
Entah salah yang mana, tidak ada yang bisa memfonis semuanya, apalagi saat hal tersebut menyangkut cinta, semuanya bisa jadi benar, salah, selalu benar bahkan serba salah.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Pagi yang cerah, secerah sinar sang mentari, termasuk perasaan adi pagi itu, ia sengaja bersiap sepagi mungkin dan sudah berada di depan rumah mayra, ia sengaja tak memberitahu mayra bahwa ia akan datang menjemputnya untuk pergi bersama.
Mayra yang rupanya sudah siap, terkejut tak kala ia berjalan ke teras dan menemukan sosok adi yang sudah standby di depan rumahnya, di tambah dengan senyuman indah yang tersungging di wajahnya yang tampan, membuat setiap wanita yang melihatnya mabuk kepayang, terkecuali mayra.😆🤣
Yah...kesan hubungan percintaan mereka dari awal, memanglah tak semanis yang orang bayangkan, wajah tampan itu, tak mampu membuat hati mayra bergetar seperti gadis lainnya, karna suatu sebab, yang menjadikan patah hatinya terhadap sosok idaman.
Mayra memutar mata malas, ia tak bisa mundur dan masuk kedalam lagi untuk menghindari adi, dirinya hanya bisa maju kedepan dan menyambut sang kekasih meski setengah hati, di tambah saat sang ayah yang rupanya masih menunggu dirinya berangkat bersama adi.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Beberapa saat kemudian, mobil adi sudah keluar meninggalkan rumah mayra, kini keduanya sudah duduk di mobil yang sama, menuju tujuan yang sama pula. Adi tersenyum, ia merasa senang bisa berangkat bersama sang kekasih, sesekali matanyapun tak luput dari mencuri pandang ke arah mayra, gadis cantik yang tengah diam menatap keluar cendela, iatau bahwa mayra sedang tak ingin bicara, tapi dirinya tak bisa menerima begitu saja.
Adi teringat obrolan singkatnya dengan bik jum, tentang mayra yang sudah lama tak mampir ke rumahnya, ada rasa rindu yang juga di rasakan oleh bik jum pada mayra, adi memberitahu mayra akan hal itu, bahkan ia meminta mayra untuk menemui bik jum meski sebentar saja, meski kenyataannya hal itu juga sebagian dari keinginan dirinya.
Mayra menoleh ke arah adi, ia merasa apa yang adi ucapkan memang benar, sudah lama ia tak mampir ke rumahnya, dan mayra mengangguk mengiyakan permintaan adi, hal itu membuat adi tersenyum, ia yakin bahwa kekasihnya tidak akan menolak permintaannya.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Di sisi lain, ada ardi yang tengah sibuk memeriksa beberapa berkas, ia di bantu pak seto dan juga lina. Di tengah kesibukannya tiba-tiba saja ponselnya berdering, ardi segera meraih ponsel di sakunya, dan menerima telfon yang tak lain dari romeo, ia menghubungi ardi untuk mengajaknya makan malam bersama, dan ardi setuju.
Sementara itu, di mejanya, lina tengah merasa bosan dengan pekerjaannya, ia merasa diirinya tak pernah mendapat sedikit respon baik dari ardi, bahkan ardi tak pernah meliriknya sedikitpun terkecuali karna sebuah pekerjaan, hanya tumpukan pekerjaan yang selalu ardi berikan untuknya, meskipun itu memang tugasnya, tapi lina berharap ia juga memiliki kesempatan untuk bisa masuk kedalam hidup ardi, meski itu sangat sulit.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
__ADS_1
Di kelas, mayra sedang mengerjakan beberapa soal bersama jeni dan nana, rupanya saat itu guru mapel yang harusnya masuk di kelas mereka sedang sakit, sehingga mereka hanya mendapat tugas untuk mengisi jamkos, ada juga beberapa murid yang justru asik mengobrol, main game bahkan tidur saat itu.
Tiba-tiba saja ponsel mayra bergetar, kebetulan saat itu ponselnya ada di atas meja, membuat jeni dan nana ikut melirik ke ponselnya, saat mayra melihatnya tertera sebuah nomer asing, lantas hal itu membuat jeni dan nana penasaran, kemudian meminta mayra untuk segera mengangkatnya.
Bukan mengangkatnya, mayra justru bangkit berlari keluar kelas membawa ponselnya, ia pergi ke toilet untuk bersembunyi dan baru mengangkat telfonnya. Mayra terkejut saat mendengar suara siapa yang ada di sebrang sana, siapa lagi kalau bukan ardi, dia menelfonnya menggunakan nomer baru, pasalnya mayra merasa tidak pernah memberitahunya nomer ponselnya, tapi ardi bisa mendapatkannnya.
Ardi menelfon mayra karna ia sedang merindukannya, dengan jelas ia memberitahu mayra akan hal itu, membuat sang empunya merona, mayranya hanya bisa diam, tak kala ardi terus saja bicara tentang rindunya, bahkan ia bisa tau bahwa mayra sedang merona malu, ardi juga memberitahu mayra tentang makan malamnya bersama romeo, ia mengatakan ingin mengajak mayra datang kesana, ardi juga memberitahu mayra bahwa dirinya akan mampir nanti malam untuk menemuinya.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Mendengar hal itu mayra merasa bingung, dirinya tidak bisa mencegah ardi, karna ardi akan melakukan apa yang dia inginkan, bahkan diluar prediksi mayra, seperti kejadian kemarin malamnya. Mayra hanya menjelaskan bahwa dirinya tidak bisa berjanji untuk bisa menemuinya dirumah, karna ia akan mampir ke rumah adi sepulang sekolah, dan belum tau akan pulang jam berapa, mayra hanya berharap ardi bisa mengerti, ia juga kembali mengingatkan bahwa apa yang terjadi diantara mereka itu salah, ia tak ingin akan ada yang tersakiti akhirnya dan ia yang harus bertanggung jawab atas semuanya, terutama ardi untuk yang kedua kali.
