Di Kejar Cinta Pak Guru

Di Kejar Cinta Pak Guru
BERSAMAMU


__ADS_3

πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Keduanya sudah tiba di rumah ardi, mayra juga membawa bonekanya masuk bersamanya. Ardi tersenyum melihat kekasihnya terlihat bahagia membawa boneka pilihannya.


"Aku ingin, kau selalu suka dengan pilihanku mayra!" batin ardi senang.


Namun, bukan hal itu saja yang membuatnya bahagia, karna bersama mayra adalah yang paling membuatnya bahagia.


"Hanya bersamamu!" batin ardi menatap mayra dari kejauhan.


Mayra naik ke kamar lebih dulu, sedang ardi masih duduk di sofa. Ia sedang berpikir dengan keputusannya, berharap keputusannya tidak akan membuatnya menyesal. Tapi, ardi menepis semua kehawatirannya, ia hanya ingin fokus menikmati waktunya bersama mayra, dan ardi berpikir, setelah semuanya selesai, ardi akan membawa mayra untuk tinggal disana, hanya berdua, tanpa ada siapapun diantara mereka, terutama adi.


Lalu ardi menyusul mayra ke kamarnya, dan ardi terkejut, ketika melihat mayra yang sudah mengganti bajunya. Yah, mayra sudah mengganti bajunya. Ia kenakan setelan piyama satin maroon celana pendek, kontras dengan warna kulitnya. Mayra sudah duduk di tengah ranjang bersama bonekanya, ia sudah siap untuk beristirahat.


Ardi tersenyum, ia tak menyangka mayra sudah siap. Dan tanpa banyak bicara, ardi sarkas melepas kemejanya sembari mendekat ke arah mayra. Melihat hal itu, mayra menatap ardi curiga, ia tau apa yang harus ia lakukan.


"Mas mandi gih! Aku tidak mau tidur sama mas kalau mas gak mandi!" inttruksi mayra untuk ardi.


Dan yap, langkah ardi terhenti dengan helaan nafasnya.


"Ayolah sayang!" bujuk ardi memohon.


"NO!!" ucap mayra menggeleng.


Hingga akhirnya, ardi menuruti semua instruksi dari mayra, ia tak mau mayra marah padanya.


"Ok fine!" ucap ardi pasrah, lalu masuk ke kamar mandi.


🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱


Beberapa menit kemudian, saat ardi selesai dari kamar mandi, rupanya mayra sudah tertidur bersama bonekanya. Ardi tak menyangka akan hal itu. Tapi, ia merasa senang melihat mayra yang terlelap disana, lalu ia menghampirinya. Ardi duduk di sampingnya, menatapnya lekat penuh cinta.


"Aku senang melihatmu seperti ini. Setidaknya, kau terlelap menungguku, meski tak terjaga untukku." lembut ardi menatapnya.


Lalu ardi ikut merebahkan tubuhnya disamping mayra, ia hanya mengenakan celana pendek selutut tanpa kaos. Lalu memeluknya perlahan dari belakang, tak ingin mengganggu tidurnya yang nyenyak. Tapi, nyatanya sentuhan ardi membuat mayra mengeliat dalam tidurnya, merasakan sentuhan hangat yang melingkar hingga ke perutnya.


"Mmmzzzz...!" desah mayra menggeliat.


Hingga akhirnya, keduanya terlelap dalam kehangatan yang sama.


πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„

__ADS_1


Keesokan paginya, mayra terbangun lebih dulu. Ia membuka matanya, dan melihat sosok tampan didepannya. Sangat dekat dan memeluknya erat. Mayra tersenyum, menatap ardi yang begitu tenang dalam tidurnya. lalu ia teringat kembali, dengan semua kegelisahan yang ia berikan dalam hidup ardi.


"Maafkan aku mas! Aku sudah menghancurkan ketenangan dalam hidupmu. Memberimu banyak masalah, dan kegelisahan yang tidak berujung. Aku berharap, setelah ini, tidak akan ada kegelisahan dan masalah yang aku buat untukmu dan orang lain." batin mayra menyesal.


