membangunkan aku?" decak Nayla sambil memasang wajah cemberutnya.
"Aku tidak tega, Sayang. Kamu baru tidur dini hari, kan?"
"Itu karena ulahmu, Mas."
Rey terkekeh kembali. "Iya, maaf," katanya.
"Aku harus menghubungi dokter Ryan," seru Nayla sambil menatap layar ponselnya mencari nomor ponsel milik dokter seniornya tersebut dan hendak meneleponnya, tapi kemudian dia mengurungkannya saat Rey mengatakan kalau dia sudah menghubungi dan memberi tahu dokter Ryan jika Nayla tak bisa datang hari ini.
"Sudah lah, kau diam saja di rumah hari ini, Stay at home," ucap Rey sambil tersenyum penuh arti.
Nayla mendelikkan tajam, dia sangat paham dengan arti senyuman itu, rasa lelah dan sakitnya masih terasa dari sisa pergumulannya semalam, tapi Rey tidak pernah ada puasnya. Nayla hanya bisa menerima saat Rey kembali menarik tangannya, dan mereka pun melakukannya.
***
happy reading 😊😊😊
Tetap stay at home ya readers, biar virus yang melanda negeri kita ini cepat berakhir...dan tetap dukung author dengan klik like, kasih comment , favorite , raye 5 bintang dan VOTE NYA juga ya...makasih.
__ADS_1