
Lampu tanda operasi masih menyala di atas pintu ruang operasi. Nayla, Rere dan bu Rania tampak tegang menunggunya di luar ruangan tersebut. Ketika itu datanglah asisten pribadi Rey yaitu Jordy dengan membawa dua orang polisi, dia mengetahui perihal Rey yang di serang dan di tusuk oleh beberapa orang preman dari pihak rumah sakit yang mengabarinya kalau atasannya di bawa oleh seorang wanita dalam keadaan terluka. Seketika Jordy langsung menghubungi polisi dan membawa mereka ke rumah sakit untuk melakukan investigasi pada Nayla.
"Kak Jordy." Seru Rere yang pertama kali melihat kedatangan mereka.
Nayla dan bu Rania langsung menoleh ke arah Jordy dan dua orang polisi di belakangnya, Jordy tersenyum menyapa ketiganya. "Bagaimana keadaan bos Rey tante?" tanya Jordy.
Jordy memang sangat akrab dengan keluarga Rey, sehingga ia tak pernah sungkan untuk memanggil 'tante' pada ibu kandung bosnya itu.
"Dia masih di dalam Jo, operasi nya belum selesai." Jawab bu Rania dengan wajah sendu.
Jo mendudukkan tubuhnya di kursi kosong di samping bu Rania. Ia memegang pundak wanita yang sudah ia anggap seperti ibunya itu. "Dia pasti baik-baik saja tante, si bos itu orang yang kuat kok." Ucap Jordy menguatkan hati bu Rania.
Bu Rania tersenyum kecil sambil menepuk-nepuk punggung tangan Jordy yang masih menempel di pundaknya. "Makasih ya Jo." Ucapnya. Dan Jo membalas senyuman itu dengan tulus.
Setelah itu Jordy menoleh pada Nayla dan memperhatikan penampilannya dari atas hingga ke bawah. "Nona apakah anda yang membawa bos saya kesini?" Tanya Jordy pada Nayla, dengan baju yang terlihat ada noda darah Jordy sangat yakin jika Nayla adalah gadis yang di maksud pihak rumah sakit yang membawa bosnya.
Nayla yang dari tadi menatap pintu ruang operasi pun menoleh ke arah Jordy. "Saya pak?" Tanya Nayla yang tidak fokus mendengar.
"Iya, nona yang membawa tuan Rey kesini?" Jordy mengulang pertanyaannya.
"Eh, iya." Jawab Nayla gugup.
"Bisa anda ceritakan kronologi nya pada bapak-bapak polisi ini nona? Bagaimana kejadian ini bisa terjadi?" pinta Jordy sambil mengarahkan tangannya pada dua polisi yang mengikutinya.
Nayla mengangguk cepat. "Bisa pak." Jawabnya. Jordy tersenyum dan mengucapkan terimakasih pada Nayla, Nayla juga membalasnya dengan senyuman.
"Mari ikut kami nona!" ajak kedua polisi itu ketempat yang lebih nyaman.
Lalu Nayla mengikuti kedua polisi itu untuk duduk agak jauh dari ruang operasi dan memulai interogasi mereka, Nayla menceritakan semua kronologis kejadiannya pada polisi di mulai dari ketiga preman itu tiba-tiba menghadang mereka di taman itu.
Karena terlalu fokus bercerita, Nayla jadi kehilangan momentumnya saat operasi Rey telah selesai di lakukan.
Terlihat seorang dokter yang memakai baju serba hijau dan penutup kepala lengkap dengan masker yang menutupi wajahnya keluar dari ruangan operasi tersebut. Dan tentu saja langsung di sambut oleh mama Rania dan juga Rere.
"Bagaimana dokter, Rey baik-baik saja kan?" tanya nya dengan penuh ketakutan.
Dokter membuka masker yang ia pakai lalu tersenyum pada mama Rania. "Bersyukurlah, operasi nya berjalan lancar, tuan Rey telah melewati masa kritisnya. Tapi dia belum bisa di temui para perawat masih menyesuaikan suhu ruangan dan membereskan peralatan, mungkin sebentar lagi ia akan di pindahkan ke ruang perawatan dan sekarang kondisi nya masih dalam pengaruh obat bius, kita tunggu beberapa jam lagi dia masih belum sadarkan diri." Dokter berkata panjang lebar lalu pamit meninggalkan ruangan itu.