Sesaat, ardi juga terbangun dari tidurnya. Tapi, ardi masih enggan untuk membuka matanya, ia tak ingin menyudahi kebersamaan mereka. Apalagi setelahnya, harus melepas mayra pergi bersama ardi. Ia justru kembali mengeratkan pelukannya, membuat mayra tersenyum dengan tingkah manja ardi.


"Pagi mas! Ayo bangun! Kita harus pulang." ucap mayra membelai wajah ardi.


"Tidak sayang! Dan diamlah! Jangan rusak pagiku dengan alasan apapun. Aku masih ingin bersamamu!" jelas ardi manja.


Mayra diam, ia mengikuti kemauan ardi, setidaknya, hal itu bisa membuatnya lebih tenang, sebelum akhirnya ia harus pergi bersama adi.


🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿


Disisi lain, ada adi yang tengah gelisah dan kesal mengetahui mayra yang ternyata belum pulang. sejak s3malam adi tak bisa tidur nyenyak. Dirinya selalu memikirkan mayra, ia merasa gelisah mengetahui mayra yang pergi bersama ardi, apalgi tidak kembali hingga pagi. Adi sudah tiba pagi sekali di rumah mayra, ia ingin segera bertemu dan bicara dengannya, bertanya tentang banyak hal yang mengganggu pikirannya. Tapi, hasilnya nihil. Ia justru semakin merasa kesal mengetahui mayra yang masih belum pulang, dengan ponselnya yang tidak bisa di hubungi. Sedang orang tua mayra meminta adi agar menunggu mayra.


"Tunggulah nak adi! Mungkin, sebentar lagi mayra akan pulang." ucap bu sinta menyuguhkan secangkir teh hangat.


Sementara itu, mayra masih dalam keadaan yang sama, ia masih belum beranjak dari tempat tidurnya, ia masih harus menangani bayi besarnya. Mayra mengerti, bagaimana perasaan ardi jika dirinya ada di posisi itu, membiarkan orang yang ia cintai, pergi bersama orang lain, yang sudah jelas mencintai kekasihnya. Tapi, mayra mencoba meyakinkan ardi, jika dirinya akan selalu menjaga kepercayaan ardi.


"Aku janji mas! Ini tidak akan lama. Setelah aku bicara dengan keluarga mas adi, aku akan segera pulang! Aku juga akan selalu mengabarimu. Kamu percayakan mas?" tanya mayra sambil membelai wajah ardi.


Meski tak yakin dengan hatinya, ardi yakin dengan ucapan mayra, meskipun itu berat. Ia tak ingin mayra merasa dirinya meragukan kejujuran mayra, dan menodai hubungan mereka.


Hingga akhirnya, beberapa menit kemudian, ardi membiarkan mayra beranjak dari sana. lalu keduanya segera mandi dan bersiap untuk pulang. Namun sebelum itu, mayra hendak memasak untuk membuat sarapan, ia turun menuju dapur. Dan ternyata, saat turun menuju dapur, rupanya sarapan sudah tertata rapi di meja makan. Ia tak menyangka jika ardi sudah menyiapkan semuanya. Tak lama kemudian, ardi pun turun menyusul mayra. Ia tersenyum menatap mayra di meja makan.


"Aku akan menyiapkan apapun yang kamu butuhkan sayang!" batin ardi mendekati mayra.


Tanpa basa basi, mayra segera melayani ardi seperti biasanya. Menjadi sosok istri idaman, yang ardi inginkan. Setelah itu mayra juga ikut sarapan bersama ardi.


🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿


Sedang di rumah mayra, adi tengah banyak berpikir. Ia mengira, ardi sengaja melakukan hal itu agar mayra tak jadi pergi bersamanya.


"Aku tidak akan membiarkan ini terus terjadi. Aku tau rencana busukmu ardi!" batin adi emosi.