Di sebrang sana ardi tersenyum, ia memejamkan matanya sembari bersamdar di kursi kebesarannya, ia terus mendengarkan apa yang mayra ucapkan, suara merdu yang selalu membuatnya rindu, kehawatiran mayra akan dirinya membuat ardi semakin jatuh hati padanya, meski ada rasa cemburu tak kala mendengar mayra yang akan pergi bersama adi dan bukan dirinya, ardi tak perduli dengan rasa sakit yang mayra hawatirkan, ia hanya perduli tentang perasaannya saat ini pada mayra.
"Sayang, jangan terlalu mencemaskanku seperti itu, semua yang terjadi adalah takdir, dan takdir tidak pernah salah, mungkin saja, dari setiap rasa sakit yang ku dapat, nantinya aku akan mendapat suatu kebahagian, yang jelas aku sangat mencintaimu, aku sangat merindukanmu, nanti malam aku juga akan menemuimu, sampai jumpa." jelas ardi sebelum mengakhiri telfonnya.
Sambungan telfon berahir, mayra hanya bisa memijit pelipisnya, ia tidak tahu harus bagaimana, saat ardi sudah bicara seperti itu, karna yang ardi katakan memanglah benar, mayra hanya takut jika nantinya dirinya tidak bisa menemui ardi, dan membuatnya kecewa, ia juga tidak bisa mengecewakan adi, apalagi harus membatalkan janjinya. Tak ingin semakin pusing memikirkan dua laki-laki itu, mayra kembali ke kelasnya.
Namun sayangnya, tanpa mayra sadari, dari kejauhan ada sepasang mata yang sedang mengawasinya, siapa lagi kalau bukan adi. Tadinya adi hendak masuk ke kelas lain untuk mengajar, tapi ia terhenti tak kala melihat kekasihnya berlari menuju toilet, ia mengawasinya dari kejauhan, melihat kekasihnya entah dengan siapa ia bicara di ponselnya, hal itu membuat adi curiga dengan gerak gerik mayra.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Tett....
Bel jam istirahat berbunyi, mayra pergi ke kantin bersama kedua sahabatnya itu, ada roy yang juga ikut bergabung dengan ketiganya, meski sebenarnya ia hanya datang untuk bertemu dengan nana.
Mayra tersenyum tak kala melihat kemesraan nana dan roy, ia merasa bahagia melihat kebahagian temannya, mayra kembali teringat tentang hubungannya dengan adi, ada rasa bersalah saat melihat pemandangan indah di depannya, mengingat hubungan resminya dengan adi namun keduanya tidak bisa seperti itu, di tambah rasa bersalah mayra kepada keduanya tentang hubungannya dengan adi, sebagai sahabat mayra menyadari harusnya ia bisa jujur dan saling berbagi dengan keduanya.
__ADS_1
"Maafkan aku teman-teman, tapi aku janji, aku akan memberitahu kalian di saat yang tepat nanti, tapi bukan sekarang, karna hubunganku sangat rumit." batin mayra.
🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱
Tiba-tiba saja adi datang menghampiri mereka, membuat yang ada di sana terkejut kebingungan, karna tidak ada angin tidak ada hujan, adi datang tanpa alasan. Sama halnya dengan mayra, yang tidak tau apa maksut kedatangan adi menghampirinya saat itu, karna ia tidak merasa membuat janji apapun dengan adi, apalagi untuk bertemu disaat ia sedang bersama teman-temanya.
Jeni yang bingung, berniat ingin bertanya maksut kedatangan gurunya itu, namun belum sempat ia bertanya, adi sudah lebih dulu bicara menjelaskan maksut kedatangannya.
"Saya kesini cuma ingin meminta bantuan kalian besok, untuk membantu saya di perpus, karna saya melihat kalian disini, jadi saya langsung ke sini, sudah itu saja." jelas adi.
☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘
Mendengar ucapan adi, mereka lantas mengangguk mengiyakannya, meski ada rasa heran di pikiran mereka masing-masing, karna adi tak biasanya seperti itu. Setelah itu adi hendak pergi, namun sebelum ia pergi dari sana, adi justru memimun es teh mayra, membuat semuanya yang melihat menganga, termasuk mayra.
Setelah itu adi pergi begitu saja, ia tersenyum melihat ekspresi mayra dan teman-temannya, ia yakin akan ada banyak pertanyaan yang harus mayra terima setelah kepergiannya, dan mereka tidak akan membiarkan mayra pergi begitu saja.
Dan benar saja, ketika adi pergi, nana, jeni dan roy, menatap tajam ke arah mayra, tatapan penuh selidik, membuat sang empunya tak bisa berkutik. Mayra hanya bisa tersenyum cemas menerima tatapan ketiganya, ia tidak menyangka adi akan melakukan hal itu di depan teman-temannya.
"Isshhhh....gara-gara es teh satu gelas nih, mas adi juga." batin mayra kesal.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Alhamdulillah bisa up, semoga suka, selalu sabar menanti karya mom, yang semoga saja berkenan di hati pemirsa sekalian.
Mohon maaf jika ada salah kata, salah ketik dan lainnya.
Jangan lupa like, love dan komen sebanyaknya..
__ADS_1
Trimakasih..