"Hah, syukurlah." ucap bu Rania senang. Semua nya merasa lega tapi masih ada sedikit ketakutan karena Rey belum sadarkan diri.
Nayla yang sudah selesai di introgasi langsung berlari ke arah ruang operasi ketika melihat dokter sedang berbincang dengan orang-orang disana. Kedua Polisi juga berjalan menyusul Nayla.
"Bagaimana keadaan bang Rey?" Tanya Nayla saat dirinya sudah sampai di depan pintu ruang operasi.
"Dia baik-baik saja Nay, operasinya berjalan lancar." Jawab Rere sambil tersenyum senang.
Nayla menghela nafasnya lega, seketika kekhawatirannya menghilang juga. "Alhamdulillah.... Syukurlah." Ucapnya sambil mengelus dada.
Mama Rania ikut tersenyum juga, lalu melangkah menghampiri Nayla dan memegang pundak gadis itu. "Sebaiknya kamu pulang dulu Nay! Lihat baju kamu penuh dengan darah Rey. Gantilah dulu nanti kesini lagi!" Perintah mama Rania.
__ADS_1
Nayla menatap bajunya sendiri, memang penuh dengan darah. Nayla tersenyum kecut melihatnya, ternyata penampilannya terlihat begitu mengerikan. Bagaimana ia bisa pulang dengan memakai baju seperti ini? Apalagi gadis itu harus pulang menggunakan sepeda motornya. Tentu saja semua orang akan melihatnya dan entah apa yang akan orang-orang itu pikirkan nantinya.
Rere menatap wajah Nayla yang terlihat kebingungan, dan ia mengerti dengan kegundahan sahabatnya itu. Rere pun beralih pada Jordy sang asisten abangnya itu.
"Kak jo, tolong antarkan Nayla pulang ya! Biar nanti motornya suruh di anterin aja sama pegawai rumah sakit." Pinta Rere pada asisten abangnya. Nayla tersenyum senang saat mendengar Rere berkata seperti itu, matanya berbinar menatap wajah cantik sahabatnya, seolah ingin berkata. 'Lo emang paling ngertiin gue Rere'.
"Kami juga permisi dulu pak Jordy, kami akan menyelidiki kasus ini , dan segera menangkap pelaku nya. Dan buat nona Nayla terimakasih atas informasinya jika sewaktu - waktu kami butuh bantuan anda lagi, kami harap anda bersedia untuk datang ke kantor kami." Pamit kedua polisi itu.
Nayla mengangguk."Tentu saja pak, saya siap kapan saja bapak butuh bantuan saya." seru Nayla dengan yakin sambil membungkukkan sedikit tubuhnya.
"Kami tunggu kabar baiknya dengan segera ya pak!" Pinta Jordy seraya mengangkat tangannya mengajak berjabat tangan. Dan polisi itu pun membalasnya.
"Kami akan berusaha sebaik dan secepat mungkin pak Jordy." Ucap Polisi kemudian berbalik badan dan pergi dari tempat mereka sekarang.
Setelah kedua polisi itu berlalu meninggalkan rumah sakit, Jordy pun pamit kepada bu Rania dan juga Rere untuk mengantarkan Nayla pulang.
"Aku nganterin Nayla pulang dulu ya tante." pamit Jordy.
Bu Rania mengangguk. "Hati - hati ya! " Pesan nya.
Nayla tersenyum tipis. "Nanti aku kesini lagi ya tante." ucap nya lalu mencium tangan bu Rania.
"Iya sayang." Sahut bu Rania sambil mengelus pipi Nayla.
Mereka berdua pun berlalu meninggalkan Rere dan bu Rania, Rere menatap punggung mereka berdua hingga keduanya hilang dari penglihatannya sedangkan bu Rania memilih mendudukkan tubuhnya di kursi tunggu di depan ruangan itu.