Sementara itu, di sudut lain, ada ardi dan mayra yang rupanya sudah selesai sarapan. Lalu keduanya bergegas untuk pulang. Tapi, mayra tak membawa bonekanya pulang, ia memilih untuk meninggalkannya disana. Dan hal itu membuat muncul pertanyaan bagi ardi.


"Kenapa sayang? Kenapa kamu meninggalkannya disini? Apa kau tidak suka bonekanya?" tanya ardi heran.


Mayra justru tersenyum, ia tau jika ardi akan menanyakan hal itu padanya.

__ADS_1


"Aku sangat suka bonekanya mas! Tapi, tidak semua barang yang aku suka, harus selalu bersamaku, seakan aku tidak akan kembali kemari. Bukan begitu mas?" ucap mayra santai.


Setelah mendengar jawaban mayra, ardi tersenyum. Ia tak menyangka jika mayra sudah berniat untuk berkunjung kesana lagi bersama dirinya.


"Bukan hanya kembali sayang! Kita akan tinggal di sini!" jelas ardi membelai pucuk rambut mayra.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Beberapa jam kemudian, mobil ardi tiba di rumah mayra. Keduanya sarkas turun, lalu masuk kedalam. Terutama mayra, ia benar-benar hawatir ketika melihat mobil adi yang sudah terparkir rapi di rumahnya. Bukan tanpa alasan, mayra hawatir, adi akan marah karna dirinya sudah mengabaikannnya dari kemarin. Di tambah saat itu sedang ada ardi.


"Mati aku! Aku yakin, mas adi akan marah." batin mayra tak enak.


Namun sayang, langkah mayra terhenti saat ardi memanggilnya.


"Sayang! Kita akan masuk bersama!" jelas ardi memberi komando.


Mayra mengangguk, ia menuruti kemauan ardi. Lalu dengan sengaja, ardi menggandeng tangan mayra, saat masuk ke dalam rumahnya. Langkah keduanya menyadarkan adi, membuat adi menatap tajam kearah pintu, menantikan gadis yang ia tunggu-tunggu.


Tap tap tap..


langkah ardi dan mayra secara bersamaan, mengundang amarah adi yang semakin tak tertahan. Dan benar saja, adi sarkas berdiri menemui mayra, wajahnya sudah memerah menahan emosi, dengan tangan kiri terkepal dan tangan kanan di saku celananya.


"Dari mana saja, kamu mayra? Kau mengabaikan aku begitu saja, tanpa berpikir sedikitpun tentang kehawatiranku!" papar adi setengah tertahan.


Bukan mayra yang menjawab pertanyaan adi, justru ardilah yang menjawab pertanyaan ardi lebih dulu, dan bukannya memberi jawaban, ardi justru mengingatkan adi tentang posisinya.


"Kau tidak berhak sedikitpun atas mayra! Apapun, dimanapun dan kapanpun aku ingin membawanya pergi, itu adalah hak ku, dan kamu tidak berhak untuk ikut campur setelah ini." tegas ardi merangkul mayra.


Mayra terdiam, ia hanya bisa menahan dada mendengarkan perdebatan keduanya. Tapi, kali itu adi tak diam, ia merasa kesal mendengar ucapan ardi, dan memberi jawaban untuknya.


"Jika aku tidak lagi berhak atas dirinya. Tapi, aku masih berhak atas hatinya. Karna tidak ada yang tau, kebenaran setiap hati manusia." jelas adi mengepal tangannya.


Suasana semakin panas, perdebatan keduanya semakin sengit, membuat mayra semakin pusing. Ia tidak tau lagi harus melakukan apa untuk menghentikan keduanya.


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


Alhamdulillah bisa up..


sekali lagi mohon maaf untuk pembaca setia..


mohon maaf untuk salah" kata..

__ADS_1


kurang lebihnya mohon maaf..


trimakasih..


__ADS_2