Saat mama Rania mengatur nafasnya yang kini sudah tidak sesak lagi, tiba-tiba saja pintu ruangan operasi terbuka lebar. Terlihat seorang suster keluar dari ruangan tersebut, di iringi oleh ranjang pasien dengan tubuh Rey yang berbaring di atasnya di bawa keluar oleh beberapa suster lain dari dalam.
"Kami mau memindahkan tuan Rey ke ruang perawatan nyonya. Anda bisa ikut kami kesana." Jawab salah satu suster sambil tersenyum ramah.
Bu Rania kembali bernafas lega. Lalu menganggukkan kepalanya tanda setuju. Kemudian mengalihkan pandangannya pada anak bungsunya. "Kamu pulang dulu saja Re! Biar mama yang disini, sekalian bawa baju ganti, kita akan menginap disini." Perintah bu Rania pada Rere.
Rere mengangguk, sekilas matanya menatap wajah sang abang yang masih terpejam dan berbaring tak berdaya di atas ranjang pasien. Walaupun ia merasa lega karena abangnya sudah di nyatakan baik-baik saja. Tapi tetap saja Rere tidak tega melihat keadaan abangnya seperti itu.
Rere kembali beralih pada mamanya. "Baik mah." Sahut Rere, dia pun berpamitan untuk pulang sambil mencium punggung tangan mamanya tersebut. Dan mama Rania mengikuti para suster yang membawa Rey ke ruang perawatan khusus di rumah sakit tersebut.
***
Sesampainya di depan rumah Nayla, Jordy menepikan mobilnya di pinggir jalan. Ia sengaja tak memarkirkan mobilnya tepat di pekarangan rumah Nayla, karena memang Nayla yang melarangnya. "Terima kasih pak Jordy telah mengantarkan saya pulang." ucap Nayla setelah ia berhasil membuka sabuk pengaman yang melingkar di tubuhnya.
Jordy menoleh dan tersenyum pada Nayla. "Sama -sama nona Nayla." Balas nya. "Terimakasih juga karena sudah menolong dan membawa bos saya ke rumah sakit tepat waktu." Tambah Jordy lagi.
"Eh, itu memang harus saya lakukan, bang Rey terluka karena saya. Jadi mana mungkin saya tidak menolongnya." Seru Nayla dengan mimik wajah yang terlihat lucu, dan hal itu hampir membuat Jordy ingin tertawa, tapi untung saja ia bisa menahannya.
"Ah iya, tolong jangan panggil aku nona! Nayla saja! Terlalu formal dengernya." pinta Nayla setelah ia berhasil membuka pintu mobil dan hendak menurunkan kakinya keluar mobil.
"Dan kamu juga jangan panggil saya bapak, Kak Jo saja!" Ucap Jordy memberikan syarat. Dan keduanya pun tertawa karenanya.
"Baiklah kak Jo, aku turun dulu." Nayla pun turun dari mobil lalu menutup pintunya dengan pelan. Dan melambaikan tangannya saat Jordy membuka kaca mobilnya.
__ADS_1
"Selamat jalan!" Ucap Nayla saat mobil itu mulai melaju meniggalkan dirinya di depan pintu gerbang rumahnya.
Setelah mobil tersebut menghilang dari penglihatan Nayla, ia pun melangkahkan kakinya untuk masuk ke halaman rumahnya dan ternyata sang ibu sudah menunggu di depan pintu rumah sambil menyimpan kedua tangannya di atas pinggang. Bersiap lah Nayla kena amukan sang juragan mommy tersayang.
Nayla memang lupa memberi kabar pada ibunya. Tidak biasanya ia pulang terlambat saat pulang kuliah, dan sialnya ponselnya tidak bisa di hubungi karena daya baterainya juga habis. Huh, sial sekali rasanya hari ini.
Bu Tina sangat terkejut saat melihat keadaan Nayla, baju yang berantakan dan terlihat begitu banyak darah menempel disana. Membuat amarah yang sudah mencokol di kepalanya tiba-tiba berubah jadi perasaan panik yang luar biasa.
"Kamu kenapa Nayla? Kenapa bajumu penuh dengan darah? Mana motormu?" Rentetan pertanyaan keluar dari mulut Bu Tina secara bersamaan, membuat Nayla bingung harus terlebih dahulu menjawab yang mana.
"Ish .... ibu, satu-satu kenapa sih nanya nya, aku jadi bingung ini mau jawab apa dulu?" Tukas Nayla sambil menyalami tangan ibunya.
Bu Tina berdecak, "Kamu ini .... jawab saja semuanya! Apa susahnya sih?" Seru Bu Tina dengan kesal.
Nayla melewati tubuh ibunya dan berjalan masuk ke dalam rumahnya. Dan bu Tina pun mengikuti gerak langkah anaknya. "Aku abis di serang orang bu." Jawabnya sambil terus berjalan.
"Eh, gimana-gimana? Kamu di serang orang? Kamu gak terluka kan? Dan kenapa baju kamu yang penuh darah? Kamu gak bunuh orang itu kan?" Sela bu Tina yang berjalan lebih cepat dan menghadang jalan Nayla kembali mencecarnya dengan banyak pertanyaan.
Nayla mendengus, apa-apaan? Kenapa ibu kandungnya sendiri malah menuduhnya menjadi seorang pembunuh? Nayla sedikit kecewa mendengarnya tapi itulah ibunya yang selalu berpikir pendek jika menghadapi suatu masalah dan Nayla sudah biasa dengan sifat ibunya yang satu ini. Dan sudah pasti ia tak merasa sakit hati.
"Ck, ibu jangan fitnah aku dong! Mau ya anaknya jadi pembunuh orang?" Decak Nayla kesal.
"Ih.... Amit-amit ya, jangan sampai Nayla!" Tukasnya bu Tina sambil mengetuk-ngetuk kepalanya pelan.
Nayla menggeleng-gelengkan kepalanya pelan melihat tingkah ibu kandungnya tersebut. Setelah mendapat permohonan maaf dari sang ibu atas ucapannya barusan Nayla kembali berjalan ke arah kamar. Dan bu Tina kembali mengekorinya dari belakang.
"Lalu ini darah siapa?" Tanya bu Tina masih penasaran.
Nayla yang sudah masuk ke dalam kamar mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang, bu Tina masih berdiri di ambang pintu memperhatikan anaknya yang terlihat berantakan.
"Ini darahnya bang Rey bu, abangnya Rere." Nayla sejenak terdiam di iringi helaan nafasnya yang terdengar berat. "Bang Rey yang menghadang penjahat itu saat mau menusukkan pisau ke tubuh aku." Tambah Nayla lagi dengan nada sedih.
Bu tina terperanjat mendengarnya. "Oalah... Ternyata bu Rania masih punya anak laki-laki toh, kirain cuma Rere aja anaknya."
Dan jawaban tersebut membuat Nayla jadi terpaku. Menatap ibunya dengan tatapan aneh. Dia jadi berpikir sebenarnya ibunya mendengarkan ceritanya dengan baik atau tidak? Dan apakah berita jika bu Rania punya anak laki-laki lebih penting dari nyawa anaknya? Haduh, Nayla jadi tak habis pikir dengan isi kepala ibunya tersebut.
"Lebih penting berita itu ya bu?" Cibir Nayla dengan kesal.
Bu Tina cengengesan sambil berjalan menghampiri anaknya yang duduk di ranjang.
"Maaf.... Ibu cuma gak nyangka aja." Ucapnya sambil nyengir kuda. "Kapan kamu jenguk abangnya Rere lagi? Ibu mau ikut dong! Sekalian mau ngucapin terimakasih karena udah nyelamatin nyawa anak ibu yang cantik ini." Imbuh bu Tina yang pandai sekali merayu. Dan Nayla begitu tersanjung mendengar hal itu.
"Besok aku akan kesana lagi. Nunggu si mocan di anterin ke sini, soalnya tadi dia di tinggal disana. Katanya nanti mau di anterin sama pegawai rumah sakit." Seru Nayla sambil tersenyum manis pada ibunya.
Ibu Tina mengganguk lalu menyuruh anaknya untuk segera membersihkan diri dan membuang baju yang sudah berlumuran darah Rey yang sedang ia pakai. Karena sudah tidak bisa di bersihkan jadi lebih baik di buang saja.
***
bersambung dulu readers..bantu vote dan like nya ya...
__ADS_1
follow IG amih ya, @amih_amy